Dalam lukisan ini
terlihat bahwa pintu gerbang menuju rumah van der Parra berada di sisi timur
jalan Kwitang yang sekarang. Tentu saja jembatan Kwitang saat itu belum ada
sehingga jalan Kwitang yang sekarang adalah jalan menuju rumah van der Parra.
Parra boleh dikatakan salah satu gubernur jenderal yang suka dalam kehidupan
mewah. Selain di Weltevreden, van der Parra juga memiliki lahan luas di Tjimanggis
di tempat dimana pada masa kini masih ditemukan bekas bangunan kuno yang sering
disebut Rumah Cimanggis.
pribadi. Sementara kantor gubernur jenderal berada di Stad Batavia (Stadhuis).
Pada era Gubernur Jenderal Siberg (1801-1805), Siberg tidak berkantor lagi di
Stadhuis karena dianggap tidak nyaman. Johannes Siberg lalu berkantor di
Molenvliet.
Herman Willem Daendels: Membangun Istana Gubernur
Jenderal di Weltevreden
Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) mulai memikirkan ibukota baru.
Seperti halnya Siberg, Daendels juga tidak nyaman di Batavia. Gubernur Jenderal
Daendels membeli Weltevreden untuk dijadikan ibukota yang baru. Daendels juga
membeli lahan-lahan yang dimiliki swasta untuk dijadikan tempat-tempat bangunan
pemerintah. Hal yang sama juga dilakukan Daendels di Buitenzorg. Istana
Gubernur Jenderal di Buitenzorg tidak cukup. Daendels juga menjadi lahan-lahan
di Buitenzorg untuk dijadikan kota pemerintahan.
![]() |
| Sketsa benteng baru dan kota oleh Jan Pieterszoon Coen, 1619 |
Sebagaimana halnya dengan Gubernur Jenderal Jan
Pieterszoon Coen (1617-1623) yang merancang benteng baru dan pembangunan kota
Batavia, Herman Willem Daendels dapat dikatakan sebagai pendiri ibukota baru untuk
menggantikan ibukota (stad) Batavia.
Willem Daendels mulai membangun ibukota (stad) yang baru di Weltevreden. Untuk
membangun kota baru ini, Daendels menggunakan batu-batu eks Casteel Batavia sebagai
fondasi untuk bangunan-bangunan baru. Casteel Batavia dianggap sudah tidak
berguna dan tidak dimanfaatkan lagi. Daendels memutuskan untuk menghancurkan gedung yang
sementara itu menjadi tidak berguna untuk pertahanan dan juga tidak layak lagi untuk
tempat tinggal.
![]() |
| Istana Gub. Jenderal Daendels (1870) |
Satu bangunan terpenting di ibukota baru di
Weltevreden yang mulai dibangun Daendels adalah Istana Gubernur Jenderal yang
representatif. Istana ini dilengkapi dengan lapangan yang luas yang diberi nama
Waterlooplein (kini Lapangan Banteng). Bangunan utama lainnya adalah Raadhuis.
Kampement militer juga dibangun di sekitar Waterlooplein.
ini belum sepenuhnya selesai, pada tahun 1811 Gubernur Jenderal Herman Willem
Daendels harus menyerahkan kekuasaannya kepada Inggris. Sebagai pengganti
Daendels, Letnan Gubernur Jenderal Raffles tidak memilih pusat pemerintah di
Batavia, tetapi lebih memilih di Buitenzorg dan Semarang. Hanya kantor-kantor
tertentu yang tetap berada di Stad Batavia.
pembangunan ibukota baru di Weltevreden, apakah Letnan Gubernur Jenderal Raffles
atau dihentikan atau dilakukan oleh swasta.
berakhir tahun 1816. Pemerintah Kerajaan Belanda menempatkan Godert Alexander
Gerard Philip baron van der Capellen sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda
(1816-1826). Boleh jadi pada masa Capellen, pembangunan ibukota di Weltevreden
dilanjutkan. Namun tidak lama kemudian meletus perang di Jawa (Perlawanan dari
Pangeran Diponegoro).
![]() |
| Weltevreden (Peta 1824) |
Defisit pemerintahan yang berkepanjangan terutama
dalam Perang Jawa (1825-1830), Johannes van den Bosch (1830-1833) memulai
program pemerintah yang sangat radikal yang dikenal dengan nama kultuurstelsen.
Seperti halnya Mossel dan van der Parra yang mengandalkan kopi, van den Bosch
juga mengandalkan kopi dengan menerapkan koffiestelsel di Buitenzorg, Preanger,
Semarang dan Vorstenlanden (Soeracarta dan Jogjakarta). Program ini tampaknya
berhasil untuk mendongkrak penerimaan pemerintah. Program koffiestelsel
diperluas di Padangsche dan Tapanoeli sehubungan dengan berakhirnya Perang
Bondjol (1837) dan Perang Tambusasi (1838). Weltevreden (Peta 1824) Â
satu pahlawan yang terkenal dalam Perang Diponegoro (Jawa), Perang Bonjol
(Padangsche) dan Perang Tambusai (Tapanoeli) adalah Andreas Victor Michiels.
Setelah berakhirnya Perang Bonjol, Kolonel Michiels diangkat menjadi Gubernur
Sumatra’s Weskust (Pantai Barat Sumatra) dengan menaikkan pangkatnya menjadi
Mayor Jenderal. Gubernur Michiels berhasil menyukseskan koffiestelsel di
Padangsche dan Tapanoeli.
![]() |
| Monumen Michiels di WaterlEditooplein, Weltevreden (1852) |
Di Waterlooplein di Weltevreden, nama Andreas Victor
Michiels diabadikan dengan pembangunan monumen Michiels. Monumen Michiels juga
terdapat di kota Padang. Sebagai ahli perang, Andreas Victor Michiels jasanya
masih diperlukan yang sejatinya sudah harus pensiun sebagai militer, Mayor
Jenderal. Michiels harus meninggalkan jabatannya sebagai Gubernur Sumatra’s
Westkust pada tahun 1849 untuk mengisi posisi Komandan Militer di Batavia.
Victor Michiels yang telah dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal dan
kemudian memimpin ekspedisi ke Bali. Sang pahlawan Belanda Andreas Victor
Michiels terbunuh di rumahnya di Bali yang dilakukan oleh bekas pembantunya
yang diduga menaruh dendam. Andreas Victor Michiels tamat, tetapi namanya tetap
harus dengan berdiri kokohnya monumennya di Waterlooplein di Weltevreden. Foto
tertua Monumen Michiels di Waterloplein bertahun 1880. Satu pahlawan lagi yang
ada di Waterlooplein adalah monumen/patung Jan Pieterszoon Coen, sang pahlawan
Belanda pada era VOC (foto monumen tertua tahun1875). Hanya dua pahlawan ini
yang namanya diabadikan di Waterlooplein yang seakan menggambarkan dua pahlawan
beda generasi: generasi nenek moyak VOC dan generasi penerus Pemerintah Hindia
Belanda.
![]() |
| Weltevreden (Peta 1866) |
Pada era Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch (1830-1833)
benteng (fort) Noordwijk direvitalisasi yang dilengkapi dengan taman dengan
mengganti namanya menjadi Cidatel (benteng) Frederik. Tamannya sendiri disebut
Wilhelmina Park. Setelah sukses Perang Atjeh 1874 di dekat Wilhelmina Park ini
juga dibangun Monumen Atjeh. Di area Wilhelminan Park dan benteng Frederik ini
kelak dibangun masjid Istiqlal (1951), Di Weltevreden juga dibangun monumen van
Heutsz. Pada era Gubernur Jenderal Johannes Benedictus van Heutsz (1904-1909) berhasil
menuntaskan Perang Atjeh.
Weltevreden hampir separuhnya adalah untuk lokasi yang terkait dengan kebutuhan
militer, seperti lapangan Wateerlooplein (kini lapangan Banteng), Istana
Gubernur Jenderal yang berbau militer, garnizun, kampement militer, societeit
(Concordia), rumah sakit militer (kini RSPAD), laboratorium, monumen pahlawan.
Istana Gubenur Jenderal adakalanya disebut Istana Daendels. Salah satu hal yang
kerap terlupakan adalah keberadaan Docter Djawa School.
![]() |
| Peta Rumah Sakit dan Dokter Djawa School 1915 (insert gedung) |
Pada
tahun 1851 di sebelah timur rumah sakit militer diselenggarakan pelatihan kedokteran
untuk pribumi untuk membantu dokter-dokter Belanda dalam mengatasi epidemik dan
berbagai penyakit yang muncul di berbagai daerah. Gagasan pendirian sekolah kedokteran ini sudah muncul pada tahun 1849 untuk mendidik pemuda pribumi untuk menjadi tenaga medis. Lalu keputusan pemerintah menetapkan tiga puluh orang untuk dilatih selama dua tahun untuk tugas utama vaksinisasi (lihat Leydse courant, 30-05-1849). Lalu angkatan pertama dimulai pada tahun 1851.
![]() |
| Leydse courant, 30-05-1849 |
Pelatihan kedokteran lalu kemudian berkembang menjadi sekolah kedokteran. Sekolah kedokteran ini
karena awalnya hanya ditujukan untuk pemuda Jawa disebut Docter Djawa School. Lalu setelah sekian dasawarsa sekolah kedokteran ini ditingkatkan dengan mengubah namanya menjadi STOVIA. Pada awalnya sekolah ini hanya menerima jumlah
siswa setiap angkatan sekitar 10 siswa tetapi setelah era STOVIA jumlahnya kian bertambah. Gedung STOVIA ditingkatkan pada tahun
1900. Kini gedung STOVIA ini dijadikan sebagai gedung Kebangkitan Bangsa di
Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh.
ini semakin jelas.Di seberang Docter Djawa School ini kemudian terbentuk jalan (gang)
Menjangan. Apakah nama menjangan (rusa) ada hubungannya dengan taman rumah
Jacob Mossel yang pertama membangun (kota) Weltevreden? Apakah masih ada rusa
di taman ini ketika terbentuk gang ini? Untuk menjawab pertanyaan ini kita
harus kembali ke awal di masa lampau yakni dimana posisi pintu gerbang rumah
Mossel yang telah dibeli van den Parra.
![]() |
| Foto udara Waterlooplein, 1943 |
Johannes Rach pada tahun 1771 pintu gerbang rumah dan taman van der Parra masuk
dari jalan Kwitang yang sekarang. Dalam lukisan lainnya yang dibuat Rach
mengindikasikan bahwa pintu gerbang ke rumah van der Parra melewati jembatan di
atas sungai kecil (kanal). Kanal ini dibuat dengan cara menyodet sungai
Tjiliwong yang dialirkan ke arah Tandjong Priok. Sementara itu di lukisan lain
yang dibuat oleh Rach menggambarkan bagian belakang rumah van der Parra yang dikitari
oleh sungai besar (sungai Tjiliwong?). Pada era Gubernur Jenderal Daendels juga
dibuat kanal di utara bangunan rumah van der Parra yang diteruskan ke jalan
Goenoeng Sahari. Fungsi kanal ini diduga sebagai barier untuk Istana Gubernur
Jenderal Daendels.
![]() |
| Jalan Hospitalweg dan Senenweg di Weltevreden |
Dari gambaran yang
dilukiskan oleh Johannes Rach (1770-1772) dapat disimpulkan bahwa pintu gerbang
rumah van der Parra berada di jalan Kwitang yang sekarang. Dari gate ini masuk
jauh ke dalam melalui koridor yang mana di ujung koridor di sisi kiri adalah
rumah van der Parra yang membelakangi sungai Tjiliwong dan di sebelah kanan
(seberang lapangan) rumah van der Parra adalah taman yang luas. Di bagian
pekarangan rumah dipinggir taman terdapat kandang menjangan (rusa). Pada masa
ini, pintu gerbang dan koridor masuk ke rumah van der Parra tersebut diduga kuat
adalah jalan Abdul Rahman Saleh yang sekarang (dulu Hospitalweg) yang mana
rumah van der Parra dan pekarangannya tersebut sudah barang tentu adalah rumah
sakit RSPAD yang sekarang (dulu Groote Militaire Hospital). Jalan Hospitalweg
dan Senenweg dibangun pada era Gubernur Jenderal Daendels ketika ibukota
Weltevreden mulai dibangun. Bagunan bagian depan rumah sakit militer dibangun
kemudian.
era Pemerintahan Hindia Belanda ketika Gubernur Jenderal Daendels membangun
ibukota di Weltevreden yang pertama dibangun adalah situs Istana Gubernur
Jenderal dengan (situs) halaman yang luas di depannya (disebut Waterlooplein).
Dengan memperhatikan posisi dua persil lahan situs tersebut (istana dan
lapangan) dengan pembangunan jalan yang menghubungkan jalan Pasar Baroe dan
jalan Gunung Sahari/Senen maka jalan baru yang dibuat pertama sebelum dua situs
adalah membangun (peningkatan jalan) dari jalan Pasar Baru menuju dua sisi lapangan
dan Istana. Sisi lapangan/Istana sebelah utara ditarik garis lurus ke Pasar
Senen sedangkan sisi selatan ditarik garis lurus ke rumah van der Parra. Akibat
pembangunan jalan baru ini, taman dan rumah van der Parra menjadi terpisah.
Lahan yang kosong yang sebelumnya berfungsi sebagai taman menjadi peruntukkan
pembambngunan gedung-gedung baru termasuk Istana, sedangkan bangunan-bangunan
rumah van der Parra tetap dipertahankan yang kemudian menjadi bagian dari
pembentukan rumah sakit militer, gudang peluru (arsenal) dan garnisun militer
serta di sekitarnya kemudian didirikan sekolah kedokteran (Docter Djawa
School).
![]() |
| Lapangan Banteng (Waterlooplein) masa kini (googlemap) |
Pada masa ini penamaan jalan
di seputar kawasan Weltevreden tersebut adalah di lingkar utara jalan Pasar
Baru (Soetomo), di lingkar timur adalah jalan gunung Sahari/ Senen, di lingkar
selatan adalah jalan Kwitang, dan di lingkar barat adalah jalan Merdeka Barat.
Jalan poros di dalam kota Weltevreden adalah jalan Lapangan Banteng, jalan
Katedral (dari jalan Pasar Baru/Juanda) dan jalan Senen Raya (dari jalan Gunung
Sahari). Ke jalan lingkar dan jalan poros inilah semua jalan-jalan kecil terhubung
di Weltevreden. Seperti yang disebut di atas jalan (gang) Menjangan berpangkal
di jalan poros (kini jalan Senen Raya). Kondisi Lapangan Banteng
(Waterlooplein) pada masa ini sudah semakin mengicil karena di bekas Istana
Gubernur Jenderal Daendels tersebut pada era Presiden Soekarno telah dibangun
Hotel Brobudur dan sebagian lapangan Waterlooplein dijadikan sebagai lokasi
Monumen Pembebasan Irian Barat.
Weltevreden: Pasar Senen,
Pasar Vinck, Pasar Snees dan Pasar Lama
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com














