*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pendidikan dalam blog ini Klik Disini
Sejarah modern pendidikan Indonesia berlatar
belakang sekolah tradisi pada era Pemerintah Hindia Belanda. Sekolah
Eropa/Belanda menjadi rujukan sekolah pribumi yang diperkuat pondasi sekolah/pendidikan
tradisi. Pendidikan sendiri adalah proses berkelanjutan, hanya bahasa dan
aksara yang digunakan yang berbeda. Pendidikan bagi orang Indonesia bagian dari
proses mencerdaskan bangsa.

‘Jalan
ke Arah Barat’: Sejarah Sekolah di Serang (1833-1942). 18/09/2022. Sekolah pertama
kali didirikan di Serang adalah sekolah untuk bangsa Eropa, Europeesche Lagere
School (ELS), dibangun tahun 1833. Beberapa anak pribumi, alasan melanjutkan
pendidikan ke sekolah lebih tinggi seperti HBS, MULO, AMS, atau STOVIA,
diizinkan belajar di ELS. Empat anak patih menes: Achmad, Muhammad, Hasan, dan
Husein, antara tahun 1892-1897 diterima. Pada tahun 1899-1904, 5 pelajar dari
Serang: Agus Adehan, Mas Sastrasudirja, R. Usadiningrat, R. Jasnudin, dan Mas
Suraatmaja juga diberi izin. Namun demikian, baru tahun 1876 Pemerintah
Kolonial mendirikan sekolah pribumi di Serang, hampir sama dengan tahun
pendirian sekolah serupa yang ada di Lebak, dan Caringin. Komisi Sekolah
Pribumi di Serang dibentuk tahun 1876. Salah seorang anggota Komisi ini adalah
Bupati Serang, Condro Negoro. Tahun 1897 Pemerintah Kolonial mengeluarkan
keputusan membagi sekolah pribumi ini menjadi dua jenis berlandaskan peraturan
pemerintah tahun 1893 yang menetapkan reorganisasi sekolah pribumi menjadi
sekolah pribumi kelas satu dan sekolah pribumi kelas dua. Sekolah kelas satu
hanya dapat dinikmati oleh murid-murid yang orang tuanya memiliki jabatan dan
status sosial sangat tinggi, seperti Raja, Sultan, Bupati, patih, wedana, jaksa
kepala, adjunct controleur, penghulu kepala, kepala kantor pos, kepala stasion
kereta, maupun saudagar. Anak-anak pamong praja tingkat rendah, seperti juru
tulis, mantri garam, mantri cacar, mantri air, mantri guru, kepala sipir, harus
puas untuk belajar di sekolah kelas dua. (https://bantenologi.uinbanten.ac.id/)
Lantas bagaimana sejarah sekolah pemerintah
untuk siswa pribumi? Seperti disebut di atas, ketika sekolah dasar Eropa/Belanda
maju pesat, baru sekolah dasar pribumi mulai bangkit. Bangkitnya dimana? Peta
dulu dan peta sekarang berbeda. Pendidikan ala Eropa/Belanda vs pendidikan
untuk pribumi. Lalu bagaimana sejarah sekolah pemerintah untuk siswa pribumi? Seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan
dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki
permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang
bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk
menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini
adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan
peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya
anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber
primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena
sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang
disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan
kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Sekolah Pemerintah untuk Siswa Pribumi; Pendidikan Ala
Eropa/Belanda vs Pendidikan untuk Pribumi
Pendidikan modern (aksara Latin) pada mulanya berkembang
di luar Jawa. Pendidikan aksara Latin di Maluku sudah ada sejak era Portugis.
Hal itulah mengapa sekolah-sekolah yang dibangun pemerintah (Pemerintah Hindia
Belanda) jauh lebih banyak di Maluku, Manado dan Timor. Banyak sekolah pribumi
yang menggunakan aksara Latin yang siap dinegerikan oleh pemerintah. Sementara
di Jawa mendirikan sekolah modern aksara Latin tidak perkara mudah (karena
masih ada sekolah alternatif, yakni pendidikan tradisi mennggunakan aksara Jawi
dan aksara Jawa).
Berbeda dengan di Jawa, di Sumatra khususnya di wilayah pedalaman (residentie
Tapanoeli) di afdeeling Angkola Mandailing, pendidikan modern aksara Latin
cukup adaptif, meski diintroduksi aksara Latin, pendidikan tradisi (aksara Jawi dan aksara Batak) masih
terselenggara. Dikatakan demikian, karena kehadiran Pemerintah Hindia Belanda
di Tanah Batak baru dimulai pada tahun 1840 (bandingkan dengan di Maluku,
Manado dan Timor sejak era Portugis sudah diintroduksi penggunaan aksara
Latin). Mengapa adaptif? Di wilayah Minangkabau aksara asli telah digantikan
oleh aksara Jawi. Sementara di wilayah Angkola Mandailing (Tapanoeli) aksara asli
(aksara) Batak tetap digunakan ketika introduksi aksara Jawi (masuknya penyebaran
Islam). Pada saat mana introduksi aksara Latin, di afdeeling Angkola Mandailing
penduduk menggunakan tiga aksara bersamaan: aksara Batak, aksara Jawi dan
aksara Latin.
Pada tahun 1854 dua siswa lulusan sekolah di
(afdeeling) Angkola Mandailing diterima di sekolah kedokteran di Batavia (lihat
Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad,
18-01-1855). Dua siswa tersebut adalah siswa yang pertama diterima berasal dari
luar Jawa. Sekolah kedokteran di Batavia sendiri dibuka pada tahun 1851. Siswa
yang diterima adalah lulusan sekolah dasar dan bahasa pengantar bahasa Melayu.
Lantas yang menjadi pertanyaan: sejak kapan sekolah (modern) pribumi dimulai
lalu berkembang?
Dalam laporan pendidikan yang dibuat oleh Inspektur Pendidikan, J van der
Vinne tahun 1823, tidak ada indikasi sekolah pribumi dibicarakan. Semua masih
membicarakan sekolah Eropa/Belanda dan mulai adanya penyelenggaraan pendidikan/sekolah
menengah (Gouveruements jonge Jusvrouwen en Kostschool te Batavia). Mengapa?
Boleh jadi karena prioritas pengembangan pendidikan baru sebatas pendididikan/sekolah
Eropa/Belanda. Keterlibatan Pemerintah Hindia Belanda sendiri baru dimulai pada
tahun 1817 (baru lima tahun berlalu). Tidak dibicarakan bukan berarti pendidikan/sekolah
pribumi tidak ada. Tentang Pendidikan/sekolah pribumi baru dideskripsikan pada
tahun 1831 yang dimuat dalam Nieuwe bijdragen ter bevordering van het onderwijs
en de opvoeding, voornamelijk met betrekking tot de lagere scholen in het Koningrijk
der Nederlanden, voor den jare …, 1831. Dalam tinjauan pendidikan di Hindia
Belanda ini disebut komite-komite sekolah yanhg dibentuk di berbagai wilayah.
Salah satu anggota komite pusat adalah J van der Vinne. Sub komite yang ada
berada di Cheribon, Semarang, Soerakarta, Rembang, Soerabaja, Pasoeroean,
Bezoeki en Banjoewangi, Amboina, Banda, Makassar, dan Sumatra Westkust. Dalam
deskripsi ini juga didaftar guru-guru yang ada, baik guru pemerintah maupun
swasta/partikelir. Sekolah-sekolah pemerintah yang didirikan untuk anak
Eropa/Belanda berada di Batavia, Semarang, Soerakarta, Rembang, Grissee, Soerabaja,
Soemanap, Pasoeroean, Banjoewangi, Amboina, Banda, Makassar dan Padang. Juga disebut
sekolah swasta dan guru-gurunya. Ada beberapa sekolah swasta yang mengindikasikan
sekolah pribumi adalah Inlandsche Christen school te Toegoe dengan leermeester/instruktur
(bukan guru) FG Daniël, yang dibantu Inlandsche Christen Leermeesters J
Latoemelen, J Kayljielie, FA Paulus, FH Horte dan L Willems serta Leermeesters ME
van Dam; Inlandsche Christen school te Depok yang mana L Leander sebagai
Leermeester. Satu yang khusus dalam deskripsi adalah adanya sekolah pemerintah
berbahasa Melayu di Koepang Gouvernements Maleidsche school dengan kepala
sekolah L Patanasaranij. Sekolah berbahasa Melayu komunitas yang diasuh oleh J
Haluely, di Orysapa; D Sahertian di Jiabauw; D Tupan di Vrietij; JL Huwae di Laniae;
L Haus di Teirnanae; L de Fretis di Talay; P Talahatoep di Thie; M Hitiahubesy
di Loley; dan BM Noya di Bilba. Selain itu di Padang juga ada Maleidsche school
yang diasuh AM Ammers sebagai onderwijzer (guru).
Penyelenggaraan pendidikan/sekolah oleh Pemerintah
Hindia Belanda pada dasarnya baru dimulai pada tahun 1817 (pasca pendudukan
Inggris). Ini dimulai semasa GG Baron van der Capellen yang mengangkat Prof CGC
Reinwardt sebagai direktur Landbouw Kusten en Watenschappen di Jawa. Pada tahun
1822 Reinwardt digantikan oleh J van der Vinne. Pada masa CGC Reinwardt sekolah
pemerintah yang didirikan di Batavia (dua buah), di Semarang dan di Soerabaja.
Lalu pendirian sekolah baru dilakukan pada masa Vinne.
Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt (dalam ejaan dulu: C.G. Carl Reinwardt;
3 Juni 1773- 6 Maret 1854) adalah pendiri dan pemimpin pertama Kebun Raya
Bogor. Pendidikan awal dijalaninya di Remscheid-Lennep, sebuah kota dekat
tempat kelahirannya. Saat ayahnya meninggal dunia di usia muda, ia menyusul
kakaknya yang bekerja di sebuah apotek di Amsterdam, Belanda. Selain membantu
kakaknya, Reinwardt melanjutkan studi kedokteran dan ilmu tumbuh-tumbuhan di
Amsterdam. Di usianya ke-27, ia sudah tersohor sebagai profesor sejarah alam di
Universitas Harderwijk, dan tiga tahun berikutnya menjadi rektor disana. Tahun
1816, Pemerintah Belanda mengangkatnya menjadi Direktur Pertanian, Seni, dan
Pendidikan untuk Pulau Jawa. Reinwardt langsung memulai riset dalam bidang ilmu
tumbuh-tumbuhan dan pada 18 Mei 1817 membangun kebun botani di sebelah rumah
peristirahatan gubernur jenderal di Buitenzorg. Pada masa ini ia juga
menjelajah berbagai pegunungan di Pulau Jawa. Reinwardt adalah orang pertama
yang mendaki Gunung Gede hingga ke puncak dan membuat laporan tentangnya. Ia
juga adalah orang yang memberi referensi kepada Raden Saleh, pelukis ternama
abad ke-19, agar dapat memperoleh beasiswa ke Belanda. Tahun 1823 ia kembali ke
Belanda dan mengajar ilmu tumbuh-tumbuhan di Universitas Leiden. Sejumlah buku
bertema tumbuhan dan geologi pernah ditulisnya sebelum menutup usia pada tahun
1854. Namanya diabadikan dalam jurnal botani Reinwardtia (ISSN 0034-365X) dari
Kebun Raya Bogor dan genus Reinwardtia (familia Linaceae). Suatu jenis kantong
semar juga diberi nama menurutnya. Sebuah museum di Belanda juga menyandang
namanya. Pada tanggal 17 Mei 2006 Duta Besar Jerman Broudré-Gröger bersama-sama
dengan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Umar Anggara
Jenie, meresmikan Tugu Peringatan Reinwardt yang terletak di komplek Kebun Raya
Bogor. (Wikipedia)
Pada tahun 1826 posisi Vinne diubah menjadi Inspecteur
van het Lager en Middelbaar Onderwijs, suatu lembaga baru, yang dipisahkan dari
lembaga sebelumnya. Sejak J van der Vinne inilah system keorganisasian Pendidikan
di Hindia Belanda berjalan dengan sistematis. Sebagai inspektur, Vinne tidak
hanya membawahi Pendidikan/sekolah Eropa/Belanda juga pendidikan/sekolah
pribumi sebagaimana dideskripsikan di atas.
Pendidikan/sekolah bagi pribumi yang telah mendapat perhatian pada
dasarnya hanya dapat dikatakan yang berada di Residentie Timor (sekolah umum)
dan di Depok (sekolah berafiliasi agama). Sekolah berafiliasi agama di Toegoe
tidak sepenuhnya orang pribumi tetapi umumnya orang-orang Indo (Eropa/Portugis).
Sekolah Gouvernements Maleidsche school di Koepang dan Gouvernements Maleidsche
school di Padang diduga kuat sekolah/pendidikan untuk anak-anak Indo plus
anak-anak pribumi.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pendidikan Ala Eropa/Belanda vs Pendidikan untuk
Pribumi: Pendidikan Tradisi Modal Pendidikan Modern
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan
(ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami
ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah
catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



