*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Pada
masa ini, listrik adalah sumber energi yang menjadi kebutuhan pokok di era
teknologi komunikasi. Negara hadir dalam kebutuhan pokok ini melalui PT PLN.
Namun produksi listrik kuasa negara belum pernah tercukupi, lebih-lebih di
wilayah pedesaan yang jauh dari jangkauan jaringan listrik nasional. Dalam hal
ini peran swasta masih ada. Namun itu belum sepenuhnya mencukupi dan mampu
melayani semua penduduk. Salah satu tokoh nasional Tri Mumpuni peduli pada
kebutuhan listrik di wiklayah-wilayah remote area. Kebetulan Tri Mumpuni adalah
teman sekelas sewaktu kuliah. Akhirnya Akhir bertemu kembali Puni di dalam
artikel ini: Minal aidin wal faizin.

(Persero) (disingkat PLN) adalah sebuah badan usaha milik negara yang mengurusi
semua aspek kelistrikan yang ada di Indonesia. Ketenagalistrikan di Indonesia
dimulai pada akhir abad ke-19, ketika beberapa perusahaan Belanda mendirikan
pembangkit listrik untuk keperluan sendiri. Pengusahaan tenaga listrik untuk
kepentingan umum dimulai sejak perusahaan swasta Belanda N.V. NIGM memperluas
usahanya di bidang tenaga listrik, yang semula hanya bergerak di bidang gas.
Kemudian meluas dengan berdirinya perusahaan swasta lainnya. Kelistrikan di
Hindia Belanda dimulai pada tahun 1897 ketika perusahaan listrik pertama yang
bernama Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM atau Perusahaan
Listrik Hindia Belanda), yang merupakan perusahaan yang berada di bawah N.V.
Handelsvennootschap yang sebelumnya bernama Maintz & Co. Perusahaan ini
berpusat di Amsterdam, Belanda. Di Batavia, NIEM membangun PLTU di Gambir di
tepi Sungai Ciliwung. PLTU berkekuatan 3200+3000+1350 kW tersebut merupakan
pembangkit listrik tenaga uap pertama di Hindia Belanda dan memasok kebutuhan
listrik di Batavia dan sekitarnya. Saat ini PLTU tersebut sudah tidak ada lagi.
NIEM berekspansi ke Surabaya dengan mendirikan perusahaan gas yang bernama
Nederlandsche Indische Gas Maatschappij (NIGM) hingga akhir abad XIX. Pada
tahun 1909, perusahaan ini diberi hak untuk membangun beberapa pembangkit
tenaga listrik berikut sistem distribusinya ke kota-kota besar di Jawa. (Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah listrik di Indonesia? Seperti disebut di atas, pengadaan listrik di Indonesia dimulai
sejak era Hindia Belanda. Meski demikian, hinga era Republik Indonesia belum
sepenuhnya tercukupi bahkan hingga kehadiran tokoh listrik nasional Tri
Mumpuni. Lalu bagaimana sejarah listrik di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Sejarah
Listrik di Indonesia: Swasta Belanda hingga Listrik Negara
Penggunaan
tenaga leistrik sudah lama ada, bahkan penggunaan jaringan kabel listrik ke
rumah-rumah sudah ada. Lalu bagaimana dengan di Hindia. Pada tahun 1890an sudah
ada yang menawarkan produk mesin listrik dengan menggunakan minyak bumi (BBM).
Ibarat masa kini, mesin mobil yang menghasilkan listrik lalu dialirkan ke
bohlam mobil. Juga sudah lama ada mesin-mesin listrik seperti dinamo sepeda
yang listriknya dialirkan ke bohlam sepeda. Namun untuk kebutuhan listrik dalam
penerangan rumah, gedung atau hotel dengan jaringan listrik (kabel listrik)
belum ada. Untuk pembanguna trem listrik sudah dimungkinkan. Untuk menghasilkan
jumlah listrik yang besar diperlukan turbin.

penerangan mulai diperkenalkan (lihat De Telegraaf, 08-01-1894). Penggunaan
mesin listrik tersebut akan digunakan di Hotel des Indes di Molenvliet. Hotel
des Indes adalah hotel lama yang terbilang hotel terbesar di Batavia, tidak
jauh dari Istana Gubernur Jenderal.
Pada
tahun 1896 Pemerintah Hindia Belanda mulai memberikan konsesi untuk
pengoperasian listrik di Hindia. Konsesi yang diberikan adalah perusahaan
listrik pemerintah Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM).
Perusaan ini akan mengoperasikan bisninya di Batavia.

diberitahukan lebih lanjut, Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij
telah diberikan izin, untuk memasang konduktor untuk penerangan listrik di
ibukota Batavia, untuk meletakkan kabel konduktor yang diperlukan di sepanjang
salah satu sisi jalan dan di atas halaman rumah dan bangunan militer yang
terletak di jalan dimana perusahaan tersebut diberi wewenang berdasarkan
konsesinya untuk membangun hal yang dimaksud.’
Segera
setelah mendapat izin konsesi listrik perusahaan NIEM segera mengumumkan kepada
masyarakat. Ini mengindikasikan bahwa warga Batavia akan mendapat layanan
listrik untuk yang pertama.

advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 12-08-1896: ‘Perusahaan Listrik Hindia
Belanda (NIEM). Kantor Koningsplein Oost XIX/196 Weltevreden. Dengan ini
diumumkan bahwa dengan penyerahan tenaga listrik untuk pencahayaan rumah,
bangunan di Weltevreden kemungkinan pada akhir Desember atau awal Januari.
permulaan dapat dilakukan. Peminat yang membutuhkan pengiriman lampu listrik,
baik secara metera atau dengan berlangganan, harus melaporkan secara lisan atau
tertulis ke kantor perusahaan, dimana biaya konstruksi (dibeli atau disewa),
serta konsumsi daya akan dihitung dan ditentukan. Penyambungan akan dilakukan
sesuai dengan urutan permintaan yang diterima, sehingga konsumen yang mendaftar
terlebih dahulu juga akan diberikan lampu listrik terlebih dahulu. Kepala Insinyur:
Otto Frick. Weltevreden, 12 Agustus 1896’.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Sejarah Listrik di Era
Republik Indonesia: PLN hingga Gagasan Tri Mumpuni
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




