*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Ketika Kesultanan Sulu
mengklaim wilayah Sabah dari (federasi Malaysia), hamir semua orang kaget.
Sejak itu banyak orang ingin mengetahui sejarah (kesultanan) Sulu. Dari
berbagai tulisan nama Sulu dan kerrajaan Sulu
memiliki data sejarah yang cukup. Hanya saja kurang terinformasikan. Disinilah
masalahnya. Ketika Kesultanan Sulu (Filipina) klaim Sabah menjadi heboh.

Kesultanan Sulu adalah sebuah pemerintahan Muslim yang pernah
menguasai Laut Sulu di Filipina Selatan. Kesultanan ini didirikan pada tahun
1450. Pada zaman kegemilangannya, negeri ini telah memperluas perbatasannya
dari Mindanao hingga bagian timur negeri Sabah (sekarang bagian dari Sabah dan
Kalimantan Utara). Kesultanan Sulu didirikan pada 17 November 1405 oleh seorang
penjelajah kelahiran Johor dan ulama Sharif ul-Hashim. Setelah perkawinan Abu
Bakar dan dayang-dayang (putri) setempat Paramisuli, ia mendirikan kesultanan.
Kesultanan memperoleh kemerdekaannya dari Kekaisaran Brunei pada tahun 1578.
Negeri Sulu terletak di lepas pantai Kepulauan Nusa Utara, Sulawesi Utara. Wilayah
Kesultanan Sulu saat ini pernah berada di bawah pengaruh Kekaisaran Brunei
sebelum memperoleh kemerdekaannya sendiri pada tahun 1578. Setelah itu,
permukiman paling awal yang diketahui di daerah ini segera ditempati oleh
kesultanan yang berada di Maimbung, Jolo. Pada waktu itu, Sulu dipanggil dengan
nama Lupah Sug. Pada tahun 1380, seorang ulama keturunan Arab, Karim ul-Makdum
memperkenalkan Islam di Kepulauan Sulu. Kemudian tahun 1390, Raja Bagindo yang
berasal dari Minangkabau[3] melanjutkan penyebaran Islam di wilayah ini. Hingga
akhir hayatnya Raja Bagindo telah mengislamkan masyarakat Sulu sampai ke Pulau
Sibutu. Sekitar tahun 1450, seorang Arab dari Johor yaitu Sharif ul-Hashim Syed
Abu Bakr tiba di Sulu. Ia kemudian menikah dengan Paramisuli, putri Raja
Bagindo. Setelah kematian Raja Bagindo, Abu Bakr melanjutkan pengislaman di
wilayah ini. Pada tahun 1457, ia memproklamirkan berdirinya Kesultanan Sulu dan
memakai gelar “Paduka Maulana Mahasari Sharif Sultan Hashim Abu Bakr”.
Gelar “Paduka” adalah gelar setempat yang berarti tuan sedangkan
“Mahasari” bermaksud Yang Dipertuan. Pada tahun 1703, Kesultanan
Brunei menganugerahkan bagian timur Sabah kepada Kesultanan Sulu atas bantuan
mereka menumpas pemberontakan di Brunei. Pada tahun yang sama, Kesultanan Sulu
menganugerahkan Pulau Palawan kepada Sultan Qudarat dari Kesultanan Maguindanao
sebagai hadiah perkawinan Sultan Qudarat dengan puteri Sulu dan juga sebagai
hadiah persekutuan Maguindanao dengan Sulu. Sultan Qudarat kemudian menyerahkan
Palawan kepada Spanyol. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Kesultanan Sulu di Filipina dan Negara Sabah di Federasi
Malaysia? Seperti
disebut di atas, Kesultanan
Sulu pernah berkuasa di bagian timur Sabah. Lalu bagaimana sejarah Kesultanan
Sulu di Filipina dan Negara Sabah di Federasi Malaysia? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Kesultanan Sulu di Filipina
dan Negara Sabah di Federasi Malaysia; Era Spanyol versus Inggris
Nama Sulu bukanlah nama baru
dalam sejarah Nusantara (baca: Hindia Timur/Hindia Belanda). Nama Sulu sudah
ada sejak era Portugis, bahkan jauh sebelum itu. Wilayah segitiga Portugis,
Belanda dan Spanyol, wilayah Sulu terbilang independen, tetapi kemudian menjadi
bagian yurisdiksi Spanyal (Filipina). Namun setelah sekian lama, nama Sulu
kembali muncul ke permukaan mana kala perusahaan Inggris yakni Maskapai Borneo
Utara disebut melakukan pengalihan wilayah Sabah (Borneo Utara bagian timur) dari
Kesultanan Sulu pada tahun 1878.
Penyerahan lahan Sandakan dan Sabah antara Sultan
Brunai dan Sultan Sulu di satu sisi dengan Maskapai Borneo Utara di sisi lain,
pada tahun 1878 ternyata kemudian menjadi isu yang terus ada dimana Kesultanan
Sulu (Filipina) mengklaim wilayah Sabah dari Federasi Malaysia yang dibentuk
tahun 1963.
Mengapa Kerajaan (Kepulauan)
Sulu tetap menjadi independen ketika tiga kekuatan mengapit wilayah ini. Pada
fase pertama tiga kekuatan adalah Portugis, Belanda/VOC dan Spanyol dan pada
fase kedua dengan tiga kekuatan yakni Spanyol, Belanda dan Inggris. Yang jelas
Kerajaan Sulu memiliki kekuatan maritim di kawasan hingga Teluk Tomini di timur, kepulauan Riau
di Laut Cina Selatan di barat serta selata antara Sulawesi (Mamajoe) dan Kalimantan (Koetai).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Portugis Spanyol Belanda dan Inggris: Kesultanan Sulu
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




