melihat semua artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini
Sejatinya, Kabupaten Tangerang sudah terbentuk
sejak era Pemerintah Hindia Belanda. Bahkan kabupaten Tangerang termasuk salah
satu kabupaten tertua di Indonesia. Namun pada masa ini hari jadi Kabupaten
Tangerang ditetapkan pada era pendudukan militer Jepang yakni tanggal 27
Desember 1943. Boleh jadi ini karena Atik Soeardi, orang Indonesia pertama yang
diangkat menjadi bupati Tangerang pada era Pendudukan Militer Jepang.
![]() |
| Kabupaten Tangerang (Peta 1930) dan Peta RIS 1949/1950 |
Segera
setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, wilayah Indonesia
dibagi ke dalam delapan provinsi, yaitu: Sumatra, Borneo (Kalimantan), Djawa
Barat, Djawa Tengah, Djawa Timur, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil serta dua
daerah istimewa yakni Soerakarta dan Jogjakarta. Gubernur Pertama Provinsi
Djawa Barat adalah Sutardjo Kertohadikusumo. Untuk Bupati Tangerang adalah
Raden Achjad Penna. Namun situasi dan kondisi segera berubah setelah kembalinya
Belanda (NICA).
Perubahan mendasar adalah wilayah Tangerang dianeksasi Belanda/NICA, terbentuknya
Negara Pasoendan, dan pengakuan kedaulatan Indonesia dibentuknya RIS. Lalu yang
terakhir kembali ke negara kesatuan (NKRI) dan dibentuknya Kabupaten Tangerang
(hingga sekrang). Semua itu saling terkait satu sama lain. Mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





