*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Peta
kuno sudah ada sejak zaman kuno. Peta kuno yang lebih maju muncul pada era
Prolomeus. Pada era ini sudah sangat berkembang ilmu astronomi (peta bintang)
dan teknologi navigasi pelayaran (perdagangan) yang memperkaya pemetaan di
(wilayah) daratan. Navigasi pelayaran diduga awal penentuan garis akuator
sebagai garis perbedaan menentukan posisi matahari di (permukan) bumi. Peta
Ptolomeus menjadi acuan awal dalam pembuatan peta-peta modern seiring dengan
penyempurnaan teknologi kompas di Eropa (sekitar era Kerajaan Singhasasi di
Jawa). Pada peta Ptolomeus telah digambarkan sejarah awal peta nusantara (semenanjung
Aurea Chesoneus dan pulau Taprobana).

peta dibagi menjadi 4 zaman. Pertama, Zaman Kuno dimulai tahun 600 BC–350 AD.
Periode berikutnya disebut Zaman Pertengahan (350-1470), disambung Zaman
Renaissance (1470-1696), dan Zaman Modern (1696-sekarang). Aber menyodorkan
temuan “lukisan dinding” yang ditemukan di wilayah kota Anatolia, Turki. Tahun
1963, James Mellaar menemukan “lukisan dinding” dan mengklaim sebagai peta
pertama di dunia yang diciptakan oleh
orang- orang Anatolia. (https : // kebudayaan.kemdikbud.go.id).
Tujuh Peta yang Mengubah Dunia…Berikut
sejumlah peta tua dalam sejarah kartografi: 1. Peta dunia Babiloni, paling awal
dalam prasasti tanah liat di kota kuno Babilonia pada 600 SM. 2. Peta geografi
Ptolemaeus. sebagai orang pertama menggunakan matematika dan geometri untuk
memetakan bumi secara manual. Dia menghasilkan buku teks delapan volume yang
mencangkup beberapa peta dengan prinsip matematika dan geometri. Dalam buku
tersebut menggambarkan beberapa wilayah dunia dengan Samudra Hindia yang
digambarkan sebagai laut utama. Sayangnya tak ada peta yang dibuat oleh
Ptolemaeus, yang bertahan sampai sekarang. Peta itu hilang dan tak ditemukan.
Baru pada abad ke-12 orang Yunani mulai memproyeksikan peta baru sesuai dengan
koordinat Ptolemaeus. 3. Peta Dunia Al-Idrisi (Tabula Rogeriana) cendekiawan
Muslim diundang ke istana milik Norman
King Roger II dan diminta untuk membuat buku tentang geografi. Buku ini
menampilkan beberapa peta regional serta proyeksi dari dunia yang dikenal saat
itu. 4. Peta Peutinger Peta Peutinger merupakan peta yang tercatat sebagai
panduan praktis bagi kekaisaran Roma, memiliki panjang 6,7 meter dan lebarnya
0,3 meter. 5. Peta Dinasti Ming yang tergambar di sutra pada awal 1389. 6. Peta
Dunia Waldseemuller digambarkan oleh Martin Waldseemuller pada 1507. 7 Peta
Dunia Mercator digambarkan oleh karografer asal Jerman bernama Flemish Gerardus
pada 1596. (Kompas.com).
Lantas
bagaimana sejarah peta-peta kuno nusantara? Seperti disebut di atas, peta kuno
tentang wilayah nusantara dibuat pada era navigasi pelayaran (perdagangan) yang
dipandu pengetahuan astronomi (bintang) yang menemukan gagasan garis ekuator
yang kemudian lebih maju dengan penyempurnaan teknologi kompas. Lalu bagaimana
sejarah peta-peta kuno nusantara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Peta-Peta Kuno Nusantara;
Navigasi Pelayaran Bintang, Garis Ekuator hingga Teknologi Kompas
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Peta-Peta Kuno Nusantara:
Semenanjung Aurea Chersonesus dan Pulau Taprobana hingga Peta-Peta era Portugis
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






