*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pada
artikel sebelumnya sudah disinggung tentang Kongres Bahasa Indonesia di Solo 1938.
Dalam artikel ini Kongres Bahasa Indonesia diperkaya dengan data dari Kongres
Bahasa Indonesia di Medan 1954. Apa yang terjadi belum lama ini di Malaysia,
Simposium Bahasa Melayu yang diselenggarakan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia,
secara teknis kurang lebih sama dengan isu yang muncul di Indonesi pada era
Belanda dalam Kongres Bahasa Indonesia tahun 1938. Oleh karena Kongres Bahasa
Indonesia 1954 adalah kelanjutan Kongres Bahasa Indonesia 1838, lalu apa
prediksi yang akan terjadi pada Simpsium Bahasa Melayu berikutnya di Malaysia.

Usulkan Bahasa Melayu Jadi Bahasa Kedua di ASEAN (kompas.com; 24 Mar 2022); Nadiem Makarim Tolak Usulan Bahasa Melayu sebagai
Bahasa Resmi ASEAN (Detik.com; 4 Apr 2022); Nadiem Tolak Usulan Bahasa Melayu Jadi Bahasa Resmi ASEAN (mediaindonesia.com;
5 April 2022). Bahasa Melayu dan Bahasa
Indonesia, Mana yang Lebih Cocok Jadi Bahasa Resmi ASEAN? (Republika.co,id;
11 Apr 2022). DBP anjur simposium
antarabangsa mengenai Bahasa Melayu bulan depan (bernama.com; 21 April
2022). Ketua PKBM UMSU Pembicara Utama
Simposium Bahasa Melayu ASEAN (umsu.ac.id; 22 Mei 2022). Guru Besar FISIP UMM Optimis Bahasa Melayu
Indonesia bisa Menjadi Bahasa Internasional (fisip.umm.ac.id; 22 Mei 2022).
Masih Gerilya, PM Malaysia Luruskan
Bahasa Melayu Bukan Bahasa Malaysia (liputan6.com; 23 Mei 2022). Dekan FISIP UMM Jadi Pembicara di Seminar
Internasional Bahasa Melayu di Malaysia (celebes.inews.ad; 25 Mei 2022).
Lantas
bagaimana sejarah Kongres Bahasa Indonesia 1938 dan 1954? Seperti disebut di
atas, Simposium Bahasa Melayu yang diselenggarakan Dewan Bahasa Pustaka Malaysia
pada tahun 2022 secara teknis kurang lebih sama isunya dengan Kongres Bahasa
Indonesia tahun 1938.. Lalu bagaimana sejarah Simposium Bahasa Melayu Dewan
Bahasa Pustaka 2022? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Kongres Bahasa Indonesia 1938
dan 1954: Simposium Bahasa Melayu Dewan Bahasa Pustaka 2022
Meski
pernyataan dua Perdana Menteri Malaysia itu masing-masing sebagai ilusi,
haruslah tetap dianggap serius, terutama di Indonesia. Hal apa pun itu, jika
kedua perdana menteri berdalih atau pada akhirnya mengaku salah dan bahkan
meminta maaf, yang jelas kedua perdana menteri pada hakekatnya bukan orang
bodoh, karena dia sendirilah yang mengetahui arah yang dinyatakannya. Yang
jelas pula dalam hal ini orang Indonesia telah terusik.Bukankah kedua perdana
menteri Malaysia menyatakan isu heboh itu relatif dekat waktunya satu dengan
yang lain?
Pada bulan April 2022 Perdana Menteri Malaysia
mengusulkan kepada Presiden Indonesia agar bahasa Melayu dijadikan sebagai
bahasa resmi ASEAN. Usulan ini di satu sisi ada baiknya, tetapi di sisi lain
mengapa harus nama Melayu yang digunakan. Itulah isunya. Jelas dalam hal ini
pihak Indonesia menolak dan bahkan lebih pantas menggunakan nama Bahasa
Indonesia daripada nama bahasa Melayu. Reaksipun muncul di Malaysia dimana
Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia menyelenggarakan simposium Bahasa Melayu
sebagai Bahasa Pengantara Bangsa pada bulan Mei. Para penelis di dalam
simposium terkesan cukup banyak yang lupa diri dalam berbicara, hanya sebagian
kecil yang lebih moderat dan lebih realistik dalam memehamia sejarah dan
mengusulkan program (baru). Aksi dari Indonesia juga muncul dan ada yang
menyatakan bahwa Bahasa Indonesia mengakar pada bahasa Melayu, tetapi dari
bahasa Melayu tinggi di Riau. Lantas apakah isu yang dipicu Perdana Menteri
Malaysia pada bulan April, kemudian harus diperkuat dengan pemicu beikutnya dari
mantan Perdana Menteri Malayasia Mahathir Mohamad bahwa wilayah Riau harus
diklaim oleh Malaysia? Bukankah dua isu sensitif itu seakan sambung menyembung
yang terus menyenggol Indonesia? Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Malaysia?
Isu
nama bahasa Melayu diusulkan (yang diusulkan Perdana Menteri Malaysia) menjadi
nama bahasa resmi ASEAN kini telah menjadi catatan sejarah (baru). Lalu apakah
semua pihak di Malaysia kini telah lupa sejarah lama? Atau sengaja melupakan
sejarah lama? Atau memang ingin sengaja mengaburkan sejarah lama? Okelah itu
hal lain. Dalam hal ini kita perjelas perjalanan Kongres Bahasa Indonesia untuk
memahami sejarah bahasa di Malaysia. Kita mulai dari Kongres Bahasa Indonesia
pertama di Solo tahun 1938.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Simposium Bahasa Melayu Dewan
Bahasa Pustaka 2022: Mirip Kongres Bahasa Indonesia 1938
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




