*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini
Pada
masa ini di provinsi Sulawesi Utara terdapat sejumlah lapangan terbang atau
bandar udara (bandara) baik yang berskala nasional, internasional maupun
berskala perintis. Yang tertua adalah bandara Sam Ratulangi yang dulu disebut
lapangan terbang Mapanget dan yang terbaru adalah bandar udara perintis di
pulau Miangas. Semua itu bermula dari satu satu, yakni lapangan terbang di
Kakas (Minahasa).

adalah bandara (internasional) Sam Ratulangi yang berjarak 13 kilometer di
sebelah timur laut dari kota Manado. Pada awalnya bandara Sam Ratulangi ini
dikenal sebagai lapangan terbang Mapanget. Lapangan terbang lainnya di provinsi Sulawesi
Utara masa ini adalah lapangan terbang di Bolaang (Kabupaten Bolaang Mongondow;
bandara Melonguane (kabupaten Kepulauaan Talaud); bandara Siau (kabupaten Kepulauan
Siau Tagulandang Biaro (Sitaro); bandara Indonesia (nasional) Naha (kabupaten
Kepulauaan Sangihe); dan bandara yang baru yang berada di pulau Miangas
(kabupaten Kepulauan Talaud).
Bagaimana
sejarah kebandaraan di provinsi Sulawesi Utara? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya
ada permulaan. Seperti disebut di atas, bermula di Minahasa
(Kakas). Mengapa? Lalu mengapa dibangun bandara baru di Mapanget untuk
menggantikan Mapanget? Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional,
mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Lapangan Terbang Kakas di Minahasa
Manado,
Kema dan Amoerang di Semenanjung Sulawesi adalah pelabuhan-pelabuhan kuno,
bahkan sudah disinggahi oleh kapal-kapal dagang sejak era Spanyol dan Portugis.
Namun untuik soal kebandaraan terbilang baru di Indonesia (baca: Hindia
Belanda). Untuk wilayah Hindia Belanda bagian timur baru dimulai pada tahun
1937 (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 23-01-1937). Disebutkan untuk
pengawasan udara yang lebih baik di Groote Oost (baca: Indonesia Timur),
lapangan udara akan didirikan di Boeton, Makassar, Ambon dan New Guinea yang
juga akan digunakan oleh penerbangan sipil.
Pada hari Jumat tanggal 21 November 1924
pesawat Foker F-VII mendarat di lapangan terbang Polonia Medan. Itu berarti
pesawat pertama Belanda yang berangkat dari Amsterdam pada tanggal 1 Oktober
telah tiba di Hindia (menempuh 15.899 Km dalam 20 hari terbang; sisia hari
untuk istirahat dan perbaikan). Panitia Penerbangan Hindia Belanda langsung
mengirim telegram ke Ratu Wilhelmina dan sang Ratu langsung mengirim ucapan
selamat. Ucapan selamat juga disampaikan kepada tiga penerbang dan langsung
mendapat bintang (lihat De Zuid-Willemsvaart, 25-11-1924). Disebutkan para
penerbang itu adalah Commandant van der Hoop, Luitenant van Woerden Poelman dan
mekanik van den Broek. Hanya dua penerbang yang tiba di Hindia, Luitenant van
Woerden Poelman ditinggal di India (Inggris) untuk diganttikan oleh penerbang
Hindia Belanda yang lebih memahami wilayah Hindia Belanda. Pada hari Sabtu
pesawat F-VII berangkat ke Singapura dan keesokan harinya ke Muntok (Bangka)
dan hari Senin dilanjutkan menuju Batavia. Itulah kisah awal penerbangan di
Hindia Belanda. Dalam hal ini sudah teridentifikasi lapangan terbang yang telah
dibangun, di Medan, Muntok (Bangka) dan Batavia (Tjililitan).
Sebelumnya sudah ada beberapa lapangan terbang
dibangun untuk keperluan militer seperti di Kalidjati (Soebang). Keberadaan lapangan
terbang militer di Bali paling tidak sudah diketahui pada tahun 1920 yang
terletak di Singaradja (lihat De locomotief, 24-04-1920). Lapangan terbang ini
adakalanya digunakan oleh Inggris jika pesawat-pesawatnya dari Singapoera ke
Australia. Lapangan terbang yang berada di Tjililitan, Andir, Muntok, Palembang,
Telok Betong, Semarang dan Soerabaja dan Medan awalnya dibangun untuk kebutuhan
militer. Lapangan-lapangan terbang inilah yang kemudian diperluas dengan
menambah panjang landasan pacu untuk kebutuhan penerbangan sipil. Lapangan
terbang militer juga sudah ada dibangun di Balikpapan (pengamanan kilang
minyak). Lapangan terbang militer juga sudah dibangun di Tarakan, Donggala,
Kampoengbaroe. Menado, Poso serta Ambon dan Koepang.
Setelah
banyaknya penerbangan militer (angkatan laut) Hindia Belanda mulai dioperasikan
penerbangan sipil yang diselenggarakan maskapai Belanda. Penerbangan sipil
tersebut awalnya sangat terbatas dan berjarak pendek, dari Batavia ke Bandoeng
(lapangan terbang Andir), ke Telok Betong dan Semarang. Kemudian penerbanga
sipil ini diperluas hingga ke Soerabaja. Terselenggaranya penerbangan sipil ini
karena sudah ada lapangan terbang militer yang digunakan oleh maskapai
tersebut.
Pesawat terbang sudah dikenal lebih awal
daripada adanya bandara di berbagai tempat di Hindia Belanda. Pesawat terbang
itu menjadi bagian dari skuadron militer (angkatan laut) yang secara reguler
mengunjungi sejulah pelabuhan di Hindia Belanda. Pesawat terbang itu berada di
kapal induk yang dapat diturunkan ke air (perukaan laut( lalu diterbangkan
untuk mengitari sekitar kawasan dimana kapal induk itu berada. Lalu pesawat
terbang itu kembali mendarat di dekat kapal yang kemudian ditarik oleh kapal
pengiring lalu diderek kembali ke atas kapal. Hal ini sering dilakukan di
pelabuhan Ampenan (Lombok), pelabuhan Amboina, pelabuhan Makassar dan pelabuhan
Kema (Manado). Pada tahun 1935 sudah pernah dicoba penerbangan sipil dari
Soerabaja ke Makassar tetapi tidak berlanjut dan baru mulai dioperasikan pada
tahun 1937. Lapangan terbang Makassar berada delapan belas kilometer ke arah
Maros.
Pengoperasian
penerbangan sipil (KNILM) dari (pulau) Jawa kemudian diperluas ke Sumatra dari
Batavia ke Medan dengan membangun lapangan terbang penghubung di Palembang dan
Padang serta Pekanbaroe. Untuk wilayah Indonesia Timur pembangunan bandara baru
digagas sehubungan dengan suhu politik dan kemungkinan meletusnya perang
Pasifik. Pembangunan bandara tahun 1937 akan digunakan untuk kebutuhan sipil
dan juga militer seperti yang disebut di atas yakni Makassar, Boeton dan
Amboina.
Jalur penerbangan sipil pertama di Indonesia
Timur pertama kali dioperasikan pada bulan September 1937 antara Soerabaja dan
Makassar (lihat Soerabaijasch handelsblad, 21-09-1937). Penerbangan pertama ini
dengan jumlah penumpuang sebanyak delapa orang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-09-1937).
Segubungan
dengan persiapan pengoperasian penerbangan sipil di Makassar (dari Soerabaja),
dewan kota (gemeenteraad) Manado mulai membahasnya untuk memperluas jalur
Soerabaja dan Makassar ke (residentie) Manado (lihat De Indische courant, 03-08-1937).
Dalam pembahasan ini mencakup pengoperasian jalur dan juga pembangunan bandara
(seipil). Lapangan terbang militer sudah ada di Manado (sering digunakan oleh militer
angkatan laut). Namun untuk kebutuhan sipil, lapangan terbang Manado tersebut
tidak layak dan harus ditentukan dimana lapangan terbang baru dibangun. Lapangan
terbang sipil ini kemungkinan dihubungan dengan Tarakan dan Manila. Pihak
maskapai sudah diberitahukan kepada dewan tentang persyaratan lapangan terbang
yang akan dibangun (lihat Algemeen Handelsblad, 10-08-1937).
Persyaratan yang ditentukan maskapai tampaknya
sulit bagi kota (Gemeente) Manado, karena tidak ada lokasi yang sesuai dan yang
sesuai justru berada di luar Gemeente Manado. Jika itu yang terjadi Wali Kota
Manado tidak dapat bersikap aktif karena sudah menjadi otoritas wilayah yang
lebih tinggi (Wali Kota hanya terlibat secara tidak langsung).
Pembangunan
lapangan terbang baru di Semenanjung Sulawesi, sesuai persyaratan maskapai yang
tidak bisa dipenuhi Gemeente Manado akhirnya lokasi yang sesuai ditentukan di
Minahasa (Kakas). Pertimbangan yang memperkuat posisi di Kakas karena pasukan
cadangan militer berada di Minahasa. Keberadaan lapangan terbang di Kakas akan
sendiirinya akan mempercepat dengan komando militer yang sangat diperlukan.
Posisi GPS dimana lokasi lapangan terbang akan dibangun mulai dicari. Dala
jangka pendek ingin mengutamakan perlindungan udara sipil, namun dalam jangka
panjang itu harus menjadi koneksi udara antara Jawa dan daerah penting di
Sulawesi Utara. Pada saat ini Nanking
telah dibom dua kali hari ini oleh pesawat Japang (lihat Haagsche courant, 22-09-1937).
Tunggu deskripsi
lengkapnya
Lapangan Terbang Mapanget di
Manado
Tunggu deskripsi
lengkapnya
Lapangan Terbang Perintis di
Naha, Bolang, Siau, Melonguane dan Miangas
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



