Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Menjadi Indonesia (578): Pahlawan Indonesia-Bahasa Melayu di Indonesia;Beda Bahasa Indonesia vs Malaysia Sejak 1824

Tempo Doelo by Tempo Doelo
08.05.2022
Reading Time: 27 mins read
0
ADVERTISEMENT




false
IN


























































































































































 

RELATED POSTS

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Pengukuhan
bahasa kebangsaan di Indonesia dimulai pada tahun 1928 (Putusan Kongres Pemuda
1928). Bahasa Melayu (pasar) sejak 1928 diidentifikasi dan dikukuhkan dengan
nama Bahasa Indonesia. Sementara pondasi Bahasa Indonesia yang merujuk pada
bahasa Melayu pasar telah dimulai sejak satu abad sebelumnya pada tahun 1824.
Tahun-tahun sekitar 1824 inilah dianggap sebagai awal perpisahan bahasa Melayu
yang dipakai di negara Malaysia (bahasa Melayu Malaysia) dengan bahasa Melayu
pasar yang menjadi rujukan Bahasa Indonesia (1928).

ADVERTISEMENT

Bahasa Melayu termasuk dalam
bahasa-bahasa Melayu Polinesia di bawah rumpun bahasa Austronesia. Prasasti
Telaga Batu (pantai timur Sumatrea), catatan bahasa Melayu terawal dengan
aksara Pallawa, berasal dari abad ke-7 Masehi. Catatan bahasa Melayu ini juga
terdapat di beberapa tempat termasuk (prasasti) di Jawa. Tulisan ini
menggunakan aksara Pallawa. Dokumen cetakan mulai intens dari abad ke-18. Ahli
bahasa membagi perkembangan bahasa Melayu ke dalam tiga tahap utama, yaitu:
Bahasa Melayu Kuno (abad ke-7 hingga abad ke-13); Bahasa Melayu Klasik, mulai
ditulis dengan huruf Jawi (sejak abad ke-15); Bahasa Melayu Modern (sejak abad
ke-20). Penggunaan yang meluas di berbagai tempat memunculkan berbagai dialek
bahasa Melayu, baik karena penyebaran penduduk dan isolasi, maupun melalui
pengkreolan. Portugis dari abad ke-16 menganggap  perlunya penguasaan bahasa Melayu untuk
perdagangan mereka. Surat-menyurat antarpemimpin kerajaan pada abad ke-16 juga
diketahui telah menggunakan bahasa Melayu. Karena bukan penutur asli bahasa
Melayu, mereka menggunakan bahasa Melayu yang “disederhanakan” dan
mengalami percampuran dengan bahasa setempat, yang lebih populer sebagai bahasa
Melayu Pasar (Bazaar Malay). Tulisan pada masa ini telah menggunakan huruf Arab
(kelak dikenal sebagai huruf Jawi) atau juga menggunakan huruf setempat,
seperti hanacaraka. Rintisan ke arah bahasa Melayu Modern dimulai ketika Raja
Ali Haji, sastrawan istana dari Kesultanan Riau Lingga, secara sistematis
menyusun kamus ekabahasa bahasa Melayu (Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus
Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama) pada pertengahan
abad ke-19. Perkembangan berikutnya terjadi ketika sarjana-sarjana Eropa
(khususnya Belanda dan Inggris) mulai mempelajari bahasa ini secara sistematis
karena menganggap penting menggunakannya dalam urusan administrasi. Hal ini
terjadi pada paruh kedua abad ke-19. Bahasa Melayu Modern dicirikan dengan
penggunaan alfabet Latin dan masuknya banyak kata-kata Eropa. Pengajaran bahasa
Melayu di sekolah-sekolah sejak awal abad ke-20 semakin membuat populer bahasa
ini. Di Indonesia, pendirian Balai Poestaka (1901) sebagai percetakan buku-buku
pelajaran dan sastra mengantarkan kepopuleran bahasa Melayu dan bahkan
membentuk suatu varian bahasa tersendiri yang mulai berbeda dari induknya,
bahasa Melayu Riau. Kalangan peneliti sejarah bahasa Indonesia masa kini
menjulukinya “bahasa Melayu Balai Pustaka” atau “bahasa Melayu
van Ophuijsen”. Van Ophuijsen adalah orang yang pada tahun 1901 menyusun
ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin untuk penggunaan di Hindia Belanda.
Dalam masa 20 tahun berikutnya, “bahasa Melayu van Ophuijsen” ini
kemudian dikenal luas di kalangan orang-orang pribumi dan mulai dianggap
menjadi identitas kebangsaan Indonesia. Puncaknya adalah ketika dalam Kongres
Pemuda II (28 Oktober 1928) dengan jelas dinyatakan, “menjunjung bahasa
persatuan, bahasa Indonesia”. Sejak saat itulah bahasa Melayu diangkat
menjadi bahasa kebangsaan
. (Wikipedia)

Lantas
bagaimana sejarah bahasa Melayu di Indonesia
? Seperti disebut di atas, Bahasa Indonesia merujuk pada bahasa Melayu
pasar yaang sejak 1824 mulai terpisah dengan bahasa Melayu di Malaysia. Lalu
bagaimana sejarah bahasa Melayu di Indonesia
? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe,
semuanya
ada permulaan.
Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah
nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pahlawan Indonesia – Bahasa
Melayu di Indonesia; Sejak 1824 Bahasa Indonesia Beda Bahasa Malaysia

Sebelum
terbentuk Bahasa Indonesia (yang berbeda dengan bahasa Malaysia) terjadi proses
yang panjang yang secara definitif dimulai pada tahun 1824 (satu abad sebelum
Kongres Pemuda Indonesia 1928). Tahun 1824 melalui suatu perjanjian antara
Inggris dan Belanda yang mana wilayah Indonesia (baca: Hindia Belanda) dan
wilayah Malaysia (baca: Hindia Inggris) dipisahkan secara tegas dengan garis
batas yurisdiksi yang dipetakan. Wilayah Semenanjung (plus pulau Singapoera dan
pulau Penang masuk wilayah yurisdiksi Inggris). Dengan perjanjian itu, prinsip
kepabeanan mulai diterapkan, penduduk pulau Bintan (Hindia Belanda) ke (pulau)
Singapoera harus diregister, demikian sebaliknya, penduduk Singapoera ke
Bintan harus diregister (dicatat di pelabuhan).

Awal pemisahan (batas yurisdiksi Indonesia vs
Malaysia) sebelum 1824 bermula sejak 1641. Saat itu terjadi persaingan yang
ketat diantara pelaut-pelaut Eropa. Pada tahun 1641 pelaut Belanda/VOC mengusir
pedagang-pedagang Portugis di Malaka. Sisa pos perdagangan Portugis hanya di
(pulau) Timor sebelah timur dan Makap (pantai timur Tiongkok). Spanyol sudah
terlebih dahulu terusir dari Maluku dan hanya menguasao pulau-pulau di wilayah
Filipina yang sekarang. Kedigdayaan Belanda/VOC mulai mendapat saingan dari
pelaut-pelaut Inggris yang berbasis di India yang kemudian disusul kehadiran
pelaut-pelaut Prancis. Pertarungan pelaut tiga  kerajaan tersebut terjadi di wilayah pantai
barat Sumatra. Ini dimulai ketika tahun 1666 para pemimpin di Padang
bekerjasama dengan Belanda/VOC mengusir (pengaruh) Atjeh dari pantai barat
Sumatra. Lalu Belanda memperluas pos perdagngan di Baroes dan Indrapoera.
Inggris di India melihat celah dan memperluas wilayah perdagangan di pantai
barat Sumatra di Priaman tetapi mendapat penentangan dari Belanda/VOC di Padang.
Akhirnya Inggris mendapat posisi di wilayah Bengkoelen dan pada tahun 1714
membangun benteng Mar’lborough. Sempat ada penentangan dari penduduk Bengkoelen
tahun 1719 tetatp berhasil dipulihkan Inggris. Inggris yang semakin stabil dan
kuat di Bengkoelen mulai ekspnasi dengan membuka pos perdagangan di Natal dan
Tapanoeli tahun 1752. Baroes menjadi terisolir dari Belanda di Padang dan
Priaman, Prancis yang cukup kuat di Afrika mulai datang ke Hindia Timur dan
melihat peluang dengan membangun pos perdagangan di Air Bangies (antara
Priaman-Belanda dan Natal-Inggris). Tiga kekuatan di pantai barat Sumatra ini
berseteru. Pada tahun 1779 Inggris melancarkan invasi di pantai barat Sumatra
dengan memindahkan skuadron Inggris di Madras ke Bengkoeloen. Misi Inggris ini
tidak hanya untuk mengusir pengarih Belanda di pantai barat Sumatra, tetapi
juga untuk mendekatkan diri ke koloni Inggris yang baru di Australia sejak 1779
(setelah Inggris terusir dari Amerika Serikat tahun 1774). Belanda lalu terusir
dari seluruh pos perdagangannya di pantai barat Sumatra yang kemudian Inggris
memindahkan ibukota (pos perdagangan utama) dari Bengkoelen ke Padang. Prancis
di Air Bangis terancam dan akhirnya hengkang. Akan tetapi Prancis melihat
peluang lain dan pasukan Prancis menyerbu Jawa (Belanda/VOC) yang kemudian
menyebabkan VOC bangkrut dan dibubarkan tahun 1799. Perjanjian Belanda dan
Prancis menyebabkan kerajaan Belanda mengakuisi properti VOC di Jawa dengan membentuk
Pemerintah Hindia Belanda tahun 1800. Pada tahun 1809 Gubernur Jenderal yang
tangguh ditempatkan di Jawa yakni Daendels. Saat mana Inggris yang semakin kuat
di pantai barat Sumatra dan Australia menyerang Belanda/Prancis di Jawa tahun
1811. Tamat Belanda dan hanya menyisakan sisa VOC di Ternate.Daendels
digantikan oleh Rafless. Tetapi dengan perjanjian Belanda/Prancis dengan
Inggris, Jawa dikembalikan sepenuhnya kepada Belanda tahun 1816. Inggris tetap
bertahan di pantai barat Sumatra dimana Rafless kembali ke Bengkoelen. Oleh
karena Indrapoera, Padang, Priaman hingga Baroes/Singkil adalah hasil aneksasi
Inggris, lalu dikembalikan kepada Belanda. Praktis hingga tahun 1824 Inggris
hanya tersisa di Bengkoelen. Selama proses transisi Inggris di Jawa dan
Sumatra, Inggris masih tersisa pos perdagangan Inggris di Borneo serta di pulau
Penang dan pulau Singapoera plus di pantai timur Tiongkok. Dalam proses transisi
inilah Belanda ingin menyabu bersih Inggris di Sumatra. Satu-satunya alat
bargaining Belanda adalah wilayah Malaka di Semenanjung. Perjanjian London 1824
antara Belanda dan Inggris dilakukan tukar guling Bengkoelen dan Malaka dimana
Belanda harus membayar sejumlah konpensasi. Akhirnya wilayah Semenanjung (plus
Penang dan Singapoera serta Borneo Utara) menjadi utuh wilayah yurisdiksi
Inggris dan Sumatra oleh Belanda. Sejak inilah wilayah Semenanjung (yang kini
menjadi negara Malaysia/Singapoera) plus Borneo Utara terpisah dengan wilayah
Indonesia (Hindia Belanda) di Sumatra dan (kepulauan) Riau serta sisa Borneo
(barat, selatan dan timur). Garis batas di Borneo antara Inggris dan Belanda baru
dilakukan pada tahun 1875. Sejak 1824 inilah dapat dikatakan semua penduduk dan
semua kebijakan pemerintah di wilayah Hindia Belanda (baca: Indonesia) memusat
ke satu pemerintahan yang berpusat di Batavia. Kebijakan-kebijakan yang
berkenaan dengan penduduk tersebut meliputi perdagangan, transportasi,
pemerintahan lokal dan perjanjian-perjanjiab, pendidikan, kesehatan, misionaris,
pariwisata pers dan penyelidikan geologi, botani, bahasa dan etnologi. Dalam
konteks inilah bajhasa Melayu sebagai lingua franca di wilayah Hindia Belanda
membangun jalannya sendiri dimana pemerintah Hindia Belanda bertanggungjawab.
Secara perlahan, bahasa Melayu di wilayah yurisdiksi Inggris (Semenanjung dan
Borneo Utara) mulai berbeda dengan bahasa Melayu di di wilayah yurisdiksi
Hindia Belanda.  

Pemisahan
antara Indonesia (Hindia Belanda) dan Malaysia (Hindia Inggris) sejak 1824 menandai
awal terpisahnya bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia dan di Indonesia.
Peran Pemerintah Hindia Belanda mulai memiliki pengaruh yang besar dalam
terpolanya bahasa Melayu ke arah pembentukan varian bahasa Melayu (yang kelak
dikenal bahasa Indonesia).

Pada tahun 1809 era Gubernur Jenderal Daendels
pembagian wilayah dalam pembentukan pemerintahan lokal dimulai. Pembagian
wilayah dan pengaturan pemerintahan lokal pada era Inggris (1811-1816) semakin
disempurnakan namun masih terbatas pada wilayah di (pulau) Jawa. Setelah
Inggris menyerahkan kembali Jawa kepada Belanda tahun 1816 Pemerintah Hindia
Belanda baru mulai tahun 1826 dilakukan reorganisasi pemerintahan (termasuk
pembentukan cabang Pemerintah Hindia Belanda) sejak terjadinya tukar guling
Bengkoelen dan Malaka tahun 1824. Reorganisasi cabang-cabang pemerintahan tidak
hanya di Jawa, juga di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku.
Perjanjian-perjanjian dan aturan perundang-undangan pemerintah yang ditulis
dalam bahasa Melayu dan bahasa Belanda yang diterjemahkan ke dalam bahasa
Melayu. Bahasa Melayu yang digunakan adalah bahasa Melayu yang dipahami
(berkembang) di pusat Hindia Belanda di Batavia.

Seiring
dengan pembentukan cabang-cabang pemerintahan Hindia Belanda (reorganisasi
wilayah (administrasi) pemerintahan)), dijalankan program pendidikan modern
(dengan menggunakan aksara Latin) dengan pendirian sekolah-sekolah pemerintah. Dalam
hubungan ini bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat digunakan bahasa Melayu
dengan buku-buku yang ditulis oleh guru-guru Belanda dalam bahasa Melayu.

Sejak era Portugis boleh jadi bahasa Melayu
diperkaya oleh orang Portugis dari bahasa Portugis dan bahasa Tiongkok. Karena orang
Portugis telah lebih dari satu abad di Nusantara dengan ibu kota utama di
Malaka. Namun seperti disebut di atas, sejak 1641 pengaruh Portugis di
Nusantara semakin berkurang dan kemudian digantikan oleh orang-orang Belanda
(VOC). Ibu kota orang Belanda awalnya di Ambon dan kemudian sejak 1619 relokasi
ke Batavia. Dalam membangun Batavia, VOC mendatangkan orang dari berbagai
daerah terutama dari Ambon, Banda, Ternate, Bali dan Jawa termasuk dari
daerah-daerah Melayu di Hindia. Mereka inilah yang menjadi agen pembentukan
bahasa Melayu di Jawa khususnya di Batavia. Bahasa Melayiu di Batvia ke dalam
memebntuk bahasa (daerah) Betawi dan keluar terbentuk bahasa Melayu umum
(pasar). Pengaruh yang kuat dalam pembentukan bahasa Melayu umum (pasar) ini di
Batavia dalah orang-orang yang berasal dari Ambon, Bugis, Makassar dan Bali
(pengaruh dari Semenanjung relatif kecil). Hal itulah mengapa bahasa Melayu
umum (pasar) terkesan mengikuti langgam bahasa Melayu dari Ambon yang
diartikulasdikan orang-orang Belanda dalam berbahasa Melayu, seperti contoh
puisi yang dimuat dalam surat kabar yang terbit di Batavia Java government
gazette, 30-01-1813.

Pada waktu yang relatif
bersamaan kegiatan misionaris juga mengambil bagian, termasuk dalam penulisan
buku-buku yang ditulis dalam bahasa Melayu. Tentu saja bahasa Melayu yang digunakan
oleh orang Belanda (guru, pejabat dan misionaris) adalah bahasa Melayu umum
(pasaran) yang berlaku di Hindia Belanda (khususnya di Batavia).

Bahasa Melayu yang berkembang di Indonesia
(baca: Hindia Belanda) tidak berdasarkan bahasa Melayu yang dipertuturkan
penduduk asli seperti di Sumatra, kepulauan Riau, Kalimantan, Sulawesi dan
Maluku, Nusan Tenggara dan Jawa (secara khusus di Betawi), tetapi bahasa Melayu
umum (pasaran) yang umumnya banyak digunakan di kota-kota pelabuhan besar
seperti Batavia, Semarang, Padang, Soerabaja) yang kemudian diperkaya dengan
masuknya kosa kata asing (khususnya Belanda) dan kosa kata bahasa daerah
(khusunya Soenda dan Jawa), Bahasa Melayu umum (pasaran) ini juga adalah bahasa
Melayu umum yang telah sejak lama menyerap bahasa asing khususnya bahasa
Portugis dan bahasa-bahasa daerah). Hal itulah mengapa bahasa Melayu umum
(pasaran) yang telah diperkaya bahasa Belanda/daerah menjadi mulai berbeda
dengan bahasa Melayu asli (berbagai dialek bahasa Melayu di Hindia Belanda).  .

Kehadiran
surat kabar berbahasa Melayu di Hindia Belanda menjadi begitu strategis dalam penyebarluasan
bahasa Melayu di tengah masyarakat. Dalam hal ini surat kabar menjadi salah
satu medium terpenting terbentuknya bahasa Melayu ala Indonesia di Hindia Belanda.
Surat kabar berbahasa Melayu pertama terbit di Soerabaja pada tahun 1854. Sejak
itu semakin banyak surat kabar berbahasa Melayu yang diterbitkan tidak hanya di
Soerabaja, juga di Batavia, Semarang dan Padang. Bahasa Melayu yanng digunakan
dalam surat kabar di Hindia dapat diperbandingkan dengan bahasa Indonesia dan
bahasa Melaysia yang sekarang (lihat contoh bahasa iklan yang dimuat dalam De
Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en
advertentieblad, 26-12-1855).

Surat kabar berbahasa Belanda di Hindia sudah
ada sejak era VOC. Sejak Pemerintah Hindia Belannnda (GG Daendels) tahun 1810
surat kabar berbahasa Belanda tidak pernah putus. Dalam surat kabar tersebut
kerap pengumuman atau sumbangan tulisan dari pembaca ditulis dalam bahasa
Melayu (yang ada juga ditambahkan terjemahannya dalam bahasa Belanda). Dalam hal
ini surat kabar adalah medium yang lain dalam bersemainya bahasa Melayu di
Hindia Belanda yang menambah daftar yang sudah ada seperi buku, lembaran
peraturan peundang-undangan dan sebagainya.

Dengan
hadirnya surat kabar berbahasa Melayu di kota-kota besar Hindia Belanda dan
pencetakan buku-buku sekolah dan buku peraturan perundang-undangan maka,
sebenarnya sudah lama tidak terhubung lagi perkembangan bahasa Melayu umum
(pasat) di Hindia Belanda dengan bahasa Melayu di daerah-daerah bahkan bahasa
Melayu di wilayah yurisdiksi Inggris seperti Semenanjung dan Borneo Utara

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bahasa Melayu di Indonesia:
Bahasa Nasional vs Bahasa-Bahasa Daerah

Sulit
mengatakan dimana bahasa Melayu tumbu berkembang. Prasasti-prasasti di pantai
Timur Sumatra sudah mengindikasikan bahasa Melayu. Juga terdapat pada
prasasti-prasasti di Jawa. Dalam hal ini penggunaan bahasa Melayu sebagai
lingua franca sudah begitu luas di Nusantara. Sampai sejauh ini tidak/belum
ditemukan bukti-bukti tertua adanya penggunaan bahasa Melayu di Semenanjung.

Kerajaaan-kerajaan besar dengan armadanya yang
kuat dan banyak yang melakukan navigasi pelayaran perdagangan besar kemungkinan
di ibukotanya pekermbangan bahasa Melayu itu terjadi, seperti halnya di ibu
kota Sriwijaya atau di ibu kota Malaka dan ibu kota Madjapahit. Sebab kerajaan
yang bertahan lama yang dapat secara konsisten dapat mencapai kestabilan bahasa.
Sebagaimana laporan Portugis Mendes Pinto (1537) Kerajaan Aroe (di pantai timur
Sumatra) beberapa kali menyerang Malaka dan Malaka selalu khawatir terhadap
Kerajaan Aroe. Dalam hal ini Kerajaan Aroe sebagai representasi kerajaan kuat
semasa di pantai timur Sumatra haruslah dipandang sebagai wilayah yang
melestarikan bahasa Melayu sejak lama (meneruskan era Sriwijaya).

Pada
era Portugis, Malaka hanyalah salah satu pusat perdagangan yang penting.
Nama-nama lain sejaman antara lain Banten, Atjeh, Demak/Djapara, Makassar,
Brunai dan Amboina. Mengikuti sebaran bahasa Melayu sejak zaman kuno, tentu di
pusat-pusat perdagangan tersebut terus berkembang penggunaan bahasa Melayu.
Oleh karenanya dimana bahasa Melayu itu terus lestari dan terus dikembangkan
tidak lagi dapat menunjukkan pada satu titik.

Satu-satunya tempat yang telah berkembang di
Semenanjung sebelum munculnya Malaka adalah Kedah, yang masih sejaman selama
Sriwijaya eksis. Catatan ini dapat dibaca pada prasasti Tanjore (1030). Selain
Kedah dan Sriwijaya banyak nama-nama lain di pantai timur Sumatra yang dicatat
seperti Panai dan Lamuri. Oleh karena itu bahasa Melayu wilayah cakupannya
begitu luas, terutama di tempat-tempat utama di seputar pantai diantara
pulau-pulau besar seperti Sumatra, Jawa, Borneo dan Sulawesi.

Pada
masa kehadiran Belanda (sejak era VOC) banyak kejadian yang mempengaruhi
situasi alam Nusantara. VOC yang telah berpusat di Batavia (Jawa) sejak 1619
berhasil mengusir Portugis dari Malaka tahun 1641, Dengan demikian hubungan
antara Batavia dan Malaka menjadi intens. Kedah sendiri sebagai kekuatan lain
di Semenanjung memiliki relasi yang kuat dengan Atjeh (yang menjadi musuh VOC).
Pada fase inilah para migran dari pulau-pulau besar menjadikan Semenanjung
sebagai tujuan. Hal itu karena di Semenanjung menjadi wilayah sengketa (VOC vs
Atjeh) dan juga banyak tempat yang masih kosong dalam arti dimungkinkan para
pendatang menubuhkan kekuasan,

Pada tahun 1669 menjadi malapetaka bagi Kerajaan
Gowa, kerajaan yang sangat kuat di Sulawesi, VOC berhasil menaklukkan kota
pelabuhan dan pusat kraton Gowa. Meski kalah,  para pengeran Gowa tidak ingin menyerah. Para
pangeran dengan banyak pengikut mencari jalan keluar menemukan tempat-tempat
dimana kehidupan baru dimulai. Tempat-tempat tujuan itu antara lain tenggara
Maluku, selatan Sulawesi di [ulau-pulau Nusantara, bagian utara Sulawesim
pantai-pantai pulau Borneo bahkan hingga pantai timur Sumatra dan Semenanjung.
Hal itulah mengapa begitu kuat orang Bugis/Makassar di kepulauan Riau dan
pantai-pantai Semenanjung antara lain di Selangor dan Djohor (kelak para
pengeran Bugis/Makassar inilah yang mendirikan kerajaan-kerajaan di
Semenanjung. Sebelum itu sudah sejak lama pula hubungan Kerajaan Pagaroejoeng
di pantai timur Sumatra dengan wilayah tertentu di pantai barat Semenjung
(kelak terbentuk Negeri Sembilan). Jika mundur ke belakang sudah sejak lama
hubungan Jawa dengan pulau Singapoera dan Malaka. Tentulah para pendatang ini
akan ikut memperkaya bahasa Melayu di Semenanjung.

Pada
era Pemerintah Hindia Belanda wilayah Semenanjung (yang telah menjadi wilayah
yurisdiksi Inggris) menjadi tujuan pelarian dari para pemimpin lokal dan
pengikutnya yang berasal dari berbagai pulau seperti dari Sumatra. Perang Padri
1803-1838 telah menjadi faktor penting banyak penduduk Sumatra dari Minangkabau
dan Angkola/Mandailing eksodus ke wilayah yang aman di Semeanjung/Inggris dari
kejaran militer Belanda di Sumatra. Wilayah Negeri Sembilan dan wilayah
Selangor menjadi tempat yang aman mendirikan kampong-kampong baru di pedalaman
Semenanjung bagi migran Minangkabau dan Angkola/Mandailing (sementara
Bugis/Makassar berada di garis pantai). Dalam konteks ini bahasa Melayu di
Semenanjung semakin diperkaya dengan kahdiran migran baru.

Sumber bahasa Melayu di Semenanjung yang dapat
dibaca berasal dari kronik Kerajaan Malaka. Teks dari konik Malaka ini jika
dibandingkan teks yang dapat dibaca dalam buku-buku maupun surat kabar di
Sumatra sekitara paruh kedua abad ke-19 sudah terdapat perbedaan yang
signifikan. Sementara teks yang bersumber dari pertengahan abad ke-19 di Riau
terkesan ada perbedaan dengan teks sejaman dari Semenanjung. Dalam hal ini
dapat dikatakan bahasa Melayu yang terlah tumbuh berkembang sejak zaman kuno
telah mengalami variasi antara daerah di wilayah dimana bahasa Melayu
digunakan. Besar dugaan perbedaan ini semakin melebar sejak dilakukannya
pemisahan garis batas yurisdiksi antara Belanda Inggris tahun 1824.

 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

 

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

20.01.2026
Sejarah

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

20.01.2026
Sejarah

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

19.01.2026
Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah jambu bol

18.01.2026
Sejarah

Sejarah Jepang (5): Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Bermula Orang Portugis di Indonesia di Hindia Timur

18.01.2026
Sejarah

Kepulangan Jenderal Mansergh dari Surabaya ke Inggris setelah konflik pasukannya dengan para pejuang menyulut pertempuran Surabaya

17.01.2026
Next Post

Kuliner Gorontalo - Nasi Kuning Padebuolo

Alamat Lengkap dan Nomor Telepon Kantor Asuransi Manulife Indonesia di Jakarta

Alamat Lengkap dan Nomor Telepon Kantor Asuransi Manulife Indonesia di Jakarta

Iklan

Recommended Stories

Kota Pariaman

04.09.2013

Fiqh Su’ur & Awani

08.12.2013

Hanung Bramantyo Sabet Sutradara Terbaik JAFF – Indonesian Screen Awards 2018

05.12.2018

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

Solusi Islam Menurut Hadist untuk Dua Insan yang Saling Jatuh Cinta

22.01.2026
Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

Trofi Asli Piala Dunia Dipamerkan di Jakarta

22.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?