*Untuk melihat semua artikel Sejarah Madura dalam blog ini Klik Disini
Raden Ario Soerjowinoto bukan orang biasa. Raden
Ario Soerjowinoto memiliki gelar tinggi di Madura, Raden Adipati Ario
Tjakraningrat. Namun bagaimana perjalanan sejarahnya kurang terinformasikan.
Mengapa? Apakah tidak ada yang tertarik menulisnya? Okelah itu satu hal. Dalam
hal ini mari kita telusuri riwayat Raden Ario Soerjowinoto..

Cakraningrat
(dulu Tjakraningrat) adalah nama gelar bangsawan di pulau Madura, yang
disandang oleh satu garis keluarga pangeran, sultan, dan regent pada masa Pemerintah
Hindia Belanda sejak tahun 1678. Garis tersebut dimulai dengan diangkatnya
seorang pangeran Madura oleh Sultan Agung untuk memerintah keseluruhan pulau
atas nama Mataram, berkedudukan di Sampang. Di awal abad ke-19, Daendels,
kemudian Raffles, “menganak emaskan” wangsa Cakraningrat dengan
memberi mereka gelar “Sultan”, serta nama wangsa mendapat sisipan
kata ‘adi’ (artinya unggul, besar) menjadi Cakraadiningrat. Namun, di paruh
kedua abad ke-19, Belanda tidak memberi gelar tersebut lagi. Anggota keluarga
Cakraningrat yang paling terkenal adalah: Adipati Cakraningrat I (bertahta
1624-1647); Vassal Mataram; Panembahan Cakraningrat II (bertahta 1647-1707); Panembahan
Cakraningrat III (bertahta 1707-1718); Panembahan Cakraningrat IV (bertahta
1718-1746); Panembahan Cakraadiningrat V (bertahta 1745-1770); Panembahan
Cakraadiningrat VI (bertahta 1770-1779); Sultan Cakraadiningrat I (atau Sultan
Tjakraadiningrat I, bertahta 1780-1815); Sultan Cakraadiningrat II (atau Sultan
Tjakraadiningrat II, bertahta 1815-1847); Panembahan Cakraadiningrat VII
(bertahta 1847-1862); Panembahan Cakraadiningrat VIII (bertahta 1862-1882).
Kemudian Kerajaan dibubarkan. Selanjutnya, Sampang dan Bangkalan dipisah
masing-masing menjadi afdeeling tersendiri (Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Raden Ario
Soerjowinoto gelar Raden Adipati Ario Tjakraningrat? Seperti disebutkan di
atas, meski sangat dikenal dan terkenal, narasi sejarahnya kurang
terinformasikan. Raden Ario Soerjowinoto adalah berasal dari dinasti
Tjakraningrat. Lalu bagaimana sejarah
Raden Ario Soerjowinoto gelar Raden Adipati Ario Tjakraningrat? Seperti kata
ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Raden Ario Soerjowinoto Gelar Raden Adipati Ario
Tjakraningrat; Dinasti Tjakraningrat hingga Negara Madura
Raden Adipati Ario (RAA) adalah gelar tertinggi bagi
para pejabat local dalam struktur Pemerintah Hindia Belanda. Gelar ini berlaku
di wilayah Jawa-Madura (Banten/Batavia, Pasoendan, Jawa dan Madoera). RAA
Tjakraningrat adalah bupati (afdeeling) Bangkalan. Sebelum mendapatkan gelar
Adipati, RA Tjakraningrat menggantikan bupati Bangkalan Raden Ario Soerionegoro.
Raden Ario Soerionegoro tampaknya ada masalah.

De locomotief, 18-10-1918: ‘Diberhentikan: Efektif tanggal 2 September. 1918, dengan hormat
diberhentikan sebagai Bupati Bangkalan (Madoera), Raden Adipati
Ario Soerio Negoro’. De locomotief, 26-10-1918: ‘Volksraad. Tjokroaminoto akan membahas
isu-isu berikut di Volksraad: pembuat garam di Madoera, kasus Bantool,
kekurangan pangan yang akan datang dan pemecatan bupati di Bangkalan’. De
nieuwe vorstenlanden, 16-11-1918: ‘Buitenzorg. Diangkat bupati di Afdeeling
Bangkalan, bupati di afdeeling Sampang Raden Toemenggoeng Ario Soeriowinoto’.
Kasus mantan bupati Bangkalan Raden Ario Soerionegoro
terus bergulir. Ada yang pro dan ada yang kontra. Tentu saja Sarikat Islam
memiliki kepentingan dalam masalah tersebut. Tentu saja pemberhentian Soerio Negoro tidak ada kaitannya dengan Soeriowinoto.
Bagaimana dengan penduduk Bangkalan sendiri? Tampaknya tidak ada masalah. Yang
bermasalah berada di atas. Toh juga Soeriowinoto adalah adik dari Soerionegoro.

Raden Arjo Soerjowinoto, lahir di Bangkalan pada tanggal 9 November 1886.
Raden Arjo Soerjowinoto anak kedua dari Pangeran Bupati Tjakradiningrat, yang
setelah dihapuskannya wilayah pemerintahan sendiri Madoera. Raden Arjo
Soerjowinoto menyelesaikan pendidikannya di sekolah OSVIA di Probolinggo. Pada
tahun 1906 ia ditempatkan sebagai pegawai di onderdistrict di Djaddih (afdeeling
Bangkalan), dengan surat keputusan residen Madura, tanggal 28 Maret 1906. Jabatan
ini tidak diinginkannya tetapi lebih memilih untuk menjadi seorang perwira, dengan
mengikuti pendidikan di Akademi Militer perwira pribumi, yang didirikan pada
tahun 1905 di Meester-Cornelis. Sempat kecewa karena keinginannya tidak
diizinkan dan harus puas kemudian melanjutkan pekerjaan urusan administrasi. Berdasarkan
keputusan Residen Madura tanggal 16 Februari 1907 No.18 diangkat menjadi schrijver
(juru tulis) di kantor Asisten Residen di Bangkalan. Pada tahun yang sama ia
menikah dengan Raden Ajoe Saleha, putri dari bupati Sampang, Raden Adipati Ario
Satjaadiningrat, dan cucu dari putra mahkota Madoera, Pangeran Adipati
Pakoeningrat, yang meninggal pada tahun 1879. Dengan keputusan Residen Madura tanggal
10 Februari 1909 No 57 diangkat menjadi mantri polisi di Ketapang dan Sampang,
menyusul keputusan residen tersebut menjelang akhir tahun yang sama. 5 Oktober
1909 No.505 pengangkatannya sebagai asisten wedono di onderdistrict Kamal. Disini
dia membedakan dirinya dengan sarana yang terbatas pada saat itu, yaitu. polisi
lapangan belum menyelesaiakn kasus pembunuhan, pembantaian, pembajakan,
pencurian ternak, dan perampokan yang sering terjadi, seringkali dengan
mempertaruhkan nyawanya sendiri. Dengan keputusan pemerintah tanggal 29 Maret
1912 No 10 diangkat menjadi districthoofd Pagantenan (regentschap Pamekasan).
Setelah menjabat districthoofd selama dua setengah tahun, Raden Arjo
Soerjowinoto dilantik berdasarkan surat keputusan 13 Oktober 1913 No 1, pada
usia 27 tahun, setelah ayah mertuanya pensiun, Raden Adipati Ario
Satjaadiningrat, diangkat menjadi bupati Sampang dengan gelar Raden Toemenggoeng
Arjo Soerjowinoto. Dia segera mulai membuat perubahan pada sistem administrasi
yang sudah ketinggalan zaman di yurisdiksinya. Yakin bahwa kesejahteraan rakyat
hanya dapat dilayani secara intensif dengan memberantas buta huruf di kalangan
penduduk, ia lalu mempromosikan pendidikan kerakyatan sebagai tugas utamanya. Saat
mana pada tahun 1918 abangnya, Raden’ Adipati Arjo Soerjoregoro, mengundurkan
diri sebagai bupati kedua Bangkalan dan pensiun dari pengabdian negara, Raden
Toemenggoeng Arjo Soerjowinoto menggantikannya sebagai bupati ketiga di
kediaman leluhurnya saat itu. Penduduk Bangkalan sangat senang dengan pilihan
bupati ini, karena menyerahkan pemerintahan Bangkalan di tangan seorang yang
tepat dari keluarga garis keturunan Tjakraningrat.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Dinasti Tjakraningrat hingga Negara Madura: Raden Ario
Soerjowinoto Seorang Terpelajar yang Promosikan Pendidikan Penduduk
Raden Ario Soerjowinoto adalah pemimpin local (bupati)
dari (wilayah) Madoera yang memiliki perilaku yang ideal dan memiliki
kapasitas. Meski pendidikannya hanya setingkat OSVIA, tetapi cita-citanya yang
ingin menjadi perwira militer namun tidak terwujud, tidak mengubah fakta bahwa Raden
Ario Soerjowinoto sangat piawai dalam pemerintahan. Misinya sebagai jabatan bupati
pertamakali (di Sampang) yang mempromosikan Pendidikan untuk penduduk, tidak
hanya dalam program pemerintah, tetapi juga diwujudkan dalam keluarganya. Seperti
kita lihat nanti salah satu putranya berhasil menjadi sarjana hukum. Semua
karyanya di dalam pemerintahan pada akhirnya membawa dirinya menjadi anggota
Volksraad di Batavia pada tahun 1931 dimana di Volksraad Raden Ario
Soerjowinoto bertemu dengan Mangaradja Soeangkoepon.
Raden
Ario Soerjowinoto yang terbilang tidak pernah keluar dari (pulau) Madura dalam
arti yang lebih luas, kecuali saat mengikuti pendidikan OSVIA di Probolinggo
ketika masih remaja, di Batavia Raden Ario Soerjowinoto harus bertemu dan mulai
bergaul dengan banyak (suku) bangsa. Boleh jadi Raden Ario Soerjowinoto sangat
respek terhadap Mangaradja Soeangkoepon, anggota Volksraad yang sangat vocal di
Pedjambon, yang berasal dari wilayah pemilihan (dapil) province Oostkust van
Sumatra. Mengapa? Adiknya Dr Abdoel Rasjid Siregar adalah juga anggota
Volksraad yang baru terpilih dari dapil Residentie Tapanoeli (lulusan STOVIA
dan pendiri Bataksche Bond di Batavia pada tahun 1919). Managaradja
Soeangkoepon dan Dr Abdoel Rasjid sama-sama kelahiran Padang Sidempoean. Pada tahun
1931 di Padjambon juga ada anggota Volksraad kelahiran Padang Sidempoean, Mr Todoeng
Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia dari dapil Batavia yang mewakili golongan pendidikan.
Mr Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia lulusan Leiden 1918 yang
menjadi direktur HIS di berbagai tempat sebelum menjadi anggota Komisi
Pendidikan HIS di Batavia. Mangaradja Soeangkoepon sendiri menjadi anggota
Volksraad untuk periode kedua, pertama terpilih tahun 1927. Sebelum menjadi anggota Volksraad Mangaradja
Soeangkoepon sudah lama menjadi pejabat pemerintah darerah di berbagai daerah
dengan pangkat terakhir Ontvanger. Mangaradja Soeangkoepon berangkat studi ke
Belanda tahun 1910 dan Kembali ke tanah air tahun 1914.
Raden Ario Soerjowinoto respek kepada Mangaradja
Soeangkoepon. Mengapa? Boleh jadi Raden Ario Soerjowinoto sudah mendengar kiprah
Mangaradja Soeangkoepon sejak awal. Seperti disebut di atas, pada tahun 1912 Raden
Ario Soerjowinoto diangkat menjadi districthoofd Pagantenan du wilayah regentschap
Pamekasan (berdasarkan keputusan pemerintah tanggal 29 Maret 1912 No 10). Pada bulan ini nun jauh di belanda, Abdul
Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon menjadi terkenal karena namanya
diberitakan di koran-koran yang terbit sekitar Maret 1912. Apa pasal? Dua
imigran dari Madura terlibat perkelahian dengan sesama imigran dari Jawa (Oost
Java), korban akhirnya meninggal dunia akibat tusukan. Di pengadilan Amsterdam
terdakwa disidangkan dan menghadirkan saksi-saksi. Aparat pengadilan bingung,
karena para imigran (terdakwa dan saksi-saksi) tidak bisa berbahasa Belanda.
Untuk mencari penerjemah sekaligus untuk pemandu sumpah (secara Islam) ternyata
tidak mudah. Dari sejumlah mahasiswa yang ada hanya Abdul Firman yang bersedia
dan sukarela (tanpa paksaan).
Dari
namanya memang pantas tetapi ternyata juga Abdul Firman adalah orang yang alim.
Karenanya masyarakat Belanda menganggap Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja
Soangkoepon adalah pemimpin (imam) Islam dari para imigran dari Hindia di
Belanda. Abdul Firman tidak keberatan. Di dalam pengadian tersebut Abdul Firman
membela terdakwa untuk mengurangi tuntutan djaksa. Sebelum kembali ke tanah air
tahun 1914, Mangaradja Soangkoepon bersama Radjioen Harahap gelar Soetan
Casajangan (pendiri Indische Vereeniging di Belanda tahun 1908) membentuk
Studiefond tahun 1913 untuk mengumpulkan dan mengelola dana pendidikan bagi
pribumi yang akan berangkat studi ke Belanda tetapi kesulitan keuangan di
Belanda (setelah kembali ke tanah air Soetan Casajangan dan Managaradja
Soangkoepon dana pendidikan itu diserahkan ke Indische Vereeniging untuk
dikelola dengan baik). Dalam hal inilah, tampaknya ada kesamaan perilaku antara
Raden Ario Soerjowinoto dan Mangaradja Soangkoepon yang sama-sama peduli pada pendidikan.
Seperti disebut di atas, Raden Ario Soerjowinoto saat mulai menjabat sebagai bupati
di Sampang tahun 1913 dengan sadar memulai mempromosikan pendidikan pendudukn
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



