Pada masa lampau terbentuknya kota
berpusat di aloon-aloon. Di seputar alun-alun lokasi rumah pemimpin lokal
sangat prominen. Tidak jauh dari rumah/istana pemimpin lokal dibangun masjid.
Di seputar masjid inilah umumnya muncul perkampongan baru yang disebut Kaoeman
)Kampng Kaoem). Ini tipikal awal kota-kota di (pulau) Jawa.
![]() |
| Masjid Soekaboemi, 1895 |
Istana, masjid dan perkampoengan Kaoem terintegrasi
karena bersifat alamiah. Pemimpin lokal membangun masjid tidak jauh dari
istana. Dalam perkembangannya, para pedagang/pengusaha Arab atau Moor lebih
memilih bertempat tinggal tidak jauh dari masjid. Kehadiran kaum pendatang
inilah yang kemudian di area sekitar masjid terbentuk perkampongan keoeman atau
Kampong Kaoem. Kamapong Kaoeman ini antara lain ditemukan di Jogjakarta.
Tipologi kauman ini kemudian juga ditemukan di Bogor (Buitenzorg) dan Bandoeng.
Tata letak istana. masjid dan Kaoeman di Bandoeng mirip ditemukan di Soekaboemi.
kapan kampong Kaoeman di Soekaboemi terbentuk? Tentu saja itu dimulai setelah
didirikannya masjid. Pertanyaan ini sekilas tak penting, tetapi memahami keberadaan
masjid dan terbentuknya perkampongan kauman di Bandoeng dan di Soekaboemi terkait
dengan hancurnya istana dan masjid Atjeh di Kora Radja. Lantas bagaimana itu
terhubung satu sama lain? Itulah awal munculnya perkampongan kauman. Untuk
lebih memahaminya mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku
hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




