*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Tengah di blog ini Klik Disini
Jangan
bingung dengan judul artikel ini. Jika bingung itu artinya tidak tahu apa-apa.
Oleh karena itu kita ingin mengetahuinya agar kita tidak bingung. Kuala Kapuas
berarti suatu (nama tempat di) muara di sungai Kapuas. Pulau Petak berarti
pulau berbentuk petak, tidak di daratan, tetapi di tengah perairan di suatu
teluk (yang disebut teluk Barito). Banjarmasin adalah suatu nama tempat, tidak
di sungai Barito, tetapi di muara sungai Martapura. Dalam hal ini sungai Moeroeng, sungai
Doesoen dan sungai Martapura bermuara ke teluk Barito.

yang sekarang. Demikian juga sungai Barito, sungai Mahakam dan sungai Kapuas,
tiga sungai terpanjang di Indonesia, lebih pendek pada tempo doeloe. Juga,
pulau Borneo tempo doeloe tidak sebulat pulau Kalimantan sekarang. Hal ini
karena telah terjadi proses sedimentasi yang terus menerus sehingga teluk
(Barito) mernjadi daratan (cikal bakalnya pulau Petak). Oleh karena itu posisi
GPS kota Kuala Kapuas dan kota Banjarmasin yang sekarang tidak berada di
pedalaman tetapi justru berada di pantai di teluk (Barito) di muara sungai
Moeroeng dan muara sungai Martapura.
Lantas
bagaimana sejarah Kuala Kapuas?Ada
hubungannya dengan suatu kerajaan Dayak, kerajaan penduduk asli Dayak Ngaju di
muara sungai Doesoen. François Valentijn mengidentifikasi kerajaan itu sebagai Kerajaan
Jathoe. Lalu bagaimana sejarah Kuala Kapuas? Bermula di muara
sungai Moerang atau Moeroeng. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*. Peta 1724
Nama Kuala Kapuas: Kerajaan
Jathoe dan Kerajaan Banjarmasin
Di
pantai selatan pulau Kalimantan yang sekarang, pada peta-peta Portugis
diidentifikasi empat nama tempat, yakni: Puerto Aroe, Paco, Calandua dan
Taniampura. Kota Puerto Aroe diduga kuat nama lain dari Martapoera. Kota Paco
diduga adalah tempat dimana kota Banjarmasin yang sekarang. Kota Calandua
berada diantara muara sungai Kapuas Murung dan muara sungai Barito yang
sekarang (Calandua=kuala dua). Kota Taniampura antara muara sungai Kapuas
Murung dan muara sungai Kahayan. Kota Taniampura diduga kuat sebagai kata lain
Tanjungpura. Martapoera.dan Tandjoengpoera adalah dua kota terawal di pantai
selatan pulau Kalimantan.
Puerto Aroe pada jaman Hindu disebut Martapoera.
Aroe dalam bahasa India selatan adalah sungai, seperti sungai B-aroe-moen di
Padang Lawas (Tapanuli). Puerto dala bahasa Portugis adalah kota. Jadi Puerto
Aroe adalah kota sungai. Taniampura atau Tandjoengpoera adalah kota di jaman
Hindu (kerajaan yang relokasi ke pantai barat pulau Kalimantan). Belakangan muncul
nama-nama yang dikaitkan dengan kerajaan yang disebut Saroenai (S-aroe-nai) di
pantai selatan Kalimantan, kerajaan Broenai yang boleh jadi berasal dari B-aroe-nai
(di pantai utara Kalimantan) dan kerajaan di Koetai (Mulawarman).
Kota
Martapoera.dan kota Tandjoengpoera berada di pantai. Dua kota ini diduga adalah
kota koloni orang yang berasal dari India (poera = kota, huta). Mereka datang
untuk berdagang dengan penduduk asli Kalimantan (Dayak). Beberapa kota
(kerajaan) penduduk asli (Dayak) sebagaimana diidentifikasi François Valentijn
(1724) adalah Laue, Lauwe, Lava (Melawi?) dan Jathoe (Ngaju?).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Terbentuknya Kota Kuala Kapuas di Muara Sungai Moeroeng
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





