*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Tengah di blog ini Klik Disini
Adakah
kerajaan Dayak di pulau Kalimantan? Tampaknya tidak ada yang yakin tentang hal
itu. Para penulis hanya terfokus pada kerajaan/kesultanan Melayu (seperti Bandjarmasin,
Soekadana dan Broenei) dan kerajaan-kerajaan kuno (seperti kerajaan Nan Sarunai
dan Koetai). Tapi tidak demikian dengan François Valentijn (1724). Penulis
hebat ini yakin bahwa di Borneo terdapat kerajaan-kerajaan Dayak di masa awal.
Kerajaan yang dimaksudnya adalah kerajaan-kerajaan Dayak yang besar seperti kerajaan
Jathoe dan kerajaan Lava. Ahli geografi Belanda, PJ Veth (1923) menduga
kerajaan Lava adalah kerajaan Laue (Melawi). Sementara itu kerajaan Jathoe
diduga kuat adalah kerajaan Ngajoe (Dayak Ngaju).

dan memetakan nama-nama tempat (kerajaan) di pantai. Pada awalnya orang
Portugis menganggap hanya (kerajaan) Boernai sebagai kerajaan besar di pulau Kalimantan
(yang menjadi asal-usul nama pulau Borneo). Itu terjadi ketika seorang Portugis
yang berkedudukan di Malacca berkunjung ke Boernai pada tahun 1524. Peta-peta
awal Belanda (VOC) yang juga meneruskan peta-peta buatan Portugis juga hanya
mengidentifikasi nama-nama kerajaan di pantai. Baru pada era selajutnya,
seorang ahli geografi kawakan François Valentijn pedalaman Borneo mulai
mendapat perhatian (penyelidikan awal). François Valentijn adalah orang pertama
yang memanfaatkan catatan Kasteel Batavia (daghregister) sebagai sumber data
dalam penulisan sejarah Hindia. Identifikasinya terhadap kerajaan-kerajaan di
pedalaman Borneo diduga bersumber dari Daghregister tersebut disamping François
Valentijn sendiri yang pernah berkunjung ke pulau Borneo.
Lantas
bagaimana sejarah Dayak Ngaju dan apakah Kerajaan Jathoe adalah kerajaan Dayak
Ngaju? Mari kita mulai dari hasil penyelidikan François Valentijn. Lantas
mengapa Pemerintah Hindia Belanda mengidentifikasi nama wilayah sebagai Gtoote
Daijak dan Klein Daijak? Apakah itu mencerminkan adanya kerajaan Dayak yang
masih eksis? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Dayak Ngaju dan Kerajaan
Jathoe
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Gtoote Daijak dan Klein Daijak
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






