*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini
Pecinan
(Chinatown) terdapat di berbagai tempat. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga
di berbagai negara, bahkan di Amerika Serikat. Sebelum ada pecinan di Eropa dan
Aerika Serikat sudah ada pecinan di Indonesia (baca: Hindia) bahkan sejak era
VOC. Di era VOC, pecinan sudah terbentuk di Batavia, Semarang dan Soerabaja,
Pada era Pemerintah Hindia Belanda jumlah pecinan semakin banyak, di
Buitenzorg, Bandoeng, Padang dan sebagainya. Lantas sejak kapan pecinan terbentuk
di Manado?

wilayah kota dimana terdapat atau bermukim orang-orang Cina yang membentuk
suatu perkapongan (kampement). Jika jumlahnya mencukupi pemerintah kota
mengangkat salah satu diantara komunitas itu dijadikan sebagai pemimpin. Di
Hindia Belanda, status kepemimpinan ini diakui oleh pemerintah dengan
menetapkan pangkatnya luitenant, kaptein atau majoor (tergantung besarnya
populasi mereka). Para pemiimpin ini diberi gaji oleh pemerintah. Para pemimpin
ini cenderung adalah individi yang memiliki pengaruh ke dalam komunitasnya dan
memiliki kemampuan secara pribadi berkomunikasi dengan pemerintah atau kelompok
penduduk lainnya.
Seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Namun
bagaimana permulaan itu dicatat? Jika terbentuknya pecinan sejak permulaan jauh
di masa lampau maka itu masuk dalam ranah sejarah. Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, sejarah adalah narasi fakta dan data. Okelah, untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Awal Mula Keberadaan Orang Cina di Manado
Pada
era VOC para pedagang Cina sudah hilir mudik antara Batavia dan Ternate. Dalam
catatan Kasteel Batavia (Daghregister) pedagang Cina di Ternate paling tidak
sudah dicatat pada tahun 1673. Para pedagang Cina kerap menjadi penghubung
antara orang-orang VOC di Ternate dan di Batavia. Namun tidak diketahui secara
pasti sejak kapan pedagang-pedagang Cina sudah mencapai Ternate.

dari Amboina ke Batavia (1619) komunitas Cina semakin banyak yang beruukim di
Batavia. Padagang-pedagang Cina sudah barang tentu menjadi partner strategis
para pedagang-pedagang VOC. Dimana terdapat pedagang VOC, disitu pula
pedagang-pedagang Cina turut mengambil peran. Setelah VOC berhasil mengusir
Spanyol dari (pulau) Manado, pada tahun 1661 pedagang-pedagang VOC memindahkan
pos perdagangan ke muara sungai Tondano (Manado yang sekarang). Sejak kapan
pedagang-pedagang Cina mencapai Manado tidak diketahui secara jelas. Besar
dugaan pedagang-pedagang Cina di Manado sejak 1679 (setelah Manado menjadi cabang
pemerintahan VOC dan Manado sebagai post perdagangan utama VOC di semenanjung
Celebes). Pusat VOC berada di benteng Asmterdam.
Meski
sudah ada padagang-pedagang Cina yang menetap di Manado (membuka pos
perdagangannya) tentu saja belum terbentuk perkampongan Cina. Komunitas Cina di
Ternate sudah membentuk perkampongan sendiri (kampement). Selain penduduk
setempat, di Manado penduduk pendatang yang telah membentuk perkampongan adalah
orang-orang Ternate. Perkampongan orang Trnate ini berada di sebelah timur
benteng Amsterdam.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Awal Mula Terbentuknya
Perkampongan Cina (Chinatown) di Manado
Jumlah
orang Cina di kota (gemeente) Manado pada tahun 1930 sebanyak 5.519 jiwa.
Jumlah ini diperoleh beradasarkan sensus penduduk yang diadakan pada tahun 1930
(lihat Volkstelling 1930 = Census of
1930 in Netherlands Indie, 1935). Jumlah ini tidaklah terlalu besar, tetapi
untuk ukuran kota sedang jumlah tersebut terbilang banyak.

Batavia sebanyak 71.688, kemudian disusul di kota Soerabaia sebanyak 38.871. Lalu
jumlah terbanyak berikutnya di kota Medan sebanyak 27.287 jiwa dan kota
Semarang 27 423. Kota-kota lainnya yang terbilang populasi Cina cukup banyak di
Bandoeng 16.657 jiwa , Palembang 15,492 jiwa, Makassar 15.363 jiwa dan Pontianak 15.275 jiwa. Kota-kota yang populasi
Cina di atas 10.000 jiwa terdapat di Malang, Soerakarta, Bagansiapi-api dan
Tandjoengpandan.
Di
residentie Manado jumlah orang Cina sekitar 20.000 yang mana bagian terbesar
berada di afdeeling Mainahasa sebanyak 9.856 termasuk 5.519 jiwa di kota Manado.
Sedangkan di afdeeling Sangihe en Talaud, afdeeling Poso dan afdeeling Donggala
masing-masing sekitar antara dua sampai tiga ribu jiwa. Dengan kata lain,
konsentrasi populasi Cina tertinggi di Residentie Manado terdapat di kota
(stad) Manado. Populasi yang tinggi di dalam bagian wilayah kota yang
menyebabkan munculnya perkampongan Cina (china town).
Orang Cina Berpengaruh di
Manado dari Masa ke Masa
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




