*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Islam
adalah salah satu pengaruh yang masuk ke wilayah Nusantara (baca: Indonesia).
Sebelum kehadiran pengaruh Islam, pengaruh yang sangat kuat adalah Hindoe
Boedha. Dalam perkembangannya pengaruh Tiongkok muncul yang kemudian disusul
pengaruh Eropa. Dalam sejarah Islam di Indonesia (baca: Nusantara) pengaruh
Islam dari orang Moor nyaris tidak dibicarakan. Yang mengemuka adalah orang
Arab, Persia, India dan Tiongkok.

untuk menentukan masa Islam masuk ke Indonesia. Pada pertengahan abad ke-8
orang Arab telah sampai ke Kanton. Masuknya Islam di Nusantara sudah sejak abad
ke-7. Namun, perkembangan dakwah baru betul dimulai kala abad ke-11 dan 12. Ahmad
Mansur Suryanegara masuknya Islam dalam tiga teori besar. Pertama, teori
Gujarat. Islam datang dari Gujarat melalui peran pedagang India muslim pada abad
ke-13 Kedua, teori Makkah. Islam tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah
melalui para pedagang Arab muslim abad ke-7 M. Ketiga, teori Persia. Islam tiba
di Indonesia melalui peran pedagang asal Persia dalam perjalanannya singgah ke
Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M. Marco Polo juga menyatakan
sebagai dampak interaksi orang-orang Perlak di Aceh, mereka telah mengenal
Islam. Selama masa-masa ini, dinyatakan oleh Van Leur dan Schrieke, bahwa
penyebaran Islam lebih terbantu lewat faktor-faktor politik alih-alih karena
niaga. Abdul Malik Karim Amrullah berpendapat bahwa pada tahun 625 M sebuah
naskah Tiongkok mengkabarkan bahwa menemukan kelompok bangsa Arab yang telah
bermukim di pantai Barat Sumatra (Barus). Arnold menyatakan Islam telah masuk
ke Indonesia sejak abad-abad awal Hijriah. Meskipun kepulauan Indonesia telah
disebut-sebut dalam tulisan ahli-ahli bumi Arab, di dalam tarikh Cina telah
disebutkan pada 674 M orang-orang Arab telah menetap di pantai barat Sumatra. Pada
tahun 718 M raja Sriwijaya Sri Indravarman setelah pada masa khalifah Umar bin
Abdul Aziz (717 – 720 M) (Dinasti Umayyah) pernah berkirim surat dengan Umar
bin Abdul Aziz. Selama masa-masa abad pertengahan ini, pedagang-pedagang Muslim
turut memberi andil dalam bertumbuhnya perdagangan dan kota-kota yang terlibat
di sana. Bersamaan dengan kegiatan dagang orang Tionghoa dari Dinasti Ming,
Gresik, Malaka, dan Makassar berubah dari kampung kecil menjadi kota-kota besar
begitupun untuk Aceh, Patani, dan Banten. Pada abad ke-17 masehi Belanda datang
ke Nusantara untuk berdagang yang menyebabkan proses penyebaran dakwah
terpotong.
(Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah Islam di Indonesia? Seperti disebut di atas, Islam berasal dari tanah Arab, tetapi yang
memberi pengaruh Islam di Nusantara tidak hanya orang Arab. Dalam hal ini orang
Moor jarang dibicarakan. Lalu bagaimana sejarah Islam di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia – Islam di
Indonesia Tidak Hanya Orang Arab; Moor, Persia, India dan Tiongkok
Menurut
data sejarah yang ada, orang yang menyebarkan agama Islam kali pertama ke
Nusantara (baca: Indonesia) adalah orang-orang Arab. Bukti-bukti itu telah
dicatat dalam teks Tiongkok pada Dinasti Ming pada tahun kenabian (Nabi Muhamad
masih hidup) dimana pedagang-pedagang Arab (utusan pemerinhan Nabi Muhammad)
telah membuat koloni di pantai timur Tiongkok di Canton. Pedagang-pedagang Arab
ini melakukan bnavigasi pelayaran perdagangan dari Jazirah Arab (Laut Merah)
hingga ke pantai timur Tiongkok melalui pantai barat Sumatra dan selat Malaka.
Sehubungan dengan telah adanya rute navigasi
pelayaran perdagangan Arab yang mencapai pantai timur Tiongkok, maka pengaruh
(agama) Islam juga telah tumbuh di sejumlah wilayah seperti di Guzarat (pantai
barat India) dan Baroes (pantai barat Sumatra). Hal itulah mengapa ada begitu
banyak makam-makam Islam kuno di Baroes yang berasal pada dasawarsa awal tahun
hijriah di Baroes dengan nama orang Arab.
Namun
bagaimana perkembangan selanjutnya peran orang Arab dalam penyebaran agama
Islam di Nusantara seperti di Baroes dan tempat-tempat lain khususnya di
Sumatra tidak diketahui secara pasti. Yang jelas pada abad ke-7 di Sumatra
pengaruh Hindoe Boedha masih sangat kuat bahkan semakin kuat (lihat antara lain
prasasti-prasasti di Sumatra dan Jawa yang berasal dari abad ke-7 antara lain
prasasti Kedoekan Bukit 682 M dan prasasti Kota Kapoer 686 M. Adanya candi di
wilayah Tapanoeli (candi Simangambat) pada akhir abad ke-7 menunjukkan adanya
hidup berdampingan antara pedagang-pedagang India (Hindoe/Boedha) dan Arab
(Islam). Namun, sekali lagi, data-data tentang eksistensi (pengaruh) Islam di
Nusantara tidak/belum terungkap sepenuhnya hingga munculnya kehadiran Ibnoe
Batoetah di seputar selat Malaka pada tahun 1345 M.
Ibnoe Batoetah adalah seorang Moor beragama
Islam. Orang Moor sendiri adalah orang Afrika Utara yang beragama Islam yang
telah lama membangun peradaban Islam di Eropa khususnya di Spanyol (Cordoba,
Andalusia dll). Perang Salib yang dimulai abad ke-11 di Eropa/Asia Barat telah
mendegrasi peradaban Islam bangsa Moor di Spanyol. Sejak itulah diduga
orang-orang Moor beragama Islam yang setengah Eropa ini menyebar ke berbagai
penjuru terutama di wilayah-wilayah pantai hingga Afrika Selatan, India Selatan
dan bahkan terus ke Nusantara. Sebagai bangsa yang telah maju, termasuk dalam
navigasi pelayaran, orang-orang Moor ini menjadi pedagang-pedagang yang andal
antara Eropa dan Tiongkok. Dalam hal ini Ibnoe Batoetah adalah utusan Moor
hingga ke Tiongkok. Dalam perjalanan inilah Ibnoe Bataoetah mengunjungi berbagai
tempat termasuk di pantai timur Sumatra dimana diduga kuat telah banyak
komunitas Moor. Sebelum orang-orang Moor menetap di Nusantara, orang-orang Moor
sudah banyak yang kawin mawin dengan penduduk tempatan di di pantai barat laut India
maupun di pantai timur laut India yang kelak di Nusantara juga dikenal sebagai
orang Pakistan dan orang Bangladesh.
Dalam
hal ini sebelum peradaban Eropa berkembang, peradaban Islam bangsa Moor
terlebih dahulu berkembang luas di Eropa. Pasca Perang Salib, selain banyak
yang menyebar ke wilayah-wilayah Afrika Selatan, India Selatan dan Nusantara,
banyak juga yang kembali menyatu dengan orang-orang Moor Afrika Utara di laut
Mediterania yang kini menjadi negara-negara Tunisia, Libya, Maroko dan
Mauritania. Dalam konteks inilah orang-orang Moor tetap menjadi pedagang
penghubung antara Eropa dan Nusantara dan demikian sebaliknya. Kemampuan
navigasi pelayaran perdagangan orang-orang Moor inilah kemudian yang diikuti
oleh pelaut-pelaut Portugis dan Spanyol pada awal-awal ekspedisi Eropa ke barat
(ke Amerika Selatan) maupun ke timur (Nusantara melalui Afrika Selatan dan
Goa/India).
Dalam laporan-laporan Portugis disebutkan
ekspedisi-ekspedisi mereka banyak melibatkan pelaut-pelaut Moor, selain sudah
mengenal orang Moor, orang Moor juga dapat diandalkan orang Portugis dan
Spanyol karena piawai dalam navigasi pelayaran dan memiliki kebranian dalam
perang. Semakin banyaknya komunitas Islam di India dan Nusantara menjadi
perantara yang baik bagi pedagang-pedagang Portugis dalam berinteraksi dan
bertransaski dengan penduduk pribumi termasuk di Nusantara. Harus diingat bahwa
sebagai penduduk kerajaan Spanyol dan Portugis adalah orang (bangsa) Moor.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Islam di Indonesia Tidak Hanya
Orang Arab: Peran Orang Moor
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


