*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bengkulu dalam blog ini Klik Disini
Pada masa ini narasi sejarah (kota) Mukomuko
kurang mendapat perhatian. Padahal Mukomuko memiliki sejarah yang panjang.
Tempo doeloe wilayah Muko-Muko begitu penting dalam navigasi palayaran
perdagangan. Namun kini Mukomuko, semi Namanya ditabalkan nama kabupaten tetapi
secara geografis dianggap wilayah pinggiran dari kota Bengkulu dan juga wilayah
pinggiran dari kora Padang.

Mukomuko
adalah kabupaten di Provinsi Bengkulu, pemekaran kabupaten Bengkulu Utara.
Kabupaten Mukomuko berbatasan dengan kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat
di utara, kabupaten Kerinci di timur, Samudra Hindia di barat dan Kabupaten
Bengkulu Utara di selatan. Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Mukomuko tahun
2021 mencatat jumlah penduduk Mukomuko sebanyak 190.498 jiwa. Secara
administratif, Kabupaten Mukomuko ini terbagi menjadi 15 kecamatan, 148 desa,
dan 3 kelurahan. Sebagian besar penduduk Muko-muko merupakan transmigran yang
berasal dari Jawa. Sebab, Bengkulu termasuk Mukomuko sejak zaman kolonial
Belanda dijadikan “tanah harapan” bagi penduduk luar Bengkulu. Dari
jumlah itu 37,4 persen suku Jawa, 6,3 persen suku Sunda, 5,4 persen Minang dan
sisanya dari Bali, Bugis, Melayu, Rejang, Serawai, Lembak, serta lainnya. Penduduk
asli Mukomuko bagian utara adalah suku Minangkabau. Secara adat, budaya, dan
bahasa, dekat dengan wilayah Pesisir Selatan di Sumatra Barat. Selain suku
Minangkabau, kabupaten Mukomuko bagian selatan dihuni oleh suku Pekal yang
terkait dengan suku Pekal yang mendiami bagian utara kabupaten Bengkulu Utara. Namun
wilayah Mukomuko sejak masa kolonial Inggris telah dimasukkan ke dalam
administratif Bengkulu (Bengkulen). Sejak saat itu mereka telah terpisah dari
serumpunnya di daerah Sumatra Barat dan menjadi bagian integral dari wilayah
Bengkulu. Hal ini berlangsung terus pada masa penjajahan Belanda, penjajahan
Jepang, hingga masa kemerdekaan. Dalam masa kemerdekaan wilayah Mukomuko
dimasukkan ke dalam Daerah Tk. II dengan nama Kabupaten Bengkulu Utara (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Mukomuko di wilayah
Bengkulu? Seperti disebut di atas, nama tempat Muko-Muko Tempo Doeloe berada diantara
kota Indrapura dan kota Bengkulu. Mukomuko dapat dikatakan sebagai kota tua.
Kini Namanya ditabalkan sebagai nama kabupaten di provinsi Bengkulu. Lalu
bagaimana sejarah Mukomuko di wilayah Bengkulu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Sejarah Mukomuko di Wilayah Bengkulu; Nama Muko-Muko
Tempo Doeloe Diantara Indrapura dan Bengkulu
Tunggu deskripsi lengkapnya
Nama Muko-Muko Tempo Doeloe Diantara Indrapura dan
Bengkulu: Sejak Era VOC/Belanda hingga Era Republik Indonesia
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





