
Oblivion
(2013 – Universal)
Directed by Joseph Kosinski
Screenplay by Karl Gajdusek, Michael DeBruyn
Based on the graphic novel, original story by Joseph Kosinski
Produced by Joseph Kosinski, Peter Chernin, Dylan Clark, Barry Levine, Duncan Henderson
Cast: Tom Cruise, Morgan Freeman, Olga Kurylenko, Andrea Riseborough, Melissa Leo, Nikolaj Coster-Waldau
Terlepas dari laju cerita yang mungkin terlalu terulur, serta tidak semua misteri terungkap dengan jelas atau terlalu sambil lalu (ini merujuk pada kemunculan Morgan Freeman and the gang =p), Oblivion sesungguhnya adalah film yang dibuat dengan jeli, dan tentu saja layak ditonton. Selambat-lambatnya penuturan dan seaneh-anehnya beberapa titik cerita, film ini tetap cukup solid dalam membangun alur dan karakternya. Apalagi, sebagaimana karya debut Kosinski sebelumnya, TRON: Legacy yang juga (malah lebih) lemah di jalan cerita, adegan-adegan laga dan rancangan visual grande-nya sangat memuaskan. Adegan laganya bahkan 1-2 kali memancing gw untuk berseru “anjreet” =). Demikian pula desain futuristik minimalis nan sophisticated dari rumah, mesin-mesin serta peralatan yang diperlihatkan—dengan tema desain “bundar-bundar”—sungguh memanjakan mata. Efek visualnya jempolan, khususnya karena dapat membuat mesin-mesin terbang jadi tampak sangat tangible. The swimming pool on the tower is really fancy.
![]() |
| Tapi kolamnya serem juga sih kalau bawahnya bening gitu… |
Faktor pemainnya turut melengkapi dengan oke sekalipun nggak terlampau istimewa karena nggak pakai telor. Mungkin yang paling menonjol adalah penampilan Andrea Riseborough yang tampak cerah tapi misterius itu. Cakep banget sih enggak, tapi British accent-nya itu lho =). Dan, yaah, Tom Cruise okelah, tetep dengan kesan gw-bintang-utama-jadi-harus-selalu-tampak-dan-terdengar-keren-termasuk-di-intonasi-bicara, tapi setidaknya di sini beberapa kali tampak jelas doski melakukan adegan-adegan berbahaya (stunt) sendiri tanpa pengganti—jika bukan berarti visual efeknya canggih banget =p. Salut lah.
All in all, techincally, Oblivion ini oke sekali. Gambarnya clean dengan komposisi yang anggun (dan katanya disyut dengan kamera digital beresolusi 4K yang sangat jernih), tata suaranya keren, tata musiknya yang dibuat grup elektronik Prancis M83 juga asoy sekalipun sering terdengar seperti versi remix karya-karya Hans Zimmer. Gambaran keadaan alam Bumi yang hancur dan kosong juga menimbulkan kekaguman karena sebagian bukanlah gambar murni animasi melainkan pemandangan lokasi betulan, yang mengingatkan pada adegan pembuka Prometheus…dan emang ambil lokasinya sama-sama di Islandia juga. Ih, kok nyontek sih?
Well, untuk hal ini, jika diperhatikan Oblivion memang mengambil banyak referensi dari kisah-kisah di film lain, terutama yang fiksi ilmiah. Selama perjalanan film ini, kita bisa merasakan vibe seperti film-film fiksi ilmiah terkenal macam Wall-E, The Matrix, Dark City, Star Wars, Moon, Independence Day, Total Recall, Planet of the Apes, hingga 2001: A Space Odyssey. Bahkan referensi film yang terakhir itu cukup “vulgar” dengan pemakaian Odyssey sebagai nama pesawat naas yang ditumpangi Julia. Dan rasa-rasanya, kalau paham sama referensi-referensi tersebut, penonton bakal banyak tersenyum dengan Oblivion ini, baik karena gambar maupun jalan ceritanya yang “wah, ini/itu/anu banget nih”. Tapi, mungkinkah Joseph Kosinski yang juga menggagas cerita aslinya dalam format komik ini (tapi belum terbit) emang nggak kreatip dan bisanya nyontek doang, atau justru meniatkan Oblivion sebagai penghormatan pada genre ini? Silahkan nilai sendiri. Sedangkan buat gw, ide-ide “orang lain” itu dileburkan dengan cukup baik dan mulus kok, malah bikin gw penasaran untuk menyimak hingga akhir, dengan cara seperti (film) apa Kosinski akan menyelesaikan filmnya. Oblivion, sebuah suguhan cukup apik dan traktiran yang menyenangkan khususnya bagi penggemar bidang sci-fi, dan umumnya bagi siapa pun yang mau sedikit bersabar =P.
My score: 7/10







