Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Pers di Indonesia (11): Pers Pribumi di Belanda; Indische Vereeniging, Indonesia Vereeniging hingga Perhimpoenan Indonesia

Tempo Doelo by Tempo Doelo
11.02.2023
Reading Time: 22 mins read
0
ADVERTISEMENT

RELATED POSTS

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

ADVERTISEMENT


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Pers dalam blog ini Klik Disini

Pers Indonesia di Belanda adalah satu hal,
organisasi (mahasiswa) pribumi Indische Vereeniging di Belanda adalah hal lain
lagi. Namun kedua hal ini saling berkaitan. Yang mana yang lebih dulu ada, lebih
dahulu eksis sebelum lainnya? Dalam konteks inilah lahirnya pers Indonesia di
Belanda, jauh dari tanah air. Bagaimana itu semua bermula menjadi manarik
diperhatikan, karena pers Indonesia di Belanda tidak terpisahkan dari pers
Indonesia sendiri. 

Narasi sejarah masa kini adakalanya berbeda dengan fakta yang sebenarnya
di masa lalu. Mari kita check en balance.


Indische
Vereeniging (IV) organisasi pelajar mahasiswa pribumi di Belanda berdiri 1908. IV
berdiri atas prakarsa (Radjioen Harahap gelar) Soetan Casajangan Soripada. Sejak
Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat masuk, 1913, mulailah mereka
memikirkan mengenai masa depan Indonesia, menyadari betapa pentingnya
organisasi tersebut bagi bangsa Indonesia. Sejak itulah IV memasuki kancah
politik, menerbitkan buletin diberi nama Hindia Poetera, tetapi isinya sama
sekali tidak memuat tulisan-tulisan bernada politik. Pada September 1922, saat
pergantian ketua antara Dr. Soetomo dan Herman Kartawisastra organisasi ini
berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Para anggota Indonesische juga
memutuskan untuk menerbitkan kembali majalah Hindia Poetra dengan Mohammad
Hatta sebagai pengasuhnya. Penerbitan kembali Hindia Poetra ini menjadi sarana
untuk menyebarkan ide-ide antikolonial. Saat Iwa Koesoemasoemantri ketua 1923,
Indonesische mulai menyebarkan ide non-kooperasi Tahun 1924, saat M. Nazir
Datuk Pamoentjak menjadi ketua, nama majalah Hindia Poetra berubah menjadi
Indonesia Merdeka. Tahun 1925 saat Soekiman Wirjosandjojo nama organisasi ini
resmi berubah menjadi Perhimpunan Indonesia
(Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah pers Indonesia di
Belanda? Seperti disebut di atas, pers yang dimaksud berkontribusi di Belanda
dimana orang-orang pribumi yang tengah menjalankan studi. Meski ada yang coba
menulisnya, tetapi masih banyak yang belum terinformasikan. Dalam hubungan ini
juga terkait satu sama lain dengan organisasi mahasiswa pribumi di Belanda
Indische Vereeniging yang diubah namanya menjadi Indonesia Vereeniging dan
kemudian diubah lagi menjadi Perhimpoenan Indonesia. Lalu bagaimana sejarah pers
Indonesia di Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.

Pers Indonesia di Belanda; Indische Vereeniging,
Indonesia Vereeniging hingga Perhimpoenan Indonesia

Abdoel Rivaim setelah lulus sekolah
kedokteran di Batavia (Docter Djawa School), kemudian ditempatkan di Medan
sebagai dokter pemerintah
(lihat De locomotief : Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 19-03-1895).
Di Medan diketahui Abdoel
Rivai tekah menikah dengan seorang wanita dengan satu anak (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 28-08-1895). Beberapa tahun di Medan dan sekitar, Dr Abdoel Rivai kemudian
diketahui berangkat ke Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 06-09-1899).


Tidak diketahui apa alasan Dr Abdoel Rivai ke Batavia. Apakah Dr Abdoel
Rivai telah mengundurkan dari dinas pemerintah? Yang jelas istri Abdoel Rivai
dan seorang anak telah berangkat dari Medan ke Batavia. Istri dan anak tersebut
saat ini kini sudah diketahui berada di Belanda, Masih pada bulan September
1899 diketahui Dr Abdoel Rivai berangkat ke Belanda (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 26-09-1899). Disebutkan besok kapal ss Gede akan berangkat dari
Batavia dengan tujuan akhir Nederland dimana salah satu penumpang adalah Abdoel
Rivai. Dari semua penumpang hanya nama Abdoel Rivai yang non Eropa/Belanda.
Dalam manifes kapal tercatat Abdoel Rivai seorang diri (tidak ada istri dan
anak). Di Belanda sudah terdapat pribumi. Salah satu diantaranya adalah Raden
Kartono yang setelah lulus HBS Semarang berangkat studi ke Belanda pada tahun
1896. Raden Kartono adalah abang dari RA Kartini.

Apa yang menjadi alasan Dr Abdoel Rivai mengundurkan
diri dari dinas pemerintah dan berangkat ke Belanda tidak begitu jekas. Yang
jelas Abdoel Rivai diketahui kemudian akan menjadi editor surat kabar berbahasa
Melayu di Amsterdam (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 19-06-1900).
Disebutkan Abdoel Rivai akan menjadi editor majalah berbahasa Melayu Pewarta
Wolanda yang akan terbit setiap dua minggu sekali. Disebutkan Abdoel Rivai
bekerjasama dengan Strikwerda. Surat kabar ini akan terbit pertama pada tanggal
1 Juli.


Strikwerda adalah pensiunan Asisten Residen yang menjadi penerjemah
bahasa Melayu di Amsterdam (lihat De Maasbode, 08-07-1900). Y Strikwerda paling
tidak diketahui tahun 1851 sebagai pejabat pemerintah di Westerafdeeling van
Borneo (lihat Samarangsch advertentie-blad, 28-06-1861). Pada tahun 1871
Strikwerda diketahui sebagai Asisten Residen di Sintang (lihat Makassaarsch
handels-blad, 22-03-1871). Pada tahun 1873 Strikwerda sebagai asisten residen di
Koeningan (lihat  Bataviaasch
handelsblad, 06-06-1873). Pada tahun 1879 Strikwerda pensiun sebagai asisten
residen Koeningan (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 17-04-1879). Setelah pensiun Strikwerda kembali ke Belanda.
Pada tahun 1881 Strikwerda diangkat menjadi dosen di perguruan tinggi perikanan
laut Nederlandsche staatscourant, 02-11-1881). Pada tahun 1890 Y Strikwerda
menerbitkan buku praktek bahasa Melayu dalam aksara Arab (lihat Algemeen
Handelsblad, 30-05-1890). Disebutkan Strikwerda sebagai dosen bahasa Melayu dan
pertanian di Amsterdam. Pada tahun 1891 Strikwerda menerbitkan majalah berita
berbahasa Melayu yang diberi
nama
Pewarta Boemi (lihat Arnhemsche courant, 24-04-1891). Disebutkan terbit dua
minggu sekali. Sasarannya adalah orang Cina, Arab dan pribumi di Hindia. Surat
kabar ini diterbitkan oleh Van Der Weide en Pijttersen. Surat kabar ini adalah
satu-satunya di Belanda yang berbahasa Melayu. Terhitung sejak tanggal 1
Desember 1898 Y Strikwerda digantikan oleh Dr AA Fokker (lihat De locomotief:
Samarangsch handels- en advertentie-blad, 12-01-1898). Disebutkan Dr AA Fokker
adalah editor linguistik ternama di Den Haag, guru bahasa Melayu di
Handelsschool di Amsterdam.

Y Strikwerda adalah orang yang
sudah berpengalaman dalam penerbitan surat kabar berbahasa Melayu. Sementara
itu, Abdoel Rivai baru ini menjadi terlibat dalam dunia jurnalistik. Setelah
Abdoel Rivai lulus di Docter Djawa Schoo
l tahun 1895 tidak terdetekasi apakah pernah aktif dalam dunia jurnalistik. Dalam hal
ini Dr Abdoel Rivai akan mendapat bimbingan dari Y Strikwerda.
Dalam hal ini tidak
terinformasikan apakah
Dr AA Fokker juga
terhubung dengan keduanya.


Sebagaimana pada artikel sebelum ini, seorang pribumi, Haji Saleh Harahap
gelar Dja Endar Moeda, pensiunan guru yang bermukim di Padang pada tahun 1895 dengan
seorang Jerman dan seorang Cina menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu yang
diberi nama Pertja Barat. Dja Endar Moeda lulusan sekolah guru (kweekschool)
Padang Sidempoean tahun 1884 bertindak sebagai editor. Singkat kata: Pada tahun
1900 Dja Endar Moeda telah mengakuisisi seluruhnya saham surat kabar Pertja
Barat beserta percetakannya. Pada tahun ini juga Dja Endar Moeda menerbitkan
surat kabar Tapian Na Oeli dan majalah Insulinde. Dalam hal ini dapat dikatakan
Dja Endar Moeda adalah pribumi pertama yang aktif dalam dunia persuratkabaran
dan telah memiliki percetakan dan media sendiri (surat kabar dan majalah).

Namun Pewarta Wolanda hanya
berumur singkat. Setelah tidak terbit, Abdoel Rivai
masih berada di Amsterdam. Dalam perkembangannya di Batavia,
Soerat Chabar Soeldadoe merger dengan surat kabar Pewarta Wolanda (lihat De
Sumatra post, 11-06-1901). Disebutkan tanggal 15 April 1901 surat kabar baru
ini diterbitkan oleh Albrecht en Co di Batavia. Pada jajaran editor adalah
Letnan Clockener Brousson, tentara Belanda, JE Tehupeiory, mahasiwa
Dokter-djawa school dan F Wiggers, redaktur Pembrita Betawi
. Juga disebutkan para redaktur
bekerjasama dengan Pangeran Harijo Sasraningrat di Djocja, Nawawi gelar Soetan
Maa’moer guru kweekscho
ol di
Fort de Koek, Datoe Soetan Maharadja di Padang, J Thenu dan FJ Marunaja di
Koeta Radja, MA Sahuleka di Magelang dan Lim Soen Hwat di Sibolga. Sebagai
koresponden Abdul Rivai, mantan editor Pewarta Wolanda, di Amsterdam dan Radhen
Mas Pandji Sosro Kartono di Den Haag, pelukis Jawa Mas Abdullah di Amsterdam
akan mengilustrasikan majalah tersebut.
Ini mengindikasikan bahwa Abdoel Rivai di Amsterdam masih terlibat
dalam pers (berbahasa) Melayu. Surat kabar baru ini kemudian diketahui Bernama Bandera
Wolanda.


Clockener Brousson adalah tentara Belanda lulusan akademi militer di
Breda yang kemudian ditempatkan di Hindia. Namun setelah lima tahun bertugas,
Clockener Brousson mengalami kecelakaan di pantai timur Atjeh. Akibatnya
Clockener Brousson tidak bisa lagi bertugas, meski dia sendiri sangat mencintai
tentara Belanda dan korpsnya. Sejak itulah Clockener Brousson bermasyarkat,
mulai melakuan perjalanan di Indonesia. Hasil perjalanannya selama di Hindia
(termasuk dalam dinas militer) ditulisnya dalam serial artikel di Belanda.
Menurut Clockener Brousson, orang Belanda di Belanda perlu mengenal lebih baik
Hindia. Serial artikelnya dimaksudkan untuk itu. Clockener Brousson masih
berada di Hindia tahun 1902. Meski demikian, serial artikel Clockener Brousson
mulai diterbitkan di surat kabar di Belanda. Artikel pertamanya dengan tajuk
Indische Penkrassen I dimuat pada tanggal 7 Desember 1902 (lihat Arnhemsche
courant, 07-12-1902).

Namun surat kabar Bandera Wolanda juga tidak berumur
panjang. Dr Abdoel Rivai diketahui berada di tanah air (tidak terinformasikan
sepenuhnya kegiatan apa yang dilakukan).
Clockener Brousson kembali ke Belanda. Dalam
perkembangannya, Clockener Brousson berkolaborasi
dengan Dr AA Fokker tahun 1903 dengan menerbitkan majalah berbahasa Melayu
di Belanda (Bi
ntang Hindia). Seperti disebut di atas Dr AA Fokker adalah editor linguistik ternama di
Den Haag, guru bahasa Melayu di Handelsschool di Amsterdam.


Surat kabar ini diinisiasi oleh Dr AA Fokker tahun 1903 ini kemudian diketahui akan  bekerjasama dengan Dja Endar Moeda, pemimpin
surat kabar berbahasa Melayu Pertja Barat di Padang.
Dalam upaya kerjasama tersebut, pada tahun 1903 ini Dja Endar Moeda berangkat ke Belanda dengan membawa dua guru yang akan turut membantu Fokker yakni Radjioen
Harahap gelar Soetan Casajangan guru di Padang Sidempoean dan guru muda
Djamaloedin yang menjadi co-editor Dja Endar Moeda dalam menerbitkan majalan
Insulinde di Padang. Sementara Abdoel Rivai
yang juga akan bergabiung berangkat sendiri dari Batavia
ke Belanda. Mereka bertiga inilah yang
akan mengasung Bintang
Hindia di
Belanda di bawah pimpinan Dr AA Fokker.

Dalam hubungannya dengan penerbitan surat kabar
(dwimingguan) Bintang Hindia di Belanda pada jajaran manajemen
Clockener Brousson dan Dr AA Fokker sementara pada jajaran
teknis dalam editorial terdapat tiga pribumi Drt Abdoel Rivai dan guru Soetan Casajangan
serta guru muda Djamaloedin. Sementara itu, partner stragis di Hindia adalah
Dja Endar Moeda di Padang. Namun d
alam perkembangannya Soetan Casajangan
mengundurkan diri tahun 1905 karena ingin melanjutkan studi keguruan di Belanda
(untuk tujuan itu Soetan
Casajangan sempat sebentar ke tanah air ke kampong halaman di Padang Sidempoean)
. Soetan Casajangan adalah adik
kelas Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda di sekolah guru Kweekschool Padang
Sidempoean.
Sementara itu Dr Abdoel
Rivai masih tetap di Bintang Hindia Bersama Djamaloedin. Pada tahun 1906
Djamaloedin menyusul mengundurkan diri karena ingin melanjutkan studi di
Belanda (studi pertanian di Wageningen).


Untuk membantu Clockener Bronsson untuk meneruskan Bintang Hindia,
didatangkan tiga orang dari Hindia, yakni Mas Soengkono (sebagai korektor) pada
bulan Februari 1906, lalu pada bulan Mei 1906 Sjamsoedin Rasad sebagai asisten
editor. Yang berikutnya didatangkan Ameroellah pada bulan September 1906 untuk
membantu editor (lihat Soerabaijasch handelsblad, 12-12-1907). Namun kemudian,
sejak November 1906 Clockener Bronsson sudah tinggal di Berlin.
Akan tetapi, Mas Soengkono
tidak memiliki kualifikasi yang diinginkan dan akan dikembalikanke kantor
Bintang Hindia di Bandoeng. Namun Soengkono tidak mau kembali ke Hindia dan
karena itu mengundurkan diri pada bulan Juni 1907. Dalam perkembangannya atas
bantuan Vereeniging West en Oost di Belanda, dan dibimbing oleh mantan residen
di Sumatra’s Westkust, Mas Soengkono kemudian mengikuti ujian masuk sekolah
pertanian di Wageningen. Tidak terduga Mas Soengkono yang malang tiba-tiba
sakit parah pada bulan Agustus dan meninggal dalam beberapa hari kemudian.

Untuk pengelolaan Bintang Hindia sepenuhnya
diberikan kepada NJ Boon dan Abdoel Rivai.
Dalam perkembangannya Sjamsoedin Rasad mengundurkan
diri pada bulan April 1907. Sementara Amaroellah
masuh turut membantu Bintang Hindia. Tidak lama
kemudian timbul permasalahan baru, pada bulan Juni 1907 Abdoel Rivai
mengundurkan diri (karena ingin melanjutkan studi kedokteran). Akhirnya Bintang
Hindia ditutup dan sebagai gantinya diterbitkan Bandera Wolanda pada bulan
Januari 1908 dengan pemimpin redaksi JE Tehupelory dan Amaroellah sendiri
sebagai asisten editor.


Sejak bulan Juni 1908 Soetan Casajangan mulai memikirkan pembentukan
organisasi kebangsaan pribumi (Indonesia) di Belanda. Soetan Casajangan yang
telah beberapa waktu membimbing Raden Soemitro yang melanjutkan sekolah HBS di
Belanda dan baru diterima di perguruan tinggi, memintanya untuk mengirim
undangan ke seluruh orang Indonesia di Belanda untuk berkumpul di kediamaan
Soetan Casajangan di Leiden. Lalu pada tanggal 25 Oktober 1908 dalam rapat di
kediaman Soetan Casajangan disepakati pembentukan organisasi kebangsaan yang
diberi nama Indische Vereeniging dimana sebagai ketua Soetan Casajangan dengan
sekretaris Raden Soemitro.

Pada bulan April 1909 diketahui
beberapa pribumi yang studi di Belanda masuk dalam jajaran redaksi majalah
Bandera Wolanda antara lain Soetan Casajangan dan Notosoeroto (lihat Het
vaderland, 01-04-1909). Disebutkan sekarang lengkap dan terdiri sebagai
berikut: pemimpin redaksi adalah Clockener Brousson, sedangkan redakturnya
adalah R Soetan Gasajangan Soripada, guru Batak ternama, RM Noto Soeroto, studi
huku
m putra Pangeran Noto di Red’jo,
dari keluarga Paikoe Alamsche dan Amaroellah gelar Soetan Mangkoeto, seorang
Melayu dari Pantai Barat Sumatera, mantan guru di Idi di Aceh. Susunan redaksi
ini berubah karena pada bulan Desember 1908 JE Tehupelory meninggal dunia.


Soetan Casajangan sendiri pada tahun 1909 ini lulus ujian dan mendapat
akta guru LO (dan melanjutkan studi untuk mendapatkan akta gur
u MO). Kepengurusan Soetan
Casajangan di Indische Vereeniging
kemudian berakhir
tahun 1910 karena juga ingin menyelesaikan studi
. Beberapa mahasiswa yang telah menyelesaikan studi
telah kembali ke tanah air, tetapi sebaliknya jumlah pelajar yang datang ke
Belanda untuk melanjutkan studi semakin banyak dari waktu ke waktu. Seperti
rekan-rekannya yang lain yang studi juga melakukan berbagai kegiatan pekerjaan
yang menambah keuangan. Bekerja di majalah Bandera Wolanda (sebelumnya Bintang
Hindia) memiliki honor bulanan. Soetan Casajangan juga menjadi asisten dosen
bahasa Melayu di Rijks universiteiet te Leiden membantu Prof CA van Ophuijsen
(mantan gurunya di Kweekschool Padang Sidempoean). Amaroellah selain di Bandera
Wolanda juga menjadi anggota Vereeniging Handelsonderwijs di Amsterdam (lihat
Algemeen Handelsblad, 21-08-1909). Vereeniging ini menyelenggarakan kursus
terdiri dari beberapa afdeeeling. Amaroellah mengajar bahasa Melayu pada
afdeeling A (Handelschool). RM Notosoeroto juga bekerja untuk majalah Oedaja.
Pendiri Indisch Vereeniging
di Belanda, 1908

Soetan Casajangan lulus tahun 1911 mendapat akta
guru MO (sarjana pendidikan setara lulusan IKIP masa ini).
Pada tahun 1911 Soetan Casajangan diundang oleh Vereeniging Moederland en
Kolonien (Organisasi para ahli/pakar bangsa Belanda di negeri Belanda dan di
Hindia Belanda) untuk berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang
diadakan pada bulan Oktober 1911, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat
percaya diri dengan makalah 18 halaman yang berjudul: ‘Verbeterd Inlandsch
Onderwijs’ (peningkatan pendidikan pribumi). Berikut beberapa petikan penting
isi pidatonya:


Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).

 

..saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya…cinta saya kepada
ibu pertiwa tidak pernah luntur…dalam memenuhi permintaan ini saya sangat
senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada
tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah
ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada
di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang
merindukan pendidikan yang lebih tinggi…hak yang sama bagi
semua…sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara ‘coklat’ dan ‘putih’
dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi, pen).

Soetan Casajangan, guru tetaplah guru. Kata-kata dan
kalimatnya tertata dengan baik dan disampaikan dengan santun. Soetan Casajangan
tidak hanya terlibat dalam pers (berbahasa Melayu) Indonesia di Belanda, juga
tidak melupakan fungsinya sebagai guru dan pendidik. Hal serupa itu tempoe
doeloe yang pernah dikatakan kakak kelasnya Dja Endar Moeda bahwa pendidikan dan
jurnalistik itu sama pentingnya: sama-sama untuk mencerdaskan bangsa.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Indische Vereeniging, Indonesia Vereeniging hingga
Perhimpoenan Indonesia: Soetan Casajangan, Soewardi Soerjaningrat, Mohamad
Hatta dan FKN Harahap

Soetan Casajangan pada tahun 1913 kembali ke tanah
air. Sebelumnya Soetan Casajangan Bersama Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja
Soangkoepon telah berhasil membentuk dana Pendidikan (Studiefond) yang kemudian
lembaga ini diserahkan pengelolaannya kepada Indische Vereeninging sehubungan
dengan kepulangan Soetan Casajangan ke tanah air. Juga Soetan Casajangan pada
tahun 1913 telah menulis buku yang diterbitkan di Barn oleh percetakan
Hollandia-Drukkerij.


Buku Soetan Casajangan berjudul ‘Indische Toestanden Gezien Door Een
Inlander’ (Hindia Belanda dilihat oleh penduduk pribumi). Buku ini adalah
sebuah monograf (kajian ilmiah) setebal 48 halaman yang mendeskripsikan dan
membahas tentang perihal ekonomi, sosial, sejarah budaya Asia Tenggara
(nusantara) dan pertanian di Indonesia. Buku ini berangkat dari pemikiran bahwa
sudah sejak lama penduduk pribumi merasakan adanya dorongan untuk penyatuan
yang lebih besar yang kemudian dengan munculnya berbagai sarikat, antara lain
Indisch Vereeniging (digagas oleh Soetan Casajangan), Boedi Oetomo (digagas
oleh Wahidin) dan Sarikat Dagang Islam. Buku ini sangat mengejutkan berbagai
pihak di kalangan orang Belanda baik di Negeri Belanda maupun di Hindia
Belanda. Dalam buku ini terang-terangan Soetan Casajangan menyinggung
Undang-Undang di Hindia Belanda yang 
membatasi konsesi untuk warga pribumi yang mana menurut Soetan
Casajangan hanya orang Eropa hak konsesi dapat diberikan sementara penduduk
pribumi asli haknya justru dirampas. Lebih lanjut, Soetan Casajangan
mengutarakan tuntutan yang sangat mendasar bahwa persamaan di hadapan hukum
bagi orang pribumi dan orang Belanda harus dengan segera diwujudkan. Menurut
Soetan Casajangan di Belanda sendiri tidak semua orang sifat, tabiat dan
kebajikannya sama tapi toh diperlakukan sama di hadapan hukum. Di Hindia
Belanda mengapa tidak? Untuk itu, menurut Soetan Casajangan pemerintah Belanda
juga harus menyelenggarakannya di bidang pendidikan termasuk pengadaan
beasiswa. Dalam buku ini, Soetan Casajangan juga menuntut kepada pihak
pemerintah Belanda hal yang sama di bidang penerangan pertanian dan penggalakan
perdagangan. Dengan kesamaan hukum tersebut pribumi akan mendapat kemajuan yang
sama dengan orang-orang Belanda baik di bidang pendidikan, pertanian maupun
perdagangan. Tulisan Soetan Casajangan ini juga mengkritik disparitas harga
kopi dimana harga jual kopi lokal hanya dihargai sebesar f40 per pikul
sementara harga jual kopi di pasar Eropa berkisar f70-f90 (rata-rata dua kali
lipat per pikul).

Pada akhir tahun 1913 tiga pemuda berangkat studi ke
Belanda, satu dari Buitenzorg dan dua dari Fort de Kock. Tiga pemuda ini sudah
barang tentu telah bertemu dengan Soetan Casajangan, yakni dari Fort de Kock
guru muda Dahlan Abdoellah pada bulan Oktober 1913 lalu kemudian disusul oleh
Tan Malaka. Yang berangkat dari Buitenzorg adalah Sorip Tagor Harahap, asisten
dosen di sekolah kedoteran hewan Vieeartsenschool d Buitenzorg.


Pada tahun ini juga tiba di Belanda Soewardi Soerjaningrat (lihat
Bredasche courant, 03-10-1913). Soewardi Soerjaningrat sebelumnya di Bandoeng
terlibat dalam kasus Indisch Partij Bersama Dr Tipto Mangoenkoesoemo dan Dr
Douwes Dekker. Ketiganya kemudian diisolasi dari Hindia ke Belanda. Dalam
perkembanganya di Belanda, Soewardi Soerjaningrat melanjutkan studi keguruan
seperti yang pernah diambil oleh Soetan Casajangan. Di Belanda dengan
sendirinya Soewardi Soerjaningrat dan tiga rekan baru yang berasal dari
Sumatara (Sorip Tagor, Dahlan Abdoellah dan Tan Malaka) menjadi anggota
Indische Vereeniging.

Jika membandingkan isi pidato
Soetan Casajangan tahun 1911 dan isi bukunya (brosur) yang baru terbit di Barn
1913, sejatinya kurang lebih sama dengan isi pamflet Soewardi dan
tulisan-tulisan Tjipto di surat kabar Express pada tahun 1913. Yang
membedakannya hanyalah cara mengemas dan menyampaikan. Soetan Casajangan dengan
bahasa yang santun dengan nada yang lem
but, sementara Tjipto dengan bahasa yang keras, lebih-lebih Soewardi yang
cenderung kasar (paling tidak menurut pandangan orang Belanda dan orang-orang
SI). Keutamaan Tjipto dan Soewardi di mata orang-orang Belanda bukan karena
soal isi dan nada pesan tetapi lebih pada faktor EFE Douwes Dekker yang dapat
mengundang simpati dari orang-orang Belanda yang secara langsung dapat
menggugah para Indo lebih banyak dan direspon oleh orang Belanda di Belanda
yang berhaluan sosial yang pada gilirannya dapat merongrong dan melemahkan
otoritas Belanda di Hindia.
Soetan Casajangan adalah seorang tokoh kawakan, sementara Soewardi Soerjaningrat
baru mengawali. Bukti keduanya berbeda level dan berbeda generasi, Soetan
Casajangan telah sadar dari awal, hanya dengan persatoen (melalui organisasi
kebangsaan seperti Indische Vereeninging) perjuangan secara gradual dapat direalisasikan.
Soetan Casajangan pada tahun 1911 telah menamatkan sarjana Pendidikan (MO),
sebaliknya pada tahun 1913 Sowardi Soerjaningrat baru akan memulai Pendidikan guru
(LO) yang menjadi syarat untuk mengikuti Pendidikan MO. Yang jelas kini, sejak
1913 di Belanda, Soewardi Soerjaningrat telah menjadi bagian dari Indische
Vereeniging.


Cara
yang dilakukan Soetan Casajangan tidak dianggap oleh orang Belanda berlebihan
sehingga tidak ada kekhawatiran yang mendesak. Singkat kata Soetan Casajangan
dengan strategi incremental secara gradual (evolusioner), sedangkan Tjipto dan
Soewardi (yang di bawah bayang-bayang Douewes Dekker) dengan strategi radikal
dan segera (revolusioner). Perbedaan itu juga ditemukan dalam pamflet Soewardi
yang berjudul  ‘Als ik een Nederlander
was’ (‘Jika saya seorang Belanda) yang merujuk kepada Douwes Dekker dan Indo lainnya;
sedangkan Soetan Casajangan dalam bukunya berjudul ‘Indische Toestanden Gezien
Door Een Inlander’ (Negara Hindia dilihat oleh seorang penduduk pribumi) yang
merujuk pada dirinya yang mewakili pergerakan (mahasiswa) pribumi. Evolusioner
dan revolusioner adalah perbedaan kecepatan tetapi sama-sama menuju tujuan yang
sama. Evolusioner bisa sampai ditujuan sangat lama, tetapi revolusioner bisa
saja macet di tengah jalan (kekuatan angin yang mendorong perahu kalah dengan
gelombang ombak yang menerjang).

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

20.01.2026
Sejarah

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

20.01.2026
Sejarah

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

19.01.2026
Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah jambu bol

18.01.2026
Sejarah

Sejarah Jepang (5): Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Bermula Orang Portugis di Indonesia di Hindia Timur

18.01.2026
Sejarah

Kepulangan Jenderal Mansergh dari Surabaya ke Inggris setelah konflik pasukannya dengan para pejuang menyulut pertempuran Surabaya

17.01.2026
Next Post

Sejarah Pers di Indonesia (12): Klub Studi dan Organ Organisasi Kebangsaan: Majalah Ilmiah di Soerabaja Bandoeng Solo Batavia

Emine Erdogan, First Lady Turki Ini Bicara di Forum Dunia Kenakan Hijab

Masak Gaya Baru dengan Instant Pot Review Electric Multifunctional Cooker

Iklan

Recommended Stories

Doa Rasulullah SAW

01.03.2017
Alamat Lengkap Bank BNI Di Seluruh Yogyakarta

Alamat Lengkap Bank BNI Di Seluruh Yogyakarta

18.05.2017
Prabowo Bersyukur Indonesia Tetap Damai di Tengah Gejolak Dunia

Prabowo Bersyukur Indonesia Tetap Damai di Tengah Gejolak Dunia

05.01.2026

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?