*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pengetahuan
sejarah kita masih sangat terbatas. Tidak hanya datanya yang terbatas juga
metode-metode dalam upaya menyusun narasi sejarah. Untuk memperbaiki narasi
sejarah agar lebih baik dan lebih benar, pengumpulan data terus dilakukan dan
analisis data terus disempurnakan. Memang sejarah adalah narasi fakta dan data,
tetapi tidak hanya dipahami apa adanya. Kita harus buktikan fakta itu benar
nyata dan data yang ada benar-benar valid. Oleh karena itu kita jangan naif,
tapi faktanya banyak hasil penyelidikan sejarah menggunakan metode naif.

Indonesia (science) haruslah dianggap sebagai kombinasi ilmu dan pengetahuan.
Arti ilmu berbeda dengan arti pengetahuan, akan tetapi keduanya berkaitan:
tidak sinonim ( tidak setara, tidak substitusi dan tidak saling menggantikan)
tetapi berurutan dan bersifat komplemen. Pengetahuan adalah semua yang dicerna
(otak) berdasarkan panca indra (mata melihat, hidung membaui, telinga
mendengar, lidah mencicipi dan kulit merasakan). Kegiatan membaca teks dianggap
fungsi melihat dari mata. Semua hasil; produksi oleh panca indra adalah
pengetahuan. Sedangkan ilmu adalah metode atau cara untuk menghasilkan
pengetahuan. Dalam hal ini pengetahuan tidak perlu dipelajari, cukup diketahui
saja. Sementara ilmu harus dipelajari agar kia bisa menknsruksi caranya,
memilih yang sesuai dari yang ada dan susuai dengan ruang lingkupnya (fakta dan
data). Ilmu dalam dunia akademik bersifat empiris (ada buktinya) yang dalam hal
ini paling tidak ada datanya. Oleh karena itu ilmu dalam akademiki adalah
metode mengumpulkan informasi (sebagai data) dan metode menganalis data untuk
menghasilkan informasi. Untuk pedoman: Tuntutlah ilmu itu, ketahuilah
pengetahuan yang ada. Dengan kata lain jangan menuntut (mempelajari) pengetahuan,
tetapi juga jangan hanya sekadar mengetahui ilmu. Yang lebih baik adalah
kembangkan ilmu untuk lebih mengembangkan pengetahuan.
Lantas
bagaimana sejarah metode naif dalam penyelidikan sejarah? Seperti disebut di
atas, metodologi ilmu pengetahuan masa kini telah jauh berkembang dibandingkan
masa lalu. Pada era Hindia Belanda dalam penyelidikan sejarah terkesan
menggunakan metode naif yang oleh karenanya banyak narasi sejarah yang berasal
dari masa lalu (era Hindia Belanda) tidak relevan masa kini. Tapi anehnya, pada
masa kini masih banyak yang menggunakan metode naif dalam penyelidikan sejarah.
Lalu bagaimana sejarah metode naif dalam penyelidikan sejarah? Seperti kata
ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan
dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber
tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Metode Naif dalam Penyelidikan
Sejarah? Metodologi Ilmu Pengetahuan Masa Kini telah Jauh Berkembang
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Metodologi Ilmu Pengetahuan
Masa Kini telah Jauh Berkembang: Maksimumkan untuk Memperbaiki dan
Menyempurnakan Narasi Sejarah
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



