Jika diperhatikan nama-nama yang disebut di wilayah pantai timur Sumatra
pada teks prasasti Tanjore 1030 M memiliki nama yang mirip dengan nama masa
kini: Vidyadhara-torana (Torgamba); Pannai (Pane); Malaiyur (Malea); Mappappalam
(Sipalpal); Mevilimbangam (Limbong); Ilangasogam (Binanga/Langga[Payung]Sunggam); Valaippanduru (Mandurana); Takkolam (Akkola); Madamalingam (Mandailing).
Semua nama-nama tersebut pada masa ini adalah nama-nama yang masih eksis di
Tapanuli Selatan (daerah aliran sungai Baroemoen).
yang terdapat dalam prasasti Tanjore 1030Â
mengapa semua nama-nama di Sumatra (minus Lamuri) berada di Tapanuli
Selatan? Apakah ada yang mirip dengan di Sumatra bagian selatan? Lalu mengapa
nama-nama yang berdekatan di pantai timur Sumatra ini berada di Tapanuli
Selatan? Tentu saja sulit semacam ini ditemukan di wilayah lain.

lampau sejak catatan Ptolomeus (abad ke-2) bukankah ini masuk akal. Sebagaimana
diketahui sumber kamper waktu itu hanya berasal dari Sumatra bagian utara dan
nama Baroes (di pantai barat Sumatra) disebut pelabuhan eskpor kamper. Dalam
hal ini ada nama yang mirip yang berasal dari abad ke-2 (Takola) dan nama yang
berasal dari abad ke-11 (Takkolam) yang diduga kuat nama Akkola pada masa ini.
Wilayah Angkola (Akkola( berada di hulu sungai Baroemoen, jarak yang sama dari
Angkola ke muara sungai Baroemoen dengan jarak dari Angkola ke Baroes. Wilayah
tetangga Angkola ini kini adalah wilayah Mandailing (wilayah yang membentuk
Tapanuli Selatan). Untuk diketahui di wilayah perbatasan Angkola dan Mandailing
terdapat situs candi kuno, candi Simangambat yang diperkirakan dibangun pada
abad ke-8. Candi ini berada diantara gunung Malea di selatan (Mandailing) dan
gunung Raja di utara (Angkola). Nama gunung Malea ini yang didalam prasasti
Tanjore diduga sebagai nama Malayur. Catatan: catatan Marco Polo (1290)
menyebut nama Malayur.
Nama-nama
yang berada di wilayah Tapanuli Selatan yang bersumber dari teks
Negarakertagama (1365) adalah Pane, Lawas dan Mandailing (plus Rokan dan Baroes).
Tampaknya nama Pane dan Mandailing masih eksis sejak prasasti Tanjore 1030 M.
Nama Lawas adalah nama wilayah Padang Lawas (berbatasan dengan Angkola dan
Mandailing) dimana terdapat sungai Batang Pane dan sungai Batang Baroemoen.
Pada wilayah Padang Lawas ditemukan banyak
candi-candi kuno yang berasal dari abad ke-11 hingga abad ke-14. Pada kawasan
percandian Padang Lawas ini juga ditemukan sejumlah prasasti. Pada kawasan
Padang Lawas inilah kini ditemukan nama-nama tempat seperti Torgamba, Binanga,
Sunggam, Mandurana, Runding dan, Limbong; nama sunuai seperti Pane, nama gunung
seperti Malea dan Sipalpal, plus nama Angkola dan Mandailing. Pada prasasti
Tanjore 1030 M disebut Takkolam tempat dimana ilmuwan, suatu nama tempat dimana
terdapat candi kuno yang dibangun pada abad ke-8. Apakah semua itu serba
kebetulan atau hanya sekadar mirip-mirip saja? Seperti kata pepatah, jika
hilang di tempat gelap. Carilah di tempat terang.
Situasi
dan kondisi abad ke-15 di kawasan Padang Lawas, yang dicatat orang-orang
Portugis di Malaka (sejak 1511), di daeah aliran sungai Baroemoen terdapat kerajaan
Batak yang disebut Kerajaan Aroe Batak Kingdom. Catatan kata ‘aroe’ dalam
bahasa India selatan adalah ;sungai’.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Â
Â
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com
Â





