*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Situasi
dan kondisi wilayah geografi di berbagai pulau di Indonesia pada masa kini
dengan masa lampau telah terjadi perubahan, apakah penambahan/pengurangan luas
atau apakah peninggian/penurunan permukaan tanah/dasar laut. Seorang peneliti
geogarfi Belanda juga menemupakan hal itu di wilayah Lampung. Wilayah geomorfologi
Lampung tidak hanya menjelaskan hubungannya ke wilayah Sumatra Selatan (daerah
liran sungai Musii) juga geomorfologi wilayah Lampung juga dapat menjelaskan
sejarah yang sama di Selat Sunda dan pantai utara Jawa sebelah barat. Ilmu
geomorfologi juga mampu membantu dalam penyelidikan sejarah.

merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang bentuk alam dan proses yang
membentuknya. Para ahli geomorfologi mencoba untuk memahami kenapa sebuah
bentang alam terlihat seperti itu, untuk memahami sejarah dan dinamika bentang
alam, dan memprediksikan perubahan pada masa depan dengan menggunakan kombinasi
pengamatan lapangan, percobaan dan pemodelan. Geomorfologi dipejari di
geografi, geologi, geodesi, arkeologi, dan teknik kebumian. Geomorfologi telah
menjadi sebuah disiplin ilmiah sebelum abad ke-17 Masehi. Pada abad ke-19,
gemorfologi mulai diterapkan pada negara-negara yang termasuk negara
berkembang. Pada abad ke-20 Masehi, geomorfologi mengalami perkembangan yang
pesat di dunia Barat (Eropa dan Amerika). Geomorfologi memiliki keterkaitan dengan geografi. Kedua
jenis keilmuan ini saling membutuhkan satu sama lain. Keterkaitan antara
geomorfologi dan geografi berkaitan dengan ilmu geografi yang disebut
geomorfologi geografi. Ruang lingkup ilmunya meliputui hubungan antara
geomorfologi dengan objek material dalam geografi. Kajian geomorfologi geografi
menghasilakn ilmu bentang lahan, bentang alam dan bentang geografi. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah peta wilayah Lampung pada zaman kuno? Seperti disebut di
atas, ada perbedaan wilayah Lampung masa kini dengan masa lampau. Dalam hal ini
ilmu geomorfologi pantai timur Sumatra dan pantai barat Jawa diharapkan dapat
memberformasi tentang sejarah wilayah Lampung. Lalu bagaimana sejarah peta wilayah
Lampung pada zaman kuno? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada
permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Peta Wilayah Lampung Zaman
Kuno; Geomorfologi Pantai Timur Sumatra dan Pantai Barat Jawa
Sebelum
nama Lampung dikenal, nama-nama yang dikenal di wilayah ujung selatan Sumatra
adalah Palanda (peta Ptolomeus pada abad ke-2). Lantas apakah nama Palanda
berkaitan dengan nama yang ada sekarang Kalianda? Nama yang juga disebut di
wilayah ini pada zaman kuno adalah kota Zaba dengan ratunya yang terkenal Ratu
Seba. Dalam hal ini kita tidak berbicara tentang itu, tetapi bagaimana
geomorfologi wilayah Lampung di zaman kuno? Jika kita merujuk pada nama-nama
kerajaan pada era Hindoe/Boedha, nama yang dikenal masa ini yang berasal dari
zaman itu adalah nama kota Martapoera.
Martapura dilalui sungai besar dari pegunungan
(danau Ranau) di sebelah barat dan bermuara ke arah timur laut di sungai Musi
(Palembang). Wilayah danau Ranau di pedalaman haruslah dianggap sebagai pusat
peradaban di zaman kuno dan Martapura diduga kuat awalnya berada di garis
pantai, paling tidak cukup dekat dari wilayah pesisir, Tinggi kota Martapura
sekita 35-50 m dpl (bandinkan dengan kota Palembang sekitar 8 meter).
Pada
awal era Boedha (Sriwijaya) di Sumatra bagian selatan, posisi dimana ditemukan
prasasti-parasasti pada saat itu berada di suatu pulau/dekat pesisir. Antara
kota Palembang yang sekarang dengan pulau Bangka masih persairan/laut yang
luas. Proses sedimentasi jangka panjang yang menyebabkan garis pantai mundur ke
arah Bangka, sehingga terkesan kota Palembang jauh di pedalaman, tetapi berbeda
dengan di zaman kuno era prasasti.
Prasasti Kedoekan Boekit (682 M) dan prasasti
Talang Tuwo (684 M) mengindikasikan tempat suatu pulau dimana pada masa kini
posisi GPS ditemukan prasasti sebagai area tertinggi di kota Palembang sekitar
23 m (sementara rata-rata ketinggian wilayah kota Palembang 8 meter). Selain
prasasti Kota Kapur di pulau Bangka, dua prasasti lain sejaman ditemukan di
Karang Brahi (Jambi) dan Pasemah (Lampung). Kesuali dua praasti yang pertama, prasasti
Telaga Batue di Palembang dan prasasti-prasasti yang lainnnya berbicara tentang
hukum yang kurang lebih sama. Dalam hal ini Jambi pada masa itu berada di garis
pantai di muara sungai Batanghari (sseperti halnya Palembang di muara sungai
Musi). Jika ditarik garis lurus dari Jambi, Palembang hingga Palas Pasemah
merupakah garis pantai.
Pertanyaan
yang muncul adalah mengapa sungai Martapura arahnya ke utara bermuara ke sungai
Musi di Palembang? Studi geomorfologi dapat membantu untuk menjelaskannya.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Geomorfologi Wilayah Lampung:
Sejarah Zaman Kuno di Lampung
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





