Abdul Hakim Nasution, wakil wali kota (Locoburgemeester) Padang adalah ayah
dari Mr. Egon Hakim. Parada Harahap adalah sohib dari MH Thamrin yang mana
keduanya adalah ketua dan sekretaris PPPKI yang didirikan tahun 1927. Pada saat
pembentukan PPPKI, Parada Harahap mewakili Sumatranen Bond dan Bataksche Bond,
sedangkan MH Thamrin mewakili Kaoem Betawi. Pada tahun itu untuk kali pertama
MH Thamrin (mewakili dapil Batavia) dan Mangaradja Soeangkoepon (mewakili dapil
Oost Sumatra) menjadi anggota Volskraad, Parada Harahap adalah tokoh di balik
hubungan keluarga Dr. Abdul Hakim (locoburgemeester Padang sejak 1931 hingga 1942)
dan keluarga MH Thamrin (locoburgemeester Batavia pada tahun 1930 yang menjadi
anggota Volksraad). Soerabaijasch handelsblad, 14-01-1941
Pada tahun 1941 MH Thamrin
(dapil Batavia), Mangaradja Soeangkoepon (dapil Ooost Sumatra), Abdul Rasjid
(dapil Tapanoeli) dan Radjamin Nasution (dapil Soerabaja) adalah anggota
Volksraad. Dr. Abdul Rasjid adalah adik kandung Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja
Soangkoepon. Sementara itu, Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap adalah dua dari tiga
pimpinan GAPI, MH Thamrin mewakili partai Parindra dan Mr. Amir Sjarifoeddin
Harahap mewakili partai Gerindo (bukan Gerindra dan terdengar mirip sebagai
nama gabungan dari Gerindo dan Parindra). MH Thamrin dan Mangaradja Soeangkoepon
adalah ‘dua macan’ Pedjambon (gedung dewan Volksraad saat itu di Pedjambon;
kini di Senayan).
Batavia tanggal 11 Januari 1941, tentu saja Ridwan Saidi tidak tahu apa-apa,
karena Ridwan Saidi baru lahir di Sawah Besar, Djakarta tanggal 2 Juli 1942. Meninggalnya
MH Thamrin pemberitaannya sangat luars biasa. Surat kabar berbahasa Belanda berpengaruh
di Batavia harus menunda beberapa jam waktu sirkulasinya karena harus menunggu
untuk menyelipkan Breaking News. Demikian juga surat kabar paling berpengaruh
di Batavia, milik Parada Harahap Tjaja Timoer harus menunda beberapa jam
sirkulasinya.
Harahap adalah tokoh media pribumi paling berpengaruh di era kolonial Belanda
yang dijuluki sebagai The King Java Press. Memulai karir jurnalistik ketika
masih sebagai krani perkebunan di Deli. Tidak tahan melihat koeli asal Jawa
disiksa oleh para planter, berinisiatif melakukan investigasi dan laporannya
dikirimkan ke surat kabar Benih Merdeka di Medan. Laporan ini kemudian
disarikan redaktur menjadi sejumlah artikel. Artikel-artikel ini kemudian
dilansir surat kabar Soeara Djawa edisi Juni 1918 yang kemudian menjadi heboh
di Jawa. Parada Harahap dipecat sebagai krani. Parada Harahap merantau ke Medan
dan melamar menjadi jurnalistik tetapi justru posisi editor yang ditawarkan
oleh manajemen Benih Merdeka. Nemun beberapa bulan kemudian surat kabar Benih
Merdeka dibreiden. Surat kabar Pewarta Deli pimpinan Abdullah Lubis menawarkan Parada
Harahap sebagai editor. Namun karena Pewarta Deli cenderung moderat, Parada
Harahap pulang kampong ke Padang Sidempoean dan menerbitkan surat kabar yang
lebih radikal di Padang Sidempoean dengan nama Sinar Merdeka. Parada Harahap
juga merangkap editor surat kabar Poestaha yang didirikan Soetan Casajangan
pada tahun 1915 di Padang Sidempoean. Pada tahun ini Parada Harahap menjadi
ketua Jong Sumatranen Bond afdeeling Tapanoeli. Pada kongres Sumatranen Bond
yang pertama di Padang, Parada Harahap mewakili Tapanoeli. Pembina kongres ini
di Padang adalah Dr. Abdul Hakim Nasution (anggota dewan kota Padang). Saat kongres
inilah Parada Harahap saling kenal dengan Mohamad Hatta yang juga hadir di
kongres sebagai perwakilan Sumatranen Bond afdeeling Padang. Pada kongres kedua
tahun 1921 keduanya juga hadir. Pasca kongres ini Mohamad Hatta melanjutkan
studi ke Belanda. Setahun kemudian surat kabar Sinar Merdeka milik Parada
Harahap dibreidel. Pada tahun 1922 Parada Harahap merantau ke Batavia dan
mendirikan surat kabar Bintang Hindia tahun 1923. Pada tahun 1924 Parada
Harahap mendirikan kantor berita pribumi pertama, Alpena dengan editor WR
Supratman. Pada tahun 1925 Parada Harahap melakukan kunjungan jurnalistik ke
Sumatra dan Smenanjung yang laporannya dibukukan dan diterbitkan percetakan NV
Bintang Hindia. Pada tahun 1926 Parada Harahap di bawah bendera NV Bintang
Hindia menerbitkan surat kabar baru yang lebih tadikal dengan nama Bintang
Timoer. Ir. Soekarno yang baru lulus THS dan telah membentuk clubstudi di
Bandoeng kerap mengirim artikel ke Bintang Timoer (yang menjadi awal perkenalan
Parada Harahap dengan Ir. Soekarno). Parada Harahap mulai menghubungkan
sohibnya Mohamad Hatta di Belanda dengan teman barunya Ir. Soekarno. Singkat
kata: Parada Harahap menggagas persatuan Indonesia tahun 1927 dengan membentuk
supra organisasi yang disebut Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan
Kebangsaan Indonesia (disingkat PPPKI). Pembentukan ini dilakukan di rumah
Prof. Hoesein Djajaningrat yang juga turut dihadiri Mangaradja Soangkoepan yang
baru terpilih Volksraad dan Ir Soekarno mewakili Perhimpunan Nasional Indonesia
dari Bandung. Kaoem Betawi diwakili ketuanya MH Thamrin dan Sumatranen Bond
diwakili Parada Harahap. Kepengurusan secara aklamasi menetapkan MH Thamrin
sebagai ketua dan Parada Harahap sebagai sekretaris. Parada Harahap saat itu
juga adalah ketua pengusaha pribumi Batavia (semacam Kadin masa ini) yang mana
anggotanya juga termasuk MH Thamrin. Hoesein Djajaningrat dan Mangaradja
Soangkoepon adalah mantan pengurus Indische Vereeniging di Belanda. Organisasi
ini didirikan Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan yang mana sekretarisnya
salah satu adalah Hoesein Djajadiningrat. Soetan Casajangan yang mendirikan
surat kabar Poestaha di Padang Sidempoean pada tahun 1927 ini adalah direktur
sekolah guru Normaal School di Meester Cornelis (kini Jatinegara) sementara
Prof. Hoesein adalah dekan sekolah hukum di Batavia. Trio Casajangan, Hoesein
dan Soangkoepon di belakang terbentuknya PPPKI. Parada Harahap adalah pemain
utama (yang didukung oleh ketua PI Belanda Mohamad Hatta dan Ir. Soekarno ketua
PNI di Bandoeng). Di gedung PPPKI di gang Kenari, Parada Harahap sebagai kepala
kantor hanya memajang tiga foto di dinding ruang rapat, yakni foto-foto:
Soeltan Agoeng, Ir. Soekarno dan Mohamad Hatta). Parada Harahap adalah mentor
politik praktis Hatta dan Soekarno. Pada saat Ir. Soekarno di tahan dan akan
diasingkan Parada Harahap memimpin tujuh revolusioner ke Jepang pada bulan
November 1933. Dalam rombongan ini termasuk Abdullah Lubis, pemimpin Pewarta
Deli di Medan, Mr. Samsi Widagda, Ph.D, guru sekolah di Bandoeng (yang dibangun
bersama Soekarno) dan sarja baru yang baru pulang studi deari Belanda yang
tidak lain siapa lagi: Drs. Mohamad Hatta. Rombongan ini pulang dari Jepang pada
tanggal 13 Februari dengan kapal Panama Maru di Soerabaja yang disambut Dr.
Soetomo dan Dr. Radjamin Nasution (pengurus partai PBI (Partai Bangsa
Indonesia). Dr. Soetomo kepala rumah sakit di Soerabaja, Dr. Radjamin Nasutiong
anggota dewan kota Soerabaja. Pada tanggal yang sama Ir. Soekarno
diberangkatkan ke pengasingan di Flores dari pelabuhan Tandjoeng Priok.
Catatan: selama di Jepang, Parada Harahap dijuluki media-media Jepang sebagai
The King of Java Press.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




