*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Ompung
adalah kakek di Tanah Batak dan Eyang adalah kakek di Tanah Jawa. Dalam
silsilah keluarga (batih) sebutan kakek dan cucu adalah dua sebutan yang terus
berulang seperti halnya grandfather (kakek) dan grandson (cucu). Dalam tradisi,
terutama di Tanah Batak, nama anak pertama adalah sebutan ayah dan cucu pertama
adalah sebutan kakek. Lantas pernahkah terpikir bahwa Ompung dan Eyang berasal
dari zaman kuno sebagai gelar yang sangat terhormat (Raja): Ompung di Tanah
Batak yang merujuk pada Mpu dan Empung; Eyang di Tanah Jawa yang merujuk pada
Hyang, Hang dan Yang di Peruah (Yang di Pertuan).

terkenal dengan gelar Mpu seperti Mpu Prapanca, Mpu Grandring, Mpu Sendok, Mpu
Tantular. Di wilayah Melayu (Sumatra dan Semenanjung) pada zaman dahulu dikenal
gelar Hang seperti Hang Tuah, Hang Lekir dan Hang Jebat. Gelar Hang kemudian
diduga menjadi Yang seperti Yang Dipertuan Agung. Pada zaman yang lebih tua,
selain Hang dan Mpu disebut nama gelar Hyang seperti pada prasasti Kedoekan
Boekit (682 M) yakni Dapunta Hyang Nayik (di Tanah Batak?); prasasti Talng Tuwo
(684 M) Dapunta Hyang Srinagajaya (di Tanah Palembang) dan prsasati Sojomerto
(700 M) Dapuntra Seildendra, tidak disebutkan gelar Hyang (di Tanah Jawa). Kini
Mpu menjadi Empung di Sulawesi dan Ompung di Tanah Batak; Hyang atau Hang
menjadi Eyang di Jawa.
Lantas
bagaimana sejarah Ompung dan Eyang yang merujuk pada nama gelar Raja pada Zaman
Kuno? Seperti disebut di atas, pada zaman dahulu kala raja memiliki gelar,
tetapi kini nama-nama gelar itu hanya dikenal sebagai sebutan kakek. Lalu
bagaimana sejarah Ompung dan Eyang yang merujuk pada nama gelar Raja pada Zaman
Kuno? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan
gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Ompung dan Eyang Nama Gelar
Raja Zaman Kuno: Hyang, Hang, Yang (di Pertuah), Mpu, Empung
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Hyang, Hang, Yang (di
Pertuah), Mpu, Empung: Nama-Nama Gelar Awal Sejarah Nusantara
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




