*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pada artikel sebelum ini fokus pada peradaban awal nusantara (di Jawa dan
Batak). Artikel ini fokus pada perluasan peradaban nusantara melalui instrument
penting yakni navigasi pelayaran perdagangan. Peningkatan peradaban semakin
menguatnya navigasi pelayaran semakin meningkatkan level peradaban. Peradaban
awal nusantara di Tanah Batak berada di utara khatulistiwa, di Tanah Jawa di
selatan khatulistiwa. Dalam konteks ini dalam sejarah navigasi pelayaran awal
nusantara tergambar lalu lintas navigasi pelayaran perdagangan Tanah Batak
berada di utara khatulistiwa dan Tanah Jawa di selatan khatulistiwa.

Pada masa ini di Indonesia, daerah yang diasosiasikan
dengan daerah navigasi pelayaran (pelaut dan perlayaran) adalah Sulawesi
Selatan dan Aceh dan mungkin Riau. Daerah Tanaah Jawa dan daerah Tanah Batak
masa ini diasosiakan dengan usaha perrtanian (karena secara geografis berada di
pedalaman). Namun daerah Sulawesi Selatan, Aceh dan Riau dalam awal peradaban
nusantara tentulah belum dikenal. Yang sudah dikenal dalam bidang navigasi
pelayaran di nusantara masih terbatas di Tanah Batak dan Tanah Jawa. Dalam hal
ini, pada zaman doeloe, awal peradaban nusantara, kota-kota penting di Tanah
Jawa dan di Tanah Batak masih berada di (garis) pantai (wilayah pesisir).
Proses sedimentasi jangka panjang, Tanah Jawa dan Tanah Batak pada masa ini
terkesan berada di pedalaman. Geomordoligis nusantara pada zaman dulu berbeda
dengan masa kini. Secara geomorfologi Tanah Jawa di pantai utara telah berubah
dan secara geomorfologis Tanah Batak di pantai timur telah berubah. Sebelum
perubahan itulah kita membicarakan navigasi pelayaran perdagangan Tanah Batak
dan Tanah Jawa. Wilayah Nusantara itu begitu luas, tampaknya tidak mampu
diatasi hanyai dengan satu kerajaan besar, karena itu yang muncul di atas laut-laut
Nusantara adalah dua matahari (navigasi pelayaran di utara ekuator adalah matahari
dari utara; di selatan khatulistiwa adalah matahari dari selatan).
Lantas bagaimana sejarah Kerajaan Batak dan
Kerajaan Jawa memiliki navigasi pelayaran perdagangan di utara dan selatan khatulistiwa?
Seperti disebut di atas, peradaban awal yang kuat di nusantara hanya di Tanah
Batak dan di Tanah Jawa. Hal itu yang menyebabkan bacigasi pelayaran berkembang
di dua wilayah yang berbeda. Lalu bagaimana sejarah Kerajaan Batak dan Kerajaan
Jawa memiliki navigasi pelayaran perdagangan di utara dan selatan khatulistiwa?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Kerajaan Batak dan Kerajaan Jawa; Navigasi Pelayaran
Perdagangan di Utara dan Selatan Khatulistiwa
Navigasi pelayaran perdagangan nusantara mencapai puncaknya
diperkirakan antara abad ke-12 hingga abad ke-16 (sebelum kehadiran
pelaut-pelaut Tiongkok dari utara dan Eropa dari barat). Pada rentang abad ini
pusat peradaban berada di Jawa bagian timur (Singhasari dan Majapahit) dan di
Sumatra bagian utara (Panai dan Aru). Pada rentang waktu ini ada pasang surut
hubungan kerajaan-kerajaan di Tanah Batak dan kerajaan-kerajaan di Tanah Jawa.
Hubungan erat antara Jawa dan Batak, menurut FM Schnitger terjadi pada era
Radja Kertanegara dari Singhasari (ada candi di Singhasari mirip dengan
arsitektur candi di Tanah Batak).
Sejak kapan navigasi pelayaran nusantara bermula tidak diketahui secara
pasti. Sejak zaman kuno diketahui sudah diketahui ada proses pembalseman di
Mesir kuno (raja-raja yang dikubur di dalam piramida). Dalam kitab suci
Taurat/Injil disebut emas banyak didatangkan dari (pegunungan) Ophir. Dalam
catatan geografis Ptolomeus abad ke-2 disebut sentra produksi kamper di Sumatra
bagian utara. Pada abad ke-2 ini juga disebutkan dalam catatan Tiongkok pada
Dinasti Han seorang utusan Raja Yeh-tiao menghadap Kaiser Tiongkok di Peking,
untuk meminta izin membuka pos perdagangan. Prasasti Vo Cahn (Nha Trang yang
sekarang) yang berasal dari abad ke-3. Pada abad ke-5 dalam catatan Eropa
disebut produk kamper diekspor dari pelabuhan yang disebut Baroes. Sementara
itu di Jawa (bagian barat) dan Kalimantan (bagian timur) ditemukan prasasti-prasasti
yang berasal dari abad ke-5.
Navigasi pelayaran nusantara diduga telah berkembang
pada abad ke-2 dimana kerajaan di Sumatra bagian utara (Kerajaan Batak/Baroes)
telah mampu menavigasi pelayaran ke pantai timur Tiongkok dalam perdagangan emas
dan kamper. Di Jawa pada abad ke-5 telah berkembang kerajaan (Hindoe) Tarumanegara
yang pengaruhnya mencapai (pulau) Kalimantan. Hubungan Jawa dan Kalimantan
mengindikasikan navigasi pelayaran perdagangan telah berkembang di Tanah Jawa.
Interaksi kerajaan di Tanah Jawa dengan kerajaan di Tanah Batak diduga kuat
dimulai pada abad ke-7 (lihat prasasti Kedoekan Boekit 682 M; prasati Kota Kapoer
686 M; dan prsasti Sojomerto akhir abad ke-7). Pada abad ke-7 inilah diduga
awal hubungan navigasi pelayaran antara Sumatra (Tanah Batak) dengan Jawa (Tanah
Jawa, khususnya bagian tengah).
Dalam prasasti Kedoekan Boekit (682 M) disebutkan Raja Dapunta Hyang
Nayik dengan pasukan besar berangkat dari Minanga. Radja Nayik menabalkan raja
baru (Sriwijaya) dengan gelar Dapunta Hyang Srijayanaga (lihat prasasti Talang
Tuwo 684 M). Untuk memperkuat kedudukan raja Sriwijaya, Dapunta Hyang Nayik
membuat perjanjian kepada raja-raja di empat wilayah agar patuh pada hukum dan
raja (baru) akan menghukum berat yang melanggar. Isi perjanjian yang kurang
lebih sama di empat wilayah Sriwijaya tersebut pada tahun 686 M (lihat prasasti
Telaga Batu/Palembang; prasasti Kota Kapoer/Bangka; prasasti Karang Berahi/Jambi;
dan prasasti Pasemah/Lampoeng). Secara khusus dalam prasasti Kota Kapoer/Bangka
686 M disebutkan (raja Dapunta Hyang Nayik) dengan pasukan akan menyerang Jawa.
Dalam fase abad ke-7 ini ada indikasi yang kuat telah terbentuk navigasi
pelayaran yang kuat dalam ekspedisi maritime yang dimulai dari Tanah Batak ke
Jawa melalui Sumatra bagian selatan. Para peneliti era Hindia Belanda nama
Minanga adalah sebuah kota di Tanah Batak di Sumatra bagian utara yakni Binanga
di pantai timur Sumatra daerah aliran sungai Panai/Barumun. Besar dugaan pelabuhan
Minanga ini sudah terbentuk sejak lama, Para peneliti era Hindia Belanda, seperti
disebut di atas raja Yeh-tiao yang mengirim utusan ke Tiongkok abad ke-2 disebut
raja dari Sumatra bagian utara. Dalam hal ini kerajaan di Tanah Batak memiliki Pelabuhan
Baroes di pantai barat dan Minanga/Binanga di pantai timur (pada masa itu pulau
Sumatra lebar terpendek berada di daerah aliran sungai Barumun Tanah Batak. Sementara
itu, adanya perjanjian-perjanjian di empay wilayah di Sumatra bagian selatan
mengindikasikan kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan baru. Sedangkan serangan ke
Jawa diduga adalah serangan dari Sumatra (Tanah Batak/Sriwijaya) yang Boedha untuk
menaklukkan kerajaan di Jawa bagian barat (Tarumanegara) dan kerajaan di Jawa
bagian tengah (Kalingga) yang Hindoe. Dalam perkembangannya pengaruh Boedha
mulai menguat di Jawa (khususnya Jawa bagian tengah) dengan dikukuhkannya raja
Jawa yang baru dengan gelar Dapunta Seilendra (prasasti Sojoemerto akhir abad
ke-7).
Pada abad ke-8 navigasi pelayaran sudah terbentuk di
Nusantara bagian barat, diantara Tanah Batak di barat, Tanah Jawa di selatan,
pantai timur Tiongkok di utara dan Tanah Kalimantan di timur. Pada fase abad
ke-8 ini hubungan yang erat antara kerajaan di Tanah Jawa dan kerajaan di Tanah
Batak terindikasi pada prasasti Ligor, 775 M). Dalam prasasti ini disebut
keberhasilan pembangunan candi di Jawa oleh raja (dari dinasti baru). Indikasi
teknologi konstruksi candi yang telah lama berkembang di Jawa (bagian barat)
diadaptasi dan dikembangkan di Tanah Batak dan di Tanah Jawa (bagian tengah).

Candi Batujaya di Jawa bagian barat (era Tarumanegara) diduga adalah
candi pertama di nusantara (yang dibangun sebelum abad ke-7). Candi-candi
tertua berikutnya di Tanah Batak (candi Simangambat) dan di Tanah Jawa bagian
tengah (era awal Mataram kuno). Candi
Simangambat di Tanah Batak yang dibangun pada abad ke-8 memiliki kemiripan
dengan candi-candi di Jawa Tengah. Di dua wilayah ini candi-candi mulai dibangun pada abad ke-8 dengan
menggunakan teknik batu andesit (candi di Tarumanegara, Jawa bagian tengah
menggujnakan teknologi batu bata, teknik yang kemudian dikembangkan di Tanah
Batak).
Candi tertua di Jawa diduga
adalah candi Batujaya. Karawang (di Jawa bagian barat). Candi Batujaya diduga
dibangun jauh sebelum abad ke-7. Sedangkan candi tertua di Sumatra berada di
Tanah Batak (candi Simangambat di Angkola/Mandailing-kini Tapanuli Selatan).
Candi Simangambat dibangun pada abad ke-8.
Para ahli arkeologi masa kini membuktikan bahwa banyak persamaan antara
candi Simangambat (di Tanah Batak) dengan candi-vandi di Jawa (Tanah Jawa)
seperti candi Sewu (sebelum candi Borobudur dibangun). Namun yang menjadi
pertanyaan adalah sejak kapan candi Simangambat dibangun? Boleh jadi persamaan
candi Simangambat dengan candi di Jawa karena ada restorasi baru dalam candi
Simangambat. Dalam hal ini bisa jadi candi Simangambat pada abad ke-8 (Boedha) telah
mengalami perubahan bentuk dari bentuk awal candi Simangambat (Hindoe).
Teknologi candi di nusantara (Tanah Batak dan Tanah Jawa) diduga bermula pada
awal peradaban Hindoe di nusantara, yang dalam hal ini diduga terdapat di Tanah
Jawa (candi Batujaya) dan Tanah Batak (candi Simangambat). Keduanya berawal di
wilayah pantai pada waktu itu. Candi Simangambat dibangun di sisi timur suatu
danau tua di belakang pantai di daerah Siabu yang sekarang. Ke dalam danau ini
bermuara dua sungai besar yakni Batang Angkola dan Batang Gadis. Danau ini
tidak ada lagi karena sudah jebol, tetapi kini hanya tinggal rawa (rodang) yang
luas. Proses sedimentasi jangka panjang karena
aktivitas manusia dan jebolnya danau menyebabkan terbentek daratan/rawa yang
luas seakan candi Simangambat pada masa ini terkesan jauh di pedalaman (hal
serupa juga di arah timur Candi Simangambat terdapat pusat percandian pada
berikutnya kini seakan jauh di pedalaman dari pantai timur Sumatra. Idem dito dengan Tanah Batak di Sumatra, di
Tanah Sunda di Jawa pada masa lampau candi Batujaya beradad di pantai/laut.
Secara geomorfologi candi Batujaya pada zaman kuno berada di sisi barat suatu
pulau di muara sungai Tjitarum. Akibat proses sedimentasi jangka panjang pulau
dimana berada candi menyatu dengan daratan, sementara proses sedimentasi, sungai
Tjitarum terus mencari jalan menuju laut sehingga kini candi Batujaya seakan
berada jauh di pedalaman. Dalam hal ini peradaban awal di Nusantara pada
awalnya bermula di pesisir (termasuk belakang pantai). Harus diingat di
pedalaman sudah sejak dahulu terdapat populasi yang memproduksi yang bertukar
dengan populasi di pentai/belakang pantai dimana terdapat candi-candi tersebut.
Teknologi candi yang menyertai masuknya pengaruh
Hindoe, sebenarnya dapat dikatakan merupakan perubahan radikal teknologi
navigasi pelayaran penduduk asli nusantara yang berdiam di pulau-pulau terutama
di Sumatra dan Jawa. Pengaruh Hindoe sangat mempengaruhi populasi asli, tidak
hanya religi, juga teknologi (candi dan navigasi pelayaran). Pengaruh ini terus
berlangsung hingga abad ke-7 dan abad-abad selanjutnya. Adopsi religi dan
transfer teknologi dari luar pada akhirnya menjadi elemen peradaban penduduk
asli. Navigasi pelayaran dari Tanah Batak (prasasti Kedoekan Boekit 682 M) ke
Jawa (Kota Kapoer 686 M) menjadi bukti terawal navigasi pelayaran di nusantara
dalam skala besar.

Relief kapal pada dinding candi Borobudur apakah itu telah menggambarkan
kemajuan teknologi navigasi pelayaran di Jawa? Sangat sulit menjawabnya dan masih
misteri. Yang jelas fakta bahwa telah ada navigasi pelayaran dar pantai timur
Sumatra (bagian utara) ke (pulau) Jawa. Dinasti Seilendra diduga bagian dari
federasi (kerajaan) dari Sumatra yang terus mengembangkan peradaban baru,
terutama di pedalaman Jawa (Mataram Kuno) dimana kemudian dibangun monument raksasas
candi Borobudur. Sangat sulit menjelaskan kerajaan baru yang terbentuk di
pedalaman Jawa pada era Boedha sudah terbiasa dalam gkegiatan maritime (navigasi
pelayaran perdagangan). Lantas apakah relief kapal/perahu laya pada candi Borobudur
sebagai wujud navigasi pelayaran dari Sumatra bagian utara ke Jawa (bagian
tengah)? Bukankah navigasi pelayaran perdagangan di Jawa bermula pada era
Singhasari dan puncaknya pada era Majapahit? Memang sudah sejak lama ada
indikasi navigasi pelayaran di Jawa, yakni dengan memperhatikan relasi isi teks
prasasti Muara Kaman dan prasast-prasasti di Jawa bagian barat (Tarumanagara?).
Namun yang menjadi soal adalah Tarumanagara di pantai utara Jawa, dinasti Seilendra
di pedalaman Jawa.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Navigasi Pelayaran Perdagangan di Utara dan Selatan Khatulistiwa:
Peta Navigasi Pelayaran di Nusantara
Seperti disebut di atas,
sejarah awal navigasi nusantara dimulai dari (kota Pelabuhan) Minanga (kini
Binanga?) di Sumatra bagian utara, lalu ke Sumatra bagian selatan (Palembang,
Bangka, Jambi), dan seterusnya ke Jawa. Dalam hal ini ada tiga raja: Dapunta
Hyang Nayik (Sumatra bagian utara), Dapunta Hyang Srinagajaya (Sumatra bagian
selatan) dan Dapunta Seilendra (Jawa bagian tengah). Tiga raja ini menjadi
bagian dari federasi (supra kerajaan) dimana diduga yang jadi ketua adalah Dapuntra
Hyang Nayik. Pada masa inilah pengaruh Sriwijaya (Boedha) di Jawa khususnya di
Jawa bagian tengah dengan monument terbesarnya candi Borobudur. Pengaruh Hindoe
di Jawa jelas masih ada, tidak hanya di Jaw bagian barat tetapi juga di Jawa
bagian tengah. Monumen baru Hindoe di Jawa bagian tengah adalah candi
Prambanan. Jarak yang jauh antara Sumatra bagian utara dan Jawa bagian tengah
federasi Sriwijaya menjadi longgar setelah terjadinya ekspedisi Kerajaan Chola
(dari India). Navigasi pelayaran nusantara kemungkinan berhenti di Sumatra,
khususnya seputar Selat Malaka. Meski demikian, wilayah federasi Sriwijaya
sudah berkembang di seputar Laut Cina Selatan (lihat prasasyi Ligor 775 dan
prasasti Laguna 900 M).

Dalam prasasti Tanjore (1030) dinyatakan armada Kerajaan Chola telah
menaklukkan negeri-negeri di pantai timur India, teluk Bengale dan pantai barat
Burma dan negeri-negeri di Selat Malaka. Dalam teks ini disebut setelah
menaklukkan Kerajaan Kadaram (kini Kedah di Semenanjung Malaya) dan menawan
rajanya, kemudian serangan dilakukan di pantai timur Sumatra. Yang pertama ditaklukkan
adalah negeri Vidyadhara-torana, gerbang kota pedalaman yang luas yang
dilengkapi perlengkapan perang, berhiaskan permata dengan kemuliaan besar yang
menjadi gerbang kemakmuran (kerajaan) Sriwijaya. Setelah itu ditaklukkan negeri
Pannai dengan kolam air, Malaiyur dengan benteng terletak di atas bukit;
Mayirudingam dikelilingi oleh parit; Ilangasogam yang tak gentar dalam
pertempuran sengit…; Mappappalam dengan air sebagai pertahanan;
Mevilimbangam, dengan dinding tipis sebagai pertahanan; Valaippanduru, memiliki
lahan budidaya dan hutan; Takkolam yang memiliki ilmuwan; pulau Madamalingam
berbenteng kuat; Ilamuri-Desam, yang dilengkapi dengan teknologi hebat; Nakkavaram
yang memiliki kebun madu berlimpah. Dalam hal ini dapat diinterpretasi di
wilayah Selat Malaka hanya ada dua kerajaan yakni Kerajaan Kadaram dan Kerajaan
Sriwijaya. Negeri-negeri di wilayah (kerajaan) Sriwijaya di Sumatra yang
disebut sebagian besar adalah mirip dengan nama-nama tempat yang terdapat di
wilayah Tapanuli Selatan yang sekarang (Angkola, Mandailing dan Padang Lawas)
sebagai berikut: Vidyadhara-torana (Torgamba); Pannai (Pane); Malaiyur (Malea);
Mappappalam (Sipalpal); Mevilimbangam (Limbong); Ilangasogam (Binanga/Sunggam);
Valaippanduru (Mandurana); Takkolam (Akkola) dan Madamalingam (Mandailing).
Dimana ibukota (kerajaan) Sriwijaya? Hingga kini
tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti. Namun sebenarnya tidak perlu
mencari di tempat lain yang sulit dibuktikan. Bukankan di dalam teks prasasti Tanjore
(1030) disebut dengan jelas nama Vidyadhara-torana. Perhatikan dalam teks: ‘Negeri
Vidyadhara-torana, gerbang kota pedalaman yang luas yang dilengkapi
perlengkapan perang, berhiaskan permata dengan kemuliaan besar yang menjadi
gerbang kemakmuran Sriwijaya’. Jelas disebut dalam teks (ibu kota) kerajaan
Sriwijaya senagai pintu gerbang dengan atribut ibu kota kerajaan (perlengkapan
perang, penuh hisan permata dan kemulian besar). Gerbang kota pedalaman dapat
diartikan bahwa ibu kota Sriwijaya ini di negeri Vidyadhara-torana (kini Tor
Gamba?). Torgamba pada masa ini di daerah aliran sungai Barumun, yang sudah
barang tentu pada masa lampau (abad ke-11) masih berada di muara sungai Barumun
(gerbang). Negeri-negeri di belakang ibu kota (di belakang pantai, di
pedalaman) sesuai dengan arah geografis masa kini yakni Pannai (Pane); Malaiyur
(Malea); Mappappalam (Sipalpal); Mevilimbangam (Limbong); Ilangasogam (Binanga/Sunggam);
Valaippanduru (Mandurana); Takkolam (Akkola) dan Madamalingam (Mandailing).
Disebut pulau Madamalingam (Mandailing).diduga kuat pada masa itu berada di sebuah
pulau di muara sungai Rokan (tentu saja pada saat itu sungai Rokan (kanan)
belum sepanjang yang sekarang.
Seperti telah disebut di atas, nama Binanga dicatat di dalam prasati
Kedoekan Baoekit (682 M), suatu Pelabuhan yang diduga berada di muara sungai
Barumun (suattu teluk) dimana sungai Panai juga bermuara. Oleh karena terjadi
proses sedimentasi jangka Panjang lebih dari tiga abad (692-1030 M), telah terjadi
pemberukan daratan di muara sungau Barumun yang mana sungai sendiri menemukan
jalan ke pantai dengan membentuk jalur sungai baru hingga sungai Barumun
bermuara di Vidyadhara-torana (Tor Gamba/Kota Pinang). Saat mana kerajaan Chola
melakukan penyerangan, negeri Vidyadhara-torana
berada di garis pantai dimana ibu kota Sriwijaya. Sungai Barumun ini terus memanjang
hinggan pada masa ini muaranya berada di Labuhan Bilik. Idem dito dengan pulau Madamalingam
(Mandailing) di muara sungai Rokan (kanan). Pada masa itu di selatan sungai teluk
Barumun/Panai terdapat teluk lainnya dimana dua sungai bermuara yakni sungai Rokan
Kanan dan sungai Rokan Kiri. Teluk tersebut akibat proses sedimnentasi jangka panjang
yang menyerbabkan daratn meluas dan pulau membesar menyebabkan pulau menyatu
dengan daratan, yang kemudian di hilir dua sungai bertemu, yang selanjutnya ke
hilir membentu jalur sungai tunggal hingga menuju pantai (sungai Rokan)..
Antara negeri Vidyadhara-torana (Kota Pinang/Tor Gamba) dan negeri Madamalingam (Mandailing) terdapat
negeri0-negeri lainnya. Negeri Malaiyur (Malea) diduga berada di lereng gunung
Malea (hulu sungai Barumun). Di utara gunung Malea terdapat wilayang Angkola
(Takkolam) yang kini menjadi pusat Kota Padang Sidempoean.
Negeri-negeri yang berdekatan (prasasti Tanjore 1030)
di daerah aliran sungai Barumun, sungai Panai dan sungai Rokan diduga kuat
menjadi pusat Sriwijaya. Berfasarkan prasasti Kedokekan Boekir 682 Minanga/Binanga
adalah ibu kota, sedangkan negeri-negeri di Sumatra bagian selatan
(prasasti-prasasti Telaga Batu, Karang Berwahi, Pasemah dan Bangka) adalah
perluasan (kerajaan) Sriwijaya (dengan raja baru bergelar Dapunta Hyang
Srinagajaya).
Dalam prasasti Tanjore, target utama Kerajaan Chola dari India di Selat Malaka
(Semenanjung Malaya dan Sumatra). Tentulah dua kerajaan besar yakni Kadaram di
Smenanjung dan Sriwijaya di Sumatra. Oleh karena negeri-negeri yang ditaklukkan
berada di tiga daerah sungai (Barumun, Panai dan Rokan) tentulah wilayah ini
yang menjadi pusat kerajaan Sriwijaya (negeri-negeri di Sumatra bagian selatan
hanyalah perluasan kerajaan Sriwijaya). Dengan menaklukan pusat, maka secara defacto
dan secara de jure Swiwijaya (Boedha) dapat dikatakan telah ditaklukkan Kerajaan
Chola. Kerajaan Sriwijaya tamat, negeri-negeri di bawah jajahan Chola Kembali menjadi
Hindoe. Catatan: nama sungai Rokan diduga merujuk pada nama Aroekan. Seperti
nama Baroemoen, kata ‘aroe’ adalah sungai (sungai B-aroe-moen dan sungai Aroe-kan).
Seperti kita lihat nanri di wilayah (pusat) Sriwijaya ini terbentuk nama
kerajaan baru dengan nama Kerajaan Aroe.
Setelah invasi Kerajaan Chola ke Selat Malaka,
kerajaan Sriwijaya yang sudah lama tamat, tetapi negeri-negeri di Sumatra
bagian utara bangkit kembali. Namun dalam hal ini terjadi pembauran ajaran
Boedha dengan Hindoe yang menghasi;lkan agama Boedaha Batak (Bhirawa). Pada
waktu yang sama kerajaan di Jawa telah bergeser dari Jawa bagian tengah
(dinasti Seilendra/Mataram Kuno) ke negeri-negeri di Jawa bagian timur (Kerajaan
Singhasari, suksesi Kerajaan Kediri). Di Jawa juga terjadi pembauran Boedha dan
Hindoe, tetapi pembauran di Sumatra bagian utara sangat khas (Bhirawa) yang
juga menggabungkan kepercayaan local (penghormatan kepada leluhur). Pada era
Raja Singhasari, Kertanegara menjalin hubungan dengan Kerajaan di Sumatra
bagian utara (Kerajaan Aroe, suksesi nama Sriwijaya). Dalam hal ini navigasi
pelayaran Nusantara terjalin kembali alias semua kerajaan terhubung satu sama
lain lagi (setelah lama vakum, akibat keberadaan pengaruh Chola).
Bukti hubungan antara Sumatra bagian utara dan Jawa bagian timur ini
telah ditunjukkan oleh ahli arkeologi FM Schnitger (1939). FM Schnitger menyatakan
ada satu candi di Singhasari (dibangun pada era Kertanegara) yang mirip dengan
candi-candi di Padang Lawas (Kerajaan Aroe) yang menggambarkan ornament religi
agama Boedha Batak (Bhirawa). FM Schnitger menyimpulkan bahwa Raja Kertanegara
adalah salah satu pendukung kuat aliran Boedha yang baru (Bhirawa). Seperti
kita lihat nanti Radja Adityawarman juga termasuk salah satu pendukung Boedha
Batak (Bhirawa).
Saat mana Kerajaan Aroe terbentuk di Sumatra bagian
utara, sisa Sriwijaya di Sumatra bagian selatan tetap dengan Boedha. Hal itulah
yang diduga menjadi pangkal perkara Singhasari menyerang Palembang (Sumatra
bagian selatan) dalam Pamalajoe. Kerajaan yang terbentuk di Sumatra bagian
tengah (daerah aliran sungai Batanghari) yang juga beraliran Bhirawa didukung
oleh Kertenagara dengan memberi hadiah (berupa patung) kepada raja di Sumatra bagian tengah, salah satu rajanya
kelak adalah Adityawarman di Dharmasraya. Raja Kertanegara meninggal tahun 1292
(yang kemuduan terbentuk kerajaan baru di muara sungai Mojokerto, Kerajaan
Majapahit). Navigasi pelayaran nusantara dari Jawa ke Sumatra Kembali dilanjutkan
oleh Majapahit (Sementara Kerajaan Aroe/Panai di Sumatra bagian utara navigasi
pelayarannya lebih intens di utara ekuator ke pantai utara Borneo, pulau-pulau
di Filipinan, Sulawesi bagian urara hingga pulau-pulau di Maluku).
Hubungan navigasi pelayaran perdagangan (kerajaan) Majapahit di nusantara
tergambar dengan nama-nama tempat yang disebutkan dalam teks Negarakertagama
(1365). Nama-nama yang disebut di (pulau) Sumatra antara lain Panai,
Mandailing, Rokan, H/aroe dan Baroes (nengeri-negeri di Sumatra bagian utara
tergabung dalam kerajaan federasi Kerajaan Aroe). Sementara di Sumatra bagian
tengah disebut nama Siak, Indragiri, Kampar serta Dharmasraya. Sedangkan di
Sumatra bagian selatan hanya satu tempat yang disebutkan yakni Palembang
sendiri. Ini mengindikasikan bahwa wilayah Sumatra bagian selatan hanya
sedikit, jika tidak boleh disebut satu yang berkembang (yakni Palembang
sendiri). Dalam hubungan ini nama Panai masih eksis sebagaimana terdapat nama
Panai dalam prasasti Tanjore 1030. Juga dapat dimasukkan nama negeri yang masih
eksis yakni Mandailing. Tampaknya pada era Singhasari/Majapahit ini di hilir
negeri Mandailing terbentuk negeri baru Rokan (sungai Rokan semakin memanjang
karena proses sedimentasi jangka panjang).
Ada beberapa peristiwa pada era ini antara lain
kunjungan utusan Moor (Ibnu Batutath) ke selat Malaka tahun 1345 dan pantai timur
Tiongkok; Pati Gajah Mada meninggal tahun 1364. Radja Adityawarman pendukung fanatic
agama Boedha Batak (Bhirawa) meninggal tahun 1375. Dengan tiadanya Gajah Mada,
Kerajaan Majapahit (semasa Hayam Wuruk) mulai melemah dalam navigasi pelayaran
perdagangan nusantara. Hal itu juga seiring dengan semakin menguatnya pengaruh
Islam di Selat Malaka. Sedangkan navigasi pelayaran di Sumatra bagian utara
masih terus berkembang di utara ekuator. Pada fase Majapahit (Hindoe) menurun, dan
Aroe/Panai (Islam) meningkat terjadi ekspedisi Tiongkok (Cheng Ho) yang dalam
ekspedisi ini juga Cheng Ho mengunjungi Aroe/Panai/Batak (sejak 1403). Cheng Ho
juga mengunjungi pantai utara Jawa (antara lain Semarang dan Jepara—terbentuknya
kerajaan baru Islam di Demak).
Kerajaan Majapahit semakin meredup hingga hilang, seiring dengan semakin
menguatnya Kerajaan Jepara/Demak. Pengaruh Islam mulai memasuki wilayah Hindoe
di pedalaman Jawa (Mataram baru). Sementara Kerajaan Demak sangaat powerfull di
Jawa, Kerajaan Aroe semakin powerfull di Selat Malaka. Kerajaan baru yang
terbentuk di Semenanjung Malaya (Kerajaan Malak) pernah diserang Kerajaan Aroe.
Pada saat kehadiran Portugis di selat Malaka (menaklukkan Kerajaan Malaka tahun
1511), Kerajaan Aroe tengah berselisih dengan kerajaan baru di ujung utara
Sumatra (Kerajaan Atjeh). Ini dapat dibaca dalam laporan Mendes Pinto yang
pernah mengunjungi Kerajaan Aroe Batak Kingdom pada tahun 1537.
Navigasi pelauaran perdagangan di Jawa diwakili oleh
Kerajaan Demak, navigasi pelayaran Kerajaan Aroe/Batak Kingdom masih terus
berlangsung. Menurut Mendes Pinto (1537) kekuatan Kerajaan Aroe Batak Kingdom sebanyak
15.000 pasukan, dimana delapan ribu orang Batak dan sisanya didatangkan dari
Minangkabau. Jambi, Indragiri, Brunai dan Luzon. Ini mengindikasikan navigasi
pelayaran perdagangan Kerajaan Aroe/Panai masih eksis di Laut China Selatan.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


