*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Apakah
ada Bahasa Indonesia dialek Malaysia? Tentu saja tidak. Namun pada masa ini ada
kesan Bahasa Indonesia diucapkan dengan aksen Malaysia. Mereka itu adalah para
Youtuber Malaysia yang ingin belajar Bahasa Indonesia yang mereaksi
konten-konten video di Youtube yang berbahasa Bahasa Indonesia. Oleh karena
para Youtuber itu berasal dari Malaysia (khususnya wilayah Semenanjung), di
satu sisi mereka adalah penutur asing Bahasa Indonesia dan di sisi lain aksen
mereka ketika bercakap dalam Bahasa Indonesia tampak melekat logat Malaysia.

Bahasa Indonesia dengan aksen Malaysia, penutur asing Bahasa Indonesia yang
berasal dari negara berbasis Bahasa Inggris yang terekam di video Youtube,
mareka juga berbicara Bahasa Indonesia seakan bukan aksen Indonesia, tetapi
terkesan aksen Inggris, Amerika atau aksen bahasa lainnya. Para Youtuber yang
berasal dari Asia seperti Korea (selatan) terkesan mereka berbicara Bahasa
Indonesia dengan logat Korea. Yang cukup mengejutkan adalah para Youtuber
berbahasa Indonesia yang berasal dari negara-negara non-Asia dan non-Eropa
Barat seperti dari negara-negara di Afrika dan Amerika Latin serta
negara-negara Eropa Timur aksen berbahasa Indonesia mereka mirip aksen orang
Indonesia. Dalam hal ini dunia Youtube tidak hanya memberi ruang bagi penutur
asing Bahasa Indonesia untuk berekspresi/bereaksi juga menjadi laboratorium
virtual untuk memahami perkembangan Bahasa Indonesia sendiri.
Lantas
bagaimana sejarah Bahasa Indonesia dialek Malaysia? Seperti disebut di atas,
pada dasarnya tidak ada Bahasa Indonesia dialek Malaysia. Yang ada adalah
bahasa Melayu dialek Riau, dialek Betawi, dialek Semenanjung, dialek Sarawak
dan Sabah serta lainnya. Yang jelas para Youtuber internasional yang berasal
dari Malaysia (khususnya wilayah Semenanjung) telah memperluas penggunaan
Bahasa Melayu, tetapi masih terkesan dengan dialek Malaysia. Lalu bagaimana sejarah
Bahasa Indonesia dialek Malaysia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Bahasa Indonesia Dialek
Malaysia; Para Youtuber Internasional Malaysia
Apa
yang diamati dari para Youtuber Malaysia yang tengah belajar Bahasa Indonesia
melalui konten-konte reaksi video, terkesan berbahasa Bahasa Indonesia dengan
dialek (Melayu) Malaysia. Namun ada juga yang mulai terlihat bercakap Bahasa
Indonesia dengan logat Bahasa Indonesia. Tentulah mereka tidak sendiri, banyak
juga orang Indonesia yang berbahasa Bahasa Indonesia dengan logat dialek bahasa
daerah, misalnya logat Batak dan logat Jawa.
Di Indonesia lazim terdengar penutur Bahasa
Indonesia dengan logat bahasa daerah. Hal ini boleh jadi karena bahasa ibu
bukan Bahasa Indonesia tetapi bahasa daerah, seperti saya. Meski saya sudah
lama terbiasa Bahasa Indonesia, dan saya tidak bisa mendengar sendiri lagi, tetapi
lawan bicara saya juga masih ada yang menceletuk. Tapi tentu saja saya tidak
menghiraukan. Kata orang, memang ‘udah dari sononya’. Soal ini tentu saja tidak
hanya orang Indonesia, juga mereka penutur asing Bahasa Indonesia, yang juga
dapat dikenal orang yang bersangkutan apakah orang berbahasa Bahasa Indonesia
tersebut berasal dari Amerika (American) atau Inggris (British).
Logat/dialek
para penutur asing (non-Asia) dan para penutur Bahasa Indoesia yang berasal
dari Indonesia sendiri (dwibahasa) tidaklah menarik untuk diperhatikan. Yang
justru menarik diperhatikan adalah orang Malaysia (Asia) sebagai penutut asing Bahasa
Indonesia. Seperti disebut di atas, para penutur asing Bahasa Indonesia dari
Malaysia masih terkesan banyak yang melekat dialeknya (Melayu Malaysia).
Orang Malaysia berbahasa Melayu. Namun bahasa
Melayu tidak hanya di Malaysia, juga ada di Indonesia seperti di (kepulauan)
Riau, pantai timur Sumatra dan pantai barat Kalimantan. Mereka yang bertutur
Bahasa Indonesia dengan dialek bahasa Melayu tentu saja tidak menarik perhatian
kita, karena apa yang mereka alami juga dialami oleh penutur bahasa daerah
lainnya seperti Batak dan Jawa. Saya sendiri bisa membedakan lawan bicara yang
berbahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu dialek Riau dan dialek Deli.
Dalam hal ini bahasa Melayu di Indonesia adalah bahasa daerah. Oleh karena
mereka orang Indonesia, sekali lagi, tidak menarik untuk diperhatikan. Akan
tetapi orang Malaysia, berbahasa Melayu adalah bahasa nasional (bahasa
kebangsaan), maka penutur Bahasa Indonesia asal Malaysia harus dianggap sebagai
penutur asing. Sebagai penutur asing inilah aksen berbahasa Bahasa Indonesia
yang berasal dari Malaysia menarik diperhatikan. Sebab selama ini yang
diperhatikan adalah bahasa Melayu dialek apa, tetapi kini muncul Bahasa
Indonesia dialek (Melayu) Malaysia. Tentulah tidak yterjadi sebaliknya, bahasa
Melayu (Malaysia) dialek (bahasa) Indonesia.
Satu
yang penting dari gejala penutur asing Bahasa Indonesia berasal dari Malaysia
adalah semakin banyak orang Malaysia yang ingin mampu berbahasa Indonesia.
Lantas apakah bahasa Melayu (Malaysia) berbeda dengan Bahasa Indonesia? Jelas
berbeda. Tidak hanya intonasi, juga kosa-kata dan tata bahasa yang digunakan. Bahasa
Indonesia mengandung banyak perkataan yang tidak dikenali penutur bahasa
Malaysia, beberapa hal karena pengaruh bahasa daerah (Jawa, Sunda). Dalam
konteks inilah soal Bahasa Indonesia diucapkan dengan dialek bahasa (Melayu)
Malaysia menjadi menarik untuk diperhatikan.
Dialek bahasa Melayu (Malaysia) jelas berbeda
dengan dialek bahasa Melayu di Indonesia. Dialek bahasa Melayu Riau dan bahasa
Melayu Deli dapat saya bedakan. Di Malaysia sendiri juga sebenarnya terdapat
dialek berbeda diantara sesama orang Malaysia yang berbahasa Melayu.
Sebagaimana dapat dibaca dalam Wikipedia bahwa beberapa dialek Melayu (Malaysia)
hanya menunjukkan kejelasan timbal balik yang terbatas dengan bahasa baku.
Contohnya, pengucapan bahasa Melayu Kelantan atau Sarawak sukar dipahami oleh
banyak orang Malaysia (di Semenanjung). Dalam daftar Wikipedia dialek bahasa
Melayu di Malaysia antara lain Melayu Kedah, Melayu Kelantan, Melayu Pahang, Melayu
Perak, Melayu Sabah, Melayu Sarawak, Melayu Terengganu, Melayu Negeri Sembilan.
Hal
penting lainnya dari gejala peningkatan jumlah penutur asing Bahasa Indonesia
yang berasal dari Malaysia adalah jumlah penutur dwibahasa nusantara di
Malaysia akan semakin meningkat di masa depan. Dwibahasa nusantara dalam hal
ini adalah seperti yang umumnya di Indonesia selain menggunakan bahasa ibu atau
bahasa sehari-hari (bahasa daerah) juga mampu berbahasa Bahasa Indonesia. Oleh karena
umumnya orang Malaysia memiliki bahasa ibu bahasa Melayu, maka dengan
menyetarakan bahasa-bahasa berbagai dialek Melayu (maupun bahasa baku) di Malaysia,
yang di Indonesia dianggap sebagai bahasa daerah (seperti di Riau) dalam
konteks penggunaan Bahasa Indonesia.
Peningkatan jumlah orang muda di Malaysia yang
berhasrat untuk mempelajari dan menggunakan Bahasa Indonesia sebenarnya adalah
gejala umum, secara alamiah orang muda menginginkan suatu yang baru, sadar atau
tidak sadar dengan tujuan tertentu, seperti halnya semakin banyak orang asing
yang memilih kuliah di Indonesia karena untuk mempelajari budaya dan Bahasa
Indonesia. Hubungan internasional yang semakin terbuka dengan tingkat
kemakmuran yang meningkat, lebih-lebih
di era digital yang sekarang, lebih dimungkinkan orang muda bergerak dan
melancong ke negara yang diinginkannya, yang mana dalam hal ini Indonesia
adalah salah satu destinasi. Gejala yang muncul di Malaysia sebaliknya bukan
tanpa masalah, ada juga para pihak orang tua di Malaysia yang meresahkan gejala
orang muda yang terpapat Bahasa Indonesia daripada menggunakan bahasa Melayu
dalam pergaulan. Banyaknya tauangan televisi yang menyuguhkan berbagai hiburan
seperti musik dan sinetron Indonesia termasuk yang mempengaruhinya. Oleh karena
itu tidak aneh pada akhir-akhir ini di Malaysia dari golongan muda remaja dan
anak-anak ada yang tidak sadar dan sadar mengunakan kosa kata pergaulan macam
lu gue. Kosa kata lu gue yang dulu identik dengan Jakarta kini jamak didengar
di berbagai kota-kota di Indonesia.
Lantas
apa yang mendasari gejala penggunaan Bahasa Indonesia di wilayah Malaysia?
Tentulah hal itu harus dilihat dari sejarah Bahasa Indonesia itu sendiri,
sebagai bahasa modern yang berakar dari bahasa Melayu. Akar persamaan bahasa
Melayu di Malaysia (dan juga bahasa Melayu di Indonesia) yang membentuk Bahasa
Indonesia menjadi satu faktor penting mengapa Bahasa Indonesia dijadikan
sebagai tujuan, yang mudah dilakukan, lebih modern dan masif penuturnya dan
Bahasa Indonesia yang secara internasional memiliki nilai ekonomi yang luas
dalam pergaulan. Apa yang tengah terjadi di Malaysia soal bahasa (bahasa Melayu
baku Malaysia dengan Bahasa Indonesia), adalah soal yang kurang lebih sama di
Indonesia satu abad yang lalu dimana bahasa Melayu terangkat ke atas yang
menjadi Bahasa Indonesia.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Bahasa Indonesia adalah Bahasa
Perjuangan: Dailek Lain Bahasa Indonesia dan Penutur Asing Bahasa Indonesia
Pada
era Hindia Belanda, ketika gerakan muda semakin bersatu dan menguat (dalam
konteks orang-orang Belanda di seberang), elemen berbagai budaya dari beragam etnik
dari mana orang muda berasal yang sama-sama ingin memperkuat persatuan, elemen
budaya dengan meudah digabungkan, tetapi tidak dengan bahasa. Persoalannya bagi
golongan muda saat itu adalah bukan soal memilih satu bahasa daerah yang dominan
(seperti bahasa Jawa), tetapi memilih satu diantara dua bahasa yang luas
penggunaannya antar daerah dalam lintas generasi, yakni bahasa Melayu dan
bahasa Belanda. Bahasa Melayu yanhg dimaksud dalam hal ini pada waktu itu bukan
bahasa Melayu di daerah seperti di Riau, Kalimantan Barat atau Semenanjung
Malaya serta Saawak dan Sabah, tetapi bahasa Melayu umum yang adakalanya
disebut bahasa Melayu pasar (bahasa Melayu perdagangan di berbagai kota-kota
besar). Tentulah pilihannya jatuh pada bahasa Melayu pasar, sebagai bahasa yang
dapat dipertentangkan dengan bahasa Belanda. Kesapakatan para golongan muda itu
yang mencul dalam keputusan Kongres Pemuda tahun 1928 di Batavia (kini
Jakarta).
Pemilihan Bahasa Indonesia oleh golongan muda,
sebenarnya tidak berjalan mulus, sebab para golongan tua, baik orang Indonesia
(khususunya yang berasal dari Jawa) maupun golongan tua Belanda. Dialog kedua
belah pihak akan merasa kehilangan misi budaya dalam bahasa baik bahasa Jawa
maupun bahasa Belanda. Golongan tua Belanda merasa hanya bahasa Belanda yang mampu
menanamkan budaya Belanda di alam Indonesia, sementara golongan tua Jawa merasa
hanya dengan bahasa Jawa budaya Jawa dapat muncul ke permukaan (lihat Soerabaijasch
handelsblad, 25-01-1933). Dalam hal memajukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan, di satu sisi dua belah pihak golongan muda tersebut pesimis katena
Bahasa Indonesia bersifat utopis (tidak/belum mengakar), Namun dialog itu para
pihak menyadari bahwa mereka tidak sedang menempelkan pikiran mereka pada
golongan muda. Golongan muda sendiri dianggap masa yang berbeda antara fase
anak-anak dan fase tua, yang mana golongan muda memiliki cita-cita, yang
diharapkan tumbuh di masa depan ketika mereka berada di hari tua. Dorongan
golongan muda ini tidak terelakkan, karena dorongan yang sama juga meuncul pada
mereka di masa lampau dalam membangun cita-cita. Atas dasar keragaman, dengan
tujuan bersama merajut persatuan dan ksatuan pemilihan dan penetapan Bahasa
Indonesia sebagai bahasa bersama yang tengah doperjuangkan golongan muda
sangatlah masuk akal. Dalam dialog bahasa ini terungkap suatu pengandaian: buah
kelapa jika tumbuh daun/tajuk yang masih kecil akan bereaksi terhadap arah
sinar mathari. Golongan tua menganggap kelapa yang baru tumbuh (bibit) itu
bukan pohon kelapa, karena mereka menganggap pohon kelapa munjulang tinggi
denga batang besat dan akar yang kuat. Namun bagi golongan muda, kelapa yang
baru tumbuh itu mempersepsikannya juga sebagai pohon kelapa. Hal serupa inilah
yang kini terulang dan ada gejala yang kuat di antara golongan muda di Malaysia
yang berhasrat mempelajari dan menggunakan Bahasa Indonesia. Orang tua mungkin
resah, tapi bagi anak muda di Malaysia juga tengah membangun cita-cita di era
baru dunia digital..
Dalam
gerakan muda di era Hindia Belanda, pilihan Bahasa Indonesia, meski masih
bersifat utopis, tetapi hanya satu-satunya pilihan yang paling realistik.
Golongan muda yang terpelajar sadar hal itu, harus memperjuang cita-cita di era
pejuangan saat itu. Ini dapat diperhatikan dalam persidangan Ir Soekano di
Bandoeng pada tahun 1930 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie,
30-10-1930). Hakim bertanya kepada salah satu saksi: ‘mengapa Ir Soekarno selalu
berbahasa Bahasa Indonesia di dalam rapat umum yang dihadiri oleh komunitas Sunda
yang diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda?’ Saksi menjawab bahwa Ir Soekarno ingin meninggikan bahasa Indonesia
(di atas bahasa Sunda sebagai bahasa daerah, red). Melihat dari sidang
pengadilan tersebut, dalam hal ini harus diingat bahwa Ir Soekarno bisa
berbahasa Jawa, Belanda dan Sunda, tetapi mengapa berpidato dengan Bahasa
Indonesia diantara orang Sunda. Jelas dalam hal ini apa yang dijawab saksi di
pengadilanm bahwa Bahasa Indonesia sedang diperjuankan pada masa perjuangan
untuk merealisasikan cita-cita golongan muda.
Dalam hubungannya antara pandangan golongan
muda dna golongan tua dalam perumbuhan dan perkembangan Bahasa Indonesia,
seorang peneliti Belanda Dr. C. Hooykaas menulis buku dengan judul, Modern
Maleisch, Zakelijk Proza yang oleh Dr. C. Hooykaas yang dipublikasikan oleh JB
Wolters, Batavia 1934 (lihat De Indische courant, 15-09-1934). Hooykaas dalam
pengantarnya menyatakan bahwa Bahasa Melayu hanyalah bahasa tambahan disini;
itu bukan bahasa kelompok etnis manapun. Kita (orang Belanda, red) jarang
mendengarnya diucapkan dengan sempurna, selain dari kenyataan bahwa percakapan
dengan penutur budaya Melayu biasanya terputus-putus yang dalam hal ini bukan
penikmat bahasa yang memimpin debat di dewan. Hooykaas juga menyinggung peredaran
kamus yang mengecewakan pembaca dalam jenis bacaan apa pun. Hooykaas juga
menkritik ada koran-koran (berbahasa) Melayu dengan gado-gadonya yang mana
bahasa Melayu penuh dengan kata-kata Belanda, juga penuh dengan
ungkapan-ungkapan yang angkuh selain yang paling vulgar. Semua ini bersama-sama
tidak mendorong orang Eropa, yang waktunya berharga, dan yang ingin membaca dan
mempelajari hanya apa yang layak dibaca dan dipelajari. Masih menurut Hooykaas,
bahasa Melayu modern sedang berkembang, yang mungkin pantas menyandang nama Bahasa
Indonesia bahasanya sendiri. Betapa sangat perlunya hal ini. seseorang hanya
memperhatikan ketika seseorang mencatat apa yang tertulis di sana-sini dalam
bahasa itu. Esai-esai Melayu, yang dikumpulkan dalam buku ini, hampir semuanya
berasal dari publikasi Balai Pustaka (Sastra Rakyat) beberapa tahun terakhir.
Bahasa Melayu yang baik untuk tujuan tersebut tidak dapat ditemukan di bidang
lain, tetapi Bahasa Melayu Sastra Rakyat terpelihara dengan baik dan, terlebih
lagi, mudah diakses oleh semua orang. Dari kumpulan barang bagus ini sekarang
dikumpulkan suatu pilihan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pengajaran
bahasa Melayu di sekolah menengah AMS. Dalam pengantarnya Hooykaas menyatakan
bahwa Kamus Melayu yang kita gunakan ditulis oleh van Ronkel sudah ketinggalan
zaman, di dalamnya dapat ditemukan arti yang tidak diberikan oleh kamus ini
dengan yang ada sekarang. Kita harus mengatasi keengganan kita dalam bahasa
Melayu–karena “keengganan” yang pasti diucapkan disini, dan menggali
dalam bahasa yang menarik ini dimana semakin banyak hal yang menarik bagi kita untuk
ditulis. Dalam hal kata pengantar buku Hooykaas mengindikasikan bahwa orang
Belanda sendiri juga turut membangun bahasa Melayu ke arah bahasa Melayu modern
yang disebut Bahasa Indonesia. Oranfg Belanda juga diharapkan sudah waktunya
ikut memahami Bahasa Indonesia yang tengah berkembang. Dalam konteks inilah Hooykaas
menulis bukunya.
Seiring
dengan golongan muda terus berjuang dalam berbagai aspek, upaya untuk terus
menyempurnakan Bahasa Indonesia terus dilakukan. Hanya Bahasa Indonesia yang
dapat diandalkan secara nyata untuk tujuan persatuan dalam mencapai cita-cita
bangsa. Dalam hubungan ini pada tahun 1938 diadakan Kongres Bahasa Indonesia.
Ketua Komite Kongres Bahasa Indonesia adalah Dr. Poerbatjaraka (lihat Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-06-1938). Poerbatjaraka adalah seorang
ahli lingustik yang telah mendapat gelar doktor dalam bidang linguistik di
Universiteit Leiden pada tahun 1922.
Singkat kata, ketika Indonesia
memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh
Ir Soekarno, sehari setelahnya pada tanggal 18 Agustus disahkan undang-undang
dasar negara (UUD) dimana dalam satu pasal disebutkan bahasa nasional adalah
Bahasa Indonesia. Jelas dalam hal ini Bahasa Indonesia sudah matang dalam
berbagai segi, bahasa yang telah diperjuangkan golongan muda sedari awal
perjuangan.
Bahasa
Indonesia secara historis, secara legal dan secara semantik (etnolinguistik)
telah menjadi kenyataan pada masa kini. Suatu yang dianggap utopis bagi
holongan tua di masa lalu. Bahasa Indonesia inilah uang kini mulai dituturkan
oleh warga negara lain termasuk yang berasal dari Malaysia. Suatu bahasa
modern, yang terus berkembang dan selalu disempurnakan. Hal serupa inilah yang
ditemukan di Malaysia, bahasa Melayu yang tidak kunjung ditinggikan di negara
Malaysia (yang dari sudut pandang Indonesia, bahasa Melayu di Malaysia sebagai
bahasa daerah di Indonesia. Bahasa Indonesia, bahasa Melayu tinggi inilah yang
tengah disasar golongan muda di Malaysia. Para orang tua di Malaysia resah
cukup beralasan karena mereka menyadari bahasa Melayu baku di Malsysia tidak
cukup.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




