*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Nama Marudu di wilayah Sabah
yang sekarang diduga sudah eksis sejak zaman kuno. Nama kota ini sudah
diidentifikasi dalam peta Ptolomeus abad ke-2 yang disebut Peta Taprobana. Di
Sabah banyak nama-nama kota baru seperti Kudat, sebagaimana kota-kota Weston
dan Beaufort. Kota-kota baru ini berkembang sejak awal kehadiran Inggris di
Sabah (Maskapai Borneo Utara).

Kota Marudu (Malay: Pekan Kota Marudu) is the capital of the
Kota Marudu District in the Kudat Division of Sabah, Malaysia. Its population
was estimated to be around 8,716 in 2010. It is located 130 kilometres north of
the state capital, Kota Kinabalu, along the federal highway linking Kota
Kinabalu with the town of Kudat, near the northern tip of Borneo. Places of
interest in Kota Marudu include Sorinsim Waterfall, located 40 kilometres from
the main town, and Sagabon Park, an agriculture research station on Buyut Lake.
Kota Marudu also boasts Southeast Asia’s largest solar power station. The town
celebrates an annual Maize Festival in honour of the agricultural product’s
contribution to the district’s socio-economic development. The line-up of
activities includes a variety of exhibitions, competitions, traditional sports
and a beauty pageant. It is not very clear when Kota Marudu was established but
it is appeared on 15th century map of borneo by Johannes Cloppenburgh (circa
1632) and map by Benjamin Wright (1601) with name of “Marudo”. It th
also referred as “Malloodoo” in others old maps. In some other old
map it also refer as Bandau. According to the legend, Bandau is a derivative of
the word ‘Mondou’ from the Rungus dialect which means “the head (leader)
of all the beasts”. Mondou was once believed to have been found by Aki
Rungsud in the area along the Bandau River. The town was renamed ‘Kota Marudu’
after a fort (kota) built by local warrior named Sharif Usman at Marudu Bay to
protect the area from the British North Borneo colonial authorities, where he
was considered by the latter as a pirate. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Marudu dan Kudat, kota kuno dan kota baru? Seperti disebut di atas, pulau Kalimantan sudah dikenal
sejak era Ptolomeus yang mana kota Marudu di Sabah
diduga adalah kota kuno. Sebalik kota Kudat adalah kota baru yang dibangun baru
pada era Maskapai
Borneo Utara 1878.
Lalu
bagaimana sejarah sejarah Marudu dan Kudat, kota kuno dan kota baru? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Marudu dan Kudat, Kota Kuno dan
Kota Baru; Era Ptolomeus hingga era Maskapai Borneo Utara
Dalam peta yang dibuat oleh
Oliver Noort pada tahun 1601 di pantai utara Borneo sedikitnya ada tiga nama
kota yang diidentifikasi: Malano, Brunai dan Marudu. Oliver Noort adalah
pimpinan ekspedisi kedua Belanda yang, secara khusus juga telah mengunjungi
pantai utara Borneo. Peta yang digunakan oleh Oliver Noort diduga adalah peta
pelaut Portugis. Nama gunung Kinabalu masih disebut sebagai gunung Monte de S
Pedro. Marudu adalah satu-satunya nama kota yang diidentifikasi.

Francois Valentijn yang membuat peta Borneo di
dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1724. Valentijn juga adalah orang
Belanda yang pernah mengunjungi wilayah pantai utara Borneo. Dalam dua peta
itu, nama Marudu eksis sebagai identifikasi suatu kota/kerajaan. Dalam peta
Valentijn nama gunung Kinabalu disebut gunung St Pieters Berg. Wilayah Sabah
dan Sandakan yang sekarang disebut Tanah Marudo (Land van Marudo). Kota Marudo
saat itu tepat berada di pantai pada suatu teluk. Di sebelah tenggara terdapat teluk besar St
Anne baai. Sungai besar yang diidentifikasi adalah sungai Sandanaon. Jelas
dalam hal ini di wilayah Sabah belum diidentifikasi nama Sandakan, Kinabalu,
Kinabatangan dan Kudat. Namun nama Kinabalu diidentifikasi sebagai gunung Pedro
atau Pieters.
Marudo pada era Portugis hingga
era VOC adalah suatu kerajaan besar dan satu-satunya di wilayah Sabah yang
sekarang. Oleh karena itu wilayah Sabah disebut Tanah Marudo. Di dalam wilayah
ini diidentifikasi gunung tinggi St Pedro/St Pieters. Mengapa sungai besar
Kinabatangan tidak diidentifikasi? Besar dugaan sungai Kinabatangan adalah
sungai kecil yang bermuara ke teluk St Anne baai. Bukankah sungai Kinabatangan
pada masa ini adalah sungai besar nan panjang?

Sungai Kinabatangan sebagai sungai kecil bermuara
ke teluk St Anne baai tidak diidentifikasi sebagai penanda navigasi pelayaran.
Dalam perkembangannya diduga telah terjadi proses sedimentasi jangka panjang di
teluk St Anne baai, yang kemudian terbentuk rawa-rawa yang selanjutnya
berbentuk daratan (datar) yang luas. Dalam hal ini sungai Kinabatangan
menemukan jalannya sendiri menuju laut. Teluk St Anne baai yang luas tempo
doeloe telah menyempit dan hanya tersisa teluk kecil dimana di sisi utara pintu
masuk teluk kecil ini terbentuk kota baru Sandakan. Muara sungai Kinabatangan
yang terbentuk baru berada di sisi selatan pintu teluk (teluk yang disebut
teluk Sandakan). Hal serupa ini pula yang terjadi di teluk dimana terdapat kota
kuno Marudo, telah terjadi proses sedimentasi jangka panjang yang menyebabkan
kota Marudo pada masa ini terkesan berada jauh di pedalaman.
Pada Peta 1851 (peta buatan
Belanda) nama Kinabaloe sebagai nama gunung dan nama Sandakan sebagai teluk
telah diidentifikasi. Namun nama kota/tempat Sandakan belum diidentifikasi.
Demikian juga nama kota/tempat Kinabaloe belum diidentifikasi. Pada Peta 1877
nama sungai Kinabatangan dicatat sebagai sungai Batang Batang. Dalam Peta 1877
ini wilayah pantai timur Sabaj diidentifikasi dengan batas yang jelas sebagai
Soeloe yang terdiri dari dua wilayah yakni Maludu di utara dan Mangidari di
selatan (sampai batas wilayah yurisdiksi Hindia Belanda di sungai Tawau).
Sebelah barat batas wilayah Soeloe ini masuk wilayah Brunai. Catatan: seperti
biasanya, dalam peta-peta baru Belanda nama-nama lama yang berbau Portugis
diubah dan dikembalikan/dinamai sesuai sebutan pendudukan setempat. Hal itulah
muncul nama teluk Sandakan (pengganti nama St Anne baai; nama Kinabalu untuk
menggantikan nama Sr Pedro/Pieters.

Pada tahun 1878 maskapai Borneo Oetara yang
dipimipin oleh Baron von Overdexk mendapat konsesi utnuk pengelolaan wilayah pantai
timur (Soeloe) dan wilayah bagian Brunai yang dipimpin oleh Maharadja Sabah
(timur Brunai dan barat Maludu). Wilayah Soeloe ini di bawah pimpinan Radja
Sandakan. Dua wilayah konsesi inilah yang kemudian kini menjadi wilayah
(negara) Sabah. Sejak maskapai Borneo Utara mengoperasikan wilayah Sandakan/Soeloe
dan Sabah/Brunai batas wilayah Hindia belanda tergeser ke arah selatan (yang
sekarang). Batas sebelumnya adalah BatuTinagat (sebelah timur kota Tawau yang
sekarang) dimana terdapat pos militer Hindia Belanda.
Sejak kehadiran maskapai Borneo
Utara milik pedagang Inggris di wilayah Sabah yang sekarang, situasi dan
kondisi wilayah cepat berubah. Maskapai Borneo Utara mengembangkan kampong
Kudat menjadi kota utama (perdagangan) yang berada di ujung timur teluk Maludu
(sebagai pengganti kota lama Maludu). Kampong Sandakan dengan cepat berubah
menjadi kota Sandakan. Dua kota yang dirintis sejak era James Brooke (Weston
dan beaufort), maskapai Borneo Utara
membangun kampong Kinabalu dengan memberi nama baru Jesselton. Kota Jesselton
inilah kemudian yang dikembangkan sebagai ibu kota pemerintahan baru (menggantikan
Kudat).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Era Ptolomeus hingga era
Maskapai Borneo Utara: Marudu dan
Kudat
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





