Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Review

[Movie] Beauty and the Beast (2017)

Ulasan by Ulasan
21.03.2017
Reading Time: 4 mins read
0
Dari ekspedisi di Sumatera Tengah 1877-1879: Pulau Kidak dan Sungai Baung
ADVERTISEMENT



Beauty and the Beast
(2017 – Disney)


Directed by Bill Condon
Screenplay by Stephen Chobsky, Evan Spiliotopoulos
Based on Disney’s Beauty and the Beast written by Linda Woolverton
Produced by David Hoberman, Todd Lieberman,
Cast: Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Kevin Klein, Josh Gad, Ewan McGregor, Ian McKellen, Emma Thompson, Stanley Tucci, Audra McDonald, Gugu Mbatha-Raw, Nathan Mack, Hattie Morahan

RELATED POSTS

REVIEW : DANUR

REVIEW : DEAR NATHAN

Ternyata Aku Tidur Bersama Dia!

Film animasi Disney klasik Beauty And the Beast (1991) adalah sebuah fenomena karena banyak faktor. Selain karena filmnya sendiri bagus, film ini juga memantapkan kebangkitan animasi Disney di peta perfilman dunia berkat sukses di box office, punya lagu soundtrack ikonik yang sering diputar di radio-radio dan TV (istilahnya “pop version“), menang sepasang Piala Oscar dan jadi film animasi bioskop pertama yang masuk nominasi Best Picture di Oscar—dan itu di zaman jumlah nominasinya masih lima judul bukan 8-10 judul kayak sekarang. Status klasik film ini membuat Beauty and the Beast lebih identik dengan Disney ketimbang dongeng aslinya yang asal Prancis atau serial procedural yang dibintangi Linda Hamilton dan Ron Perlman dulu *ekspos umur*. Maka, ketika Disney memutuskan untuk me-remake film ini ke bentuk live action selepas kesuksesan Alice in Wonderland (2010), Maleficent (2014), dan Cinderella (2015), ada excitement sekaligus kekhawatiran, setidaknya buat gw. Excitement karena Disney telah membuktikan mampu mentransfer “magic” dari versi animasinya ke live action lewat berbagai teknologi sinema yang tersedia sekarang, maka membuat Beauty and the Beast dengan skala akbar setara bahkan lebih dari versi animasinya jelas bukan masalah, Disney gitu, duwitnya banyak. Namun, muncul pula kekhawatiran bagaimana film ini bisa menyamai atau meleibihi pencapaian substansial film animasinya yang telanjur ikonik, dan tentu itu butuh dari sekadar bikin filmnya sedapat mungkin mirip dengan versi animasinya.
Iya, untuk yang kali ini Disney memutuskan membuat Beauty and the Beast sebagai dongeng musikal yang bagian besarnya merujuk pada versi animasinya, baik dari plot, karakter, sampai ke lagu-lagu yang digunakan. Jadi, ceritanya ya tetap tentang seorang gadis cantik nan cerdas yang terkurung di istana milik seorang pangeran yang dikutuk berwujud seperti hewan buas (beast), sampai akhirnya keduanya saling jatuh cinta. Proses menuju inti plot tersebut juga lebih kurang mirip seperti versi animasinya, yaitu Maurice (Kevin Kline) kedapatan melanggar aturan (yang obviously tak tertulis) di istana Beast (Dan Stevens) lalu dikurung sebagai hukumannya. Putri Maurice, Belle (Emma Watson) bersikeras untuk bertukar tempat dengan ayahnya, sehingga justru ia yang menjalani hukuman dari Beast. Akan tetapi, dengan bantuan para pelayan Beast yang kini semuanya berwujud perabotan istana, Belle dibuat untuk lebih nyaman tinggal di sana. Sebab, Belle mungkin satu-satunya orang yang dapat mematahkan kutukan yang menimpa Beast dan seisi istana, dengan cara menjadi cinta sejati dari si Beast. Masalahnya, maukah Belle mencintai Beast yang, err.., a beast, dan mampukah Beast mencintai orang lain beruhubung ia dikutuk karena nggak tahu cara untuk mencintai.
Gw termasuk senang dengan keberadaan dan hasil dari Beauty and the Beast versi terbaru ini. Film ini terbilang baik dalam membuat versi “hidup” dari animasinya, masih membawa keindahan visual dan suara, serta selipan-selipan humor yang, to say the least, nggak mempermalukan versi pendahulunya. Beberapa tambahan untuk memperkuat ceritanya juga menyatu dengan baik, seperti tentang sosok ibu Belle dan juga kehidupan Beast sebelum dikutuk. Tambahan-tambahan ini masih berhasil memperkuat message utama dari film ini perihal menilai orang dari penampilan luar, juga gw makin paham motivasi Belle untuk bertahan di istana—karena balik ke desa membuatnya kembali merasa lebih terasing, apalagi ada si ganjen Gaston (Luke Evans), selain karena porsi hubungan Belle dan Beast lebih dieksplorasi. Ini tentu saja menambah dimensi cerita serta para tokohnya sehingga nggak terlalu, well, kartunik lagi.
Akan tetapi, lebih dari sekadar menuturkan kembali cerita klasik terkenal, yang buat gw paling impresif dari Beauty and the Beast versi ini adalah formatnya sebagai film musikal. You might already know that I’m fond of musicals, dan film ini bisa mempersembahkannya dengan apik. Baik lagu-lagu lama yang sudah dikenal maupun lagu-lagu yang baru sama kuatnya, dan rancangan pengadeganannya pun terbilang menggetarkan dan exciting—terlepas dari kualitas vokal dua pemeran utamanya, Watson dan Stevens yang memang bukan jagoan musical theatre, untuk yang ini juaranya ada di Evans dan Audra McDonald sebagai si lemari pakaian. Gw begitu terkesan sama tampilan musikal film ini, apalagi dihiasi oleh desain produksi, kostum, dan visual efek yang megah—termasuk sebuah homage pada Moulin Rouge! (2001) mentang-mentang adegan itu dinyanyikan Ewan McGregor (Lumiere) =D. Sampai-sampai gw berharap bahwa film ini lebih banyak musical number-nya ketimbang dialognya…
Which brings us to the one tiny problem I have with this film. Film ini pada dasarnya sudah mengerjakan semua PR-nya dengan memuaskan, susunan ceritanya bagus, casting-nya oke, visualnya oke, musiknya bagus. Namun, entah berapa kali gw merasakan bahwa film ini terseret-seret temponya, dan gw perhatikan itu selalu terjadi di adegan non-musikal. Gw nggak masalah filmnya jadi panjang karena perlu tambahan dan tambalan cerita—berbeda dari versi animasinya yang memang dirancang lebih singkat dan padat, namun seharusnya versi barunya ini juga mampu menjaga intensitas dan ritme dramatiknya sebagaimana dilakukan di adegan-adegan musikalnya. Yang menurut gw juga turut menjadi faktor penyebabnya adalah akting beberapa pemainnya terlihat masih awkward, termasuk unfortunately  Watson yang di sini kayaknya masih belum memberi variasi ekspresi—tapi mbaknya emang cantek sih T-T, serta beberapa karakter CGI-nya yang nggak seekspresif dan (ironically) sehidup versi animasinya. Alhasil, walau gw setuju bahwa keseluruhan film ini disajikan dengan begitu apik, gw mungkin nggak sampai menikmati dengan sepenuhnya puas, cukup saja.
Kalau menanyakan tingkat kepuasan dari remake live action dari animasi Disney belakangan ini, gw mungkin masih lebih condong pada Cinderella, yang menurut gw ada ikatan cerita dan emosi yang terjaga dan lebih konsisten, although perbandingannya mungkin kurang fair sih karena Cinderella bukan musikal. Nevertheless, buat gw Beauty and the Beast bukan film yang gagal, far from it, terlebih karena kemegahannya serta penghormatannya pada konsep klasik animasi Disney, dan terutama karena ini sebuah musikal, yang jarang-jarang bisa berhasil di zaman penonton-gampang-komplen sekarang ini.

My score: 7,5/10

ADVERTISEMENT
Tags: FilmInformasiMengulasMovieReviewSinopsiSpoilerUlasanUlasan Film
ShareTweetSendShare
Ulasan

Ulasan

Related Posts

Jika dengan Melihat Seseorang Tidak Bisa Memberimu Manfaat, Maka Ucapannya Pun Tidak Akan Memberimu Manfaat
Review

REVIEW : DANUR

31.03.2017
Kisah yang Menakjubkan : “Buah dari Menunaikan Amanah”
Review

REVIEW : DEAR NATHAN

29.03.2017
Inilah Mengapa Wanita Harus Pilih Suami Shalih
Review

Ternyata Aku Tidur Bersama Dia!

26.03.2017
Review

Life

25.03.2017
Muslim Dukung Ahok, Adik Kandung Gusdur: Sudah Ditutup Mata Hatinya oleh Allah
Review

Reservoir Dogs (1992) (4,5/5)

25.03.2017
Review

Power Rangers

24.03.2017
Next Post

Menyusun Itinerary Perjalanan & Budgeting dengan Google Maps

Pengalaman Tidur di Bandara KLIA2

Iklan

Recommended Stories

Taman Muaro Lasak Baru Tapi Seakan Terlupakan

05.11.2014

Ini Dia 6 Strategi Untuk Menghasikan Blog Yang Sukses

17.06.2014

Kawah Sikidang – Kawah Vulkanik di Tengah Padang Gersang

02.10.2012

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

23.01.2026
Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

23.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?