melihat semua artikel Sejarah Lombok dalam blog ini Klik Disini
Narmada, tempo doeloe adalah salah satu dari
tujuh tempat peristirahatan radja Bali Selaparang di Mataram, Lombok. Tempat
peristirahatan tersebut kini lebih dikenal sebagai Taman Narmada. Tempat ini
bukan tempat tua, tetapi tempat yang dibangun baru. Tempat peristirahatan yang
dianggap paling tua adalah Goenoeng Sari (di sebelah utara kota Mataram).
Goenoe Sari bahkan lebih tua dari tempat peristirahatan di Tjakranegara.
![]() |
| Peta 1894 |
Nama
Narmada kini ditabalkan sebagai nama kecamatan di kabupaten Lombok Barat. Sementara
Taman Narmada pada masa ini berada di desa Lebuak, kecamatan Narmada. Letaknya
tidak jauh di sisi kanan jalan trans-Lombok antara Ampenan (Mataram) dan
Laboehan Hadji (Selong), sekitar 10 Km dari Kota Mataram. Di dalam taman ini masih
dapat diidentifikasi gerbang utama, dua telaga, beberapa balai yang salah satu
diantaranya tempat peristirahatan raja dan pura. Pura Narmada bentuknya mirip punden
berundak dan pada undak tertinggi dianggap paling suci. Di bagian lembah yang
terendah terdapat  terdapat telaga.
Sumber air di taman ini tempo doeloe berasal dari tiga sungai yang berhulu di
gunung Rindjani. Di taman ini juga tempo doeloe terdapat taman.
peristirahatan. Lalu secara bertahap wilayah sekitar dikembangkan untuk tujuan
tertantu, seperti pura, kebun buah-buahan dan sebagainya. Sebagai situs tua dan
masih eksis hingga ini hari, tentu saja tetap menarik untuk diketahuai
sejarahnya. Nah, untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
![]() |
| Taaman Narmada, desa Lebuak, kecamatan Narmada (Now) |
Sumber
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
laporan Heinrich Zollinger (1847) tidak pernah mengidentifikasi nama Narmada.
Bahkan nama Tjakranegara tidak ditemukan dalam laporan. Heinrich Zollinger
hanya menyebut nama-nama ke arah timur dari Mataram seperti Karang Assam, Pagassangan,
Pagoetan, Pringa Rata dan Batoe Kliang. Ke arah utara Heinrich Zollinger
menyebut nama Goenoeng Rata (4 pal dari Mataram).
Zollinger (1847) Goenoeng
Rata berada di kaki gunung, suatu taman yang cukup besar yang di dalamnya
terdapat rumah kecil untuk peristirahatan, kamp rusa, kebun indah yang berisi pohon
buah-buahan. Di perbukitan ada perhutanan yang dibuat. Menurut Heinrich Zollinger, raja memiliki beberapa kebun jambu
di Goenoeng Rata.
peristirahatan pangeran (radja) Bali Selaparang yang tertua. Radja Bali
Selaparang yang beribukota di Mataram baru menjadi raja tunggal di (pulau)
Lombok tahun 1838 setelah menaklukkan Raja dan menghancurkan kerajaan Karangasem
Lombok. Dalam laporan Heinrich Zollinger (1847)
nama Karangasem masih eksis, meski kraton kerajaan Karangasem sudah terbakar
dan rata dengan tanah. Naa Goenoeng Rata kemudian disebut Goenoeng Sari.
![]() |
| Rumah di Narmada, Jabalpur, India, 1860 |
Pada dekade itu nama
Narmada hanya ditemukan di India, suatu sungai di India sebelah barat dekat
Gujarat, yang sangat dihormati. Nama Narmada tidak ditemukan di Hindia Belanda
apakah di pulau Jawa atau pulau-pulau lainnya. Nama Narmada di Lombok baru
muncul kemudian.
Zollinger (1847) di pulau Lombok terdapat empat orang Eropa, satu orang Indo dan sebanyak 10 atau
12 orang Cina. Penduduk asli terdiri
dari 5.000 orang Bugis, 20.000 orang Bali dan sebanyak 380.000 orang Sassak.
Seorang Eropa tinggal di Pidjoe, sisanya di Ampenan. Secara keseluruhan populasi
dibagi ke berbagai bagian pulau sebagai berikut: di wilayah utara pegunungan sebanyak
40.000 jiwa; di pegunungan di sekitar selatan sebanyak 10.000. Untuk wilayah dataran
di bagian barat sebanyak 220.000 dan di bagian timur sebanyak 135.000.
Heinrich Zollinger bahwa seluruh orang Bali tinggal di Mataram dan
daerah sekitarnya, seperti di Ampanan, Karang Assem, dan lainnya. Orang Bali
sangat hati-hati, tidak menyebar terlalu jauh di pulau ini, hal ini karena jika
terjadi serangan mereka akan berdekatan satu sama lain untuk dapat
mempertahankan persatuan.
di Lombok hanyalah sebagian kecil dari populasi di Lombok. Jika seluruh orang
Bali berada di bagian barat, populasi orang Bali juga masih minoritas (20.000
versus 135.000). Populasi orang Bali ke arah timur hanya sampai di Karangasem
(suatu eks kerajaan yang telah dikalahkan oleh Mataram pada tahun 1838). Lantas
muncul pertanyaan kapan tempat peristirahatan Narmada dibangun, sementara
Tjakranegara belum ada. Dalam hal ini, ketika Heinrich Zollinger berada
di Lombok pada tahun 1847, nama Tjakranegara dan Narmada belum ada.
saudara antara Mataram dan Karangasem pada tahun 1838 hingga kedatangan Heinrich
Zollinger (1847) pangeran (Radja) Mataram telah menjadi kaya raya. Harta
kekayaan pangeran Mataram yang berasal dari warisan sang ayah (raja yang tewas
dalam pertempuran 1838) juga telah memiliki harta pampasan perang dari radja
Karangasem yang dikalahkan. Kerjasama antara pangeran Mataram dengan GP King
dala hal perdagangan (di Ampenan) serta pajak-pajak dari penduduk Sasak telah
menjadikan pangeran menjadi raja tunggal adikuasa di Lombok.
1828) sangat hati-hati kepada orang asing terutama orang-orang yang terkait
dengan Pemerintah Hindia Belanda. Selain hati-hati, radja juga terkesan
menyebunyikan sesuatu. Hal ini terindikasi ketika Heinrich
Zollinger menanyakan kepada radja untuk menyalin semua teks hukum (perundangan-undang)
yang diberlakukan di seluruh Lombok, radja tampaknya menolak secara halus: ‘tanpa
Anda minta, saya akan berikan, bahkan kepada Gubernur Jenderal, tetapi Anda
harus memahami disini semuanya berjalan baik dan keadilan’. Heinrich Zollinger
melongo, karena fakta, temuannya di lapangan tidak demikian. Heinrich Zollinger
juga mulai paham dan mulai membatasi pertanyaan-pertanyaan baik kepada para
pangeran maupun kepada GP King tentang perihal yang sensitif.
saja telah melaporkan hasil ekspedisinya ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda di
Batavia dan publik juga dapat menyimak sebagian dari laporannya di majalah Tijdschrift
voor Neerland’s Indie, 1847. Perjanjian yang dibuat antara Pemerintah Hindia
Belanda dengan Radja Bali Selaparang pada bulan Juni 1846 sedang diuji.
banyak senjata dan yang tampak kasat mata jumlah meriam di seputar kota Mataram
lebih dari pada jumlah yang dibutuhkan kerajaan untuk mempertahankan diri.
Senjata-senjata itu menurut Heinrich Zollinger mengalir dari Singapoera.
dengan situasi dan kondisi yang berkembang di pedalaman Lombok (lingkungan
kerajaan dan wilayah penduduk Sasak). Beberapa laporan mengindikasikan bahwa kerajaan
Bali Selaparang (Mataram) telah mengingkari perjanjian antara Pemerintah Hindia
Belanda dan kerajaan Bali Selaparang pada tahun 1846.
perjanjian tersebut yang dilanggar adalah soal menjaga perdamaian di
(pedalaman) Lombok dan perihal pelanggaran impor senjata dari luar (Inggris di
Singapoera). Tentu saja tidak hanya itu, tetapi soal kemanusian. Dalam berbagai
pemberitaan muncul pernyataan yang mana pasukan Sasak yang memberontak ketika
sudah menyerah dan meletakkan senjata, bukannya ditangkap dan diadili dan
dihukum, tetapi ditembak hingga mati. Dengan kata lain perang telah bergeser ke
tindakan pembunuhan.
menemui radja di Lombok, namun tidak di Mataram dan juga tidak di Tjakranegara,
tetapi di suatu tempat yang lebih jauh di Narmada, taman kesenangan sang pangeran
yang diterima dengan sangat baik dan diterima oleh pangeran sendiri (lihat De
locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 14-02-1888). Saat inilah orang
asing mengetahui kali pertama nama Narmada.
![]() |
| Tjakranegara (Peta 1895) |
Mengapa
penerimaan orang asing (yang dalam hal ini boleh dikatakan sebagai utusan Pemerintah
Hindia Belanda) dilakukan oleh pangeran jauh di Narmada? Sulit dipahami. Yang
jelas, radja Bali Selaparang yang sudah mulai menua kurang banyak terlibat
untuk urusan dalam negeri maupun luas negeri tingggal di puri yang baru di
Tjakranegara. Sementara pangeran yang lebih banyak mewakili sang ayah, menerima
tamu di Narmada. Tampaknya (kota) Tjakranegara telah menjadi pusat persenjataan
Bali Selaparang. Pengamatan Heinrich Zollinger pada tahun 1847 tentang
persenjataan di Mataram, kini hanya sekadar biasa-biasa saja. Seperti kita
lihat nanti, Tjakranegara telah dirancang lebih kuat dari Mataram dan
Tjakranegara telah memiliki persenjataan yang lengkap dan lebih baik. Boleh
jadi inilah alasan mengapa tamu negara diterima jauh di pedalaman di Narmada. Narmada
(Peta 1899). Nama yang doeloe dikenal Karangasem (Zollinger, 1847) kini disebut
Tjakranegara. Desain tata kota Mataram kurang lebih sama dengan Tjakranegara.
Di Tjakranegara disebut ada pasar.
tentang persiapan ekspedisi militer ke Lombok. Persiapan tersebut dari hari ke
hari semakin matang. Jumlah personil yang akan diberangkatkan sangat banyak di
bawah komandan setingkat Generaal Majoor. Tentu saja pasukan ekspedisi
diperhitungkan dengan kekuatan yang terdapat di Lombok. Intelijen sudah barang
tentu telah bekerja bertahun-tahun.
![]() |
| Narmada (Peta 1899) |
di Makasar yakni Makassaarsch handelsblad, edisi 21-06-1894 terungkap bahwa
para pangeran lebih suka berdiam berlama-lama dari pada di Mataram di antara
salah satu dari tujuh tempat peristirahatan yang berada tidak jauh dari Mataram
yakni di Narmada, Lingsar, Goenoeng Sari, Bogawati, Andana, Pringgarata dan
Tjakranegara. Disebutkan bahwa sepanjang jalan dari Mataram ke Tjakranegara
terdapat 47 buah artileri. Narmada (Peta 1899).
Mengapa Makassar begitu
memahami situasi dan kondisi di pedalaman Lombok daripada Boeleleng (Residentie
Bali en Lombok). Hal ini dapat dihubungkan dengan kahadiran pasukan Sumbawa
yang sebelumnya turut membantu penduduk Sasak dalam perang melawan kerajaan
Bali Selaparang. Residen di Makassar telah meminta Radja Soembawa untuk menarik
pasukkannya di Lombok dan menghalangi keterlibatan di Lombok. Boleh jadi dari pasukan-pasukan
Sumbawa inilah residen di Makassar mendapat berbagai keterangan tentang soal
apa pun di Lombok. Tentu saja masukan Residen di Makassar yang secara ruang
keraja terhubung dengan raja-raja di pulau Soembawa turut memberikan masukan ke
Batavia untuk bahan pertimbangan bagi Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebelum
memutuskan untuk pengeriman ekspedisi militer ke Lombok.
nama Karangasem daripada Tjakranegara. Nama Tjakranegara kali pertama diketahui
publik pada tahun 1892 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 08-01-1892). Disebutkan dua tempat yang dipersenjatai
Mataram dan Tjakranegara. Tampaknya nama Tjakranegara kurang dikenal orang
asing kecuali Karangasem. Karangasem pada tahun 1847 sebagaimana dilaporkan
Zollinger belum dibangun (dan masih terlihat reruntuhan sejak 1838). Kota
Karangasem diduga dibangun antara tahun 1847 dan 1888,
Tunggu deskripsi lengkapnya
blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah
menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat
tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton
sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan
sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam
memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini
hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish).
Korespondensi: akhirmh@yahoo.com










