Sumber
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
militernya yang berasal dari pribumi (Jawa, Bali dan Bugis) untuk membuka pemukiman
baru di sisi timur sungai Tjisadane di Tangerang. Hal serupa juga dilakukan di
pantai utara di Tjilintjing, daerah aliran sungai Bekasi, Tjiliwong, Tjakoeng, Soenter, Kroekoet, Pesanggrahan dan Angke.
Namun penempatan di sisi barat sungai Tjisadane membuat para pikak di Kesultanan
Banten meradang. Sejak itu eskalasi politik antara Kesultanan Banten dan
Pemerintah VOC menjadi meningkat.
pejabat fiskal VOC di Banten Cornelis Snoek meninggal karena terluka tanggal 12
Mei 1674. Usaha pembunuhan itu dilakukan tanggal 8 Mei 1674 yang saat kejadian Hendrik
Feron tewas terbunuh. Para pembunuh ini melarikan diri ke Tangerang dan
kemudian berhasil ditangkap. Inilah awal perkara orang VOC/Belanda terhubung
dengan Tangerang. Residen Bantam, Willem Caef tentu saja menyelidikinya. Pada
tanggal 21 Maret 1675 Caef bersama Ockersz yang membawa sejumlah tentara
Mataram ke Banten. Kemudian diketahui eks pasukan Jawa ditempatkan di Tangerang.
pihak meminta dukungan VOC/Belanda. Seorang investor Eropa/Belanda, pemilik
lahan di Tangerang Cornelis Mock dalam situasi tidak menentu. Pada tanggal 6
November 1678 beberapa orang Jawa datang ke Casteel Batavia bersama para
pemimpin Tangerang. Orang Jawa ini diduga para pekerja Cornelis Mook. Pemimpin
Tangerang ini diduga adalah salah satu paksi di Kesultanan Banten yang meminta
dukungan kepada VOC/Belanda di Batavia. Suhu politik di Tangerang terus meningkat.
Pada tanggal 22 Juni 1679 Landdrost bersama dengan sembilan tentara dan pasukan
Makasar pimpinan Daeng Mattara tiba di Tangerang.
tanggal 8 Januari 1680 orang Banten merusak pagar (palisade) Tangerang. Menurut
catatan Daghregister tanggal 1 Juni 1680 Sultan Banten telah mengambil tanah
Tanara, Pontang dan Tangerang di bawah pemerintahannya. Pada tanggal 5 November
1680 para pekerja yang kembali di sekitar palisade Tangerang mengungsi karena
orang-orang Banten sedang berada sekitar. Pada tanggal 6 Juni 1681 dicatat di
dalam Daghregister suatu release dari landdrost Vincent van Mook terhadap
pembantaian orang Jawa oleh orang Banten di Tangerang.
kanal (lihat Bataviaasch handelsblad, 28-02-1872). Cornelis Vincent van Mook mengerahkan
para pekerja untuk menggali kanal dengan menyodet sungai Tjisadane dan
mengalirkannya ke sungai Angke. Sudah barang tentu dibutuhkan banyak tenaga
kerja. Daghregister mencatat bahwa tanggal 10 April 1680 Sera Mangale ‘mengambil’
(roven) orang Indermayoe sebanyak 7.000 orang dan membawanya ke Tangerang. Siapa
Sera Mangale, diduga kuat adalah komandan benteng Tangerang di Kampong Baroe. Pada
tanggal 7 September 1680 dicatat bahwa di Tangerang banyak budak yang datang
dari Banten. Pada tanggal 21 September 1680 tiba di Tangerang 1.000 orang untuk
menjaga properti bangunan.
![]() |
| Vaart van Mooeck (Peta lahan 1732) |
Pada tanggal 14 Februari 1682 sebanyak 4.000 orang Jawa bersenjata
dikirim oleh anak Soeltan Banten ke Tangerang untuk melawan ayahnya. Sementara
itu, pada tanggal 7 Maret 1682 Majoor Saint Martin melakukan persiapan terakhir
menuju Banten. Pada tanggal 8 Maret 1682 Majoor Martin tiba di Banten dengan
120 orang Bali. Cornelis van Mook menyediakan rumahnya untuk pasukan yang
melakukan ekspedisi (Daghregister, 11 Maret 1682). Pada tanggal 12 Maret 1682
Kapten Willem Hartsinck tiba di sungai Tangerang dengan 689 tentara dan 400
pengangkut bagasi untuk menjaga perbatasan.
Pada tanggal 19 Maret 1682 sejumlah besar orang Banten melewati batas.
Pada tanggal 21 Maret 1682 Schermutsel ditahan oleh orang Banten. Beberapa hari kemudian berturut-turut
tiba pasukan Ambon, Melayu dan Mardijker. Pada tanggal 3 Mei 1682 orang Banten melukai
orang-orang VOC. Pada tanggal 17 Mei 1682 orang-orang Banten benar-benar
menyerang dan 300 tewas dan tenggelam di sungai. Pada tanggal 14 Juni 1682
sejumlah orang Tangerang mendatangi VOC. Pada tanggal 6 Januari 1683 militer
VOC berangkat ke sungai Tangerang di bawah pimpinan Kapten Joan Ruysch dan
dibantu sersan Anthonij Eygel. Pada tanggal 7 Juni 1682 ambassadeur Banten
mendatangi sungai Tangerang untuk bertemu Capiteyn Ruysch. Dari waktu ke waktu
kaptein dan pasukannya makin banyak yang tiba di Tangerang termasuk Captein
Francois Tack (Daghregister, 3 Agustus 1682). Konsentrasi militer semakin
tinggi di Tangerang. Pada tanggal 22 November 1682 kembali duta Banten
mendatangi kepala Tangerang. Sejak inilah Tangerang dijaga penuh oleh militer
VOC. Situasi lambat laun terkendali. Sejak ini pula benteng Tangerang
diperkuat. Terhadap prestasi ini, Majoor Saint Martin diberi olej pemerintah
dua bidang lahan subur (landgoed) di Tjinere dan Tjitajam.
landdrost Vincent van Mook telah terhubung antara (sungai) Anke dan (sungai
Tjisadane) Tangerang. Dengan adanya kanal ini dimungkinkan komunikasi antara
Tangerang dan Batavia tidak hanya lebih pendek dan jarak tempuh lebih singkat
tetapi juga perihal navigasi menjadi lebih aman. Keutamaan lain dari adanya
kanal ini adalah terbentuknya land-land baru di dua sisi kanal mulai diantara
Tangerang (benteng Tangerang) dan Pesing (benteng Angke). Kanal ini juga
disebut kanal Vaart van Moock (lihat Peta lahan 1732). Nama Cornelis Vincent
van Mook kemudian menjadi tertabalkan sendiri pada nama kanal sebagai Mookervaart
(kanal yang dibuat oleh Mook).
Vincent van Mook berdasarkan catatan Daghregister di Kasteel Batavia diizinkan
untuk menjadi pemilik land di Tangerang (lihat Daghregister, 8 November 1669). Pada
tahun 1680 van Mook menjual (sebagian) lahan kepadan Laurens Pit di sisi timur
yang menjadi miliknya (Daghregister, 29 Mei 1680). Setelah memulai penggalian
kanal tahun 1681, van Mook meminta bantuan tentara untuk melakukan penebangan pohon/hutan
di Tangerang. Pada tanggal 30 Oktober 1682 van Mook kembali meneruskan
penggalian di Tangerang. Pada tanggal 6 Oktober 1687 kanal telah terhubung
antara (sungai) Anke dan (sungai Tjisadane) Tangerang. Setahun setelah kanal
Tangerang-Angke selesai dibangun, Cornelis Vincent van Mook meninggal dunia
tanggal 20 November 1688.
![]() |
| HJ van Mook (NICA/Belanda) |
Siapa Cornelis
Vincent van Mook? Pertanyaan ini tentu masih perlu ditelusuri, tidak ke atas
tetapi ke bawah. Cucu Cornelis Vincent van Mook adalah Jan Dirkse van Mook
lahir tahun 1702. Jan Dirkse van Mook lahir setelah kakeknya meninggal tahun
1688. Cucu Jan Dirkse van Mook adalah Cornelis van Mook yang lahir tahun 1788
dengan mengambil nama kakek buyutnya yakni Cornelis Vincent van Mook. Cornelis
van Mook Jr memiliki anak bernama Hubertus van Mook yang lahir 1824. Cucu Hubertus
van Mook mengambil namanya. Nama sang cucu adalah Hubertus Johannes van Mook,
lahir di Semarang tahun 1894. Hubertus Johannes van Mook adalah Luitenant
Generaal NICA/Belanda. Salah satu anak Hubertus Johannes van Mook adalah
Cornelis van Mook (lahir 1927).
Tangerang ke Batavia. Kanal yang digagas dan dibangun oleh Cornelis Vincent van
Mook. Sang cucu juga memiliki gagasan garis lurus, yakni Garis van Mook pada
era Perang Kemerdekaan.
kanal-kanalnya. Ketika orang-orang Belanda mulai membangun benteng (kasteel)
Batavia di area rawa-rawa di muara sungai Tjiliwong, mereka tentu tidak
kesulitan. Rawa-rawa justru basis yang baik untuk menerapkan konsep kanal untuk
membangun benteng. Jan Pieterszoon Coen tahun 1625 mulai mendesain kota baru
Batavia berbasis kanal (perluasan kasteel). Satu yang penting dalam sketsa kota
Coen ini adalah sebuah garis lurus di sisi sungai Tjiliwong dari area kasteel
ke arah tenggara. Garis lurus ini diduga kanal kuno yang diintegrasikan dengan
kanal-kanal yang dibangun Coen.
![]() |
| Peta 1695 |
Kanal
kuno ini adalah sebuah kanal yang bermula dari sungai Soenter di Poelo Gadoeng garis
lurus melalui kampong Kalappa Gading, kampong Soenter dan kemudian masuk ke
sungai Tjiliwong di sekitar Mangga Doea. Dari sudut pandang VOC saat itu
(1625), sejatinya tidak membutuhkan kanal ini. Kanal Soenter ini di dalam peta tentu
hanya sebagai penanda alam seperti halnya penanda sungai Tjiliwong. Peta 1625
ini adalah peta (sketsa) tertua tentang kota Batavia. Inilah kanal terpanjang
saat itu. Jika merujuk pada Prasasti Tugu, kanal yang diidentifikasi Coen ini diduga
adalah sungai Gomanti yang disebut di dalam prasasti.
dan kanal Soenter sudah teridentifikasi tiga kanal baru, yakni: (1) kanal
Antjol dari kota ke muara Antjol; (2) kanal Tjiliwong dari sungai Tjiliwong di benteng
Noordwijk ke sungai Kroekoet di benteng Riswijk; dan (3) kanal Angke dari sungai
Kroekoet di kota ke sungai Angke di benteng Angke.
Peta 1682 teridentifikasi dua kanal baru, yakni kanal Molenvliet dan kanal
Goenoeng Sahari. Kanal Molenviel adalah kanal dari kanal Tjiliwong di benteng
Riswijk ke kota (kini kanal Hayamwuruk/Gajah Mada); kanal Goenoeng Sahari dari
sungai Tjiliwong di benteng Noordwijk ke arah timur ke pasar Baroe dan ke
Goenoeng Sahari dan kembali ke sungai Tjiliwong di Manggadoea. Pada Peta 1724
kanal Mookervaart sudah diidentifikasi. Seperti disebut di atas kanal
Mookervaart selesai dibangun pada tahun 1687. Kanal Angke terhubung dengan
kanal Mookervaart. Pada tahun 1740 dibangun kanal Kwitang dari sungai Tjiliwong
dan dialirkan melewati pasar Senen, Kemajoran ke kanal Soenter.
Pada Peta 1825 jumlah kanal
semakin banyak. Dua kanal yangt penting dan termasuk besar adalah kanal
Kroekoet dan kanal Osterslokkan. Kanal Kroekoet adalah kanal dari sungai
Kroekoet di Tanah Abang ke kanal Angke. Kanal Osterslokkan adalah kanal dari
sungai Tkiliwong di Buitenzorg (bendungan Katoelampa) melalui jalan pos
Grooteweg melalui Tjililitan terus ke Meester Cornelis, Matraman, Paseban dan
Senen (masuk ke kanal Kwitang). Satu lagi kanal yang dibangun kemudian adalah
kanal Bandjir Kanaal dari sungai Tjiliwong di Manggarai dialirkan ke kanal
Kroekoet di Pejompongan. Bandjir Kanaal ini selesai dibangun pada tahun 1918.
Last but not least: Belum lama ini selesai dibangun Banjir Kanal Timur (BKT),
suatu kanal dari sungai Ciliwung yang diintegrasikan dengan kanal Kalimalang.
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






