*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Ada beberapa kota di pantai
timur laut pulau Kalimantan yang kini masuk wilayah (negara) Sabah yakni Kudat,
Sandakan, Lahad Datu dan Tawau. Nama Lahad Datu kini menjadi penting karena
pernah terjadi peristiwa berdarah pada tahun 2013. Wilayah Lahad Datu ini
termasuk bagian wilayah yang diberikan Kerajaan Sulu sebagai konsesi kepada
Maskapai Borbneo Utara milik pedagang Inggris.

Lahad Datu (Malay: Bandar Lahad Datu) is the capital of the
Lahad Datu District in the Dent Peninsula on Tawau Division of Sabah, Malaysia.
Its population was estimated to be around 27,887 in 2010. The town is
surrounded by stretches of cocoa and palm oil plantations. It is also an
important timber exporting port. The town has an airport for domestic flights. A
settlement is believed to have existed here in the 15th century, as excavations
have unearthed Ming dynasty Chinese ceramics. Just east of Lahad Datu is the
village of Tunku, a notorious base for pirates and slave traders in the 19th
century. Based on a Jawi manuscript in the Ida’an language dated 1408 A.D, it
is believed to be the first site in northern Borneo where Islam was first
introduced. The Jawi manuscript gives an account of an Ida’an man named
Abdullah in Darvel Bay who embraced Islam. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Lahad Datu di Teluk Darvel? Seperti disebut di atas, kota Lahad Datu terbentuk di
teluk Darvel. Lalu bagaimana sejarah Lahad Datu di Teluk Darvel? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*. Peta Ptolomeus abad ke-2
Lahad Datu di Teluk Darvel;
Sejarah Awal hingga Peristiwa Serangan Sulu di Lahad Datu 2013
Dari masa ke masa wilayah rupa
bumi Lahad Datu relatif tidak berubah. Wilayah Lahad Batu sejak lama dikenal
sebagai teluk Darvel. Ini berbeda dengan wilayah teluk lainnya dimana kemudian
terbentuk kota Sandakan dan kota Tawau. Kawasan Lahad Datu dapat dikatakan
mirip dengan kawasan teluk Marudu (Kudat). Secara geomorfologi diduga kawasan
teluk Marvel, yang mirip teluk Marudu, diduga menjadi kawasan strategis
navigasi pelayaran perdagangan sejak zaman kuno (lihat peta Ptolomeus abad
ke-2)..

Wilayah kawasan teluk Marudu diduga kuat telah menjadi
pusat perdagangan sejak zaman kuno, dimana terbentuk kota perdagangan Maludu
atau Marudu. Kawasan teluk Marudu ini berada diantara dua perbukitan yang
membentuk setelah lingkaran. Pada bagian dalam teluk terbentuk sejak awal
kampong/kota Maludu. Kota Maludu ini ke pedalaman terhubung dengan lereng
gunung Kinabalu dan ke wilayah pesisir di teluk Maludu terhubungan dengan dunia
luar (manca negara). Posisi Maludu dengan teluk yang tenang dapat dikatakan
sebagai perlindungan kapal yang baik saat terjadi badai. Aktivitas manusia yang
intens di pedalaman (perladangan dan pertambangan) Maludu di lereng gunung
Kinabalu menyerbabkan terjadi sedimentasi jangka panjang di bagian dalam
kawasan teluk yang membentuk daratan baru. Hal itulah mengapa kota Marudu kini
seakan berada di pedalaman jauh di belakang pantai di kawasan teluk. Kota Kudat
adalah kota yang terbentuk baru sejak era Inggris. Peta 1657
Teluk Marvel telah
diidentifikasi dalam peta-peta Portugis. Pada Peta 1601 belum diidentifikasi
dengan nama dan baru diidentifikasi dengan nama Dwael pada Peta 1657. Pada dua
peta Portugis ini geomorfologi kawasan teluk Dwaal wujudnya tidak banyak
berubah dengan kondisi yang sekarang. Satu abad kemudian (lihat Peta 1724) ada
perubahan bentuk bagian dalam teluk, dimana terbentuk daratan tempat dimana
kini kota Lahad Datu.

Dalam hal ini ada celah kecil ke dalam (lihat
Peta 1657) dari kawasan pesisir yang sekarang ke arah pedalaman yang diduga masuk
wilayah kawasan Segama yang sekarang (daerah aliran sungai Malamba dan sungai
Danum). Hanya itu yang terlihat secara geomorfologis dalam perubahan teluk
sepanjang masa. Besar dugaan kawasan dimana terbentuk kota Lahad Datu merupakan
pemukiman baru diwilayah lereng bukit. Peta 1724
Sungai Danum tempo doeloe
disebut sungai Segama (sungai terpanjang kedua di pantai timnur laut setelah
sungai Kinabatangan). Untuk mencapai wilayah Segama di pedalaman harus dilalui
melalui sungai Segama yang bermuara di Litang. Sehubungan dengan memanjangnya
sungai Segama ke hilir (proses sedimentasi), dan di sisi lain terbentuknya
kampong Lahad Datu, maka untuk memotong jalan arus perdagangan dari pedalaman
terbentuk jalan dari Lahad Datu ke sungai Segama di kampong Segama (kampong
yanfg lebih tua dari Lahad Datu).
Secara geomorfologis, teluk Lahad Datu
(Marvel/Dwaal) bukanlah tempat-tempat strategis dalam perdagangan di masa
lampau. Sebab kota-kota perdagangan utama biasanya terbentuk di muara-muara
sungai. Besar dugaan bahwa teluk Dwael/Marvel awalnya adalah teluk yang
bersifat marjinal.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Sejarah Awal hingga Peristiwa
Serangan Sulu di Lahad Datu 2013: Sabah (Federasi Malaysia) dan Sulu (Filipina)
Sejak Baron van Overdeck (Maskapai
Borneo Utara) mendapat konsesi di wilayah pantai timur laut Borneo Utara (Sabah
dan Sandakan), pada tahun 1878, mulai dibentuk berbagai kampong menjadi
kota-kota utama, seperti Kudat, Jesselton, Sandakan, Lahad Datu (plus Tawau).
Kampong kecil Lahad Datu menjadi penting ketika perusahaan Belaanda yang
berbasis di Artwep Belanda membuka perkebunan tembakau di Lahad Datu dengan
nama Darvel Bay Tobacco Plantations Ltd di Lahad Datu, British North Borneo
(lihat Deli courantm, 17-04-1889). Administraturnya seorang Belanda JT Voorwijk
(lihat Deli courant, 09-04-1890).

Kapan perusahaan Darvel Bay Tobacco Plantations Ltd dibentuk dan kapan
mulai melakukan land clearing di Lahad Datu tidak diketahui secara pasti. Yang
jelas pada tahun 1891 plantation Lahad Datu telah menghasil ekspor (lihat De
Maasbode, 01-07-1891). Pada tahun 1896 dilaporkan dari Lahad Datu 530 pikul dan
200 pikul dari dua kebun yang berbeda di Lahad Datu (lihat buku Afloopen Tabak,
1898). Dalam laporan tembakau ini juga perusahaan lagi telah menghasilkan yakni
perusahaan NLBTC (New London Borneo Tobacco Company) yang memiliki kebun di
Ranau dan Bandau (Marudu) serta Marian (Sandakan). Tampaknya hanya dua
perusahaan ini yang beriperasi di Borneo Utara (Sabah) di bidang tembakau. hanya dua perusahaan ini yang beriperasi di Borneo Utara
(Sabah) di bidang tembakau.
Perusahaan Lahad Batu cukup
lama beroperasi dan masih eksis hingga tahun 1940 (lihat De Indische mercuur; orgaan gewijd aan den
uitvoerhandel, jrg 63, 1940, no 49, 04-12-1940). Selain tembakau, hasil eskpor
dari Lahad Datu yang merupakan hasil hutan adalah kayu mahoni. Kota pelabuhan lain
di kawasan teluk adalah Kunak.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



