*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Selatan di blog ini Klik Disini
Tempo
doeloe di kota Banjarmasin ada munumen, suatu monumen yang dibangun untuk
pengingat bagi orang-orang Belanda dalam Perang Banjar 1859-1863. Monumen ini yang dibuat menarik menjadi
hiasan kota yang menjadi situs yang selalu dikunjungi para wisatawan. Tentu
saja monumen ini tidak lagi berbekas sekarang karena sudah dibongkar pada era
pendudukan militer Jepang. Namun sejarah, tetaplah sejarah.

lain. Tujuannya sama. Di kota Padang ada monumen Michiels, di Batavia ada
monumen Michiels dan menumen Atjeh. Monumen juga dibangun di Mataram (Lombok)
dan juga ditemukan di Medan (Monument Tamiang). Monumen-monumen tersebut semua
juga sudah dibongkar. Kini, monumen di kota-kota Indonesia dibangun kembali.
Sudah barang tentu tidak membangun kembali monumen yang hilang, tetapi
mambangun monumen baru. Di Jakarta ada monumen Nasional (Monas), monumen
pemersatu. Di Surabaya juga dibangun monumen para pahlawan. Setiap kota
sekarang terkesan ingin memiliki monumen.
Lantas
mengapa monumen dibangun di Banjarmasin? Itu tadi sebagai tugu peringatan bagi para veteran
Perang Banjar. Lalu apa pentingnya? Itu tadi sejarah adalah sejarah. Seperti
halnya Perang Banjat sudah lama berlalu, maka monumen Bandjarmasin juga sudah
lama beralu. Bagaimana monumen dibuat? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Bandjermasinsche Krijg
1859-1863: Monument
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




