menjadi satu dimensi komersial dan sosial yang sangat pesat bergerak.
Berubahnya peta perekonomian dunia yang serba cepat & disruptif,
menempatkan makanan (kuliner atau boga)
menjadi modal utama negara-negara dalam menghadapi tantangan global.
utama untuk bisa sukses dan bertahan.
dalam jumlah banyak, namun juga berkualitas.
Kualitas produk tersebut dapat diperoleh melalui pencitraan ataupun menciptakan
produk-produk inovatif yang berbeda dari wilayah lainnya yang dapat berdaya
saing secara global.
atau boga) merupakan suatu sektor usaha yang memberikan perhatian terhadap
pemanfaatan, keterampilan serta bakat baik individu maupun kelompok untuk
menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan daya
kreasi dan daya cipta
atau boga) telah terbukti mampu menciptakan sistem ekonomi kreatif atau
sebuah sistem kegiatan manusia yang berkaitan dengan daya kreasi, produksi,
distribusi, pertukaran dan konsumsi barang dan jasa yang memiliki nilai
kultural, artistik, estetika, intelektual dan nilai emosional bagi para
konsumen.
kepentingan belum maksimal terlibat dalam urusan makanan (kuliner atau boga).
menganggap makanan sebatas resep dan acara spektakel festival atau semata diartikan
sebagai seremoni makan.
atau boga) secara luas harus dipahami sebagai suatu tata olah strategik
pembangunan ekonomi manusia dan kebudayaan melalui pemberdayaan seni masakan
nusantara.
Perlu disadari untuk membangun pemahaman kemajuan kebudayaan suatu bangsa, mau
tidak mau, harus juga membicarakan kekayaan (dan mungkin kebanggaan dari) seni masakan itu sendiri.
sesuatu yang serius, baik mengenai keekonomian dan substansinya sendiri.
dan kelembagaan terhadap makanan (kuliner
atau boga), termasuk gastronomi di dalamnya (upaboga).
semua warisan masakan masa lalu yang ada maupun yang luput dari amatan, untuk diolah
menjadi suatu identitas Nusantara & ekonomian seni makanan bangsa
Indonesia.
& memperlakukan makanan (kuliner atau
boga) sebagai instrumen kebijakan strategik yang terbukti mampu
meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB)
Indonesia.
kedaulatan pangan Indonesia serta memberdayakan masyarakat pelaku ekonomi
kreatif.
atau boga) dalam perekonomian Nasional semakin penting dengan semakin
banyaknya jumlah penduduk yang bekerja di sektor ini.
terus meningkat dan menjadi andalan primadona pemangku kepentingan dalam menggerakkan
perekonomian, terutama ekonomi lokal dan penerimaan devisa.
menambah daya serap kekuatan mesin ekonomi masyarakat dengan melestarikan seni
memasak makanan daerah yang tersebar di 34 wilayah propinsi, 416 wilayah
kabupaten, 98 wilayah kota, 83184 wilayah desa dan kelurahan di Indonesia.
balik menelusuri pelaku-pelaku yang mempersiapkan dan siapa yang menggerakan
sampai tersedianya keperluan bahan pangan makanan.
pemburu hewan, juru masak, atau apapun judul atau kualifikasi mereka.
& Kecil serta UKM. Para pahlawan yang jarang diangkat martabat keberadaannya.
kepentingan Propinsi, Kabupaten & Kota, akan terasa kehadirannya langsung
bersama rakyat dalam membudayakan seni budaya makanan Indonesia.
penelitian, pengembangan, pendidikan dan pelatihan terhadap pemberdayaan
masyarakat setempat sebagai pelaku ekonomi kreatif, khususnya di daerah
pedesaan, pengembangan daerah tertentu, pembangunan daerah tertinggal dan
transmigrasi.
atau boga) dengan industrinya saat ini tumbuh sangat subur yang mampu
menyumbang kontribusi terbesar terhadap PDB ekonomi kreatif yakni sebesar 41.40
persen.
382 triliun selama tahun 2016, dengan multiplying effect 1,91, terbesar dalam
subsektor ekonomi kreatif.
industri kreatif sebesar Rp 5,1 triliun, dimana pembiayaan untuk sektor usaha
makanan (kuliner atau boga) mencapai
Rp 2,86 triliun.
memiliki jumlah bidang usaha terbanyak yaitu sebesar 5,550,960 pelaku di
seluruh Nusantara yang tercatat memiliki badan hukum.
juta tenaga kerja nasional yang berkecimpung di industri kreatif, 31,5 persen
bekerja di bidang sektor usaha makanan (kuliner
atau boga) seperti di restoran, rumah makan, kedai, warung dan sebagainya.
usaha industri makanan (kuliner atau boga)
yang berbadan hukum.
di tahun 2017, total jumlah restoran dan rumah makan yang berbadan hukum di 5 (lima) kota besar Indonesia (Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya & Medan)
ada 40,282 (Qraved).
makan yang berbadan hukum (restoran &
rumah makan yang besar dan menengah) di Indonesia ada 2,776 dengan
pendapatan rata-rata Rupiah 4,66 Milyar per tahun per setiap restoran &
rumah makan dan pengeluaran Rupiah 2,48 Milyard per tahun setiap restoran &
rumah makan.
26 orang dengan lebih kurang 131 tempat duduk yang tersedia serta pengunjung
rata-rata 227 orang setiap harinya.
biaya pengeluaran dengan pendapatan per tahun Rupiah 12,936,160,000,000 (atau pro rata 13 Trilyun) perputaran
uang dari sekian banyak restoran & rumah makan yang besar dan menengah yang
berbadan hukum di Indonesia.
dengan lebih kurang 363,656 tempat duduk serta pengunjung 630,152 orang setiap
harinya.
& rumah makan bertempat di kawasan pertokoan atau perkantoran, yaitu
sebesar 54,57 persen. Sedangkan di lokasi objek wisata hanya sebesar 15,71
persen.
hukum Perseroan Terbatas (PT),
sebesar 51,40 persen. Selain itu, terdapat 11,36 persen perusahaan yang
berbentuk koperasi, CV maupun Firma.
hukum atau tidak punya perusahaan sama sekali, seperti kaki lima, usaha rumah
tangga, dan warung makan sederhana yang kerap disebut sebagai pelaku usaha
Mikro & Kecil serta UKM.
pedagang warung tegal (warteg),
pedagang nasi goreng, pedagang martabak, pedagang buah, pedagang minuman, dan
sebagainya, yang rata-rata mempekerjakan 3 – 4 orang.
Bakso (APMISO) anggotanya yang
tersebar di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur , DKI Jakarta dan
Banten mencapai 60 ribu pedagang dengan penyerapan 100 ribu tenaga kerja. Di
Jawa Tengah saja ada sekitar 10 ribu anggota yang tergabung dalam APMISO.
Jakarta saja terdapat sebanyak 26.500 pedagang warteg yang tersebar di penjuru
Ibukota.
yang bekerja sendirian, seperti pedagang baso dan mie, pedagang gorengan,
pedagang nasi goreng, pedagang sate, pedagang kue, pedagang minuman dan
sebagainya.
kurang ada sekitar 1,073,521 orang di seluruh Indonesia atau rata-rata 19,605
orang di setiap kabupaten dan kota yang ada di Indonesia.
pergeseran semakin banyak masyarakat memiliki kebiasaan makan di luar rumah,
baik di restoran, rumah makan, kedai, warung maupun kaki lima.
ke restoran dan rumah makan saja mencapai 380 juta kali dan menghabiskan total
USD 1,5 miliar per tahun.
menyajikan makanan khas Indonesia, sedangkan masakan Amerika atau Eropa
sebanyak 22,43 persen, masakan China 10,69 persen, dan masakan lainnya 12,33
persen.
ditopang dengan pertumbuhan jumlah restoran kelas menengah dan rumah makan di
atas hingga 250 persen dalam lima tahun terakhir.
aktivitas sosial dimana separuh dari mereka yang makan di luar, datang bersama
rekan bisnis, teman atau keluarga.
entrepreneur kuliner Indonesia (pengusaha
Menengah, Mikro, Kecil & UKM) yang lahir melalui inkubator secara alam
(otodidak).
atau boga) merupakan pilihan utama bisnis masyarakat menengah & bawah
dalam mengatasi kesulitan ekonomi semenjak tahun 1998 sampai sekarang dan di
saat ini.
industri yang patut diperhitungkan dan menjadi penopang di masa depan dalam
memajukan pembangunan ekonomi Indonesia.
KEBERAGAMAN KULINER
pernah dipoles selama ini sehingga satu persatu hilang dan tidak tercatat
secara resmi.
masyarakat. Kekuatan yang dimiliki makanan (kuliner
atau boga) Indonesia terletak pada keunggulannya dari sisi keberagaman,
lokasi strategis, sejarah & budaya.
di 1334 suku & sub-suku di kepulauan Nusantara, termasuk etnis pendatang
yang jika masing-masing memiliki 50 masakan saja akan terdapat puluhan ribu
jenis makanan (kuliner atau boga)
bangsa ini.
mengenai harta kekayaan makanan (kuliner
atau boga) negeri ini atau dilakukannya pencacahan statistik mengenainya.
yang itu-itu saja. Kesamaan itu bukan hanya di Indonesia, tetapi juga ada di
Malaysia, Singapura, Thailand, Philippine dan Brunei.
IKTI (Ikon Kuliner Tradisional Indonesia)
menjadi andalan untuk kuliner di semua lokasi destinasi wisata Indonesia yang
dibingkai sebagai “local &
original” kuliner negeri ini.
rawon, rendang, lumpia dan sebagainya belum tentu bisa diterima di daerah lain
sebagai produk keaslian kuliner mereka, meskipun ada di daerah tersebut tapi
dianggap sebagai kuliner pendatang yang bukan menjadi andalan.
suku dan etnis pendatang yang jika saja masing-masing punya 10 (sepuluh) item seni dapur masakan yang
tidak sama dan berbeda dengan daerah lain, maka akan terdapat belasan ribu
kuliner yang bisa menjadi andalan bangsa ini di mata dunia.
destinasi tertentu adalah “local,
native, indigenous & authentic” yang berbeda & jarang memiliki
kesamaan dengan lokasi destinasi lainnya, termasuk kemiripan dengan
negara-negara tetangga.
Boga yang beraneka ragam dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai
Pulau Rote serta memiliki kekayaan hayati yang besar dan merupakan nomor dua di
dunia (77 jenis karbohidrat, 75 jenis
sumber lemak / minyak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228
jenis sayuran, 40 jenis bahan minuman, dan bumbu-bumbuan).
tanaman sayuran, buah, 110 jenis rempah-rempah dan flora nomor dua di dunia yang
tidak tumbuh di negara lain.
mengubah revolusi cita rasa dunia (yakni
Kayu Manis, Lada, Pala, Bunga Pala & Cengkeh).
makanan dunia setelah seni dapur masakan Perancis dan sampai hari ini tidak
yang nomor tiga walaupun masakan Mediteranean berupaya untuk itu tapi belum
diakui dunia sampai saat ini.
(kuliner atau boga) Indonesia punya
benchmark tersendiri di dunia, apalagi dengan adanya catatan mengenai kekayaaan
bumbu rempah & bukti seni dapur rijsttafel.
atau boga) Indonesia punya kisah, baik itu yang tangible & intangible (atau dikenal dengan ritual upacara).
atau boga) Indonesia cukup besar. Saat ini tren globalisasi makanan dunia cenderung
beralih ke seni dapur masakan Asia Tenggara, antara lain Indonesia.
meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke negara seperti Indonesia.
daerah-daerah mengangkat makanan (kuliner
atau boga) mereka ke dalam acara-acara (festival) Nasional sebagai wujud identitas & kemaslahatan perekonomian
masyarakat setempat.
pemasak dunia (master chef & chef)
terkenal terhadap kekayaan bumbu & rempah serta teknik memasak kuliner (boga atau makanan) Indonesia (seperti Gordon Ramsey, Jamie Oliver dan
sebagainya).
semakin mempermudah masyarakat dunia membuka dan mengenal seni dapur makanan (kuliner atau boga) Indonesia.
gastronomi (upaboga) di Indonesia
dalam menelusuri, mengangkat & melestarikan seni dapur masakan negeri ini.
F&B (Food and Beverage) yang kuat
bisa menghimpun semua pelaku usaha makanan & minuman dari kalangan bawah (pengusaha Atas, pengusaha Menengah, UKM,
Mikro & Kecil) sampai atas atau apapun kualifikasi mereka itu disebut.
makan, usaha industri makanan rumah tangga, restoran, cafe, bistro, warung
makan dan lain sebagainya.
Memang sudah ada PHRI (Persatuan Hotel
& restoran Indonesia) tapi organisasi ini bicara sebatas restoran dari
kalangan tertentu dan aksi gemangnya tidak banyak keliatan di publik.
Pengusaha Makanan & Minuman Seluruh Indonesia) yang menghimpun pelaku
industri makanan & minuman.
(Association of Culinary Professional
Indonesia) & IFBEC (Indonesian
Food and Beverages Executive Association).
bersatu dan bersuara secara nasional.
hanya IGA (Indonesian Gastronomy
Association) tapi organisasi ini terbatas bicara di sejarah & budaya
makanan & minuman Nusantara.
pelaku usaha makanan & minuman di negeri ini belum punya posisi secara
Nasional, walaupun tampil dengan brand mereka namun tampak masing-masing punya
sekat-sekat sendiri.
bukan hanya menjadi payung makanan
(kuliner atau boga) tetapi juga punya kekuatan di supply chain, karena
kunci dari bisnis makanan (kuliner atau
boga) ada di jaringan distribusinya, termasuk packaging.
baku dan produk makanan kita cukup banyak, hanya packaging materialnya yang
kurang.
F&B membangun start up companies makanan
(kuliner atau boga) di seluruh Indonesia.
manusia telah berubah dan manusia dituntut bersepakat mengadaptasi perilaku dan
sikap baru tersebut.
aktifitas (alias terputus), sehingga
yang terjadi sebetulnya, manusia sedang menghadapi proses pembekuan kehidupan.
belum ditemukan. Perilaku masyarakat terhadap protokol keselamatan dan
kesehatan membuat penyebaran Covid-19 hanya melambat.
kondisi masyarakat dunia akibat dampak kebijakan larangan bepergian untuk
mencegah penyebaran Corona.
dunia sekarang tinggal di negara-negara dengan pembatasan perjalanan.
lapangan kerja, awalnya ikut terpengaruh & terkena imbasnya serta sangat
terpukul akibat pandemik Covid-19 yang sulit diprediksi kapan akan berakhir.
parah sehingga mempengaruhi sektor penyokong lainnya, seperti pertanian,
perikanan, peternakan, pasar pangan, jasa delivery & jasa lainnya yang
terkait.
& jajan jalanan tutup atau terpaksa berhenti operasionalnya dan ada ratusan
ribu pekerja dirumahkan atau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
bulan terakhir, untuk sektor kuliner ada secercah harapan pemulihan (rebound back) dengan meningkatnya pesan-antar (on line), walaupun nilai penjualannya turun sedikit.
(on line) akan lebih cocok dan
efisien akibat konsumen menghindari eating
out dan beralih ke layanan delivery.
lagi melayani makan di tempat (dine in).
jenis makanan indulgence (kesenangan)
yaitu untuk pleasure dan enjoyment (seperti
boba tea, pizza, burger, atau ayam geprek), akan bergeser ke utility (kegunaan) untuk kebutuhan rutin
sehari-hari. Dari pemesanan sesekali (occasional)
ke pemesanan berulang (habitual/routine).




































