Aopok.com – #Pemerintah #Indonesia #terus #memperkuat #transformasi #bantuan #sosial (#bansos) #melalui #digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Pada 2026, pilot project digitalisasi bansos diperluas ke 41 kabupaten/kota yang tersebar di 25 provinsi, dengan sekitar 78 persen wilayah sasaran berada di luar Pulau Jawa. Langkah ini diambil untuk meningkatkan akurasi penyaluran bantuan sosial, memperbaiki tata kelola, serta menekan kesalahan data dan inklusi penerima yang tidak tepat sasaran, yang menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memberantas kemiskinan secara lebih efektif dan transparan.
Baca juga: Perang Iran Vs Amerika Serikat Segera Meletus?

Penasehat Khusus Presiden Bidang Digitalisasi dan Teknologi Pemerintahan, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, digitalisasi bansos berbasis kecerdasan buatan (AI) ini akan terkelola dengan baik. Termasuk ketepatan sasaran bansos, dan keamanan privasi.
“Keberhasilan perluasan bansos digital ditentukan oleh sinergi pusat-daerah dalam menyiapkan digital ID, interoperabilitas data, dan kesiapan operasional daerah,” ujar Luhut dalam keterangan tertulis, Rabu (4/2/2026).
Perluasan ini ditetapkan untuk memastikan kesiapan proses dan koordinasi sebelum implementasi nasional. Luhut menekankan, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) bersama Kementerian Komunikasi dan Digital, agar berkoordinasi dalam memimpin persiapan dan pelaksanaan perluasan di 41 kota/kabupaten.
“Tentu dengan koordinasi dengan berbagai pihak, seperti Kementerian Sosial (Kemensos) dan Badan Pusat Statistik (BPS),” sambung Luhut.
Menteri PANRB Rini Widyantini menyampaikan, dari sisi tata kelola, proses bisnis pengajuan bantuan sosial ditransformasikan dari tujuh langkah menjadi tiga langkah sederhana. Langkah itu adalah pendaftaran, validasi dan verifikasi, serta penyaluran bantuan.
Baca juga: Gempar! Video Viral Meteor Jatuh Hingga Sunami di Laut di Cianjur Selatan
“Penyederhanaan ini membuat layanan lebih sederhana dan memudahkan masyarakat penerima bantuan,” ungkap Rini.
Transformasi Bansos
Rini mengungkapkan, perluasan piloting merupakan bagian dari strategi manajemen perubahan untuk memastikan transformasi penyelenggaraan bantuan sosial berjalan secara efektif, terukur, dan berkelanjutan. Tujuannya adalah menguji kesiapan sistem dalam skala yang lebih luas. Piloting ini meningkatkan akurasi mekanisme penetapan dan seleksi penerima bantuan sosial, untuk menekan risiko inclusion error dan exclusion error.
Keberhasilan implementasi sangat ditentukan oleh kolaborasi lintas peran dan kesiapan tata kelola di daerah. “Yang menjadi penentu adalah kolaborasi dan komitmen kita bersama, baik di tingkat pusat maupun di daerah. Ketika semua pihak bergerak searah, saling mendukung, dan menjaga tujuan yang sama, di situlah transformasi benar-benar dapat berjalan,” tegasnya.
Berantas Kemiskinan Indonesia
Di sisi lain, digitalisasi bansos ini merupakan salah satu fungsi untuk memberantas kemiskinan di Indonesia. Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Huluk mengimbau agar seluruh kepala daerah menjalankan komitmen yang sudah dibangun.
Baca juga: Polisi Periksa Pelapor Timothy Ronald Terkait Dugaan Penipuan Kripto Besok
Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang diperkaya dengan data administrasi akan menjadi rujukan utama seleksi penerima bantuan sosial. “Sistem yang sudah kami bangun, khususnya Kependudukan dan Pencatatan Sipil, ini sangat aman dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata Ribka.




























