*Untuk melihat semua artikel Sejarah Banyuwangi dalam blog ini Klik Disini
Dalam
narasi sejarah pemerintahan, yang terinformasikan adalah pemerintah zaman kuno
dan era masa kini. Bagaimana masa pemerintahan diantaranya. Nah, itu dia.
Kurang terinformasikan. Sejatinya pemerintahan di suatu wilayah, berkesinambungan
dari zaman kuno hingga era masa kini.
Namun kurang terperhatikan pada era Pemerintah Hindia Belanda. Wulayah relative
tidak berubah, yang berubah adalah rezim yang memerintah di wilayah tersebut.

Banyuwangi
adalah sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Sejarah Banyuwangi
tidak lepas dari sejarah Kerajaan Blambangan. Pada pertengahan abad ke-17,
Banyuwangi merupakan bagian dari Kerajaan Hindu Blambangan yang dipimpin oleh
Pangeran Tawang Alun. Pada masa ini secara administratif VOC menganggap
Blambangan sebagai wilayah kekuasannya, atas dasar penyerahan kekuasaan Jawa
bagian timur (termasuk Blambangan) oleh Pakubuwono II kepada VOC. Padahal
Mataram tidak pernah bisa menguasai daerah Blambangan yang saat itu merupakan
kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa. Namun VOC tidak pernah benar-benar
menancapkan kekuasaannya sampai pada akhir abad ke-17, ketika pemerintah
Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan. Daerah yang sekarang
dikenal sebagai “kompleks Inggrisan” adalah bekas tempat kantor
dagang Inggris. VOC segera bergerak untuk mengamankan kekuasaannya atas
Blambangan pada akhir abad ke-18. Hal ini menyulut perang besar selama lima
tahun (1767–1772). Dalam peperangan itu terdapat satu pertempuran dahsyat yang
disebut Puputan Bayu sebagai merupakan usaha terakhir Kerajaan Blambangan untuk
melepaskan diri dari belenggu VOC. Pertempuran Puputan Bayu terjadi pada
tanggal 18 Desember 1771 yang akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah pemerintahan di
Banjoewangi semasa Pemerintah Hindia Belanda? Seperti disebut di atas, narasi
sejarah pemerintahan di berbagai wilayah cenderung hanya menarasikan zaman kuno
versus masa kini. Pada masa Pemerintah Hindia Belanda kurang terinformasikan. Lalu
bagaimana sejarah pemerintahan di Banjoewangi semasa Pemerintah Hindia Belanda?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber
baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain
disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pemerintahan di Banjoewangi Semasa Pemerintah Hindia
Belanda; Zaman Kuno versus Masa Kini
Cabang pemerintahan Pemerintah Hindia Belanda di
wilayah Banjuwangi dimulai pada tahun 1801 dimana residentie meliputi
Probolinggo, Besuki, Panaroekan dan Banjoewangi yang mana pejabat di Probolinggo.
Pada masa pendudukan Inggris wilayah Banjoewangi menjadi satu residentie
sendiri. Mengapa? Sejak era VOC, wilayah Banjoewangi sudah menjadi penting
bangi Inggris (lalu lintas antara Australia dan China).
Pada akhir masa pendudukan Inggris residentie di Jawa sebagai berikut: Buitenzorg,
Preanger, Bantam, Cheribon, Tagal, Paccalongan and Cadoe, Samarang, Souracarta,
Djocjocarta, Japara and Joana, Rembang, Soeravaja and Banccalan, Probolinggo
Bezuki and Panaroekan, Gressik, Passaroeang, Banjowangi, dan Sumanap. Residen
di Banjoeangi adalah Luitenant Macleod dab dibantu oleh pejabat garam T van Zyl
(lihat Almanac 1816). Di residentie Banjoewangi ada sebanyak 23 orang
Eropa/Belanda.
Setelah berakhir masa pendudukan Inggris, Pemerintah
Hindia Belanda dipulihkan. Cabang pemerintahan di wilayah Banyuwangi
dilanjutkan dengan statusnya tetap sebagai suatu residentie. Pasca pemulihan
ini residentei di pulau Jawa sebagai berikut: Bantam, Batavia, Buitenzorg. Krawang,
Semarang, Cheribon, Tagal, Pakalongan, Kadoe, Soerakarta, Djogjacarta, Rembang,
Japara en Joana, Soerabaja, Gresik, Pasaroeang, Bezoeki, Banjoweangi, dan Madoera
en Soemanap. Residen Banjoewangi dibantu beberapa pejabat. Dalam
perkembangannya, sehubungan dengan program koffiekultuur, Resident dibantu oleh
pemimpin pribumi setingkat bupati.
Berdasarkan Almanak 1827 resident di Banjowangi adalah Mr GJ van de
Graaff. Sementara bupati Banjoewangi adalah Raden Redin Soero Adi Negoro. Dalam
pemerintahan Eropa, residen dibantu seorang Kommies, seorang Opziener serta
seorang petugas kesehatan. Juga di Banjowangi ada seorang guru JF Scholten.
Seberapa banyak populasi orang Eropa/Belanda tidak terinformasikan. Oleh karena
ada sekolah/guru besar dugaan jumlahpopulasi orang Eropa/Belanda sudah jauh bertambah.
Pada tahun 1830 diketahui residentie Bezoeki dan
residentie Banjoewangi telah digabung dengan nama baru residentie Bezoeki en
Banjoewangi (lihat Javasche courant, 06-04-1830). Sebagai pejabat residen
adalah De Bruijn Prince dengan kedudukan di Bezoekie. Mengapa digabung? Tentu
saja reorganisasi ini dihubungkan dengan program pembangunan yang terintegrasi
di wilayah Jawa paling timur.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Zaman Kuno versus Masa Kini: Narasi Pemerintahan Semasa
Pemerintah Hindia Belanda
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



