*Untuk melihat semua artikel Sejarah Surakarta/Solo dalam blog ini Klik Disini
Benteng Vastenburg di Soerakarta tempo doeloe,
hingga kini sisanya masih tampak tampak. Suatu benteng kuno yang berasal dari
era VOC. Lokasi benteng ini tidak jauh dari aloon-aloon kota dimana krato
berada. Pada masa ini benteng adalah salah satu penanda navigasi dalam penyelidikan
sejarah.

Benteng
Vastenburg adalah benteng peninggalan Belanda yang terletak di kelurahan Kedung
Lumbu, kecamatan Pasar Kliwon, kota Surakarta. Benteng ini dibangun tahun 1745
atas perintah Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff. Sebagai bagian dari
pengawasan Belanda terhadap penguasa Surakarta, khususnya terhadap keraton
Surakarta, benteng ini dibangun, sekaligus sebagai pusat garnisun. Di
seberangnya terletak kediaman gubernur Belanda (sekarang kantor Balai Kota
Surakarta) di kawasan Gladak. Benteng ini terletak di timur laut keraton
Surakarta. Bentuk tembok benteng berupa bujur sangkar yang ujung-ujungnya terdapat
penonjolan ruang yang disebut selekoh (bastion). Terdapat dua pintu masuk ke
dalam benteng: pintu barat (pintu utama) dan pintu timur. Di sekeliling tembok
benteng terdapat parit yang berfungsi sebagai perlindungan dengan jembatan di
pintu depan dan belakang. Bangunan terdiri dari beberapa barak yang terpisah
dengan fungsi masing-masing dalam militer. Di tengahnya terdapat lahan terbuka
untuk persiapan pasukan atau apel bendera. Namun bangunan di dalam benteng
telah diratakan dengan tanah, kini yang tersisa tinggal tembok benteng. Sumber
Belanda menyebutkan benteng ini dibangun pada tahun 1755-1779 dan pernah
diperbaiki tahun 1832 (Bleeker, 1850, I: 403), tetapi sumber Inggris
menyebutkan bahwa benteng ini didirikan oleh Frans Haak tahun 1746 dan selesai
tahun 1765 (Campbell, 1815, I: 511). Dua versi ini disebabkan karena catatan
awal menamakan benteng tersebut Grootmoedigheid (kemurahan hati). Sumber
Belanda membedakan kedua benteng tersebut, bahwa Grootmoedigheid merupakan
lokasi yang berbeda dengan Vastenburg, sementara sumber Inggris menyamakan
keduanya
(Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah benteng di Surakarta,
era VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda? Seperti disebut di atas, benteng di
Surakarta termasuk salah satu benteng pertama di wilayah pedalaman (biasanya di
kota-kota pantai). Benteng terkenal di Surakarta adalah benteng Vastenburg,
bagaimana riwayat tempo doeloe. Lalu bagaimana sejarah benteng di Surakarta, era
VOC hingga Pemerintah Hindia Belanda? Seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*. Benteng VOC di Kartosuro
1705 (diantara gunung Lawu dan gunung Merapi)
Benteng di Surakarta, Era VOC hingga Pemerintah Hindia
Belanda; Benteng Vastenburg Riwayatnya Tempo Doeloe
Seperti dikutip di atas, benteng Surakarta dibangun tahun 1745 atas
perintah Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff, sebagai bagian dari pengawasan Belanda terhadap
penguasa Surakarta, khususnya terhadap keraton Surakarta. Benteng ini dibangun sekaligus
sebagai pusat garnisun. Sementara di
seberangnya terletak kediaman gubernur Belanda (sekarang kantor Balai Kota
Surakarta) di kawasan Gladak. Akan tetapi tampaknya berbeda dengan situasi dan kondisi sebenarnya,
benteng sudah eksis jauh sebelumnya.

Berdasarkan Peta 1705 yang dibuat oleh Majoor Herman de Wilde,
diidentifikasi keberadaan benteng (fort) VOC tepat berada di sebelah utara
kraton Soerakarta yang dibatasi oleh jalan utama. Jalan ini sudah diidentifikasi
pada Peta 1696. Kraton Soerakarta ini adalah
kraton baru yang sebelumnya berada di Kartasoera. Sehubungan dengan relokasi
itu, benteng VOC juga dibangun. Area kraton/benteng ini dibangun tidak jauh
dari kampong Semanggi (kampong yang berada di sisi utara sungai Bengawan, yang
menjadi pelabuhan dan juga tempat penyeberangan sungai ke sisi selatan sungai.
Bagaimana posisi GPS kraton/benteng ditetapkan tidak diketahui, tetapi secara
teknis posisi benteng di sebelah utara diduga karena pertimbangan VOC sendiri
karena memiliki jalur escape ke utara di benteng utama di Semarang dengan
benteng pembantu di Salatiga. Sementara pada saat itu, lalu lintas perdagangan kerajaan
masih melalui sungai (Bengawan) ke Tuban/Gresik. Dalam Peta 1705 jalan
terhubung ke utara di Semarang dari Soerakarta ke Kartasoera terus ke Salatiga
hingga (benteng) Oengaran dan (kota pelabuhan) Semarang. Tidak tampak dalam peta,
jalur jalan dari Kartasoera ke Jogjakarta. Di tenggara kraton, jalan hanya
sampai ke sisi utara sungai Bengawan (saat itu belum disebut nama sungai/rievier
Solo).
Gambaran benteng sesuai Peta 1705, tidak berubah
dengan situasi dan kondisi selanjutnya (bahkan hingga sekarang). Benteng
Soerakarta adalah benteng terjauh ke pedalaman yang kedua di wilayah pedalaman,
setelah tahun 1687 dibangun Fort Padjadjaran di hulu sungai Tjiliwong (kini
tepat berada di Istana Bogor). Sementara itu sebelum benteng Semarang dibangun,
benteng VOC berada di Tegal (Fort Missier) dan di Jepara. Dalam hal ini benteng
Semarang adalah pengganti benteng Jepara. Bentenh Soerabaja sendiri di hilir
sungai Bengawan baru dibangun pada tahun 1708.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Benteng Vastenburg Tempo Doeloe Riwayat: Apa
Keutamaannya?
Dalam Perang Jawa (1825-1830) peran benteng Soerakarta
sangat penting. Di benteng ini menjadi pusat perbekalan yang utama yang
didatangkan dari Batavia melalui pelabuhan Semarang. Benteng dan rumah Resident
Soerakarta menjadi pusat administrasi Pemerintah Hindia Belanda yang dibantu
dengan rumah Residen Jogjakarta (HG Nahuijst yang juga mantan dan residen
pertama Soerakarta).

Komandan perang Pemerintah Hindia Belanda selama Perang Jawa adalah Kolonel
Cochius, dimana markasnya berada di belakang rumah/kantor residen Jogjakarta.
Benteng Jogjakarta yang sekarang (Fort Vredeburg) baru dibangun setelah usai
perang. Benteng lama (sebelum perang) berada di sekitar Tugu. Markas Cochius
dibangun selama perang, yang nota bene juga untuk mengamankan property Pemerintah
Hindia Belanda dimana HG Nahuijs berkantor. Setelah perang, benteng baru
dibangun tepat berada di seberang jalan kantor Residen Jogjakarta (kini benteng
Vredeburg).
Dalam perkembangannya benteng Soerakarta tetap dipertahankan.
Meski orang-orang Eropa/Belanda sudah cukup banyak dan menyebar di wilayah kota
Soerakarta, benteng Soerakarta dipertahankan dan terus ditingkatkan karena
fungsinya sebagai pertahanan (khususnya bagi orang Eropa/Belanda). Pada tahun 1860
benteng Soerakarta adalah salah satu benteng yang setara dengan benteng di
Jogjakarta dan juga di Bojolali, Klaten dan Oengaran (lihat Java-bode: nieuws,
handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 19-12-1860). Benteng utama
Pemerintah Hindia Belanda di Jawa bagian tengah telah dipindahkan dari Semarang
ke Ambarawal (Fort Willem I).

Benteng-benteng sejak era VOC sudah banyak yang dilikuidasi tetapi banyak
pula benteng baru yang dibangun di wilayah baru. Benteng-benteng lama sejak era
VOC antara lain benteng Amsterdam di Makassar, benteng Antjol, benteng Nordwijk
(dengan nama baru Fort Prins Frederik, benteng Semarang (nama baru Prins van
Orange), benteng Banjoewangi (Fort Utrecht) dan benteng Soemenep. Pada masa ini
ada terdapat beberapa jenis benteng, yakni fort, redoute dan blokhuis.
Perbedaan lebih pada skala dan jenis bangunan serta fungsi-fungsi di dalamnya.
Di Magelang jenisnya adalah redouter. Sementara di Kediri dan Madioen jenis
blokhuis. Di samping itu, selain jenis benteng, juga untuk fungsi pertahanan
dibangun beberapa jenis fungsi pertahanan seperti betterij, depensief militair
establishman dan depensief kampement (semacam markas/garnisun). Status fungsi
pertahanan kelas satu hanya dua buah yakni Fort Willem I (Ambarawa) dan Fort
Soerabaja. Benteng Soerakarta adalah fungsi pertahanan kelas-4. Di luar Jawa hanya
satu status yakni fungsi pertahan kelas ketiga.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Benteng Vastenburg Tempo Doeloe Riwayat: Apa
Keutamaannya?
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur. Saya sendiri bukan sejarawan
(ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami
ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah
catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



