*Untuk melihat semua artikel Sejarah Lampung di dalam blog ini Klik Disini
Nama menunjukkan nama. Nama tempat, nama
populasi dan nama-nama lainnya. Tentu saja nama Lampung menjadi penting karena
kini menjadi nama wilayah (provinsi Lampung). Jika Palembang adalah nama tempat
(kota Palembang), lantas apakah di masa lampau nama Lampung juga menunjukkan nama
tempat di zaman kuno atau nama geografis lainnya? Dimanakah nama Lampung itu
bermula? Apakah ada relasi nama Lampung dengan nama gelar Oempoe?
Asal-usul
ulun Lampung (Orang Lampung atau Etnis Lampung) erat kaitannya dengan istilah
Lampung sendiri. Kata Lampung sendiri berasal dari kata “anjak
lambung” yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang
Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di
lereng Gunung Pesagi. Sebagaimana I Tsing yang pernah mengunjungi Sekala Brak
setelah kunjungannya dari Sriwijaya dan dia menyebut To-Langpohwang bagi
penghuni Negeri ini. Dalam bahasa hokkian, dialek yang dipertuturkan oleh I
Tsing To-Langpohwang berarti orang atas dan seperti diketahui Pesagi dan
dataran tinggi Sekala brak adalah puncak tertinggi ditanah Lampung. Prof Hilman
Hadikusuma didalam bukunya (Adat Istiadat Lampung:1983) menyatakan bahwa
generasi awal Ulun Lampung berasal dari Sekala Brak, di kaki Gunung Pesagi,
Lampung Barat. Penduduknya dihuni oleh Buay Tumi yang dipimpin oleh seorang
wanita bernama Ratu Sekerummong. Negeri ini menganut kepercayaan dinamisme,
yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa. Buay Tumi kemudian kemudian dapat
dipengaruhi empat orang pembawa Islam yang berasal dari Pagaruyung, Sumatera
Barat yang datang ke sana. Mereka adalah Umpu Bejalan
diWay, Umpu Nyerupa, Umpu Pernong dan Umpu Belunguh. Keempat Umpu inilah
yang merupakan cikal bakal Paksi Pak Sekala Brak sebagaimana diungkap naskah
kuno Kuntara Raja Niti (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah nama Lampung, Dampin
dan Tulang Bawang? Seperti disebut di atas, nama Lampung adalah nama tua. Sudah
barang tentu lebih tua dari nama Damping dan nama Toelang Bawang. Dalam narasi
sejarah Lampung ada tokoh masa lampau yang diidentifikasi dengan gelar Ompoe,
yakni Umpu Bejalan Di Way Umpu Nyerupa Umpu Pernong Umpu Belungu. Lalu bagaimana
sejarah nama Lampung, Dampin dan Tulang Bawang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*. Peta (era) Portugis
Nama Lampung, Dampin dan Tulang Bawang; Umpu Bejalan
Di Way Umpu Nyerupa Umpu Pernong Umpu Belungu
Kapan nama Lampung dicatat, tidak diketahui secara
pasti. Yang jelas nama Lampoeng sudah diidentifikasi dalam peta-peta Portugis.
Selain nama Lampoeng juga diidentifikasi nama Dampin. Dalam peta Portugis
tersebut, nama Lampoeng berada di pedalaman dan nama Dampin berada disekitar pesisir
pantai selatan Lampung yang sekarang di Selat Soenda.
Dalam catatan orang Eropa, wilayah Lampoeng sudah dikunjungi oleh pedagang-pedagang
Arab dan Persia pada abad ke-11. Informasi tersebut menambah pengetahuai di
Eropa bahwa ada selat yang memisahkan pulau Sumatra dengan pulau Jawa. Oleh
karena selat yang sempit ini kerap kapal-kapal asing dirampok oleh para bajak
sehingga dalam sejarah navigasi pelayaran Eropa dianggap rute berbahaya dan kemudian
kurang terinformasikan. Baru pada abad ke-16 selat ini, yang kemudian disebut Selat
Soenda, pelaut-pelaut Portugis mengunjunginya. Berita ini tampaknya sampai
kepada Radja Spanyol sehingga sang raja mengirim ucapan selamat kepada Radja
Portugis atas keberhasilan ini. Sebagaimana diketahui pelaut-pelaut Spanyol
sudah mencapai Hindia Timur, tidak lama setelah pelaut-pelaut Portugis
menduduki Malaka, hingga di Filipina melalui selat sempit di selatan Amerika
hingga berhasil mengarungi Lautan Fasifik sebelum mencapai pulau Zebu di
Filipina.
Nama selat diberikan oleh para pelaut-pelaut
Portugis dengan nama Selat Soenda. Nama Soenda yang dicatat pelaut-pelaut
Portugis sebagai Zunda adalah nama sebuah pulau di selat, yakni nama pendahulu
dari pulau Sangiang. Besar dugaan nama Zunda (Sonda atau Soenda) kelak menjadi
nama yang didintifikikasi untuk populasi penduduk yang berada di wilayah Jawa
bagian barat (kini Jawa Barat). Dalam hal ini, nama Zunda, Lampong dan Damping
sudah dikenal di kawasan yang diduga sudah eksis sejak lama.

Dalam teks Negarakertgama (1365 M) di wilayah Sumatra bagian selatan,
hanya nama Palembang dan Lampong yang diidentifikasi. Tidak ada nama tempat di
wilayah selatan Sumatra yang diidentifikasi sebagai nama tempat yang merupakan
pelabuhan perdagangan atau nama kerajaan selain kedua nama tersebut. Nama-nama
yang banyak diidentifikasi berada di Sumatra bagian utara seperti Jambi, Tebo,
Dharmasraya, Koritang, Kampar, Siak, Rokan, Panai, Lawas, Mandailing serta Minangcabao
dan Baroes. Di kepulauan Bangka dan Belitung juga tidak ada nama yang
diidentifikasi. Nama Lampong sebagai satu-satunya di wilayah selat antara Sumatra
dan Jawa, besar dugaan nama Dampin belum ada, atau mungkin sudah ada namun nama
Lampong lebih penting dari nama Dampin.
Pada saat kehadiran pelaut-pelaut Belanda di Hindia
Timur, yang dipimpin Cornelis de Houtman, nama (kampong) Dampin adalah salah
satu kampong yang disinggahi. Ini dijelaskan dalam peta legendaris Belanda
dimana para pelaut Belanda tiba di desa tersebut pada tanggal 22 Juni 1596 (sebelum
menuju ke pelabuhan Banten). Dalam peta legendaris tersebut ditulis sebagai
berikut:

“Inilah gambaran salah satu penguasa Sumatera, Kampong Dampin, menjadi
interaksi kami (memasuki) di Selat Sunda, tempat kami pada tanggal 12 Juni
adalah negeri yang menyambut kami dengan baik, dengan memberikan buah-buahan.
Di sini kami mendapatlan lada, dan pemimpinnya terlihat sangat sopan yang
didampingi oleh para pengawalnya, dan juga wanita yang melayaninya. Mereka
memberi tahu kami banyak tentang Banten, dan kami tidak menegeluarkan apapun
darinya”.
Nama Dampin dalam hal ini menjadi penting bagi orang
Belanda, karena pemukiman pertama yang mereka temukan. Memang Cornelis de Houtman
menemukan/melihat pertama pulau Enggano (tanggal 6 Juni), tetapi tidak memasuki
daratan (karena itu tidak diketahui pada saat itu apakah pulau berpenghuni).
Namun di wilayah Lampong, paling tidak di kampong Dampin, terdapat populasi
penduduk. Oleh karenanya nama Damping menjadi legenda dalam navigasi pelayaran
Belanda ke Hindia Timur. Sementara itu, dengan mengacu pada peta-peta Portugis
dan Belanda/VOC, nama Lampong adalah nama wilayah, dan Dampin sendiri, dalam
hal ini, adalah sebuah nama kampong (di wilayah Lampong).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Lampung dan Tulang Bawang: Lampong, Toelang Bawang
Banten dan Wilayah Perdagangan Pemerintah VOC/Belanda.
Pada era VOC/Belanda, wilayah Lampong menjadi
salah satu bagian penting dari perdagangan VOC. Di Lampong, untuk kali pertama
ditempatkan seorang residen, Residen Lampong Toelang bernama JG Hadenpyl (lihat
Middelburgsche courant, 12-01-1769). Ini mengindikasikan bahwa Lampong menjadi
wilayah administrasi VOC setelah sebelum itu sudah ditempatkan sejumlah residen
seperti di kota-kota pelabuhan di pantai barat Sumatra seperti Padang, Tikoe
dan Indrapoera serta di pantai timur Sumatra di Palembang. Wilayah Lampong
sendiri sudah dikenal VOC sejak lama sebagaimana dicatat dalam catatan Kasteel
Batavia (Daghregister).
Orang-orang
Lampong sudah ada yang berdagang ke (Pelabuhan) Banten (lihat Daghregister
1661). Pieter Alvis tiba di Banten setelah pelayaran terakhirnya ke teluk
Lampong untuk mendapatkan lada dan dari Sillebaer, Lampon dan Toelongbauwang
sekitar 20 kapal penduduk sarat dengan lada tiba di Banten dan penuh dengan anyaman,
padi, kayu, dll (lihat Daghregister 1670). Tiga gajah dari Moet Jappa, Lampon
diterima seharga 1200 gulden (lihat Daghregister 1672). Di Palimbang, Jacob
Pietersen dari Rotterdam bertemu dengan orang Jawa menjual orang di Lampon
(lihat Daghregister 1673). Kiai Aria Monja dan Pangeran Loor oleh anak Sultan
(Banten) dilarang ke Lampon (lihat Daghregister 1580). Orang Banten yang
dibuang ke Lampong menjadi sangat miskin (lihat Daghregister 1580). Orang Lampon
meminta bantuan terhadap perampokan orang Makasar di bawah Dain Mangika (lihat
Daghregister 1580). Dain Mangika dari Lampon kembali ke Palimbang (lihat
Daghregister 1580). Pangeran Loor dan Kiai Aria Monjaja di Lampon terbunuh di
tangan anak laki-laki Sultan (lihat Daghregister 1580). Resolusi yang harus
dilakukan dalam hal duane di Lampon (lihat Daghregister 1582). Berakhirnya
berkibarnya bendera pangeran di negori utama Lampon (lihat Daghregister 1582).
Sebelum kehadiran Pemeirntah VOC di Lampong,
di wilayah Lampong sudah menjadi bagian dari perdagangan para pedagang-pedagang
VOC, yang juga menjadi wilayah kekuasaran (kesultanan) Banten. Selain pedagang
Eropa, seperti Belanda dan Portugis serta Inggris, orang pribumi pendatang yang
diidentifikasi memiliki kaitan dengan Lampong adalah orang Jawa dan seorang
Daeng dari Makassar. Satu yang penting, sejak 1682 Lampong telah jatuh ke
tangan Pemerintah VOC (yang beribukota di Batavia).
Pada
tahun 1680an awal terjadi perselisihan di kraton Banten. Sangan Sultan yang
memiliki hubungan dekat dengan Inggris, mendapat perlawanan dari sang anak yang
telah menjalin hubungan dengan para pejabat VOC di Batavia. Hal itulah diduga
yang menyebabkan wilayah Lampong membuat resolusi antara pejabat VOC dengan
anak sultan Banten dalam hal kepabeanan. Sultan Banten yang telah menyingkir ke
Tanara, atas bantuan VOC di wilayah Tangerang, pangeran Banten (anak sultan)
mendapat kemenangan. Sejak itu pul wilayah VOC yang awalnya sebatas sungai
Tjisadane di barat diperluas kea rah barat hingga batas sungai Tjikande. Salah
satu tokoh penting dalam kemenangan anak sultan ini di wilayah Banten adalah
Major St Martin.
Wilayah ‘kekuasaan’ VOC/Belanda di ujung
selatan pulau Sumatra tidak hanya district Lampong, juga district Toelang
Bawang. Hal itulah mengapa jabatan residen VOC dengan nama Residen Lampng
Toelang Bawang. Wilayah Lampong sudah menjadi pos perdagangan VOC sejak 1742
yang dalam perkembangannya ditingkatkan dengan pengangkatan status residen di
Lampong (Residen Lampong Toelang Bawang).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Umpu Bejalan Di Way Umpu Nyerupa Umpu Pernong Umpu
Belungu: Ompung, Mpu, Oempoe, Opu
Hubungan Batavia dengan Lampong, sejak era VOC
hingga awal pembentukan Pemerintah Hindia Belanda masih intens melalui
perdagangan, terutama dalam perdagangan komoditi lada. Pada tahun tanggal 11 Februari
1811 kapal pedagang Belanda baru tiba di Batavia dari Lampong (lihat Bataviasche
koloniale courant, 15-02-1811). Boleh
jadi ini adalah navigasi pelayaran orang Belanda ke Lampong. Hal ini karena
tidak lama kemudian Inggris menduduki Batavia dan dengan cepat menduduki
seluruh (pulau) Jawa.
Tamat reputasi orang-orang Belanda yang telah begitu digdaya sejak
kehadiran pelaut-pelaut pertama Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman.
Seperti disebut di atas, pelaut Belanda tiba pertama kali di Hindia Timur di
Lampong pada tangga 12 Juni 1596 dimana pemimpin kampong Dampin menyambutnya
dengan baik. Pada saat itu, tampaknya pengaruh Banten sudah ada di Lampong.
Dengan demikian, orang-orang Belanda sudah terhubungan dengan Lampong selama
215 tahun, suatu periode masa yang sangat lama (lebih dari dua abad).
Orang Lampong sendiri adalah salah satu populasi penduduk yang telah
mendiami pulau Sumatra sejak masa lampau. Seperti disebut di atas, nama Lampong
sudah diidentifikasi pada era Portugis. Nama Lampong juga sudah diidentifikasi
pada era Majapahit (teks Negarakertagama 1365). Kapan, nama Lampong dicatat
tidak diketahui secara pasti, Yang jelas sudah diidentifikasi pada tahun 1365.
Oleh karenanya orang Lampong harus diartikan sebagai penduduk asli pulau
Sumatra. Namun pendudukan Inggris tidak berlangsung lama karena pada tahun 1816
dikembalikan kepada Kerajaan Belanda dan Pemerintah Hindia Belanda
terselenggara kembali. Lantas bagaimana pembentukan cabang Pemerintah Hindia
Beland di Lampong?
Willem Marsden dalam bukunya The History of Sumatra yang terbit pertama
tahun 1781 (setelah Inggris menduduki Bengkoelen 1779), buku yang kemudian
diterbitkan ulang pada tahun 1811 (pada saat penddudukan Inggris). Dengan
kembalinya Pemerintah Hindia Belanda berkuasa di Hindia, perhatian orang-orang
Belanda di Belanda semakin intens. Namun masih ada yang tersisa pengaruh
Inggris di Sumatra yakni di Bengkoelen. Persoalan itu kemudian diselesaikan
dengan perjanjian dalam Traktat London pada tahun 1824 dimana dilakukan tukar
guling antara Inggris dan Belanda mengenai Bengkoelen (Inggris) dan Malaka
(Belanda). Sehubungan dengan itu buku Marsden mulai mendapat perhatian bagia
orang Belanda dan dijadikan sebagai referensi tentang penduduk Sumatra
sebagaimana diringkas Groninger courant, 17-12-1824). Dalam buku itu disebut
penduduk Sumatra terbagi lima kelompok populasi besar: 1. Redjang (di wilayah
Bengkoelen), 2. Lampong, 3. Melayu, 4. Batak (diantara wilayah Atjeh dan
Minangcabao), dan 5. Atjeh. Disebutkan kelompok populasi Melayu termasuk
Palembang dan Minangkabau. Sementara kelompok populasi Atjeh merupakan campuran
orang Batak, Melayu dan Moor (kelompok populasi beragama Islam dari Afrika
Utara/Laut Mediterania yang menyebar setelah perang Salib pada abad ke-11).
Pada tahun 1834 Pemerintah Hindia Belanda melakukan
ekspedisi ke wilayah Lampong untuk menaklukkan Raden Imba Koesoema. Pada fase
ini juga di pantai barat Sumatra tengah berlangsung Perang Padri (setelah
Perang Jawa 1825-1830). Para pemimpin di wilayah Angkola Mandailing (Tanah
Batak) ingin mengusir (pengaruh) Padri di wilayahnya.
Kekuatan militer Pemerintah Hindia Belanda semakin kuat, tidak hanya
bertambah drastic selama Perang Jawa, juga pasca Perang Jawa dikerahkan ke
Sumatra, khususnya ke pantai barat Sumatra. Salah satu komandan militer penting
nanti di pantai barat Sumatra adalah Overste AV Michiel yang belum lama ini
pada tahun 1833 melakukan ekspedisi militer ke Djambi. Pangkal perkaranya
adalah pada tahun 1833 Sultan Jambi meminta bantuan Pemerintah Hindia Beland di
Palembang karena di wilayah hilir sungai Batanghari para bajak laut membangun
kekuatan. Bajak laut bisa diusir dan Pemerintah Hindia Belanda mendapat hak
untuk wilayah hilir sungai dengan berencana menetapkan Moeara Kompeh sebagai pusat
Pemerintah Hindia Belanda dengan menempatkan pejabat setingkat gezaghebber
(setingkat Cobtroleur). Namun tidak lama kemudian Sultan Djambi menganeksasi
wilayah Rawas. Untuk mengusir Djambi dari Rawa ekspedisi militer dikerahkan ke Rawas
dibawah komando Overste AV Michiel. Sejak ini wilayah hilir Jambi menjadi masuk
wilayah Residentie Palembang. Kesultanan Palembang sendiri telah dilikuidasi pada
era Pendudukan Inggris dan juga melepaskan Bangka dan Belitung dari wilayah
Palembang. Dalam hal ini ada kaitan satu sama lain perang di wilayah Sumatra (pasca
berakhirnya perang di Jawa).
Mengapa Lampong memberontak yang dipimpin oleh Raden
Imba Koesoema diduga terkait dengan penerapan bea dan cukai di di wilayah
Lampong berdasarkan Resolusi Pemerintah Hindia Belanda No 12 tahun 1828. Seiring
dengan ekskalasi politik dari para pemimpin local di Sumatra, para pemimpin Lampong
juga bergerak. Satu yang pasti pasca ekspedisi ke Lampong (1834) dalam Almanak
1840 di wilayah Lampong struktu pemerintahan Pemerintah Hindia Belanda sudah
lengkap dimana pejabat tertinggi berstatus Civeiel en Militair Gezaghebber di
Tarabangie.
Dalam struktur pemerintah berdasarkan Almanak 1840, selain Gezaghebber,
juga dibantu seorang asisten. Sementara untuk pemerintahan local diangkat Toemenggong
Mohamad bi Ali sebagai bupati (regent) di Telok Betong dan seorang jabatan yang
lebih rendah Mangkoeboemi Joesoef di Manggala dan jabatan yang lebih rendah lagi
di beberapa tempat. Ini mengindikasikan bahwa pemerintahan di Lampong terbilang
sudah lengkap. Besar dugaan cabang Pemerintah Hindia Belanda di Lampong dimulai
segera setelah ekspedisi 1834). Dalam
Almanak 1836 di Lampong sudah ditempatkan seorang Kapiten de Infantri dengan
fungsi Civile en Militair Gezaghebber yang dibantu seorang kommies. Dalam Almanak
1838 jabatan para pemimpin local di Lampong belum ada. Pada tahun 1840 di
district Angkola Mandailing telah dibentuk struktur pemerintah Pemerintah
Hindia Belanda yang dijadikan sebagai satu afdeeling (dimasukkan ke Residentie
Air Bangis). Sebagaimana diketahui sejak 1838 pengaruh Padri di Angkola telah
diusir dalam Perang Portibi di Dalu-Dalu (sekitar Padang Lawa, pusat percandian
di Sumatra).
Dalam perkembangannya, kembali muncul pemberontakan
di Lampong yang dilancarkan oleh Raden Intan, yang notabene adalah anak dari Raden
Imba Koesoema. Satu ekspedisi militer tahun 1856 dikerahkan Pemerintah Hindia
Belanda dari Batavia ke Lampong. Pasca ekspedisi ini kemudian status wilayah
Lampong ditingkatan menjadi satu afdeeling (Residentie Palembang) dimana
seorang Asisten Residen ditempatkan di Telok Betong (Pruys van der Hoeven,
mantan Asisten Residen di Afdeeling Angkola Mandailing, Residentie Tapanoeli).
Pada tahun 1873 seorang pejabat Pemerintah Hindia Belanda di Lampong
menulis di dalam surat kabar Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 06-08-1873. Dalam surat itu antara
lain si penulis mempertanyakan mengapa Lampong tidak lebih berhubungan langsung
dengan Jawa, karena menurutnya wilayah Lampong dan orang Lampong sendiri mirip
orang Jawa daripada orang Melayu dalam tata krama dan adat istiadat, Meski
demikian ada perbedaan di wilayah Lampong dan di wilayah Toelang Bawang. Penduduk
Lampong terbagi atas lapisan social (kebuayan) dan hidup menurut adat dan tata
krama leluhur, namun telah banyak berubah menjadi lebih baik di bawah pengaruh
pemerintah Eropa sejak 1860, beberapa adat, yang sepenuhnya bertentangan dengan
kepentingan negara dan rakyat, telah dihapuskan dengan persetujuan para kepala
dan populasi. Sepengetahuan penulis, bagaimanapun, belum mungkin menghapuskan
adat joedjoer (membeli seorang wanita dari orang tua atau kerabatnya,
kadang-kadang dengan harga yang sangat mahal). Akan tetapi, di bawah
pemerintahan sekarang, tampaknya telah dibuat ketentuan-ketentuan mengenai hal
ini, dengan tujuan untuk menurunkan harga djoedur, sehingga sekarang bahkan
laki-laki yang lebih rendah dapat berpikir untuk mencari seorang istri. Harus
diakui bahwa adat-djoedjoer, seperti dulu umumnya adalah salah satu praktik yang
telah menjadi penyebab sangat sedikit pernikahan dan berdampak pada pertambahan
populasi orang Lampong. Kebanggaan pemuda Lampong, bagaimanapun, juga terletak
pada kenyataan bahwa, jika mungkin, dia menikahi seorang putri dengan harga
tinggi, yaitu bahwa pemuda itu membayar djoedjoer yang tinggi untuknya. Tempat
tinggal orang Lamponger, terutama di dataran tinggi, sangat bagus dan luas; terbuat
dari papan ditutupi dengan sirap dan semuanya dibangun di atas susunan kayu
pilihan. Desa (kampung) di Lampung biasanya terdiri dari l0 hingga 60 rumah,
sedangkan di tengah setiap desa ada satu pemandangan, sebuah bangunan bernama
Sesset, yang hanya memiliki lantai dan atap dan yang berfungsi sebagai ruang
dewan dan juga untuk tempat tinggal orang asing. Setiap desa memiliki kepala
sendiri, yang juga merupakan kepala sukunya sendiri. Di beberapa lanskap juga
ditemukan kepala marga dan bandharry, yang memegang otoritas atas kepala-kepala
kampung milik marga atau bandharij mereka. Di wilayah sungai Oempu ditemukan
menganyam keranjang dan tikar, yang sangat halus dan banyak dicari. Emas, perak
dan pandai besi ditemukan terutama di Tulang-Bawang. Para wanita dan gadis
menenun pakaian mereka sendiri, yang disebut pita. Yang dimaksudkan untuk
digunakan pada acara-acara perayaan disulam dengan sutra dan benang emas, dan
memiliki nilai yang cukup besar, Hanya di kota utama dan di kota-kota pantai
orang dapat melihat perempuan dan anak perempuan mengenakan kain Palembang dan
kain Bugis.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






