*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Sejarah
Halal Bi(-Halal) belum terdapat pada lama Wikipedia. Namun sudah ada sejumlah
tulisan mencoba mendeskripsikannya. Di satu sisi narasi sejarah Halal Bi Halal
belum begitu lengkap dan di sisi lain isi narasi satu dengan yang lain berbeda.
Okelah. Dalam konteks inilah artikel ini dtulis untuk memberi kontribusi dalam
narasi sejarah Halal Bi Halal di Indonesia.

adalah hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya
diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb.) oleh sekelompok orang….–merupakan
suatu kebiasaan khas Indonesia. (Wikipedia); berhalalbihalal adalah kata kerja bermaaf-maafan
pada Lebaran….pada Lebaran kita–dengan segenap sanak keluarga dan handai tolan.
Sejak jaman medsos, seperti halnya reuni, acara halal bi halal di dalam
komunitas semakin intens dilakukan. Popularitas Halal bi Halal juga baru
terjadi dalam tiga dasawarsa terakhir. Sebelum itu, acara Halal Bi Halal
umumnya diselenggarakan di komunitas formal seperti kantor pemeriintahan
(tingkat dua ke atas), sekolah-sekolah dan universitas. Lalu bagaimana pada
awal era Republik Indonesia dan apakah sudah umum pada era Hindia Belanda?
Semua pertanyaan itu menarik untuk telusuri.
Lantas
bagaimana sejarah halal bi halal di Indonesia? Nah, itu tadi. Seperti disebut di atas, acara halal bi halal baru
populer pada dasawarsa-dasawarsa terakhir ini. Namun bagaimana hal dalam halal
bi halal itu masa lampau tampaknya memerlukan penyelidikan tersendiri. Lalu
bagaimana sejarah halal bi halal di Indonesia? Dalam hubungannya dengan minal
aidin wal faizin ini, seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan
gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia – Acara
Halal Bi Halal; Sejak Tempo Doeloe, Namanya Baru Dikenal Kemudian
Ada
satu kegiatan yang berlangsung di Serang. Kegiatan itu dilakukan sehari setelah
hari Lebaran (habis puasa). Bupati Serang menyelenggarakan pesta rakyat (lihat
Javasche courant, 01-05-1828). Meski tidak disebutkan ada acara semacam halal
bi halan pada masa kini, tetapi acara perayaan tersebut sudah barang tentu ada
situasi dimana saling bermaaf-maafan dilakukan, karena masih suasana lebaran.
Para pemimpin lokal dari berbagai daerah di sekitar afdeeling Serang turut
berpartisipasi. Dalam kesempatan inilah diduga kuat para pemimpin lokal dapat
bertemu dengan bupati untuk bersilaturrahmi (halal bihalal?).
Pada bulan puasa para pemimpin lokal telah
menpublikasikan agenda acara itu. Setiap penduduk diminta datang pada acara
karena ada kontes ternak terbaik, kuda, kerbau dan kambing yang paling sehat,
besar dan indah yang diadakan di alun-alun kota Serang. Para pemimpin lokal
sendiri yang datang berpartisipasi dengan pakaian kebesarannya. Para pejabat
Eropa juga ikut menhadiri. Para pemenang kontes diberi hadiah kepada pemilik
ternaik terindah dan terberat dan setelah itu ternah-ternak dilelang atau
diperjualbelikan. Penduduk juga dapat menikmati berbagai penampilan seni.
Kegiatan
selepas bulan puasa (pada saat hari-hari lebaran) tampaknya umum dilakukan.
Suatu laporan menyatakan itu yang dimuat dalam Stemmen voor waarheid en vrede, 1888
[volgno 2]. Disebutkan bahwa pada bulan puasa tidak perlu mengadakan sekolah
dan tidak ada sidang dewan pertanahan (landraad), bahwa pada akhir bulan puasa
(Lebaran) para kepala pemerintah daerah Eropa dan pejabatnya mengunjungi Bupati
untuk mengucapkan selamat kepada penduduk di hari lebaran.
Soerabaijasch handelsblad, 06-06-1889: ‘Pada
perayaan tahun baru pribumi, atau lebih tepatnya Lebaran Puasa, acara adat akan
dilakukan pada pagi hari, sebagai pertemuan resmi di dalem (kraton) bupati
untuk memberi selamat kepada pejabat pribumi ini pada akhir bulan puasa.
Bataviaasch nieuwsblad, 17-06-1889: ‘Di Bandoeng, bupati akan datang ke kantor
residen untuk memberikan hadiah yang disaksikan di hadapan ribuan penduduk pribumi
yang sudah menunggu untuk menikmati sebagai tontonan, dan betapa baiknya dia terhadap
perwakilan Pemerintah yang mengangkat dia. Berdiri di depan residen, bupati menyapa
dengan anggun, memberitahu Residen bahwa Poeasa sudah berakhir, dan kemudian
Residen mengatakan bahwa dia akan segera pergi ke kediaman bupati untuk
mengucapkan selamat kepadanya dan kepala penduduknya. Beberapa saat kemudian bupati
mempersiapkan segala sesuatunya di dalem agar bisa menerima residen dengan hormat.
Warga pun sudah berbondong-bondong kembali ke alon alon untuk melihat
arak-arakan Residen masuk. Semua orang duduk di
kendaraannya dan disana kemacetan lalu lintas menjalar ke jalan menuju dalem,
dimana penduduk ikut menonton. Seperti yang bisa dipahami
siapa pun, tuan rumah menunggu tamunya untuk menerima dan menyapa mereka. Residen
memasuki aula kosong, diikuti oleh kenalan, yang berbaris di tengah dan di
ujungnya. Kemudian bupati terlebih dahulu masuk (di rumahnya sendiri) dan
menempatkan dirinya di seberang Residen turut serta dalam tradisi’.
Jelas
dalam hal ini bahwa acara pada hari selepas puasa (hari Lebaran) adalah suatu
kegiatan rutin dan menyeluruh, paling tidak di wilayah Jawa (dari Serang hingga
Soerabaja). Para bupati terpenting dalam acara silaturrahmi pada hari Lebaran.
Dalam berbagai laporan seperti yang dikutip di atas tidak terinformasikan
apakah nama kegiatannya (halal bi halal?). Namun melihat kegiatan apa yang
dilakukan menggambarkan kegiatan halal bi halal pada masa kini.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Acara Halal Bi Halal: Sejak
Tempo Doeloe hingga Ini Hari
Kegiatan
silaturrahmi selepas puasa (pada hari Lebaran) diketahui sudah berlangsung
sejak lama, lalu apa nama kegiatan itu tidak terinformasikan. Pada masa ini
kegiatan serupa itu disebut acara halal bi halal. Lantas sejak kapan nama halal
bi halal muncul?
Mengutip dari laman Tempo.co, disebutkan Melansir dari
repository.radenintan.ac.id, Halalbihalal berasal dari bahasa Arab, yaitu Halla
atau Halala. Kata tersebut memiliki banyak makna, mulai dari penyelesaian
kesulitan, mencairkan yang beku, hingga melepas ikatan yang membelenggu. Tradisi
ini sejatinya bukan berasal dari Mekkah dan Madinah, melainkan asli dari
Indonesia. Sejarah pelaksanaan Halalbihalal memiliki beragam versi. Konon,
tradisi Halalbihalal dimulai sejak zaman Mangkunegaran I atau yang lebih
dikenal dengan nama Pangeran Sambernyawa. Kala itu, selepas Salat Idul Fitri,
Pangeran Sambernyawa mengadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan
prajurit secara serentak di balai istana. Dalam pertemuan tersebut, raja dan
para punggawa atau prajurit saling bersungkem satu sama lain, yang dilakukan
oleh orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Sumber lain juga menyatakan
bahwa tradisi Halalbihalal berawal saat masa revolusi kemerdekaan. Pada Ramadan
1946, Soekarno menggelar pertemuan dengan seluruh komponen resolusi. Hal ini
dilakukan dengan tujuan agar Lebaran menjadi ajang saling memaafkan dan
menerima keragaman Indonesia dalam
bingkai persatuan dan kesatuan. Kemudian, Soekarno akhirnya menyetujui
diadakannya kegiatan Halalbihalal sebagai perekat hubungan silaturahmi tingkat
nasional yang dihadiri oleh tokoh dan elemen bangsa. Sejak saat itu, tradisi
Halalbihalal semakin marak dan dilestarikan masyarakat Indonesia sebagai media
merekatkan persaudaraan antara sesama, baik dengan keluarga, tetangga, rekan
kerja, dan umat beragama.
Kegiatan
silaturrahmi yang disebut Halal bi Halal tersebut tidak diketahui secara pasti
kapan mulai digunakan. Yang jelas acara serupa ini dalam surat kabar/majalah di
masa-masa lalu tidak/belum disebut halal bi halal. Secara eksplisit nama acara
disebut halal bi halal, paling tidak diberitakan pada tahun 1935.

‘Viering HALAL BIIIALAL. Di rumah R Sontohartono di
Keprabontengah, pada Sabtu malam dalam rangka Alal Bihalal terjadi pertemuan.
Rapat ini dipimpin oleh Djumaeri. Ada banyak yang hadir. Sebelum membuka rapat,
Abdoel Manaf membaca firman Tuhan, setelah itu pertemuan dibuka dengan
pembacaan ‘Al Fatichah’. Perwakilan Hizboel Watban di Solo memberikan ceramah olahraga
dan pendidikan. Ketua Pramuka disini kemudian mengumumkan bahwa hasil kompetisi
yang diadakan antara regu. telah menyatakan diantara mereka sendiri bahwa regu
biru telah memenangkan hadiah pertama. Wirjoprasonto berbicara dan mengupayakan
kerjasama dalam pentingnya Islam. Pertemuan dihibur dengan musik oleh Jaszband.
Pukul sebelas rapat ditutup dengan pembacaan suraf Wal Asri’.
Tampaknya
kegiatan silaturrahmi yang telah disebut acara halal bi halal juga telah diikuti
di lingkungan (kraton) Mangkoenagaraan (lihat De banier van waarheid en recht, 25-05-1935).
Oleh karena acara halal bi halal juga (kini) telah diadopsi di lingkungan
kraton, selama ini hanya lazim dilakukan di tingkat bupati, telah memicu pihak
(keluarga katon) mengkomunikasikan ke pihak luar (pers) Eropa/Belanda yang
ditulis oleh istri Noto Soeroto, seorang Belanda dengan judul De Ceremonie van
de Halal Bihalal in de Mangkoenegaraan.
Apa hal yang paling menarik tentang suasana
pertemuan semacam itu, bahkan jika itu dilakukan lingkungan kraton? Tidak boleh
dilupakan oleh pengunjung pesta yang jeli bahwa ada jarak dalam dari semua orang
bebas yang lahiriah. Jalankan wacana bebas dan tidak dipaksakan antara pangeran
dan kesatuan pejabat yang lebih rendah, meskipun dia mungkin sangat
menghormatinya, kepala orang-orang dengan gengsi dan otoritas hampir tidak
dapat dibayangkan seperempat abad yang lalu. Tetapi orang juga dapat mengatakan
sebaliknya: ada kebebasan batin meskipun segala bentuk perbudakan, karena dapat
dipastikan bahwa pejabat yang lebih rendah, yang berdiri disana dengan sangat
benar dan penuh hormat terhadap pangerannya, benar-benar bebas dalam
ekspresinya. Yang Mulia Pangeran Mangkoe Nagoro VII memiliki kemampuan untuk
mendengarkan pendapat orang lain, jika itu sangat berbeda dari pendapatnya
sendiri, dengan kesabaran dan perhatian, agar dapat mengubah atau memperdalam
wawasannya sendiri dalam pemerintahnya telah memberitahukan kepada Pangeran Mangkoe
Nagoro ini bahwa para pejabat harus meninggalkan hierarki yang biasa jika
mereka ingin memajukan keinginan atau kepentingan khusus; disisi lain, rakyat
sederhana, yang dalam arti hierarkis sangat jauh dari raja, diizinkan dalam
kasus seperti itu untuk langsung beralih ke Self-Governor. Penulis telah dua
kali secara pribadi menghadiri pertemuan antara pangeran dan orang banyak.
Sungguh langkah yang jenius untuk membuat pegawai negeri tetap terjaga
sepanjang waktu dan membuat mereka sibuk. ingat bahwa mereka ada untuk
orang-orang dan bukan sebaliknya! Dalam hal ini, Yang Mulia Pangeran
Mangkoenegaraan dinyatakan hadir dalam pertemuanseremonial ini. Kadang-kadang
ada pembicaraan tentang pengenalan elemen demokrasi yang diperlukan dalam
pemerintahan kerajaan. Namun, jika ‘demokrasi* bersama kita tidak hanya sekedar
pincang tanpa makna praktis, jika istilah itu tampaknya tidak hanya memiliki
bentuk yang indah tetapi tanpa isi, maka semua rencana demokratisasi harus
didahului dengan pembenahan dalam diri kita. dan melalui mereka/pelarian dalam
berkultivasi, dalam diri kita sendiri. dari disposisi demokratis dari sikap
penuh kasih dan penuh terhadap rakyat. Dalam doktrin mistik Java dikenal
istilah Kawoelo Goesti [letter lijk. „dienaar Heer”). Pelayan adalah
konsep yang banyak digunakan tetapi sedikit dipikirkan, apalagi sopan. Yang
dimaksud dengan kesatuan adalah hubungan mistik antara Tuhan dan manusia atau
antara Tihan dan hambanya. Konsep kesatuan ini, yang dipindahkan ke rencana
politik dan sosial, adalah desideratum yang saya sebut aristo-demokrasi dan
tentangnya orang-orang mengangkat bahu pada saat itu. Pangeran (Radja) dan
orang-orang paling dalam rasa yang satu! Ini mungkin!, hubungan antara pangeran
dan orang-orang di Mcngkunagaran memberikan bukti pembelajaran untuk ini. Solo,
14 Januari 1935.
Boleh
jadi istri Notosoeroto, seorang Belanda ingin menunjukkan kepada orang-orang
Belanda di Belanda bahwa ‘begini loh!’ suasana di kerajaan pada saar hari
lebaram. Ada aristo-democratie. Lalu apakah hal serupa itu tidak ditemukan di
lingkungan kerajaan Belanda sendiri? Disinilah menariknya isi tulisan itu, dan
boleh jadi, kegiatan halal bihalal itulah yang membuat istri Notoseoeroto
tertarik untuk menulisnya dan mengirimkannnya ke surat kabar De Banier di
Belanda.
Dari tulisan istri Notosoeroto tersebut ada
indikasi bahwa kegiatan halal bihalal ini di lingkungan kraton sudah
beralangsung sejak seperempat abad ini (kira-kira sejak tahun tahun 1910).
Boleh jadi ini terbilang baru di lingkungan kratom (Mangkoenegaraan) jika
dibandingkan kegiatan serupa yang telah lama dipralktekkan oleh pada bupati.
Sebagaimana diketahui, Notosoeroto adalah putra dari Notodirodjo dari
Pakoelaman yang berangkat studi ke Belanda pada tahun 1906 (pernah menjadi
ketua Indische Vereeniging di Belanda 1911-1913).
Acara
silaturrahmi habis puasa (hari Lebaran) yang disebut Halal Bihalal tentu saja
mulai dipahami umum, dalam arti tidak hanya terbatas di dalam komunitas Islam.
Ada arti sombolik dalam acara itu, yang tidak hanya sekadar hubungan antar
manusia sesama hamba Tuhan, tetapi juga dalam arti yang lebih luas secara
politik. Pada masa lampau (1832-1834) sempat membuat militer Hindia Belanda
khwatir ketiga keluarga (kraton) Pagaroejoeng melaksanakan kegiatan dan pembagian
kepada fakir miskin pada saat hari Lebaran (lihat Bijdragen tot de taal-, land-
en volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 1889 [volgno 1]). Setelah seabad
kemudian (sejak tahun 1935) pers mulai memasukkan acara Halal Bihalal sebagai
sumber permberitaan karena selain di tengah masyarakat, acara serupa juga
diadakan di lingkungan kraton maupun organisasi sosial seperti Muhammadiyah.
De locomotief, 03-01-1936: ‘Halal Bihalal di
M.N.Jumat, 3 Januari akan berada di Astana M.N. acara “Haial Bihalal”
berlangsung. Pada kesempatan itu, seluruh kerabat, pejabat sipil dan militer
H.H. Pangeran Mangkoe Nagoro akan berkumpul untuk menyampaikan salam kepada
Kepala Rumah M.N. dan Kangdjeng Ratoe Timur. Pertemuan akan dimeriahkan dengan
pertunjukan Langendrijan dan wireng’. De locomotief, 14-12-1936: ‘(Seperti
tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pada pagi Lebaran yang akan jatuh pada hari
Selasa, paguyuban Moehammadijah akan mengadakan doa terbuka di bawah
kepemimpinan Bapak HM Moekti di halaman HIS. di Ingenluyfflaan yang sebelumnya Sholat
yang akan dimulai pukul 07.00 ini terbuka tidak hanya untuk anggota tetapi juga
bagi yang berminat. Usai sholat, peserta akan diberikan kesempatan untuk saling
mengucapkan selamat dan saling memaafkan kesalahan (Halal bihalal). Dinas
Bantuan Miskin Muhammadiyah, akan membagikan beras (fitrah) kepada fakir miskin
pada Lebaran pagi pukul 8 di depan masjid’.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



