Tidak semua orang
Indonesia baik, tidak semua orang Eropa/Belanda jahat. Yang baik adalah baik,
yang jahat adalah jahat. Meski demikian, tetap ada perbedaan antara orang baik
Eropa/Belanda dengan orang baik Indonesia yakni mereka orang asing
Eropa.Belanda yang menjajah terhadap orang Indonesia yang terjajah. Perbedaan
esensial diantara orang Eropa/Belanda adalah soal rasial. Sementara perbedaan
esensial diantara orang Indonesia adalah penghianatan, suatu penghianatan yang
berkolaborasi dengan penjajah untuk menjajah bangsanya sendiri.
![]() |
| Dr. Isaac Groneman, 1879 |
Sejarah kolonial Belanda di
Indonesia berakhir pada saat pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia
pada tanggal 27 Desember 1949. Memasuki era penuh kedaulatan Indonesia mulai
disusun siapa yang pantas dan siapa yang tidak pantas untuk ditabalkan sebagai nama
situs. Penabalan nama seseorang dalam nama jalan apakah Belanda atau Indonesia
mengindikasikan siapa yang dimaafkan dan dihargai di sisi Indonesia yang baru
berdaulat. Ada beberapa nama Eropa/Belanda diantaranya Edward Douwes Dekker
alias Multatuli di Medan; Louis Pasteur di Bandoeng; dan Dr. Ernest Douwes
Dekker alias Setiabudi di Jakarta. Pada masa kini juga nama-nama orang
Indonesia sebagai nama jalan di Belanda, sebut saja Pattimura, Martha Ch. Tiahahu,
RA Kartini, Irawan Soejono, Soetan Sjahrir dan Mohamad Hatta. Tentu saja tidak
perlu mempertanyakan nama Soekarno sebagai nama jalan di Maroko dan Mesir.
Groneman tidak muncul di Yogyakarta, paling tidak sebagai nama situs. Tentu
saja ada pertimbangannya. Akan tetapi nama Dr. Groneman masih menarik untuk
diperhatikan sebagai seorang tokoh Eropa/Belanda di Yogyakarta pada masa
lampau. Dr. Groneman adalah seorang mantan dokter Sultan, pembela kraton dan
pencinta kebudayaan Jawa sebagaimana KF Holle sebagai seorang planter di
Preanger, pencinta kebudayaan Sunda, pembela pendidikan.
pada tanggal l2 Agustus 1832, lulus studi kedokteran di Belanda. Pada tahun
1858 Dr. Groneman izin praktik kedokteran, bedah, dan kebidanan di Batavia disetop
dan Dr. Gronemen diberikan praktik kedokteran, praktik umum dan profesional Preanger
Regentships dan di Bandong khususnya (De Oostpost: letterkundig,
wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 21-11-1859).
di Preanger. Pejabat tertinggi di Bandoeng saat kedatangan Dr. Groneman adalah
controleur (Residen sendiri masih berkedudukan di Tjiandjoer). Dr. Groneman
juga memiliki keahlian melukis. Sejumlah lukisan Dr. Groneman yang bertahun
1859-1861 antara lain Telaga (meer) Bagendit nabij Garoet; Goenong Malabar bij
Bandoeng Toewa; Tjioeroeg Tjikapoendoeng nabij Bandoeng; Goenoeng Patoeha met
Telaga Kowah Patoeha; Goenong Malabar en de vlakte van Bandoeng;
rekan kerjanya di Preanger, FW Jung Huhn meninggal dan dimakamkan di Lembang pada tanggal 24
April 1864. Ir. FW Jung Huhn, seorang geolog dan botanis yang mengintroduksi
tanaman kina di Preanger. Sebelum ke Preanger, Ir. FW Jung Huhn tahun 1840 ditugaskan
Gubernur Jenderal Pieter Merkus untuk melakukan penelitian geologi dan botani
ke Tanah Batak. Selama penelitian, Ir. FW Jung Huhn juga ditugaskan pemerintah
sebagai pejabat sipil di Padang Lawas (Mandailing en Ankola, Tapanoeli) tahuan 1841
hinngga 1843. Salah satu buku FW Jung Huhn adalah Die Battaländer auf Sumatra
(Tanah Batak di Sumatra) yang diterbitkan tahun 1847. Salah satu penemuan yang
terkenal di Sipirok, Angkola adalah pohon tusam yang diberinya nama Pinus
Merkusi, Jung (kombinasi nama Gubernur Jenderal dan namanya sendiri).
![]() |
| Makam FW Jung Huhn (lukisan Groneman, 1865) |
Sebagai rekan dan oleh karena
jasa-jasanya yang banyak dalam penelitian geologi dan botani di Jawa dan
Sumatra, Dr. Groneman memimpin pembangunan tugu di makam FW Jung Huhn. Dr.
Groneman mengirm surat kepada Rochussen mengabarkan meninggalnya FW Jung Huhn
dari Bandoeng tanggal 25 September 1865. Rochussen adalah Geubernur Jenderal
Hindia Belanda (1845-1851), Menteri Koloni (1858-1861) dan Perdana Menteri
Belanda (1858-1860). Makam FW Jung Huhn diabadikan Dr. Gronemen dalam sebuah
lukisan (1865).
seorang rekan di Preanger, KF Holle. Bersama dengan Ir. FW Jung Huhn adalah
tiga orang yang memiliki pengaruh besar di Preanger. KF Holle adalah seorang
pengusaha perkebunan (planter) yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan
Sunda terutama sastra dan bahasa Sunda. KF Holle mempelopori pendirian sekolah
guru (kweekschool) di Bandoeng yang dibuka pada tahun 1866.
guru ketiga di Hindia Belanda. Sekolah guru pertama dibuka di Soerakarta tahun
1851 dan yang kedua di Fort de Kock pada tahun 1856. Sekolah guru yang ketiga
dibuka di Tanobato, Afdeeling Mandailing en Angkola, Tapanoeli pada tahun 1862.
Selain sekolah guru, sekolah tinggi (bagi pribumi) yang dibuka di Hindia
Belanda adalah sekolah kedokteran di Batavia yang dimulai tahun 1851. Sekolah
kedokteran ini kemudian disebut Docter Djawa School.
lengkapnya
*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.





