Sejarah
kuno selalu menarik diperhatikan. Hal itu karena yang pertama. Namun data
sejarah kuno sangat minim dan sangat terbatas. Sejarah kuno yang menarik dengan
data yang terbatas merupakan suatu tantangan dalam penyelidikan sejarah. Data
yang minim dapat diperkaya dengan menambahkan hasil analisis yang menghubungkan
satu tempat dengan tempat yang lain. Itulah arti penting analisis sejarah dalam
upaya melengkap narasi sejarah zaman kuno. Permasalahan ini terjadi di banyak
tempat termasuk sejarah kuno di wilayah Simalungun.
Simalungun adalah salah satu suku bangsa atau kelompok etnik yang mendiami
wilayah Sumatra Utara; meliputi Kabupaten Simalungun, sebagian Kabupaten
Serdang Bedagai, sebagian Kabupaten Deli Serdang, dan sebagian Kabupaten Karo
serta juga dapat ditemukan di Kota Pematangsiantar & Kota Tebing Tinggi. Beberapa
sumber menyatakan bahwa leluhur suku ini berasal dari daerah India Selatan
tetapi diperdebatkan. Sepanjang sejarah suku ini terbagi ke dalam beberapa
kerajaan. Marga asli penduduk Simalungun adalah Damanik, dan 3 marga pendatang
yaitu, Saragih, Sinaga, dan Purba. Kemudian marga marga (nama keluarga)
tersebut menjadi 4 marga besar di Simalungun. Orang Batak menyebut suku ini
sebagai suku “Si Balungu” dari legenda hantu yang menimbulkan wabah
penyakit di daerah tersebut, sedangkan orang Karo menyebutnya Timur karena
bertempat di sebelah timur mereka. Suku Simalungun menggunakan Bahasa
Simalungun sebagai bahasa Ibu. Derasnya pengaruh dari suku-suku di sekitarnya
mengakibatkan beberapa bagian Suku Simalungun menggunakan bahasa Melayu, Karo,
Batak, dan sebagainya. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah zaman kuno di Simalungun? Seperti disebut di atas, di
Simalungun terdapat kerajaan utama. Tradisi lama menghormati para leluhur.
Bahasa dan aksara kurang lebih sama dengan orang Batak umumnya. Lalu bagaimana
sejarah zaman kuno di Simalungun? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Kerajaan-Kerajaan di Wilayah
Simalungun Sejak Zaman Kuno: Pane Raya Silo Jawa Purba Siantar Kuta
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Sisa Peradaban Zaman Kuno di
Wilayah Simalungun: Bahasa, Aksara dan Adat Istiadat
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


