Hubungan
timbal balik antara Batavia (VOC) dengan Bima dimulai pada tahun 1661 (lihat
Dagregister 12 September 1661). Bima telah menjadi ibu kota VOC (pengganti
Makasaar) di wilayah tengah. Selain gubernur berkedudukan di Bima, juga di Bima
berkedudukan residen. Dalam hal ini, Bima menjadi tempat terpenting kedua VOC
di timur (selain Amboina). Dalam perkembangannya, perseteruan Pemerintah VOC
dan kerajaan Gowa menjadi terbuka dan terjadi perang. Kerajaan Gowa ditaklukkan
VOC dibawah komanda Admiral Spelman yang lalu kemudian ditandatangani perjanjian
Bongaya (16 November 1667). Setelah kerajaan Gowa tiada, pemerintah VOC kembali memperkuat hubungan
(komunikasi) dengan kerajaan/kesultanan Bima. Selanjutnya perjanjian (contract)
baru antara pemerintah VOC dan kerajaan Bima diperbarui sebagaimana dicatat
dalam Daghregister tanggal 13 November 1669. Sejak inilah kehadiran Codja
Roeboe di Bima diketahui telah diangkat menjadi sahbandar pelabuhan Bima. Peta
1682
Bima dan pemerintah VOC (di Batavia). Posisinya sebagai sahbandari di Bima
memungkinkan Codja Roeboe diterima di kerajaan Bima dan juga dipercaya pemerintah
VOC. Codja Roeboe adalah seorang Moor. Codja Roeboe juga telah menjadi
penghubung antara pemerintah VOC dengan kerajaan-kerajaan Dompo, Tambora dan
Soembawa. Selain Codja Roeboe, di Bima juga tecatat nama Codja Ratoe (lihat
Daghregister 17 Desember 1680). Di Bima juga tercatat nama Moor yang lain yakni
pedagang (coopman) Codja Derwis.
Moor sudah sejak lama di nusantara. Orang Moor adalah beragama Islam yang
berasal dari pantai utara Afrika di laut Mediterania (percampuran Eropa, Arab
dan Africa). Mereka ini adalah pelaut-pelaut ulung sebelum kedatangan orang
Eropa (Portugis/Spanyol). Mereka ini adalah penyebar agama Islam yang dimulai
di Pasai/Perlak dan kemudian mereka telah menggantikan orang-orang India
(Hindu/Budha) di Baros dan Panai/Aru. Menurut laporan Tome Pires (1512-1515)
kerajaan Aru (Batak Kingdom) dipimpin oleh orang-orang Moor dan juga kerajaan-kerajaan
di Atjeh. Saat itu orang Portugis berada di Melaka. Sejak kapan orang-orang
Moor di Bima tidak diketahui secara pasti. Orang-orang Moor lebih dulu ada di
Jawa dan Makassar sebelum ada catatan orang Moor di Bima.
Besar dugaan sudah pensiun. Codja Roeboe menjadi shahbandar Bima paling tidak
selama tujuh tahun (1675-1682). Sebagai sahbandar di Bima, peran Codja Roeboe digantikan
oleh anaknya, soon van Codja Roeboe van Bima (lihat Daghregister 9 Maret 1682).
Codja Roeboe (mewakili orang-orang Moor) dengan pemerintah VOC di satu sisi dan
di sisi lain dengan kerajaan-kerajaan Bima, Dompoe, Tambora dan Soembawa
menyebabkan nama Codja Roeboe begita penting dan terkenal. Anaknya sendiri
tidak bisa menggantikan namanya. Nama anaknya hanya disebut soon van Codja
Roeboe. Nama Codja Roeboe hanya terhubung dengan kerajaan-kerajaan Bima,
Dompoe, Tambora dan Soembawa.
Meski demikian, posisi sosial Codja Roeboe tetap penting. Hubungannya dengan kerajaan-kerajaan
Bima, Dompoe, Tambora dan Soembawa tidak terpisahkan. Posisi Codja Roeboe di
Bima telah digantikan oleh anaknya. Codja Roeboe sekarang berada di ibu kota
VOC (Batavia). Pertanyaannya sekarang: dimana Codja Roeboe bertempat tinggal?
Roeboe sebagai pedagang, pelaut (pemilik kapal) dan sahbandar, sudah barang
tentu memiliki kekayaan yang cukup. Dinassti Codja Roeboe terus eksis di Bima.
Kedekatan Codja Roeboe dengan pemerintah VOC termasuk di Batavia. Faktor-faktor
itu semua menjadi membuat posisi dan ekonoi Codja Roeboe di Batavia
diperhitungkan. Kapal-kapalnya tidak hanya mudah keluar masuk Kali Besar
(pelabuhan Batavia), tetapi juga dimungkinkan memiliki gudang-gudang
perdagangan di Kali Besar.
faktor baru untuk memiliki akses dalam pemilikan lahan seperti halnya pedagang=pedagang
dan pejabat-pejabat VOC. Sejak tahun 1641 muncul kebijakan baru pemerintah VOC
yanga mana para pedagang VOC dapat mengembangkan pertanian di sekitar Batavia.
Lalu muncullah kebijakan berikutnya dalam hal pemilikan lahan absolut yang
dikenal sebagai tanah partikelir (land). Persil-persil lahan dijual pemerintah
untuk menambah kas pemerintah, juga pemilikan lahan dan pengembangan pertanian
di atasnya akan mendoroang produktivitas para pedagang untuk mendorong
perdagangan ekspor pemerintah VOC. Lahan-lahan di sekitar Batavia sudah habis
terkavling-kavling.
van Hoorn (Gubernur Jenderal VOC 1704-1709) telah memiliki lahan yang luas di
dekat benteng Jacatra (daerah Pasar Baru yang sekarang. Komandan militer VOC Majoor
Saint Martin sudah membuka lahan di sebelah timur lahan van Hoorn (kini daerah
Kemayoran). Pejabar VOC lainnya yakni Cornelis Chastelein telah membuka lahan
di selatan van Hoorn. Lahan ini sebelumnya dibeli dari Antonij dan kemudian
dijual kepada Justinus Vink (untuk membeli lahan di Depok). Justinus Vink tidak
hanya mengembangkan lahan, tetapi juga membangun pasar (kini Pasar Senen). Di
lahan ini Vink membangun mansion besar. Mansion ini kemudian dibeli oleh
Gubernur Jenderal Jacob Mossel yang kemudian dibeli oleh Gubernur van der Parra
(mansion ini kini menjadi RSPAD).
telah memiliki persil lahan (land). Lahan kepemilikannnya berada di timur lahan
Majoor Saint Martin. Oleh karena Codja Roeboe di lahannya juga membangun gedung
mewah, maka lahan miliknya lambat-laun dikenal sebagai land Gedong Roeboe.
Lahan ini sangat luas yakni mulai dari Sunter hingga Tandjoeng Priok. Dalam
perkembangannya lahan milik Codja Roeboe nilai komersilnya semakin meningkat.
milik Codja Roeboe ini belum begitu subur karena termasuk wilayah basah, banyak
rawa-rawa. Boleh jadi karena itu dengan jumlah uang tertentu, Codja Roeboe
mendapat lahan yang sangat luas. Berdasarkan Peta 1724, akse jalan dari kota
(stad) Batavia ke lahan Codja Roeboe sudah muncul sebagai kanal. Pembangunan
kanal pada saat itu oleh pemerintah VOC dimaksudkan untuk jalur pelayaran antar
land dan juga dimaksudkan untuk fungsi drainasi. Kanal ini sudah terhubung
dengan sungai Soenter di Poelo Gadoeng. Oleh karena kanal ini terhubung dengan
sungai besar (sungai Soenter), maka fungsi kanal yang melewati lahan Codja
Roeboe juga difungsikan untuk menambah debit air di pelabuhan Kali Besar
(terutama di musim kemarau). Dengan demikian tinggi permukaan air di pelabuhan
Kali Besar terjaga sepanjang tahun.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





