*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini
Ada nama desa di pulau (wilayah kecamatan) Raas,
kabupaten Sumenep. Akan kita hanya berbicara tentang pulau Poteran di kabupaten
Sumenep. Pulau Poteran yang dekat dengan kota Sumanep di Kalianget menjadi satu
kecamatan (kecamataan Talango). Disebutkan pada masa ini di pulau Poteran, yang
dihuni pepolasi penduduk Madura terdapat makam ulama asal Sulawesi Syekh Yusuf
al-Makassari yang juga ditemukan di Afrika Selatan. Bagaimana bisa?
Poteran
adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah tenggara pulau Madura. Secara
administratif, pulau ini merupakan sebuah kecamatan tersendiri (yakni kecamatan
Talango) dalam wilayah kabupaten Sumenep. Populasi penduduk pulau merupakan suku
Madura. Pulau Puteran merupakan pulau yang secara geografis paling dekat dengan
daratan pulau Madura dibandingkan dengan pulau-pulau lain dalam wilayah kabupaten
Sumenep. Kecamatan Talango terdiri dari desa-desa Talango, Padike, Gapurana,
Cabbiya, Essang, Palasa, Kombang, dan Poteran. Kantor kecamatan Talangi di desa
Talango (Wikipedia)..
Lantas bagaimana sejarah pulau Poteran di wilayah
Sumenep, Madura? Seperti disebut di atas, ada nama desa Poetaran di pulau Raas
dan ada nama desa Talango di pulau Poetaran. Pulau-pulau yang masuk wilayah
Sumenep antara lain pulau Poteran, pulau Sapudi dan pulau Raas, tetapi di masa
lampau yang ada adalah pulau Talangoe, pulau Sapoedi dan pulau Raas. Mengapa
nama pulau Talangoe menjadi nama pulau Poteran? Lalu bagaimana sejarah pulau
Poteran di wilayah Sumenep, Madura? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*. Peta 1878
Pulau Poteran di Wilayah Sumenep, Madura; Pulau
Poteran, Pulau Talango, Pulau Sapudi, Pulau Raas, Sumenep
Poteran sebagai suatu pulau, pulau yang terdekat ke
daratan (pulau) Madura di Kalianget, dalam sejarahnya, haruslah dipahami dari
awal di masa lampau. Karena begitulah perjalanan sejarah, bagaimana membacanya
dari kiri ke kanan (dari bawah ke atas, atau dari dulu hingga sekarang). Dengan
demikian, pulau putara di masa lampau sebagai suatu pulau, tetapi bukan sejarah
pulau yang tersendiri, akan tetapi satu dari beberapa pulau di seputar teluk
Sumenep zaman kuno.

Secara geomorfologis, di teluk Sumanep kuno (mungkin sebelum kota/kampong
Sumenep terbentuk), terdapat beberapa pulau. Pulua-pulau besar diantaranya
pulau Poteran, pulau Gili Ginting, pulau Hili Raja dan pulau Saroka. Pulau
Saroka ini kini telah menyatu dengan daratan, sementara pulau Poteran telah
meluas mendekati Kalianget. Kota Pelabuhan Kalianget sendiri, dalam hal ini
dapat ditambahkan, wilayah Kalianget dulunya berada di suatu pulau sendiri yang
bertetangga dengan pulau Poteran yakni pulau Maringan (kampong Maringan,
kampong Kalianget dan kampong Kalimook). Perubahan geomorfologisnya sebagai
berikut: Pulau Saroka telah lama menyatu dengan daratan akibat sedimentasi sungai
Saroko, kemudian disusul pulau Marengan menyatu dengan daratan akiabat sedimentasi
sungai Sumenep. Pulau Gili Ginting dan pulau Gili Raja diduga kuat telah mengecil
(akibat abrasi), sedangkan pulau Poteran semakin meluas mendekati pulau daratan
(dimana bermula pulau Maringan).
Pada permulaan kehadiran Pemerintah VOC di Sumenep
(1786), militer VOC membangun benteng di dekat kampong Maringan, suatu kampong
yang komunitasnya beragam, ada pedagang Cina dan ada pedagang Arab dan
komunitas non-Madura. Dalam hal ini pusat perdagangan di teluk Sumenep berada
di Maringan dimana di sebelah barat kampong sungai Sumenep mengalir.

Benteng (fort) sendiri dibangun di suatu area terpisah dari kampong
Maringan di sebelah timur (dekat Kalimook). Pada era Pemerintah Hindia Belanda
pelabuhan baru yang lebih besar dibangun di ujung tanjung, yang kelak disebut
Kalianget (benteng dan pelabuhan baru berad pada garis lurus). Nama ‘Kali’
dalam hal ini bukan ‘sungai’ tetapi dihubungkan dengan orang pedagang-pedagang
Moor (seperti halnya Kalianda di Sumat, Calicut di India dan California di
Amerika). Akan tetapi nama ‘Kali’ juga ada yang dihubungkan dengan kali/sungai
buatan (Kanal) seperti Kali Besar di Batavia dan Kali Baroe di Semarang serta Kali
Maas di Soerabaja.
Pada peta-peta era VOC, pulau Poteran disebut pulau
Alang (lihat Peta 1740). Untuk sekadar menambahkan pada tahun 1740 terjadi
peristiwa pemberontakan orang Cina di Batavia. Di Madura, seorang pengeran
Madura mendukung orang Cina memberontak untuk melawan otoritas VOC/Belanda. Ini
mengindikasikan sudah banyak komunitas-komunitas Cina di wilayah pesisir pulau
Madura termasuk di Maringan.

Dalam Peta 1740 pulau Alang (Alang Eulandt) berada
diantara pulau Banrass di dimur dan pulau gili Ginting di barat. Di sekitar
pulau pulau-pulau ini diidentifikasi perairan dangkal yang tidak bisa
dinavigasi oleh pelaut-pelaut VOC/Belanda. Seperti kita lihat nanti pulau-pulau
ini adalah pulau fondasi batu karang (sementara daratan pulau Madura adalah fondasi
batuan/kapur). Peta 1724 dan Peta 1740
Pulau Poteran disebut pulau Alang, karena merujuk pada
nama kampong Alang yang berhadapan dengan kampong Maringan dan teluk Sumenenp
(dimana di bagian dalam teluk terdapat kampong/kota Sumenep). Nama kampong
Alang ini kemudian bergeser menjadi kampong Talang dan kemudian menjadi kampong
Talango/Talangoe. Hal itulah kemudian nama pulau juga adakalanya disebut pulau Talango
(sebelum Namanya menjadi pulau Poteran).

Sejak dari awal orang Madura berada di daratan (pulau Madura). Kota-kota
pantai dan pulau-pulau sekitar menjadi hunian para pendatang dari berbagai
tempat. Dari nama-nama tempat ada yang mengindikasikan nama Melayu, Bugis/Makassar
dan Jawa. Kampong-kampong terawal di pulau Talango/Poeteran antara lain kampong
Alang diduga komunitas pedagang Melayu (sisi utara pulau), kampong Poteran dari
Makassar/Bugis (sisi timur pulau) dan kampong Majapahit dari Jawa (sisi
selatan/barat pulau). Kampong-kampong pendatang yang lebih tua (era
Singhasari/Majapahit) di pulau-pulau yang telah menyatu dengan daratan diduga
awalnya telah eksis komunitas orang Batak (pantai timur Sumatra) dan
pedagang-pedagang Moor seperti di Maringan, Saroka dan Tambangan. Peta
1810-1820
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pulau Poteran, Pulau Talango, Pulau Sapudi, Pulau
Raas, Sumenep: Poteran vs Talangoe
Nama Poteran diduga baru muncul pada awal Pemerintah
Hindia Belanda/pendudukan Inggris. Nama pulau Alang/Talang/Talangoe berganti
menjadi nama pulau Poeteran karena arah navigasi dari selat Madoera (arah
barat) dan Laut Bali (arah timur) nama yang muncul pertama dalam navigasi
pelayaran adalah kampong/kota Poeteran (di pantai) sementara kampong Majapahit
ada di bagian dalam pulau (sebelah tenggara Poeteran).

Pada peta-peta yang lebih muda seperti Peta 1861 sudah terbentuk
pelabuhan baru di Kalianget. Seperti disebut di atas pulabuhan Kalianget ini
garis lurus dengan benteng, lalu dengan jalan raya ke kota Sumenep melalui
kampong/kota Maringan. Dalam peta ini nama pulau Poeteran masih disebut dengan
nama pulau Talangoe. Pada Peta 1878 disebut pulau Talang. Benteng ini telah
difortifikasi yang disatu sisi untuk menjaga keamanan/pertahanan dari dalam dan
juga untuk menjaga pelabuhan baru Kalianget dari arah lautan.
Pelabuhan Kalianget menjadi sangat penting di kawasan teluk Sumenep. Mangapa?
Pelabuhan (sungai) Maringan menjadi tidak kondusif, selain karena pendangkalan
sungai Maringan juga tonase kapal yang datang semakin besar. Pelabuhan Maringan
tempo doeloe menjadi memudar dan digantikan pelabuhan baru Kaliangat. Sedangkan
pelabuhan zaman kuno (era Singhasari/Majapahit berada tepat di Sumenep, saat
mana posisi kota Sumenep masih berada di pantai). Akibat sedimentasi jangka panjang
dari sungai Sumenep/sungai Maringan, kota Sumenep menjadi jauh berada di
belakang pantai. Dalam konteks inilah kemudian pulau Kaliangat menjadi penting.
Juga dengan sendirinya pulau Talang atau pulau Poeteran juga menjadi penting,
bukan karena nama pulau (pulau Poeteran) tetapi keberadan kampong Talang/Talangoe
yang berseberangan dengan pelabuhan Kaliangat di selat yang sempit tersebut.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





