*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini
Setiap
wilayah di Indonesia (baca: Hindia Belanda) memiliki pertumbuhan dan
perkembangan sosial yang berbeda-beda. Demikian juga dalam hal kemunculan
oraganisasi kebangsaan Indonesia di berbagaio daerah termasuk di Jambi. Pada
masa itu organisasi sosial orang-orang Eropa/Belanda sudah jauh berkembang dan
telah lama berlangsung. Para pemimpin pribumi dengan cepat belajar berorganisasi.
Semuanya berawal di lingkungan Eropa/Belanda dimana orang Eropa/Belanda
terdapat di seluruh Hindia Belanda terutama di kota-kota.

Dalam
buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi (1978/1979) khususnya Bab-3 pada
Sub-bab A: Pengaruh Politik Kolonia/ Belanda dan disentralisasi di daerah daerah
berisi pelaksanaan politik pemerintah kolonial Belanda di daerah Jarnbi yang
mempengaruhi pelaksanaan pernerin tahan di daerah, termasuk politik etis dan
politik kolonial Belanda yang lama. Di segi desentralisasi dikemukakan pula tata
pemerintahan daerah; Sub-bab B : Kegiatan Masyarakat yang relevan dengan
ataupun yang merupakan embrio dari proses Kebangkitan Nasional di daerah Jambi,
yang rnemuat akibat pelaksanaan politik kolonial Belanda di daerah Jambi dalam
bidang pendidikan dan kebudayaan yang menimbulkan kegiatan masyarakat akan
kesadaran berorganisasi, dan menjadi dasar tumbuhnya organisasi politik di
daerah; Sub-bab C : Jnteraksi di daerah dengan kegiatan partai/organisasi, antara
lain : 1. Po/itik, terutama politik pemerintah Hindia Belanda di Jambi dan
interaksi dengan serikat Islam; 2. Sosial, organisasi sosial yang ada di daerah
Jambi; Sub-bab D: Keadaan di daerah Jambi sekitar Perang Dunia I (1914 – 1918),
memuat keadaan di daerah Jambi, dan Perang Serikat Abang di Jambi; Sub-bab E: Perjuangan
di daerah, berisi materi yang membahas sikap masyarakat terhadap asas non
koperasi dan koperasi terhadap pemerintah Hindia Belanda, dan akibatnya
terhadap tata kehidupan masyarakat. Kemudian Interaksi dengan sumpah pemuda,
serta tanggapan pemuda di daerah Jambi terhadap peristiwa selanjutnya.
Lantas bagaimana sejarah societeit di Jambi tempo
doeloe, bermula di lingkungan Eropa? Seperti yang disebut di atas, organisasi kebangsaan adalah perahu yang
membawa perubahan di antarea penduduk pribumi. Organisasi kebangsaan pribumi
dan permulaan organisasi sosial (societeit) di lingkungan Eropa. Lalu bagaimana sejarah societeit
di Jambi tempo doeloe, bermula di lingkungan Eropa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Societeit di Jambi Tempo Doeloe, Bermula di Lingkungan
Eropa; Awal Organisasi Kebangsaan di Indonesia
Pada tahun 1883 di Padang tersiar kabar adanya
persekongkolan baru di kalangan keturunan sultan di Palembang, yang bertujuan
untuk membunuh orang-orang Eropa ketika mereka berkumpul di societeit (lihat Arnhemsche
courant, 30-08-1883). Dua tahun kemudian di Palembang, putusan telah dijatuhkan
oleh Landraad di Palembang pada tanggal 21 Juli dalam kasus tiga orang Djambi,
Panglima Putih, Hadji Hamzah dan Yusuf, dalam hubungannya dengan kejadian tanggal
23 Mei telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap orang-orang Eropa yang
hadir di societeit di Djambi (lihat Bataviaasch handelsblad, 03-09-1885).
Mengapa penting societeit bagi orang Eropa/Belanda, dan mengapa di Jambi dan di
Palembang menjadi target pembunuhan?
Societeit,
suatu klub sosial adalah suatu organisasi sosial yang umum ditemukan di Belanda
sejak lama. Di Hindia Belanda societeit pertama dididirkan tahun 1815 di
Batavia oleh orang-orang Belanda (era pendudukan Inggris). Nama societeit
diimpor dari nama societeit di Belanda, Harmonie. Societeit Harmonie ini terus
eksis sebagai klub/organisasi sosial terbesar di Hindia Belanda. Pada tahun 1838
diketahui societeit didirikan di Padang (pasca Perang Padri). Di Medan societeit
didirikan tahun 1878 dengan nama De Witte Societeit. Kapan, societeit didirikan
di Palembang dan di Djambi kurang terinformasikan. Pada tahun 1883 di societeit
Palembang diberitakan akan dierang oleh keturuan sultan dan tahun 1885 tiga
orang Djambi melakukan percobaan pembunuhan.
Societeit di Hindia Belanda sangat stratgeis
bagi orang-orang Eropa/Belanda, karena fungsinya sebagai organisasi sosial
menjadi kumpulan orang Eropa/Belanda di wilayah yang pada waktu tertentu
melakukan pertemuan atau kegiatan lainnya. Societeit yang sudah dibentuk di
banyak kota, tidak hanya tempat pertemuan para anggota, juga gedung yang
dibangun sendiri tersebut memiliki café sendiri dan dapat digunakan untuk umum
seperti acara kegiatan seni seperti music dan acara perkawinan. Pada setiap
hari kerja orang Eropa/Belanda bekerja di kantor masing-masing, tetapi pada
saat hari libur menjadi pusat keramaian bagi seluruh orang Eropa/Belanda. Oleh
karenanya, dua kejadian percobaan pembunuhan di Palembang dan Djambi menjadi
strategis bagi orang Palembang dan orang Djambi.
Societeit
di berbagai kota, pada dasarnya tidak hanya anggotanya orang-orang
Eropa/Belanda, tetapi ada juga orang-orang pribumi, terutama dari golongan muda
dari masyarakat terpandang seperti para pangeran atau keluarga kerajaan yang
memiliki hubungan yang colaboratif dengan pemerintah. Dalam hal ini, sesuai namanya
sebagai organisasi sosial, keanggotaannya tidak terbatas, semua bangsa, dan
hanya didasarkan atas keanggotaan, yang bersedia mematuhi AD/ART dan dengab
kewajiban iuran bagi setiap anggota. Societeit didirikan atas izin yang
dikeluarkan oleh pemerintah (beslit) setelaah mengesahkan AD/ART yang
dilampirkan dalam pendaftaran sebagai badan hukum.
Pada tahun 1900 di kota Padang didirikan
societeit (organisasi kebangsaan) yang khusus bagi golongan pribumi yang diberi
nama Medan Perdamaian. Organisasi kebangsaan pribumi Medan Perdamaian di Padang
dapat dikatakan societeit pribumi pertama yang didirikan (jauh sebelum tahun
1908 berdirinya societeit Boedi Oetomo di Batavia dan Indische Vereeniging di
Belanda). Organisasi kebangsaan Medan Perdamaian di Padang diinisiasi oleh
seorang mantan guru, pemilik pecetakan dan penerbitan surat kabar berbahasa
Melayu, Pertja Barat, yakni Dja Endar Moeda. Societeit Medan Perdamaian
bersifat nasional. Ini terlihat dari kegiatannya yang telah mengumpulkan dana
sebesar f14.000 yang diserahkan presiden Medan Perdamaian Dja Endar Moeda melalui
Inspektur Pendidikan Pribumi Pantai Barat Sumatra untuk diteruskan dalam
peningkatan pendidikan pribumi di Semarang.
Inspektur
Pendidikan Pantai Barat Sumatra adalah Charles Adrian van Ophuijsen, anak
seorang mantan Residen Palembang (1861 – 1862 dan 1867 – 1870). Sebelum menjadi
Inspektur Pendidikan Pribumi, Charles Adrian van Ophuijsen adalah direktur
sekolag guru (Kweekschool) di Padang Sidempoean (1881-1889). Saleh Harahap
gelar Dja Endar Moeda adalah salah satu siswa Charles Adrian van Ophuijsen di
Kweekschool Padang Siudempoean (lulus 1884). Setelah menjadi guru di beberapa
tempat dan terakhir di Singkil (pension). Pada tahun 1893 Dja Endar Moeda
kelahiran Padang Sidempoean berangkat menunaikan haji ke Mekkah. Sepulang dari haji,
Dja Endar Moeda bermukim di Padang dengan membangun sekolah dasar swasta tahun
1895. Pada tahun ini dengan rekan-rekannya di Padang (seorang Jerman dan
seorang Cina) mendirikan surat kabar berbahasa Melayu yang diberi nama Perja
Barat. Pada tahun 1900, Dja Endar Moeda mengakuisisi Pertja Barat beserta
percetakannnya. Pada tahun ini Dja Endar Moeda menerbitkan surat kabar baru
berbahasa Melayu dengan nama Tapian Na Oeli dan satu majalah pembangunan yang
menjadi organ dari organisasi kebangsaan Medan Perdamaian dengan nama majalah
Insulinde (majalah yang memuat artikel dan berita ekonomi, perdagangan, industry
dan pertanian). Yang menjadi asisten redaksi di majalah Insulinde adalah Baginda
Djamaloedin (alumni Kweekschool Fort de Kock).
Dalam perkembangannya Medan Perdamaian
memperluas keanggotaannya dengan membuka cabang di beberapa kota seperti di
Fort de Kock, Medan, Palembang dan Batavia. Pada tahun 1903 Dja Endar Moeda
berangkat ke Belanda dengan membawa dua guru yakni Baginda Djamaloedin dan
Soetan Casajangan untuk membantu Dr AA Fokker dalam penerbitan majalan
dwimingguan yang diterbitkan di Amsterdam (majalah Bintang Hindia). Dalam perkembangannya
Soetan Casajangan dan Baginda Djamaloedin melanjutkan Pendidikan di Belanda (dimana
saat itu baru ada satu mahasiswa pribumi di Belanda, yakni Raden Kartono, abang
dari RA Kartini).
Radjioen
Harahap gelar Soetan Casajangan adalah seorang guru di Padang Sidempoean,
alumni Kweekschool Padang Sidempoean tahun 1887 (adik kelas Dja Endar Moeda).
Pada tahun 1905 Charles Adrian van Ophuijsen dipromosikan menjadi guru besar Bahasa
Melayu di Universiteit Leiden. Soetan Casajangan yang sudah menjadi mahasiswa
di Belanda, direkrut Charles Adrian van Ophuijsen sebagai asistennya dalam
pengajaran Bahasa Melayu. Sementara itu, Dja Endar Moeda setelah berakhirnya
Perang Atjeh. Pada tahun 1907 hijrah ke Kota Radja dengan menerbitkan surat
kabar berbahasa Melayu Pembrita Atjeh (surat kabar pertama di Kota Radja/Banda
Atjeh). Sementara asetnya di Padang, diserahkan kepada adiknya Dja Endar Bongsoe
(juga alumni Kweekschool Padang Sidempoean). Pada tahun 1907 Dja Endar Moeda
yang juga memiliki cabang usaha di Medan mendirikan organisasi kebangsaan baru
di Medan bersama Mohamad Jaqub dengan nama Sarikat Tapanoeli (untuk bersaing
dengan kongsi Cina yang kuat di Medan)..
Tunggu deskripsi lengkapnya
Awal Organisasi Kebangsaan di Indonesia: Wilayah Jambi
Menjadi Bagian Perjuangan Organisasi Kebangsaan Indonesia
Pada bulan Mei 1908 di Batavia, sejumlah
(mahasiswa) sekolah kedokteran (STOVIA) yang berasal dari Jawa, Raden Soetomo dkk
mendirikan organisasi kebangsaan yang diberi nama Boedi Oetomo. Pada bulan Juni
1908 di Belanda, Soetan Casajangan berencana akan mendirikan organisasi
kebangsaan pribumi di Belanda sebagaimana dikomunikasikannya dengan peminat
Hindia seperti Charles Adriaan van Ophuijsen dan Abendanon. Namun karena
kesibukan kuliah, untuk sementara rencana yang disusun tertunda. Jumlah
mahasiswa/pelajar pribumi pada tahun 1908 di Belanda sudah mencapai 20an orang.
Dalam
kongres pertama Boedi Oetomo yang diadakan di Jogjakarta pada tanggal 30
Sepetember hingga tanggal 3 Oktober, peran para pemuda Raden Soetomo dkk terkooptasi
oleh golongan senior seperti bupati Karang Anjar dan tokoh-tokoh senior dari
beberbagai daerah di Jawa. Hasil keputusan yang penting dalam kongres adalah kantor
pusat Boedi Oetomo berkedudukan di Jogjakarta dan di dalam statuta (AD/ART)
hanya menyebutkan ruang lingkup organisasi hanya (terbatas) di Jawa dan Madoera
(tidak bersifat nasional). Ketua Boedi Oetomo dalam kongres terpilih adalah bupati
Karang Anjar dengan wakil ketua Dr Wahidin Soediro Hoesodo, Boedi Oetomo di
Batavia hanya ditempatkan sebagai salah satu cabang Boedi Oetomo dari 11 cabang
yang ada.Tampaknya golongan muda, terutama dari Batavia seperti Soetomo dkk
merasa dipinggirkan (kecewa) karena berubahnya orientasi Boedi Oetomo dari
bersifat nasional menjadi bersifat kedaerahan..
Boleh jadi karena mendapat kabar dari Hindia, bahwa
Boedi Oetomo bergeser orientasi, Soetan Casajangan segera mewujudkan rencananya
yang tertunda untuk mendirikan organisasi kebangsaan pribumi di Belanda. Seorang
mahasiswa baru yang juga berdomisili di Leiden, Raden Soemitro diminta Soetan
Casajangan untuk mengirim undangan ke semua mahasiswa/pelajar di Belanda untuk
menghadiri pertemuan di tempat kediamannya di Leiden (di alamat yang sama juga tinggal
Raden Kartono).

Pada
tanggal 25 Oktober di Leiden di tempat kediaman Soetan Casajangan berkumpul
mahasiswa/pelajar pribumi sebanyak 15 orang. Dalam pertemuan yang dipimpin oleh
Raden Hoesein Djajadiningrat dengan sekretaris Raden Soemitro, disepakati pendirian
organisasi kebangsaan dengan nama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).
Dalam rapat juga diputuskan secara aklamasi yang menjadi presiden adalah Soetan
Casajangan dengan sekretaris Raden Soemitro. Lalu sebuah komite kecil dibentuk
untuk menyusun statuta (AD/ART) yang terdiri dari Soetan Casajangan, Raden
Kartono, Hoesein Djajadiningrat dan Soemitro (keempatnyaa tingga di Leiden,
yang lainnya di berbagai kota seperti Amsterdam, Wageningen, Harlem, Den Haag
dan Delft). Seperti kita lihat nanti, pada tahun 1921 kepengurusan Dr Soetomo
dkk (salah satu pendiri Boedi Oetomo), naam Indische Vereeniging diubah menjadi
Indonesia Vereeniging dan pada tahun 1924 pada saat kepengurusan Mohamad Hatta
ddk diubah lagi namanya menjadi Perhimpoenan Indonesia (hingga kini masih eksis
di Belanda). Sementara itu Boedi Oetomo mengubah statutanya menjadi
berorientasi nasional pada tahun 1930.
Pada tahun 1908 sudah ada beberapa organisasi
kebangsaan yang telah didirikan, selain Medan Perdamaian yang masih eksis, juga
ada Boedi Oetomo dan Indische Vereeniging. Dalam hal ini Medan Perdamaian yang
berpusat di Padang dan Indische Vereeniging yang berkedudukan di Leiden/Belanda,
sama-sama berorientasi nasional. Kebetulan para inisiatornya sama-sama alumni
Kweekschool Padang Sidempoean: Dja Endar Moeda dan Soetan Casajangan.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





