*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bengkulu dalam blog ini Klik Disini
Perang kemerdekaan adalah perang
mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia
17 Agustus 1945. Pada permulaan Perang Kemerdekaan ini Mr Hazairin menjadi
warga Padang Sidempoean. Residentie Tapanoeli dan Mr Gele Haroen Nasoetion warga
Tandjoeng Karang, Residentie Lampoeng. Keduanya yang memimpin perang di Bengkoeloe
dan di Lampoeng bertemua di Liwa, Residentie Bengkoelen (kini Liwa masuk
provinsi Lampaung).

Hazairin
lulus Sekolah Tinggi Hukum (Recht Hoge School) di Batavia 1936, dengan gelar
doktor. Hazairin mulai bekerja sebagai kepala Pengadilan Negeri (Landraad) Padang
Sidempuan (1938-1945). Selama menjabat, Hazairin juga melakukan penelitian
terhadap hukum adat Tapanuli Selatan. Di Padang Sidmepoean, Hazairin diberi
gelar adat “Pangeran Alamsyah Harahap.” Pada April 1946, Hazairin diangkat
sebagai Residen Bengkulu, merangkap Wakil Gubernur Militer Sumatra Selatan. Gele
Harun belajar hukum di sekolah hakim tinggi di Leiden, Belanda. Setelah lulus kembali
ke tanah air dengan gelar Mr (meester in de rechten) lalu membuka kantor
advokat pertama di Lampung. Pada tahun 1945, ia memulai perjuangan dari
Angkatan Pemuda Indonesia (API) sebagai ketua. Lalu Gele ditugaskan menjadi
hakim di Mahkamah Militer Palembang tahun 1947 dengan pangkat letnan kolonel
(tituler). Pada 5 Januari 1949, Gele Harun diangkat sebagai acting Residen
Lampung (kepala pemerintahan darurat). Pada 18 Januari 1949, Gele Harun memindahkan
keresidenan dari Pringsewu ke Talangpadang seiring Belanda memasuki kawasan
Pringsewu. Lalu Gele Harun kembali memindahkan pemerintahan ke pegunungan Bukit
Barisan di Desa Pulau Panggung, dan terakhir hingga Liwa (kini Lampung Barat). Di
Waytenong, putrinya, Herlinawati, usia delapan bulan meninggal dimakamkan di
sebuah desa di tengah hutan. Gele Harun dan pasukannya keluar dari hutan
Waytenong setelah gencatan senjata antara Indonesia-Belanda 15 Agustus 1949 dan
kembali ke Tanjungkarang setelah penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1947. Di
Tanjungkarang, Gele diangkat menjadi Ketua Pengadilan Negeri pada 1 Januari
1950 dan diangkat kembali menjadi Residen Lampung “definitif” tanggal
1 Januari 1950 (hingga 7 Oktober 1955). Gele Haroen meninggal 4 April 1973. usia
62 tahun, dimakamkan di TPU Kebonjahe, Enggal, Kota Bandar Lampung (Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah perang kemerdekaan di wilayah
Bengkulu? Seperti disebut di atas ada dua tokoh yang dikenal luas pada era perang
kemerdekaan di wilayah Lampung yakni Mr Hazairin di Bengkoeloe dan Mr Gele
Haroen Nasoetion di Lampoeng. Pada saat itu wilayah Kroei masih menjadi bagian
wilayah keresidenan Lampung. Lalu bagaimana sejarah perang kemerdekaan di wilayah
Bengkulu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Perang Kemerdekaan di Wilayah Bengkulu; Mr Hazairin di
Bengkoeloe dan Mr Gele Haroen Nasoetion di Lampoeng
Perang kemerdekaan adalah perang selepas proklamasi
kemerdekaan Indonesiua (17 Agustus 1945) untuk mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. Namun sebelum terjadi perang, banyak hal yang terjadi di berbagai tempat.
Oleh karena itu, bagaimana situasi dan kondisi di wilayah Bengkoeloe dalam fase
perang kemerdekaan ini mau-tak-mau harus memperhatikan kejadian yang tengah
berlangsung di tempat lain. Seperti kita lihat nanti, perang kemerdekaan
sendiri kali pertama terjadi di Djakarta/Batavia. Mengapa?
Selama pendudukan Jepang di Indonesia (sejak Maret 1942), sesungguhnya
perang antara pihak Jepang dan Sekutu tertus berlangsung, terutama di Kawasan Pasifik
yang bersinggungan dengan sisi timur Indonesia (baca: Hindia Belanda). Dalam
hal ini kekuatan Eropa (baca: Sekutu) adalah Amerika Serikat di pantai barat,
Inggris yang masih kuat di India dan posisi Australia yang diperkuat Inggris
dimana juga orang-orang Belanda banyak yang mengungsi ke Australia pada awal
pendudukan Jepang di Indonesia. Armada Amerika berhasil menghalau pasukan Inggris
di pulau-pulau Pasifik selatan (kepulauan Solomon) dimana kekuatan Jepang berada
di Rabaul (Papua Nugini). Akhirnya armada Amerika bisa mulai membangun kekuatan
di Eitape,
Papua Nuguni pada tahun 1943. Sebagian kapal-kapal Amerika bergabung dengan
kuatan Australia untuk melakukan perlawanan di sisi selatan Jawa hingga ke
selatan Papua. Dari Aitipe, armada Amerika berhasil merebut (pulau) Morotai di
Maluku Utara. Dalam perkembangan terakhir, detik-detik menjelang Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia, armada Amerika Serikat telah mencapai utara Sulawesi dan timur Laut
Kalimantan (lihat De Nieuwsbode: dagblad voor het bezette Nederlandse gebied, 16-04-1945).
Disebutkan, berita yang sampai kepada kita dari Timur Jauh sangat memuaskan.
Kabar terakhir yang menjadi perhatian kita adalah pendudukan beberapa pulau di
kepulauan Sulu yang berjarak 50 km dari pantai utara Kalimantan. Pasukan Sekutu
sekarang menguasai area sepanjang 2000 km. dan dengan demikian semakin
mengancam hubungan Jepang dengan kepulauan kita (baca: Indonesia). Koneksi ini
menentukan posisi Jepang, karena memutuskan dia dari basis hidupnya, bahan
mentah yang dibutuhkan negara untuk melanjutkan perang disuplai di sepanjang jalur
ini. Lalu dalam perkembangan terakhir sangat krusial kota Hirosima dibom Amerika
tanggal 6 Agustus. Masih ada perlawan Jepang terhadap Sekutu di berbagai tempat.
Namun bom berikutanya di Nagasaki tanggal 9 Agustus telah membuat Kerajaan
Jepang mulai putus asa. Pada tanggal 14 Kaisar Jepang mengumumkan takluk kepada
Sekutu yang disiarkan melalui radio, yang mana pada saat pengumuman itu listrik
di seluruh Jawa mati total (sehingga orang Indonesia tidak mengetahui apa yang
terjadi di Tokya). Pasukan Jepang di berbagai tempat termasuk di Indonesia
diperintahkan wait en see. Kapal-kapal yang sandar di Tandjoeng Priok yang
menggunakan listrik sendiri mendengar melalui radio Jepang menyerah. Dari pelabuhan
Tandjoeng Priok ini kabar beredar ke darat hingga para pemuda revolusioner di
Djakarta bereaksi hingga segera mendesak Ir Soekano memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia (dan baru kemudian terlaksanakan tanggal 17 Agustus 1945). Semua ini
menjadi pengetahuan umum diantara orang Eropa/Belanda baik di Belanda maupun di
Australia. Orang Belanda khususnya sangat memperhatikan perkemabangan dari waktu
ke waktu, karena di Indonesia, selama pendudukan Jepang ribuan interniran
Belanda di bawah pengawasan militer Jepang di kamp-kamp interniran.
Sementara di Indonesia, selepas proklamasi
kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia yang baru terbentuk tengah focus pada
konsolidasi dana pembentuk cabang-cabang pemerintahan di Sumatra sebagai satu
provinsi dengan ibu kota di Medan. Tiga anggota PPKI dikirim ke Medan untuk
memulai itu, yakni Mr Mohamad Hasan, Dr Mohamad Amir dan Mr Abdoel Abbas
Siregar. Sementara itu di pihak Belanda yang terus wait en see di Australia
melakukan rencanaa sendiri. Menurut berita dari ANP/Aneta dari Colombo, pasukan
terjun payung Sekutu dari Kepulauan Cocos (di selatan Jawa) telah turun di atas
Batavia untuk membantu tawanan perang (para interniran Eropa/Belanda) yang
dibebaskan. Unit pendukung (yang membawa obat-obatan, makanan dan keperluan
sehari-hari) sudah tiba di Medan, Padang, Palembang dan Benkoelen (lihat Algemeen
Handelsblad, 08-09-1945).
Algemeen
Handelsblad, 15-09-1945: ‘Satu pesawat pembebas yang melakukan perjalanan
pulang pergi sejauh hampir 3.600 mil, menurunkan beberapa tenaga medis, serta
paket Palang Merah dan obat-obatan, dengan parasut di atas Palembang, yang
penduduknya ramai dan melambai dengan antusias. Banyak orang Jepang berseragam
di jalan, kata pilot. Benkoelen juga dikunjungi oleh pesawat pembebas dari
Ceylon tersebut. Sementara itu satu kapal penjelajah Inggris Cumberland sedang
melaju ke Jawa dengan perbekalan untuk para tahanan didalamnya. Radio Delhi
mengatakan: “Dek kapal penjelajah ditumpuk tinggi dengan obat-obatan dan
barang lainnya. Kelompok pendukung sudah siap’.
Pemerintahan yang dibentuk di provinsi (pulau)
Sumatra adalah Mr Mohamad Hasan sebagai Gubernur dan Dr Mohamad Amir sebagai
wakil, Sementara Mr Abdoek Abbas tengah mengkonsolidasikan pembentukan dewan
(konstituante) di seluruh residentie yang dibentuk di Sumatra. Gubernur Sumatra
dibantu dua orang yang berkedudukan di Bukittinggi/Forr de Kock untuk Sumatra
bagian tengah (Dr Mr Masdoelhak Nasoetion) dan di Palembang untuk Sumatra
bagian selatan. Wilayah Sumatra bagian selatan terdiri dari residentie
Palembang, residentie Bengkoelen, residentie Lampoeng dan Residentie Bangka
Belitung.
Setelah terbentuk badan konstituanate di tingkat keresidenan dan ditentukannya
siapa yang yang menjadi residen, baru secara defacto pemerintahan berjalan di tingkat
daerah (residentie). Tugas Mr Abdoel Abbas Siregar yang sudah selesai, lalu Mr
Abdoel Abbas Siregar menjadi pejabat Residen untuk Residentie Lampoeng. Untuk
Residen di residetie Bengkoeloe diangkat Ir Indra Tjahja. Di Residentie
Tapanoeli di Sumatra bagian utara yang menjadi residen adalah Dr FL Tobing
dengan wakilnya Abdoel Hakim Harahap. Pada masa pendudukan Jepang, Abdoel Hakim
Harahap, mantan kepala ekonomi di Indonesia Timur semasa Pemerintah Hindia
Belanda diangkat militer Jepang menjadi ketua dewan konstituante di wilayah Tapanoeli.
Untuk di wilayah kabupaten Tapanuli Selatan, Abdoel Hakim Harahap mengangkat Dr
Mr Hazairin, ketua pengadian (landraad) Padang Sidempoean semasa Pemerintah
Hindia Belanda menjadi ketua dewan di Tapanuli Selatan.
Seiring dengan masuknya Inggris (atas persetujuan RI/Presiden
Soekarno) untuk tujuan melucuti militer Jepang dan pembebasan para interniran
Eropa/Belanda di Indonesia, wilayah Sumatra kemudian dibagi menjadi tiga provinsi
(Sumatra bagian utara, tengah dan selatan). Perlawanan terhadap Inggris mulai
muncul di Batavia, karena fakta bahwa di belakang pasukan Inggris telah berada
Belanda/NICA (yang ingin mengambil alih pemerintahan).
Pada saat kehadiran Sekutu/Inggris berjalan dengan baik. Para Republiken
tidak sedang bermusuhan dengan Sekutu/Inggris, tetapi tidak mengharapkan
kehadiran Belanda/NICA. Disinilah pangkal perkara perang kemerdekaan dimulai.
Ketika pasukan Belanda/NICA yang berada di belakang Sekutu/Inggris coba menguasai
wilayah dan fasilitas tertentu seperti lapangan terbang Tjililitan, para BKR
yang dipimpin Menteri BKR Mr Amir Sjarifoeddin Harahap melakukan perlawanan
terhadap militer/milisi Belanda/NICA seperti perang di lapangan terbang Tjililitan.
Milisi/militer Belanda/NICA lambat laut semakin banyak yang berdatangan dari
Australia, Singapoera dan Thailand. Lalu pada bulan Oktober 1945 Markas BKR di
Bandoeng yang dipimpin oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion) mengumumkan perang melalui
radio Bandoeng yang juga didukung para pemimpin organisasi Islam (seperti
Hisbullah) di Djakarta sekitar. Komandan perang Hizbllah di Djakarta adalah Zainoel
Arifin Pohan. Beberapa waktu kemudian perang terhadap Inggris juga mulai panas
dingin. Ini bermula ketika pesawat Inggris yang berangkat dari Djakarta untuk
tujuan Semarang dan Soerabaja terjatuh di Tjakoeng Bekasi (timur Djakarta). Berita
itu segera ditanggapi oleh komandan laut di Tjilinting Major Madnuin Hasibuan.
Pasukan Madnuin menangkap semua militer dan crew pesawat (yang dikira
Belanda/NICA) dan mengevakuasinya ke penjara Bekasi. Tampaknya berita itu lebih
awal diketahui Inggris di Djakarta lalu meminta secara diplomatic kepada
Menteri BKR Mr Amir Sjarifoeddin Harahap untuk membebaskan para tawanan Inggris
di Bekasi. Sesampai di Bekasi Mr Amir menemukan semua militer Inggris yang
ditawan telah dibunuh oleh pasukan para revolusioner Indonesia (milisi) Kala
Hitam. Sejak inilah Sekutu/Inggris menaruh dendam, termasuk ke TRI yang kemudian
di sisi lain memberi jalan secara terbukan kepada Belanda/NICA. Puncak ketengangan
Sekutu/Inggris dengan pasukan Indonesia termasuk TRI terjadinya Perang
Soerabaja 10 November 1945. Sementara itu di Lampoeng, Nasionalis ekstremis di
Sumatera, menurut laporan yang diterima di Palembang, membunuh seorang perwira
Inggris, seorang dokter Inggris dan beberapa tentara Inggris lainnya di dekat
Benkoelen ketika mereka membantu tawanan perang dan interniran. Sukarno meminta
intervensi (lihat Nieuwsblad voor de Hoeksche Waard en IJselmonde, 13-11-1945).
Dalam berita ini juga disebutkan sejumlah orang Batak telah mengepung hotel di
Pematangsiantar, seorang dokter Eropa, Dr. Boeres, dan beberapa Eropa
berlindung. Orang Batak ingin memaksa warga meninggalkan hotel. Ketika ditolak,
tembakan dilepaskan dari kedua sisi, setelah itu orang Batak akhirnya membakar
hotel. Sayangnya, dalam pelariannya dari gedung yang terbakar, Dr. Boeres dan
beberapa orang lainnya, yang namanya belum diketahui dibunuh oleh massa Batak.
Satu pasukan tentara Inggris dengan persenjataan berat dikirim kesana untuk
memulihkan ketertiban. Lambat laun orang Belanda/NICA mulai merasa berada di
atas angin (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te
Batavia, 08-12-1945). Disebutkan Dr Van Mook dan kawan-kawan kembali dengan
pesawat ke Batavia kemarin sore dari pembicaraan di Singapura. Dalam berita ini
juga disebutkan bahwa divisi pendaratan fregat angkatan laut Inggris telah
meledakkan sejumlah tempat penyimpanan amunisi Jepang di pantai Benkoelen
akhir-akhir ini. Penduduk dan orang Jepang yang masih ada disana bersikap ramah
dan tidak ada insiden yang terjadi. Sementara itu juga disebutkan pada Kamis
malam pukul sepuluh kurang seperempat, satu divisi pasukan Inggris ditembaki di
sekitar Meester Cornelis. Namun, tidak ada yang terluka. De Tijd:
godsdienstig-staatkundig dagblad, 08-12-1945 melaporkan Mr Amir Sjarifoeddin
Harahap telah berangkat diterbangkan ke Bandoeng untuk mencoba menenangkan
elemen ekstremis.
Pemerintah RI di Medan dalam menghadapi kehadiran
Inggris, posisi Mr Abdoel Abbas Siregar di Lampong dipindah menjadi Resident di
Sumatra Timur. Lalu dalam perkembangannya pemerintah RI di Medan mengungsi ke
Pematang Siantar, sebagaimana Pemerintah RI juga telah mengungsi pada tanggal 1
Januari 1946 dari Djakarta ke Jogjakarta. Dr Mr Masdoelhak Nasoetion ditarik ke
Jogjakarta menjadi penasehat hukum RI (Presiden Soekarno dan Wakil Presiden
Mohamad Hatta).
Di Belanda, saat mana Pemerintah RI masih terus konsolidasi, diantara
perang yang terjadi antara para Republiken dengan militer Sekutu/Inggris dan
pasukan NICA/Belanda, boleh jadi karena sudah merasa di atas angin, tengah
terjadi diskusi yang ramai tentang bagaimana struktur pemerintahan Pemerintah
Hindia Belanda di Indonesia (lihat Amigoe di Curacao: weekblad voor de
Curacaosche eilanden, 16-01-1946). Sementara di pantai barat Sumatra,
konsolidasi pemerintahan terus berlangsung. Dr Mr Hazairin, ketua dewan
Tapanuli Selatan pada tanggal 1 Februari 1946 diangkat menjadi Bupati Tapanuli
Tengah (di Sibolga) untuk menggantikan Soetan Komala Pontas yang dipindahkan ke
wilayah lain ke Kalimantan. Namun tidak lama kemudian pada tanggal 13 April
1946 Hazairin diangkat menjadi Resident Bengkoeloe untuk menggantikan Ir Indra
Tjahja yang diangkat menjadi kepala dinas perekonomian provinsi Sumatra di
Medan.
Setelah 13 April 1946 pemerintahan di Residentie Bengkoeloe
dipimpin oleh Dr Mr Hazairin Harahap. Ir Indra Tjahja telah diagkat sebagai salah
satu direktur di bawah Kementerian Perhubungan RI di wilayahj Sumatra. Tugas
utama Ir Indra Tjahja adalah untuk mengkonsolidasi fungsi perhubungan diantara
moda transportasi jalan raya, moda transportasi pelayaran sungai dan laut yang
meliputi penggunaan jalur rel keretaapi dan pelabuhan-pelabuhan. Sementara
untuk fungsi yang sejenis di bidang lalulintas perhubungan di Jawa yang
beribukota di Djogjakarta diangkat Ir Tarip Abdoellah Harahap sebagai kepala
Djawatan Angkoetan Motor Republik Indonesia (DAMRI). Kinin ama DAMRI masih
eksis.
Situasi dan kondisi era Perang Kemerdekaan di berbagai wilayah di
Indonesia berbeda-beda. Lain di Jawa, lain pula di Sumatra. Demikian juga lain
di Kalimantan, lain juga di Nusa Tenggara, Sulawesi, Maloekoe dan Papoea. Sejauh
ini, di Jawa perang kemerdekaan begitu intens, yang dimulai di Djakarta dan
sekitar kemudian menjadi sangat heboh di Soerabaja. Belum lama terjadi di
wilayah Bandoeng. Di wilayah Sumatra dapat dikatakan ada perbedaan di wilayah
pantai timur Sumatra dan di wilayah pantai barat Sumatra. Di wilayah pantai
barat Sumatra belum intens, tetapi di wilayah pantai timur Sumatra sangat intens
terutama di Sumatra Timur. Di wilayah Nusa Tenggara, seperti Bali, Lombok dan
Timor kehadiran Belanda/NICA lebih tenang, ada kesan penerimaan. Demikian juga
di Sulawesu terutama di wilayah Sulawesi Utara. Meski situasi dan kondisi lebih
tenang di pantai barat Sumatra, lebih aman, namun para revolusioner yang
berasal dari pantai barat Sumatra banyak yang memimpin perang kemerdekaan di
wilayah pantai timur Sumatra, terutama di Sumatra dan bahkan menjadi pemimpin
strategis di Jawa. Sebut saja misalnya Mr Amir Sjarifoeddin Harahap, Menteri Keamanan/Pertahanan,
Kolonerl Abdoel Haris Nasoetion di Jawa Barat dan Kolonel TB Simatoepang di
Jawa Tengah. Tentu saja di dalam pemerintahan seperti Wakil Presiden Mohamad
Hatta dan Perdana Menteri Soetan Sjahrir. Perang kemerdekaan yang sebenarnya di pantai barat Sumatra hanya soal menunggu waktu saja.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Mr Hazairin di Bengkoeloe dan Mr Gele Haroen Nasoetion
di Lampoeng: Bengkulu, Padang Sidempoean dan Lampoeng
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





