*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jambi dalam blog ini Klik Disini
Ada perbedaan pengertian antara orang dan
warga. Orang mengindikasikan kepada kelompok populasi, sedangkan warga merujuk
pada suatu pemerintahan pada suatu wilayah administrasi. Orang Jambi ada yang
menjadi warga Jambi dan juga ada yang menjadi warga Palembang. Namun yang jelas
Orang Jambi dibedakan dengan Orang Palembang. Orang Jambi dapat diuraikan
sebagai terdiri dari orang Batanghari, Orang Tanjung Jabung dsb. Pada level
wilayah administrasi yang lebih rendah ada juga yang menguaraikan diri menjadi
orang (kecamatan) ini dan orang )desa) itu.

Ada
yang mengaku bukan Orang Bali, orang dari yang mana, tetapi lebih menganggap
sebagai Orang Indonesia. Lantas apakah Orang Bali adalah Orang Indonesia? Tentu
saja. Yang jelas Orang Jawa bukan Orang Bali (atau sebaliknya). Demikian juga
Orang Jambi dibedakan dengan Orang Palembang. Namun Orang Jambi bukan Orang
Minangkabau. Lalu apakah ada Orang Mingakabau di wilayah Orang Jambi (provinsi
Jambi)? Tentu saja ada. Lalu apakah ada Orang Jambi di wilayah Orang
Minangkabau? Tentu pula ada. Dalam hal ini siapa yang menjadi warga Kuala
Tungkal di kabupaten Tanjung Jabung Barat? Tentu saja ada Orang Minangkabau,
ada Orang Jambi dan ada Orang Riau. Apakah Orang Riau dan Orang Jambi adalah
Orang Melayu? Tentu saja. Yang jelas Orang Minangkabau bukan Orang Melayu.
Lantas siapa Orang Tungkal? Apakah Orang (Tanjung) Jabung? Seperti disebut di
atas, setiap orang dapat mengidentifikasi diri siapa dan berafiliasi dengan
kelompok populasi yang mana.
Lantas bagaimana sejarah Orang (Kuala) Tungkal
di pesisir pantai timur Sumatra? Seperti yang disebut di atas, setiap orang dapat mengidentifikasi
diri dan berafiliasi ke atas (kelompok populasi yang lebih besar), seperti
setiap warga negara menebut dirinya Orang Indonesia atau ke bawah (kelompok
populasi yang lebih kecil) seperti Orang Jambi dan kelompok populasi yang menjadi
bagiannya Orang (Kuala) Tunkal atau Orang Tanjung Jabung Barat. Satu hal yang
perlu dihubungkan disini adalah terbentuknya
kota Kuala Tungkal diantara sungai Indragiri dan sungai Batanghari. Lalu bagaimana sejarah Orang (Kuala)
Tungkal di pesisir pantai timur Sumatra? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Orang (Kuala) Tungkal di Pesisir Pantai Timur Sumatra;
Kota Kuala Tungkal, Antara Sungai Indragiri dan Sungai Batanghari
Sejarah tidak selalu linier, bahkan dari sudut pandang
masa kini banyak yang mengejutkan. Jangkan bayangkan Kota Kuala Tungkal, karena
kota itu belum lahir bahkan dalam bentuk kampong sekalipun. Namun yang sudah
jelas ada adalah sungai Batang Tungkal, dimana lanskap di selatannya disebut Tanah
Tungkal, yaitu daerah antara sungai Batang Tungkal dan sungai Batanghari.

Mengapa disebut batang untuk sungai di wilayah pantai timur, khususnya
dari Jambi hingga ke Padang Lawas (Tapanuli)? Yang jelas sungai untuk bahasa
Melayu adalah sungai/songi. Sungai Musi tidak pernah disebut batang, tetapi
sungai. Sebutan batang untuk sungai ditemukan di Borneo Utara. Di pantai barat
Sumatra sebutan batang dari Bengkulu hingga Singkil. Lantas apa arti tungkal
untuk nama sungai Tungkal? Tentu saja bukan maksudnya tungkal dalam bahasa
Banjar diartikan tepung tawar. Nama Tungkal diduga adalah nama yang sudah lama,
mungkin sudah eksis di zaman kuno.
Di daerah aliran sungai Batang Tungkal, pemiukiman
terdapat di pedalaman. Tidak ada laporan atay peta yang mengindikasikan nama
kampong di hilir atau muara sungai Tungkal. Kampong terbesar di sungai Batang
Tungkal adalah Penyingat (lihat Javasche courant, 29-11-1843). Hingga tahun 1870-an
nama kampong ini masih diidentifikasi sebagai kampong terbesar di daerah aliran
sungai Batang Tungkal (Peta 1877). Di wilayah hilirnya di muara sungai Batang Roemakan
diidentifikasi nama kampong Roemakan.
Dalam berita 1843 tersebut disebut wilayah Tungkal adalah masuk wilayah
Sultan Jambi. Controleur Lamleth tahun 1843 dari Moeara Kompeh pernah memasuki daerah
aliran sungai Batang Tungkal hingga ke Penyingat. Sungai Batang Tungkal berhulu
di Pegunungan 30. Pada saat itu tidak ada kampong di kota Kuala Tungkal yang
sekarang karena masih rawa-rawa. Yang jelas daerah aliran sungai Batang Tungkal
adalah wilayah kekuasaan Sultan Jambi. Sedangkan batas paling selatan Kerajaan
Indragiri di atas muara sungai Batang Tungkal yang disebut Tandjong Laboe
(lihat Bijblad op het Staatsblad van Nederlandsch-Indie, 1862).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kota Kuala Tungkal, Antara Sungai Indragiri dan Sungai
Batanghari: Asal Usul, Perumbuhan dan Perkembangan Populasi Penduduk di Kuala Tungkal
Daerah aliran sungai Batang Tungkal sebagai
wilayah Sultan Jambi, pada tahun 1879 pejabat setingkat Controleur di Moeara Kompeh
mendapat persetujuan untuk menerapkan pajak bea keluar masuk di muara sungai Batang
Tungkal. Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam beslit tertanggal. 23
Januari 1879 No. 9 yang isinya ketentuan bea masuk-keluar untuk kapal impor dan
ekspor (lihat Staatsblad van Nederlandsch-Indie voor 1879).
Penerapan
bea cukai di muara sungai Batang Tungkal pada tahun 1879 ini menandai area
wilayah muara mulai ditempati. Ini tentunya terkait dengan pembangunan
instalasi bea dan cukai untuk daerah aliran sungai Batang Tungkal. Seperti
biasanya bea dan cukai di suatu kawasan dimasukkan kepada pendapatan
pemerintahan di Jambi (termasuk pembangian hasil dengan Sultan yang memberikan
kuasa untuk hak pengenaan bea cukai. Lalu pada tahun 1880 ketentuan di Tungkal
ini digabaungkan dengan ketentuan yang sama di Muara Saba/k dan Simpang dalam
satu undang-udang (Stbls 1880 No. 208; yang dikeluarkan di Buitenzorg 2
Desember 1880). Undang-undang ini terdiri dari 35 pasal (art).
Pada tahun 1888 seorang pengusaha F Alting du
Cloux mulai membuka lahan di muara sungai Batang Tungkal. Ini dapat dibaca
dalam beslit Residen Palembang tanggal 17 Mei 1886 No. 198a. Dalam beslit ini dinyatakan
bahwa menyewa selama waktu lima tahun berturut-turut di Marga Tungkal dari
muaranya sampai muara sungei Pangaboean di sepanjang sungai Batang Tungkal dan
2000 meter ke daratan, sisa hulu sungai harus dipertahankan untuk pertanian.
Tidak disebutkan untuk tujuan apa F Alting du Cloux menyewa lahan tersebut.
Namun di dalam beslit disebutkan dalam syarat yang harus dipenuhi yakni selama penyelidikan
itu dimulai dalam waktu satu tahun dan tidak boleh melanggar ketentuan. Besar
dugaan du Cloux menyewa lahan untuk keperluan tambang batubara.
Jika
memperhatikan batas-batas lahan yang disewa oleh F Alting du Cloux dengan
membandingkan situasi dan kondisi masa kini, tidak lain dari area kota Kuala
Tungkal yang sekarang. Lantas dimana letak area instalasi bea dan cukai di
muara sungai Batang Tungkal? Apakah berada di arah hulu area du Cliux ini?
Muara sungai Batang Tungkal tampaknya mulai
penting. Hal ini karena di muara sungai Batang Tungkal ditempatkkan kapal uap
Indragiri sebagai9 pangkalannnya (lihat Marineblad jrg 8, 1893/1894). Boleh
jadi ini mengindikasikan bahwa di muara sungai Batang Tungkal sudah dibangun
dermaga sungai. Dalam berita kapal pada tahun berikutnya disebutkan bahwa pada
tanggal 25 kapal uap menuju ke sungai Djambi. Keesokan paginya kapal berlabuh
di muara untuk mengantisipasi air yang lebih tinggi, kemudian berlabuh di
Simpang di malam hari dan kemudian mencapai Djambi tanggal 30. Dalam perjalanan pulang kapal
singgah di Koewala Toengkal dan kemudian meenuju Singapura (lihat Jaarboek van
de Koninklijke Nederlandsche Zeemagt, 1894-1895). Disebutkan Koewala Toengkal, ini mengindikasikan kali
pertama muara sungai Batang Tungkal disebut Koewala Toengkal.
Kawasan kosong pada tahun 1888, sehubungan dengan pembukaan lahan oleh di
Cloux, diduga yang menjadipemicu Kawasan muara sungai Batang Tungkal menjadi
cepat tumbuh. Peembangunan dermaga sungai untuk kapal uap di muara sungai telah
menambah keramaian Kawasan. Pembangunan dermaga tersebut sebagai pangkalan
kapal uap diduga terkait dengan penetapan muara sungai dijadikan sebagai pos
bea cukai untuk kapal yang keluar masuk sungai Batang Tungkal pada tahun 1879.
Dalam sepuluh tahun, muara sungai Batang Tungkal yang disebut Koewala Toengkal
telah menjafdi cikal bakal kota Kuala Tungkal yang sekarang. Lantas bagaimana
dengan kampong Penyingat dan kampong Roemakan?
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




