*Untuk melihat semua artikel Sejarah Malang dalam blog ini Klik Disini
Malang bukanlah kota air, karena letaknya di pegunungan.
Kota air berada di wilayah pantai atau Kawasan muara sungai. Kota Malang yang
berada di cekungan Malang memiliki banyak sungai. Sungai terbesar adalah sungai
Brantas dan sungai Metro yang mana di hilir kedua sungai ini menyatu (melalui
waduk Karangkates). Apakah dalam hal ini wilayah Malang khususnya Kota Malang
rawan banjir? Banjir, banjir, banjir.

Mengungkap
Unsur Air dalam Sejarah Kota Malang: Pengelolaan Assainerring dan Gorong-Gorong
Kota 1914-1940. Reza Hudiyanto di dalam Mozaik: Jurnal Ilmu Humaniora, Vol. 12,
No.2, Juli-Desember 2012). Air adalah hal yang paling penting yang tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Menurut Karl Wittfogel dalam teori
Masyarakat hidrolik-nya, negara birokrasi muncul dari sungai. Dalam kasus Asia Tenggara,
sebagian besar negara pada 300-1200 CE berlokasi di sekitar sungai yang lebih
rendah. Namun, masalah air masih disisihkan dalam historiografi perkotaan
Indonesia. Hampir semua topik yang dibahas berkenaan dengan lahan, misalnya
pemerintah daerah, konflik ruang, transportasi dan banyak masalah lahan
lainnya. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk menggambarkan pembangunan
dan pengoperasian sistem air limbah di Malang. Karena kota-kota tumbuh cepat di
tahun 1920-an, air limbah menjadi masalah mendesak yang harus dipecahkan.
Resiko tinggi epidemi yang disebabkan oleh air tersumbat adalah alasan utama
bagi Gemeente untuk membuat sistem saluran pembuangan, dan pada gilirannya,
sistem tersebut merupakan factor pendorong dihapuskannya otonomi desa pada
tahun 1926. Penelitian ini menggunakan metode historis. Jejak sejarah sistem
drainase di Malang menghasilkan tiga poin: Pertama, banjir tahunan di Malang
tidak pernah berulang sejak Pemerintah Kota Malang membangun sistem selokan. Kedua
pembangunan sistem drainase pada gilirannya membuka jalan untuk menghapus
otonomi desa, dan ketiga, sistem drainase baru tidak mengubah adat setempat.
(http://journal.unair.ac.id/)
Lantas bagaimana sejarah banjir di wilayah
Malang? Seperti disebut di atas, wilayah Malang khususnya di di cekungan
(lembah) Malang terdapat banyak sungai. Dua sungai besar adalah sungai Metro
dan sungai Brantas. Pembangunan kanal merupakan salah satu upaya penanggulangan
bahaya banjir di Malang. Lalu bagaimana sejarah banjir di wilayah Malang? Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Banjir, Banjir, Banjir di Wilayah Malang: Kanal dan
Upaya Penanggulangan Bahaya Banjir di Malang
Sungai Brantas juga cukup terkenal dalam soal banjir.
Sebab sungai Brantas berhulu di Malang, bermuara di Soerabaja, melalui Blitar, Kediri
dan Mojokerto. Di wilayah Malang, sungai Brantas dan sungai Metro bergabung di
sekitar Senggoeroeh yang ke hilir hanya disebut sungai Brantas (dan adakalnya
disebut sungai Kediri). Dalam hal ini berbicara tentang banjir di Malang tidak
hanya sungai Brantas, juga sungai Metro dan anak-anak sungainya seperti sungai
Amprong.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kanal dan Upaya Penanggulangan Bahaya Banjir di Malang:
Pembangunan Kanal di Malang
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





