*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bangka Belitung dalam blog ini Klik Disini
Ada apa di Pulau Mendanau tempo doeloe? Suatu
pulau diantara Selat Stolze dengan pulau Belitung. Lantas apakah ada hubungan
nama pulau Mendanau di Belitung dengan nama pulau Mindanau di Filipina? Satu terminologi
sejaman dengan itu adalah Ilano. Namun apakah ada kaitannya dengan terminology yang
muncul di Kawasan sebagai (orang) Lanun? Hasil penelitian sejarah kerap
mengejutkan (lepas soal benar atau salah). Ada kalanya kesalahan sejarah atau
kebohongan sejarah, jika diulang-ulang dan terus diulang, ada yang menganggap
menjadi kebenaran sejarah. Bagaimana dengan pulau Mendanau?

Mendanau is an island in the
Bangka Belitung province of Indonesia. Located about 6 km off the west coast of
Belitung and 20 km from the town of Tanjung Pandan, it is the fourth largest
island in the province after Bangka, Belitung and Lepar. Administratively it
forms – with about 27 satellite islands – the Selat Nasik District of Belitung
Regency, and it is home to 5,674 people at the 2020 Census, mostly spread in 3
settlements. The island is located in the Gaspar Strait separating the two
large islands. Being the largest island in its archipelagic district, Due to
its small size, the island consists of a long coastline with a forested
interior. Mostly having a flat terrain, the highest elevation of the island
reaches about 179 m. The coastline of the whole island is fringed by a fringing
reef from the Holocene, measuring about 75 km. The island comprises the
majority of the populations and territory of 3 out of 4 villages within the
Selat Nasik District: Suak Gual, Petaling and Selat Nasik. The district office
is located in the latter. During the Indonesian Revolution, as NICA forces
retook Tanjung Pandan, local members of the TKR engaged them in a brief armed
clash which killed several in both sides before the pemuda surrendered
unconditionally. As with other islands in the area, agriculture and fisheries
dominate the island’s economy. In 2016, local fishermen landed 4,601 tonnes of
fish. Rubber, pepper and coconut are important cash crops with palm oil
plantations beginning to grow within the island. About 30 kilometers of paved
road are present in the island (Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Pulau Mendanau tempo doeloe,
antara Selat Stolze dan Pulau Billiton? Seperti disebut di atas, pulau Mendanau
adalah pulau terbesar kedua di kepulauan Belitung. Namanya Mendanau mirip
dengan Minadanau, apakah ada hubungan keduanya? Lalu bagaimana sejarah Pulau
Mendanau tempo doeloe, antara Selat Stolze dan Pulau Billiton? Seperti kata
ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan
dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe.

Sejarah
seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*. (sumber: https://www.belitungisland.com/destination/pulau-mendanau/)
Pulau Mendanau Tempo Doeloe,
Antara Selat Stolze dan Pulau Billiton; Apakah Ada Hubungan Mindanau?
Pulau Mendanau, awalnya bernama Pulau Lang.
Lantas mengapa namanya berubah menjadi pulau Mendanau? Nama Lang juga
mengindikasikan jenis perahu (perahu Lang, bahasa Belanda Lang=panjang). Lalu,
nama mana yang muncul: Lang atau Mendanau? Yang jelas nama pulau Billiton sudah
lama eksis (sejak era Portugis). Dalam gal ini apakah nama Mendanau terhubung
dengan nama Mindanau? Untuk mengidentifikasi nama Mendanau di dekat pulau
Belitung dan nama Minadanau di Filipina kedua penulisan itu saling
dipertukarkan (sama saja).

Pada
tahun 1851 Pemerintah Hindia Belanda menunda perundingan di (pulau) Bangka. Hal
itu karena pemerintah dengan militer tengah melakukan ekspedisi reguler melawan
bajak laut Lingga, Billiton, dan Mangindanao (lihat De Nederlander: nieuwe
Utrechtsche courant: (staatkundig- nieuws-, handels- en advertentie-blad) /
onder red. van J. van Hall, 24-03-1851).
Pulau Lang berubah menjadi pulau Mendanao
diduga ada kaitannya dengan kehadiran pelaut-pelaut Mindanao di sekitar pulau
Belitung, yang diduga melakukan Tindakan bajak laut di perairan bersama dengan
bajak laut Belitung dan Lingga.
Nama
Mendanao sendiri untuk pulau di dekat pulau Belitung, paling tidak sudah
disebut pada tahun 1839 (lihat Javasche courant, 02-10-1839). Besar dugaan
pelaut-pelaut asal Mindanao sudah ada sejak lama di perairan Bangka dan
Belitung.
Pada tahun 1881 di pulau Mendanau akan
dibangun lampu mercusuar (lihat Nederlandsche staatscourant, 20-09-1881). Di
sebutkan di Den Haag, sekretaris Menteri Koloni mengumpumkan ke public untuk
tender pembangunan mercusuar di Mendanao (selat Stolze). Pembangunannya
diketahui sudah berlangsung pada bulan Maret 1884 (lihat Bataviaasch
handelsblad, 11-03-1882). Kapan pembangunan selesai tidak diketahui pasti.

Di
pantai-pantai pulau Mendanau ditemukan banyak buaya. Boleh jadi pulau ini belum
dikunjungi oleh orang Eropa, kecuali Angkatan laut yang tengah melakukan survey
pemetaan laut dan dalam upaya untuk pengejaran bajak laut yang diduga kerap
melarikan diri ke kawasan ini jika dilakukan pengejaran. Pembangunan mercu suar
di pulau Mendanau sebagai salah satu upaya, untuk pengamanan navigasi pelayaran
dan dalam rangkan untuk mempromosikan pembangunan di pulau Mendanau. Pada saat
pembangunan, insinyur yang bekerja di pulau itu meminta bantuan Angkatan laut
untuk menyedikan senjata dalam membrantas hama buaya yang yang banyak di pulau.
Departemen Angkatan Laut pada bulan Desember
1884 mengumumkan telah diangkat seorang petugas pengawas lampu mercu suar di
pulau Mendanau (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 24-12-1883). Disebutkan Panglima Angkatan Laut dan Kepala
Departemen Angkatan Laut mengangkat A Wijkman sebagai Lichtopzicnter kelas 3 di
Po, Mendanao, yang sebelumnya sebagai kustlight étabblissement kelas empat di pulau
Duiven0eiland.
Tampaknya
setelah urusan lampu mercu suar selesai di pulau Mendanau, pemerintah kemudian
ingin memacu pembangunan di pulau. Tidak lama kemudian pemerintah menyewa
kapal, untuk menyediakan lalu lintas regular untuk menghubungkan antara
Tandjoeng Pandang dengan pulau Mendanau dan pulau Lengkoeas (lihat Bataviaasch
handelsblad, 07-02-1884).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Mendanau Apakah Ada Hubungan
Mindanau? Sejarah Navigasi Pelayaran Tempo Doeloe
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




