![]() |
| Yes, a heaven in noisy port city. Zoom out this picture, and see the port and the city can be seen! |
Nah saat itu, tanpa mikir panjang inilah kata kunci yang saya ketik di mesin pencari : pulau terdekat dari kota makassar. Dan pulau Samalona adalah jawabannya. Cuma setengah jam! Saya ngga berburu foto seperti apa pulaunya. Toh, paling ngga beda jauh sama pulau-pulau di Kep Seribu. Apalagi cuma setengah jam, kalau bisa dapet warna air laut yang biru tosca anggap aja hadiah. Pagi itu juga, kami di jemput Wiwi langsung menuju Bantimurung. Hah? Kenapa ke Bantimurung? Ya karena salah satu travelmate saya pengin kesana. Ngalah deh sambil berdoa semoga sampai di Samalona ngga terlalu siang. Dan ternyata kami sampai dermaga Kayu Bangkoa siang terik. “Nggak apa-apa, kulit gosong itu pertanda abis liburan.“
![]() |
| Dermaga Kayu Bangkoa |
Dermaga Kayu Bangkoa terletak tidak jauh dari Fort Rotterdam dan masih satu garis pantai dengan pantai Losari. Kami menyewa kapal untuk antar-jemput kesana setelah nego dengan si empunya kapal lewat telpon sebelumnya. Kami dapat informasi tentang penyewaan kapal ini dari salah seorang teman yang baru kami kenal di UKM pecinta alam UNHAS. Biasanya sewa kapal di sana ratenya 300-500 ribu, berangkat hari ini dan dijemput esok harinya. Karena one-day trip jadi kami bisa dapat harga lebih murah. Berangkat lah kami kesana setelah makan siang dengan menu coto makassar di pinggir dermaga.
![]() |
| Semua serba lima puluh ribu di Samalona! Termasuk toilet yang sekali masuk lima ribu. Hahahaha.. |
Air laut ternyata pasang, yang membangun kan saya sehingga kami harus pindah tempat. Sambil menunggu matahari terbenam, melihat hijau birunya pesisir di pulau ini.
![]() |
| Why am I here? Ke Makassar adalah rencana dadakan buat gantiin tiket pesawat temen yang batal berangkat |
![]() |
| Dermaga di pulau Samalona |
Dan biru langit pun kini berganti warna menjadi senja. Rencana kami yang ingin menghabisi senja batal karena Wiwi harus kembali ke kota Makassar. Ia harus kembali sebelum magrib. Jadilah kami menikmati matahari tenggelam dari atas kapal. Kami nggak nyesel, karena menikmati matahari pulang ke rumah, dari atas kapal itu tetep keren kok.
![]() |
| Dermaga bagi kapal yang berlabuh di Samalona |
![]() |
| Tetap menikmati, meski laju perahu kami menjauhi arah matahari. |
Perahu ini melaju, goyangannya seperti Elf yang biasa saya naiki ketika traveling di Jawa Barat. Beberapa kali kami teriak menjaga keseimbangan. “Mat, fotoin benderanya pasti keren.” Karena nggak berani berdiri sendiri saya meminta tolong Mamat. What a beautiful view!
![]() |
| Sudah berapa pulau yang anda jelajahi di Indonesia? Berbanggalah, Indonesia adalah negara dengan kepulauan terbesar di dunia. |
Samalona, yang dulu hanya angan-angan karena nggak sengaja pernah baca reviewnya di kaskus. Kini, sudah jadi salah satu wilayah jajahan saya. Eh, bukan itu maksudnya. Tapi paling tidak, karena belum bisa berjumpa dengan Phinisi, saya bisa memenuhi hasrat untuk bertemu laut!
![]() |
| Nenek moyangku seorang pelaut! |















































