*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Sebenarnya tidak ada lagi hal
yang dapat diperbandingkan antara apa yang seharusnya sterjadi di Indonesia dan
di Malaysia mulai dari soal persatuan dan kesatuan, serta bahasa, budaya dan
orientasi politik. Pada era kolonial dan seputar pasca kolonial banyak aspek
yang dapat diperbandingkan. Namun kini sudah jauh perjalanan waktu. Dan akan
banyak hal yang isu tempo doeloe tidak sama lagi dengan isu sekarang, termasuk
soal isu bahasa.

Di Indonesia soal persatuan dan
kesatuan bangsa sudah lama melembaga, sementara di Malaysia masih sibuk
mempersoalkan isu persatuan dan kebangsaan. Di Malaysia orang masih sebuk
dengan soal bahasa yakni kedudukan bahasa Melayu, sementara di Indonesia sudah
sejak lama tuntas dalam soal bahasa Bahasa Indonesia. Anehnya saat di Malaysia
heboh isu bahasa malah ingin bahasa Melayu menjadi bahasa ASEAN, sedangkan di
Indonesia bahwa Bahasa Indonesia sudah lama mantap dan secara perlahan Bahasa
Indonesia telah menginternasional. Hal itulah mengapa isu yang diperbandingkan
tidak sama lama dibanding tenmpo doeloe. Di Indonesia orang Cina dan orang
India berbahasa Indonesia, sementara ketika orang Cina di Malaysia berbahasa
Mandarin dan orang Indis berbahasa Tamil diminta untuk berbahasa Melayu,
tentulah tidak bisa. Karena jalan yang dipilih di Malaysia pada masa lalu
adalah eksistensi bahasa Melayu dan bahasa Mandarin dan bahasa Tamil. Atas
dasar itu, meski bahasa Melayu diajadikan sebagai bahasa resmi, tetapi secara
alamiah untuk bahasa pengantar antar bangsa berbeda di Malaysia dilakukan
dengan bahasa Inggris. Untuk sekadar menambahkan, karena orang India berbahasa
Bahasa Indonesia di Medan, lalu apakah orang India di Kuala Lumpur harus
berbahasa Melayu? Yang jelas orang India di Medan dan orang India di Kuala
Lumpur tidak bisa diperbandingkan lagi, karena isunya sudah berbeda. Dan ketika
ada guru besar Malaysia menganggap Bahasa Indonesia tidak ada, dan menganggap
Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Indonesia, maka isunya pun telah berbeda
jika dibanding tempo lalu. Jelas tidak mungkin nama Bahasa Indonesia diubah
menjadi Bahasa Melayu Indonesia.
Lantas
bagaimana sejarah bahasa
Melayu dan sisa kolonial bahasa Inggris di Malaysia? Seperti disebut di atas, banyak aspek yang tidak bisa
lagi diperbandungkan antara yang ada di Indonesia dengan di Malaysia hari ini,
karena sudah berbeda isu dibandingkan pada masa lampau.. Dalam hal ini tidak
bisa langi dibandingkan antara bahasa Melayu di Malaysia dengan Bahasa
Indonesia di Indonesia. Lalu bagaimana sejarah sejarah bahasa Melayu dan sisa kolonial bahasa Inggris di Malaysia? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Bahasa Melayu dan Sisa
Kolonial Bahasa Inggris di Malaysia: Bahasa Melayu vs Bahasa
Indonesia
Tunggu deskripsi lengkapnya
Bahasa Melayu vs Bahasa
Indonesia: Sisa Kolonial Bahasa Inggrsi di
Malaysia, Sisa Kolonial Belanda di Indonesia Sudah Lama Berlalu
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



