*Untuk melihat semua artikel Sejarah Malang dalam blog ini Klik Disini
Abdullah Sholeh disapa Cak Sholeh, 35 tahun, satu-satunya
manusia yang bisa hidup dan mengobrol empat mata bersama seekor harimau. Pria
asal Malang, telah hidup dengan seekor harimau jenis Benggala selama 13 tahun. Harimau
diberi nama Mulan Jamilah didaptakan dari sumbangan sekolah Islam di Malang, lantaran
pemilik sebelumnya mengaku tidak dapat merawatnya yang saat itu Mulan baru
berusia tiga bulan (Kumparan.com 11 Juni 2020). Siapakah sebenarnya musuh
harimau? Manusia atau hewan sendiri? Fakta bahwa kini harimau telah lama punah
di wilayah Malang.

BKSDA
Jatim Identifikasi Temuan Tengkorak Diduga Harimau Jawa di Kota Malang.
Antara.com. 7 September 2020. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa
Timur melakukan identifikasi terhadap temuan tengkorak diduga harimau jawa
(Panthera tigris sondaica), di kawasan Lowokwaru, Kota Malang. Kepala Seksi
Konservasi Wilayah VI BKSDA Jawa Timur mengatakan mendapatkan informasi temuan
dari masyarakat dan akan melakukan identifikasi terhadap kerangka bagian kepala
itu. “Informasinya tengkorak itu ditemukan di sekitar Kali Metro, kelurahan
Merjosari.” katanya, di Kota Malang, Senin. Disebutkan tengkorak berat
delapan ons dengan ukuran tinggi 13 cm, lebar 21 cm, dan panjang 15 cm.
Berdasarkan hasil identifikasi awal, diduga bahwa temuan tersebut adalah
tengkorak macan tutul. “Kalau harimau, terlalu kecil. Di samping itu, pada
kawasan sekitar sini, habitat macan tutul masih ada. Namun, kami tidak bisa
pastikan 100 persen. Tunggu hasil laboratorium dulu,” katanya. Tengkorak
tersebut akan diboyong menuju LIPI Bogor untuk dilakukan penelitian lebih
lanjut. Populasi macan tutul ditemukan di beberapa titik, termasuk di wilayah
Malang Raya. Titik-titik tersebut, diantaranya di kawasan Taman Nasional Bromo,
Tengger Semeru (TNBTS) hingga di kawasan Cagar Alam Pulau Sempu. “Kami
sudah pasang kamera track di Pulau Sempu. Ciri-ciri atau jejak macan tutul bisa
diidentifikasi dari cakaran pohon hingga jejak-jejaknya. Jumlahnya, kami masih
belum tahu. Kami masih melakukan pengamatan,” ujarnya. Tengkorak hewan
yang diduga berusia 50 tahun (https://jatim.antaranews.com/)
Lantas bagaimana sejarah harimau di wilayah
Malang tempo doeloe, apakah masih ada jejak tersisa? Seperti disebut di atas,
harimau di wilayah Malang sudah lama punah. Fakta di wilayah Malang belum lama
ini ditemukan warga Malang penyayang harimau dan penemuan diduga tengkorak
harimau menjadi berita. Apakah dalam hal ini harimau musuh hewan atau sahabat penduduk.
Lalu bagaimana sejarah harimau di wilayah Malang tempo doeloe, apakah masih ada
jejak tersisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Harimau di Wilayah Malang Tempo Doeloe, Apakah Jejak
Masih Tersisa? Musuh Hewan Sahabat Penduduk
Apakah ada harimau di wilayah Malang? Ada, banyak.
Tapi itu tempo doeloe. Kini nyaris tidak terdengar. Yang jelas bahwa ruang jelajah
harimau sangat jauh, bisa berpuluh atau berates kilometer. Oleh karena itu,
tidak ada harimau Malang, juga tidak ada harimau Pasoeroean, juga tidak ada
harimau Probolinggi dan juga tidak ada harimau Kediri. Satu yang pasti hanya
dikenal harimau Jawa (untuk membedakan dengan harimau Sumatra dan harimau
Bali).
Harimau harus dibedakan dengan macan, seperti macan tutul. Harimau adalah
kucing besar. Jika ingin mengenal harimau sebenarnya sudah cukup melihat
perilaku kucing di rumah. Yang membuat orang takut kepada harimau karena lebih
besar dari manusia. Kucing hanya hewan kecil, karena itu kita tidak perlu
takut. Kucing akan menjadi akrab jika kebutuhan makan dan minumnya terpenuhi.
Lantas sejak kapan kali pertama harimau ditemukan di
Malang? Kapan pula terakhir kali harimau ditemukan di Malang? Tidak pernah ada
yang tahu. Keberadaan harimau di Malang diduga sudah lama adanya. Ini dapat
diperhatikan ditemukannya arca harimau di Singosari dari laporan seorang pendaki
gunung Arjuno yang dibantu penduduk. Disebutkan arca tersebut berasal dari
zaman Hindoe Boedha. Dalam laporan tersebut mereka menemukan harimau yang
menghalangi perjalanan mereka.
Javasche courant, 05-02-1831: ‘…ditemukan sebanyak 36
buah, serta 53 buah arca kecil yang sulit dibedakan sosoknya, namun ada arva yang
tampak seperti pembantu, dan ada pula yang berpakaian pandita. Keseluruhannya
terbuat dari batu biasa yang ditemukan di Singo Sarie. Dikatakan bahwa D
Landouw pernah mengambil arca dari sana yang bertentangan dengan keinginan
penduduk. Ada juga arca yang mewakili harimau dan dua anjing dan seorang pria
dengan hewan babi. Pendapo yang dulu berdiri di pintu gerbang pertama dan
kedua, sekarang sudah hancur seluruhnya, dan hanya diketahui pondasinya saja
yang tersisa; tanaman bernama andong andong telah tumbuh dimana-mana disana.
Saya sendiri,
membuat keputusan untuk tidak menghabiskan
perburuan arca seperti di atas, sehingga setelah melihat saya kembali bersiap-siap untuk
berangkat, sangat melelahkan dan kami tiba di Tompowono, lalu setelah menginap semalam kami melanjutkan
perjalanan [pulang dari puncak gunung Arjuno] kami salah jalan, bertemu
harimau di Poenoek Lemboe, yang menghalangi kami. Kami kembali ke Mojo. Kami segera pergi ke kamp-kamp
yang telah disiapkan untuk kami, dan tidur sampai malam tanpa ada gangguan. Kaki kami benar-benar bengkak
dan serasa patah, sehingga kami juga harus
menginap lama di Modjo dan baru tanggal 27 kami melanjutkan perjalan ke Malang dan tiba pukul 1 pagi
tanggal 28’.
Harimau di Malang tampaknya juga berkeliaran jauh di
lereng-lereng gunung. Tentu saja itu karena di lereng-lerang gunung juga
ditemukan babi hutan dan hewan-hewan besar lainnya. Jika harimau selalu berburu
mangsa untuk mencukupi kebutuhan dasarnya, lain pula orang-orang Eropa/Belanda
khususnya, yang suka berburu harimau sebagai kesenangan sematan. Seperti kita
lihat nanti mereka ini termasuk agen pemunah harimau di Jawa.
Para pemburu harimau, sudah mengetahui dimana harus berburu. Adakalnya
paraa pemburu ini, seperti para pemburu di Batavia, meski masih ada harimau
berkeliaran di hutan-hutan Tandjoeng Priok dan Bekasi, namun tidak menjadi
halangan pergi ke tempat jauh untuk menemukan suasana dan target berburu yang
diinginkan. Berdasarkan cerita dari para pemburu harimau pada tahun 1850
kawasan perburuan harimau yang umum dilakukan para pemburu adalah di Banten
(Bantam), Krawang, Malang Selatan, di lereng selatan gunung Smeru, regentschap Loemadjang
(lihat Nieuwe courant, 23-09-1950).
Namun harimau tidak selalu berdiam di satu area
meski kebutuhannya tercukupi. Harimau juga termasuk hewan petualang seperti pelancong
pendaki gunung. Oleh karenanya harimau turun gunung bukan karena alasan lapar
saja, tetapi berkelana di ruang yang sangat luas. Jika dalam perjalanannya
sulit menemukan makanan, adakalanya coba mendekati kebun-kebun atau pemukiman
penduduk. Jika semua calon mangsa terkurung, ada kalanya rasa marah harimau
untuk menyerang penduduk. Itulah yang terjadi di kampong Oesang, Malang pada
tahun 1870.
De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 19-01-1870: ‘Penduduk asli Bernama Pa
Dowa dan Pa Selemen, yang coba menyelamatkan rekannya dari cengkeraman harimau
di kebun kopi Oesong, Malang, memenuhi syarat dinominasikan untuk mendapat
bintang ksatria dari militer Willems, baik untuk medali atau kesaksian untuk
menyelamatkan orang yang terancam’. Catatn: bagaimana dua penduduk menyelamatkan
rekan mereka tidak dijelaskan, dan juga tidak terinformasikan apakah harimau
terbunuh.
Ada pemburu (harimau), ada juga yang diburu (harimau).
Penduduk pribumi hanya memburu harimau yang masuk kampong atau yang telah menciderai
dan memangsa warga. Biasanya diburu bersama-sama penduduk kampong dengan cara
membuat perangkap atau juga dengan meminta bantuan polisi/militer atau
profesional. Sebaliknya ada juga penyayang binatang, termasuk harimau. Manusia
seperti in langka, tetapi ada, terutama dari kalangan orang Eropa. Hal itulah
yang terjadi di Probolinggo, yang mana soal harimau ini menjadi kontroversi
(menjadi viral di surat kabar dan bahan pembicaraan umum). Mengapa? Harimau
dibakar hanya untuk memicu kesenangan.
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-05-1884: ‘Soerabaia 7 Mei 1884. Memalukan.
Dari laporan pesta yang
diadakan di
Probolingo, terlihat seekor harimau yang tidak mau menyerang kerbau disiram
dengan minyak tanah kemudian dibakar. Apakah ini dilakukan di bawah pengawasan,
dengan persetujuan diam-diam dari seorang pejabat Eropa? Jika demikian,
sebaiknya dia diberi teguran keras oleh Pemerintah atas keburukan yang
dilakukan dengan persetujuannya. Jika fakta ini menjadi perhatian Gubernur
Jenderal, ekspresi ketidaksenangan seperti itu mungkin tidak akan hilang.
Karakter laki-laki van Rees (Resideny Probolinggo) tidak bisa tidak menjadi musuh alami penyiksaan
hewan’.
Di antara orang Eropa/Belanda pemburu harimau tidak
hanya orang yang professional (mengabdi untuk meminimal ancaman bagi wilayah
tertentu atau perkampongan penduduk yang dekat dengan hutan, tetapi juga banyak
yang amatiran, hanya karena kesenangan semata. Diantara para amatir ini juga
termasuk para pejabat, bahkan pejabat setingkat Residen.
Boleh jadi karena memang tidak (belum) ada aturan yang melarang memburu
harimau. Tetapi tentu saja tidak karena itu, saat ada aturan juga kesenangan
berburu harimau tetap ada (dengan cara diam-diam). Seperti kita lihat, nanti,
hutan Oedjoeng Koelon ditetepkan sebagai taman nasional dan dilarang menebang
pohon dan berburu hewan besar, Residen Banten yang berburu harima dengan
teman-temannya secara diam-diam dilaporkan seorang pengawas hutan ke public setelah
mendapat laporan dari penduduk. Lalu bagaimana sanksinya, tidak pernah
terinformasikan.
Di berbagai temmpat (di Jawa) kerap ditemukan
penangkapan harimau (baik oleh para warga amupun upaya yang dilakukan seorang
pemburu professional) lalu diamankan pemerintah wilayah (residen atau asisten
residen). Dengan dalih, jika dilepaskan akan mengancam penduduk kembali, lalu
dikandangin. Tapi tentu saja ada biaya menjaga dan merawatnya bahkan keuntungan
tentang soal harimau. Harimau mahal harganya. Di pasar internasional para agen
mencari dimana ada tersedia harimau. Permintaannya tinggi untuk harimau, tidak
hanya untuk para pembeli pribadi, juga untuk memenuhi kebun binatang (zoo) di
kota-kota besar di dunia. Mereka yang terlibat dalam perdagangan harimau ini
juga dapat dikatakan agen pemunah harimau Jawa.
Soerabaijasch handelsblad, 22-06-1886: ‘Kijk, tepatnya Chiarini, seorang Cina
berteriak, dia memasukkan tangannya ke dalam
jeruji kandang di Kediri, di dalamnya ada seekor harimau. Harimau itu juga
mengulurkan tangannya dan mencakar ke
tangan si gadis pemberani. Dapat dimengerti
bagaimana si gadis itu babak belur ketika Chiarini pulang kerumahnya’.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Musuh Hewan Sahabat Penduduk: Harimau, Harimau,
Harimau
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




