*Untuk melihat semua artikel Sejarah Tata Kota di Indonesia di blog ini Klik Disini
Banyak
pertanyaan tentang sejarah awal kota Pontianak. Seberapa tua kota Pontianak,
dimana didirikan dan siapa yang mendirikan. Satu yang penting di awal, sebelum
terbentuk kota Pontianak penguasa kuat di wilayah hulu adalah Kerajaan Sambas.
Dalam konteks inilah ada jalinan terdahulu antara Kerajaan Sambas dan Kerajaan
Banten. Masuknya VOC di muara sungai Kapuas sejaman dengan munculnya Pontianak.

Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Pertengahan
abad XVIII-pertengahan abad XX): Kajian Arkeologi Perkotaan. Wardiyah. Skripsi.
Abstrak. Karya tulis ini berisi tentang pola tata ruang Kota Pontianak dan
faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi pola tata ruang kota ini. Pola
tata ruang Kota Pontianak tetap mempertahankan bentuk tata ruang kota
tradisional bercorak Islam dan mengalami perkembangan dengan hadirnya tata
ruang kota kolonial. Pada tahap pengolahan data digunakan serangkaian metode
arkeologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Pontianak pada masa awal
terbentuknya menunjukkan pola tata ruang kota tradisional bercorak Islam, ini
diperlihatkan dari ditemukannya komponen-komponen kota berupa bangunan-bangunan
di dalam kompleks istana, mesjid jami, kompleks makam, pasar, pelabuhan,
kelenteng, jaringan jalan dan pemukiman penduduk. Dalam perkembangan
selanjutnya pola tata ruang kota kolonial juga terlihat di kota ini dengan
ditemukannya komponen_komponen kota berupa bangunan-bangunan di dalam kompleks
gereja, rumah sakit, kantor pos, tugu khatulisiwa, jaringan jalan dan jaringan
kanal dan pemukiman penduduk. Kedua tata ruang kota ini saling berkembang dan
berinteraksi (http://lib.ui.ac.id/)
Lantas bagaimana sejarah tata kota di
Pontianak di daerah aliran sungai Kapuas? Seperti disebut di atas, Pontionak
bermula semasa era VOC dengan latar belakang kerajaan Sambas dan kerajaan
Banten. Mengapa kesultanan Banten dan siapa pendiri Pontianak. Lalu bagaimana sejarah
tata kota di Pontianak di daerah aliran sungai Kapuas? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Tata Kota di Pontianak di Daerah Aliran Sungai Kapuas;
Kesultanan Banten dan Pendiri Pontianak
Sebelum terbentuk kerajaan Pontianak, sudah
terbentuk lebih dahulu kampong Pontianak. Kerajaan yang sudah eksis sejak lama
di kawasan adalah kerajaan Sambas (yang wilayahnya termasuk wilayah dimana
terbentuk kampong Pontianak). Oleh karena itu, kota Pontianak bukanlah kota kuno. Kota kuno
berada di Landak dan Tajan, dua lota di masa lampau semasih berada di pantai.
Kota Pontianak sendiri adalah kota baru yang terbentuk di suatu delta. Suatu
delta yang terbentuk akibat proses sedimentasi jangka panjang dari dua sungai
besar, sungai Landak yang bermuara di Landak dan sungau Lauwe yang bermuara di
Tajan. Kota Landak dan kota Tajan diduga kuat adalah dua kota dari penduduk
asli (Dayak). Lalu, apakah kota Pontianak adalah kota penduduk asli Dayak?
Pada peta-peta Portugis di teluk Landak-Tajan terdapat tiga pulau. Dua
diantara banyak sungai yang bermuara ke teluk adalah sungai Landak dan sungai
Kapoeas. Akibat proses sedimentasi jangka panjang tiga pulau ini membengkak dan
kemudian menutupi seluruh teluk. Lalu terbentuk jalan sungai ke laut yakni
terusan sungai Landak dan sungai Kapoeas Ketjil. Di pertemuan dua sungai inilah
kemudian terbentuk delta dimana kemudian terbentuk kampong Pontianak. Dalam
perkembangan lebih lanjut pulau ketiga di arah hilir yang membengkak yang
menyebabkan terbentuknya sungai Kapoeas Ketjil, orang-orang Cina membangun
pemukiman (berseberangan dengan Pontianak). Pada era VOC, pedagang-pedagang
Belanda membangun pos perdagangan di arah hilir pemukiman Cina.
Pada peta-peta lama (buatan Portugis) nama
Pontianak belum muncul. Nama yang diidentifikasi adalah Laue dan Hermata. Pada
era VOC (Belanda) kerajaan Laue (Lauwe) telah relokasi ke pedalaman (yang
diduga kemudian sebagai Melawie), sedangkan Hermata adalah Mempawah atau
Singkawang. Pada Peta 1724 (VOC-Belanda) nama kerajaan di arah hulu
diidentifikasi kerajaan Landak dan kerajaan Tajan. Sedangkan di hilir ada dua
nama tempat: Moeara Landak dan tetangganya Trap. Nama Moeara Landak diduga kuat
kemudian muncul nama Pontianak. Nama Trap sendiri mengindikasikan nama tempat
Eropa (seorang pedagang VOC pada era tersebut).
Penulis-penelis
geografi dan ahli geologi Belanda menyatakan bahwa di arah timur (kota)
Pontianak adalah dataran rendah yang luas yang disana-sini terlihat (terdapat)
bukit-bukit kerucut. Bukit-bukit tersebut diduga adalah pulau-pulau di masa
lampau (sebelum terjadi proses sedimentasi). Bukit-bukit kecil di daratan itu
karakteristik tanahnya sama dengan pulau-pulau di pantai barat pulau Borneo. Asumsi
ini didasarkan pada fakta bahwa perbukitan di daratan secara tampilan dan
kombinasi sama dengan pulau-pulau yang terletak di sepanjang pantai; tanahnya
hampir dimana-mana sama dengan dasar laut. Di bagian dalam ditemukan bebatuan
yang seolah-olah mengalami benturan ombak terus menerus (lihat Algemeen Handelsblad,
16-05-1829). Gambaran ini jika dibandingkan dengan peta-peta lama (buatan
Portugis) memang diidentifikasi semacam teluk dimana di tengahnya sudah
terbentuk tiga pulau besar. Seperti kita lihat nanti pulau-pulau masa lampau
ini adalah terbentuk sejak pembentukan permukaan bumu yang mengandung kwarsa
dimana didalamnya terkandung biji timah.
Nama Pontianak paling tidak sudah diketahui pada
tahun 1780 (lihat Noordhollandsche courant, 16-06-1780). Disebutkan pada tanggal
6 November, Resident Pontianak Klock mengusulkan kepada Onderkoopman dan
Sergeant Martheze untuk memasang bendera. Besar dugaan pedagang-pedagang VOC
(yang dipimpin Residen Klock) telah membuat kontrak dengan kerajaan Pontianak
(di Moeara Landak).
Pemerintah
VOC membuat kontrak pada tanggal 5 Juli 1779 dengan Soeltan Pontianak dimana
area yang digunakan adalah milik Soeltan (lihat Tijdschrift voor Neerland’s
Indie, 1840). Anak Soeltan ditempatkan sebagai panembahan Manpawah pada tanggal
20 Januari 1787 (lihat Tijdschrift voor Neerland’s Indie, 1850).
Kapan terbentuknya kerajaan (kesultanan)
Pontianak tidak diketahui secara pasti. Demikian juga sejak kapan nama
Pontianak muncul juga tidak diketahui secara pasti. Yang jelas pada tahun pada
tahun 1779 pedagang-pedagang VOC sudah membuat kontrak dengan radja (soeltan)
Pontianak.
Pada
Peta 1724 di tempat dimana kraton Pontianak berada hanya diidentifikasi sebagai
suatu nama tempat (Moeara Landak) dan tetangganya tempat dimana orang Eropa
(Belanda) berada. Apakah pedagang-pedagang VOC yang membesarkan dan meninggikan
Pontianak?
Ketika Sultan Riau melarikan diri ke Soecadana
di bawah perlindungan Soeltan Matan, Radja Pontianak melaporkan ke Batavia.
Pemerintah VOC yang mengejar Sultan Riau karena menyerang Malaka tahun 1780,
ekspedisi militer dengan empat kapal dikirim ke Soecadana. Kota ini hancur,
sementara Sultan Riau tidak berhasil ditangkap. Kehancuran Kesultanan Matan
(Soecadana) menjadi sebab Kesultanan Pontianak mendapat angin dengan kerjasama
dengan VOC yang dibuat sebelumnya. Kesultanan Pontianak segera tumbuh
berkembang.
Di
dalam Tijdschrift voor Neerland’s Indie, 1850 disebutkan bahwa (kerajaan)
Landak memiliki hubungan dengan (kesultanan) Banten. Kesultanan Landak lambat
laut makin khawatir dengan semakin menguatnya Pontianak. Oleh karena jarak
antara Banten dan Landak begitu jauh, kesultanan Banten menyerahkan perlindungannya
kepada pemerintah VOC. Pontianak sebelum menjadi kerajaan (kesultanan) diduga
adalah kesahbandaran dari (kesultanan) Landak. Lalu dengan kehadiran Pemerintah
VOC di muara sungai Landak, kerajaan (baru) Pontianak dibesarkan, kerajaan yang
terpisah dengan kerajaan (kesultanan) Landak. Hubungan Pontianak dengan
Mampawah baru terbentuk setelah kehadiran VOC yakni Soeltan Pontianak menempatkan
anaknya sebagai panembahan di Mampawah. Nama Mampawah sendiri sudah sejak lama
ada sebagai suatu kerajaan di pantai barat Borneo (lihat Peta 1659).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kesultanan Banten dan Pendiri Pontianak: Kota Pontionak
Masa ke Masa
Pontianak tidak hanya nama baru, juga suatu
kawasan baru yang terbentuk dari proses sedimentasi jangka panjang. Nama
Mampawah lebih tua dari nama Pontianak. Dari semua nama-nama tempat di sekitar
Pontianak, dua nama kuno adalah Landak dan Tajan, dua tempat yang sudah eksis
sejak jaman kuno dimana terdapat penduduk asli (Dayak). Dalam konteks masa itu,
penduduk yang mendiami sekitar Moeara Landak (kemudian disebut Pontianak)
adalah penduduk pendatang di kawasan (daratan) baru.
Pada
peta-peta masa kini, kawasan Pontianak adalah daratan yang dikelilingi oleh
rawa-rawa yang sangat luas. Suatu rawa-rawa yang di masa lampau adalah suatu
lautan (teluk), dimana di teluk tersebut terdapat tiga pulau (lihat peta kuno).
Pulau-pulau ini mengikat lumpur dan sampah pohon yang terbawa oleh beberapa
sungai dari pedalaman yang menyebabkan pulau-pulau tersebut membengkak karena
proses sedimentasi. Pada rawa-rawa tersebut terbentuk jalan air yang menjadi
terusan sungai Landak dan sungai Tajan (Laue atau Kapoeas). Pada terusan sungai
Kapoeas (Tajan) bercabang mengikuti pulau yang membentuk sungai Kapoeas Besar (arus
utama) dan sungai Kapoeas Ketjil (arus sekunder). Pada ujung sungai Kapoeas
Ketjil bertemu terusan sungai Landak yang disebut Moeara Landak (tempat dimana
nama Pontianak muncul).
Penduduk pendatang pertama menempati area di
suatu tanjung (pertemuan sungai Landak dan sungai Kapoeas Ketjil). Area ini
tentu sangat strategis untuk pusat perdagangan, karena menjadi hub bagi
pedagang yang datang dari lautan dan penduduk asli yang berasal dari pedalaman
di sepanjang daerah aliran sungai Landak dan daerah aliran sungai Tajan (sungai
Kapoeas). Hub ini kelak menjadi kota Pontianak.
Sebagaimana
ditemukan di berbagai tempat pada masa itu (di Sumatra, Jawa, Bali, Lombok dan
Celebes), pusat perdagangan di hilir (muara sungai atau pantai) menjadi kesahbandaran
(bea dan cukai perdagangan terhadap kapal-kapal dan perahu-perahu).
Kesahbandaran yang terus menguat (seiring dengan pembentukan pasukan-militer
pertahanan) berubah wujud menjadi kerajaan (kesultanan). Proses inilah yang
diduga kuat terbentuknya kerajaan (kesultanan) Pontianak.
Oleh karena area (kawasan perdagangan
Pontianak) ini terbentuk bukan pada era Portugis, maka muncul pendatang baru di
Pontianak yakni pedagang-pedagang Belanda (VOC). Sebagaimana diketahui,
pedagang-pedagang VOC sejak tahun 1711 sudah membentuk pos perdagangan di
Bandjarmasin (pantai selatan Borneo). Pos perdagang yang baru di Pontianak
adalah perluasan pos perdagangan VOC di pantai barat Borneo. Tentu saja saat
pedagang-pedagang VOC datang, Pontianak sudah menjadi pusat perdagangan lokal
(yang juga sudah banyak pedagang-pedagang Cina datang), Para pedagang-pedagang
VOC mengambil tempat di arah hilir sungai, di belakang area pedagang-pedagang
Cina. Area pedagang-pedagang Cina berseberangan dengan kraton Pontianak. Tiga area
inilah yang menjadi cikal bakal kota Pontianak yang sekarang.
Seperti
di berbagai tempat, pedagang-pedagang VOC tidak pernah datang untuk (langsung)
merebut area baru. Mereka datang untuk berdagang. Oleh karena itu penduduk
pendatang pertama di Pontianak dan penduduk pendatang baru Cina adalah sumber
potensi pedagang-pedagangVOC (partner perdagangan). Pedagang-pedagang VOC
biasanya mengambil tempat pada area marjinal di sisi luar (jalur escape). Area
marjinal ini, seperti rawa-rawa atau area banjir yang jarang ditempati oleh
orang lain. Oleh karena marjinal, jika mereka harus menyewa maka harga sewa
lahannya akan murah. Namuin demikian
karena mereka membawa peralatan dan teknologi serta pengetahuan yang cukup, area
marjinal itu dapat mereka vermak menjadi area yang sesuai dengan kebutuhan
mereka, yakni dengan membuat kanal (drainase) untuk membangun fasilitas seperti
bangunan permanen dan bahkan benteng. Kanal yang dibuat dirancang menjadi suatu
barier (garis pertahanan yang juga dengan sendirinya menjadi jalan tol ait atau
pelabuhan).
Kota Pontianak yang sekarang secara teknis di
masa lalui, para pedagang VOC (Belanda) menginisiasi area di Pontianak menjadi
suatu kawasan hunian mereka sendiri. Seperti disebutkan di atas, area hunian
(untuk perdagangan) ini antara lain tempat Residen (kepala pedagang,
Hooftkoopman), Onderkoopman, gudang komoditi, bedeng-bedeng para pekerja (orang
pribumi dari wilayah lain) dan tentu saja barak-barak pasukan (militer). Area
inilah yang kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi area Eropa (yang pada
tahap lebih lanjut diintegrasikan dengan area Cina). Dua area inilah yang
secara teknik menjadi permulaan kota Pontianak (yang sekarang).
Kantor
Wali Kota Pontianak yang sekarang, tempo doeloe adalah kantor Residen yang
dibangun pada Pemerintah Hindia Belanda. Sejak era VOC sudah dibangun rumah
Residen. Tidak jauh dari rumah Residen tersebut dibuat pelabuhan (kini
pelabuhan Pontianak). Di sekitar area inilah pada era Pemerintah Hindia Belanda
dibangun bea dan cukai, kantor pos, kantor telegraf, kantor Residen dan taman
(Larive Park). Dari pelabuhan ke kawasan Eropa dibangun jalan utama
(Heerenstraat dan De Stuers weg). Disebut jalan Heeren Straat mengindikasikan
era VOC (pemegang saham utama Heeren XVII), sementara nama de Stuers
mengindikasikan era Pemerintah Hindia Belanda yang mana pada tahun 1822 Overste
de Stuers memimpin pasukan untuk meredakan pemberontakan orang-orang Cina di
pantai barat Borneo. Sedangkan nama (taman) Larike dikaitkan dengan nama tempat
di Ambon. Besar dugaan sebelum taman ini dibentuk adalah pemukiman orang Larike
dari Ambon yang membantu pasukan militer VOC. Pada masa ini area rumah residen
tersebut menjadi area POMDAM XI Tanjungpura yang berseberangan dengan Larike
Paark yang kini jadi alun-alun kota.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




